-BUILD A BETTER YOU-
Markus 9:28, “Ketika Yesus sudah di rumah, dan
murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: 'Mengapa kami tidak
dapat mengusir roh itu?' Jawab-Nya kepada mereka: 'Jenis ini tidak dapat diusir
kecuali dengan berdoa.'” Bila kita mempunyai IMAN & BERDOA
dengan TERATUR / disiplin maka kita akan punya KUASA untuk mengalahkan
musuh kita / Iblis. Bukan kita yang takut kepada Iblis, tetapi Iblis yang takut
kepada kita, amin J. Masihkah kita BERDOA & Punya IMAN di hari-hari ini? Tetap percaya
bahwa Tuhan sudah memberikan KUASA-Nya untuk kita mengalahkan musuh-musuh
kita J. Amin.
Respon 1
Orang Samaria yang
baik hati ialah kisah perumpamaan yang disampaikan Yesus untuk menjawab seorang
ahli taurat yang menanyakan mengenai “siapa sesama manusia yang harus dikasihi
itu” (Luk. 10:25-37). Merenungkan bagian demi bagian, ada banyak prinsip
mengenai kasih sejati yang Tuhan rindukan menjadi nyata dalam hidup kita:
-Pelayanan & banyaknya aktifitas rohani bukan merupakan ukuran adanya
kasih. Dalam kisah Yesus, ada imam & orang Lewi (10:31-32) yang melihat
seorang korban perampokan yang hampir mati tapi mengabaikannya begitu saja. Dua
orang tersebut adalah gambaran mereka yang beribadah bahkan melayani dalam
pekerjaan Tuhan tetapi fakta kehidupan sehari-hari mereka, khususnya jika tidak
ada manusia lain yang melihat menunjukkan ketiadaan kasih. Tuhan tidak
memerintahkan kita melayani sesama. Dia ingin kita mengasihi sesama sampai kita
tidak dapat menahan diri melayani mereka. -Kasih adalah sesuatu yang dinyatakan
dalam perbuatan, bukan sekedar teori & kata-kata semata. Dua kali Yesus
menyatakan 'perbuatlah demikian' (10:28,37). Membicarakan, membahas, mengetahui,
memikirkan, mengajarkan, menyanyikan atau berkhotbah tentang kasih tidak pernah
cukup disebut sebagai mengasihi. Kasih diukur dari perbuatan-perbuatan kasih (1
Yoh.3:18). Kasih sejati dinyatakan dalam perhatian-perhatian &
perbuatan-perbuatan baik lainnya, khususnya yang di luar jangkauan pandangan
umum. -Kasih yang murni harus ditunjukkan bagi semua orang, tanpa
membeda-bedakan atau pandang bulu. Meski tidak bersahabat, kasih jualah yang
membuat orang Samaria menolong orang Yahudi yang terkapar tersebut. Cinta
sejati paling terbukti saat dinyatakan pada mereka yang tidak sepandangan atau
bahkan yang membenci kita. Tanpa cinta seperti ini, kita tidak mungkin diraih
untuk diselamatkan-Nya. Nyatakanlah kasih seperti yang diajarkan &
ditunjukkan oleh Yesus. Mulailah dari yang sederhana. Menunjukkan perhatian
tulus. Mengampuni & mendoakan orang-orang yang telah menyakiti &
mengecewakan Anda. Biarlah Tuhan -bukan orang- yang menilai perbuatan kasih
Anda. Salam revival! GBU.
Respon 2
“Satu kata yang sulit
diucapkan oleh orang serakah adalah 'Cukup!'” Xavier Quentin Pranata.
Respon 3
SAAT TEDUH. Senin,
26 Januari 2015. Lenyapnya Andalan Kita. Dan Yehuda berkumpul untuk meminta
pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari
TUHAN (2 Tawarikh 20:4). Tatkala serdadu Arab (Sarasin) telah mendarat di
jazirah Andalusia (Spanyol), komandannya memerintahkan agar perahu-perahu
mereka dibakar semua. Apa alasannya? Agar, seandainya para prajurit terdesak
oleh musuh, mereka tidak lari kembali ke perahu tersebut dan melarikan diri.
