Monday, 26 January 2015

26 Januari 2015



-BUILD A BETTER YOU-


Markus 9:28, “Ketika Yesus sudah di rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: 'Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?' Jawab-Nya kepada mereka: 'Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa.'” Bila kita mempunyai IMAN & BERDOA dengan TERATUR / disiplin maka kita akan punya KUASA untuk mengalahkan musuh kita / Iblis. Bukan kita yang takut kepada Iblis, tetapi Iblis yang takut kepada kita, amin J. Masihkah kita BERDOA & Punya IMAN di hari-hari ini? Tetap percaya bahwa Tuhan sudah memberikan KUASA-Nya untuk kita mengalahkan musuh-musuh kita J. Amin.

Respon 1
Orang Samaria yang baik hati ialah kisah perumpamaan yang disampaikan Yesus untuk menjawab seorang ahli taurat yang menanyakan mengenai “siapa sesama manusia yang harus dikasihi itu” (Luk. 10:25-37). Merenungkan bagian demi bagian, ada banyak prinsip mengenai kasih sejati yang Tuhan rindukan menjadi nyata dalam hidup kita: -Pelayanan & banyaknya aktifitas rohani bukan merupakan ukuran adanya kasih. Dalam kisah Yesus, ada imam & orang Lewi (10:31-32) yang melihat seorang korban perampokan yang