Jadi, para prajurit itu hanya punya pilihan: maju terus, entah menang entah
kalah. Sepasukan laskar besar dari Edom menyerang kerajaan Yehuda. Ketakutan
melanda seluruh negeri termasuk Yosafat, raja kerajaan itu. Yosafat sadar ia
tidak memiliki cukup kekuatan untuk menghalau musuh yang tiba-tiba menyerang
itu. Ia terjepit dan tidak berdaya. Dalam suasana sangat mencekam itu, Yosafat
mengambil keputusan yang tepat: mencari Tuhan! Ia mengajak seluruh rakyat Yehuda
untuk berpuasa dan berseru meminta pertolongan Tuhan. Dan Tuhan, yang mendengar
seruan doa itu, menyampaikan pesan melalui Yahaziel: “Janganlah kamu takut dan
terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang
melainkan Allah” (ay. 15). Acap kali Tuhan dengan sengaja melenyapkan hal-hal
yang selama ini menjadi andalan kita. Tuhan menghendaki agar kita hanya
berharap dan mengandalkan pertolongan-Nya. Harta kekayaan, bakat, talenta,
kecakapan, kepandaian, dan relasi yang kita anggap kuat, bisa jadi tempat kita
bergantung seperti ‘perahu Sarasin’ itu. Sekali waktu, Tuhan mungkin akan
membakar habis semua andalan kita itu dengan maksud agar kita hanya bergantung
sepenuhnya kepada pertolongan-Nya. HIDUP BERGANTUNG KEPADA TUHAN BERARTI HIDUP
BERDASARKAN IMAN, BUKAN BERGANTUNG PADA YANG LAIN. Selamat pagi. Selamat
berkarya. Tetap Semangat! Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 4
Wah 3:7, Apabila
TUHAN membuka, nggak ada yang bisa menutup; apabila TUHAN menutup, nggak ada
yang bisa membuka! Hanya TUHAN yang bisa nolong kita. Hiduplah bersama-NYA!
Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 5
Jika kita melihat
film pada bagian tertentu saja dimana tokoh yang baik mengalami tekanan,
penghinaan, penderitaan & keadaan-keadaan yang sulit tanpa harapan,
pastilah kita akan diserang rasa depresi yang hebat. Benak kita pastilah penuh
pertanyaan: mengapa orang benar tidak mendapat keberuntungan. Menariknya,
hingga kini kisah-kisah dengan akhir yang bahagia masih tetap menjadi favorit
semua orang di dunia. Sebagian orang memandang kehidupan seperti menonton
sebagian adegan film yang menyedihkan saja. Akibatnya, mereka berkesimpulan
tidak ada keadilan dalam hidup. Yang hidup lurus & jujur malah hancur,
sedangkan yang berbuat banyak kejahatan hidup senang bahkan tampak makin
makmur. Seperti Ayub, mereka bertanya, “Mengapa yang Mahakuasa tidak menghakimi
orang fasik? Mengapa orang benar menanti (keadilan-Nya) dalam
kesia-siaan?”~Ayub 40:1, NLT. Begitulah jika kehidupan diamati dalam satu
segmen saja. Kejahatan menang. Kegelapan berkuasa. Kesewenang-sewenangan
dimana-mana. Orang-orang fasik & kejam merajalela & masih tampak hidup
tenang. Hukum & undang-undang hanya menjadi alat pendukung
perbuatan-perbuatan jahat. Tidak ada keadilan, khususnya bagi kaum yang lemah
& miskin. Para pemimpin yang digadang-gadang pun masih meleset dari
harapan: kepercayaan yang melambung tinggi jatuh menjadi kekecewaan tak
tertahankan lagi. Namun, seperti Ayub, kita seharusnya melihat hingga akhir
kisah. Di dalam Allahnya, Ayub beroleh pencerahan besar: “Tuhan, dalam
kuasa-Nya, menyeret orang-orang yang kuat itu. Tuhan membiarkan mereka
sementara berdiam dalam rasa aman mereka, tapi Dia mengamat-amati
langkah-langkah mereka. Mereka ditinggikan untuk sementara waktu, lalu tiba-tiba
lenyap, direndahkan seperti lainnya.” ~Ayub 24:22-24, NET. Percayalah. Di akhir
kisah kita, keluarga kita, bangsa kita bahkan dunia ini -saat kita berpaling
& menaruh pengharapan teguh pada TUHAN saja (bukan pada dunia ini), Dia
menjamin kita dengan keadilan yang berujung sukacita yang besar. Sebab Dia,
yang telah berfirman, tidak akan pernah mengecewakan Anda. Percayalah. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment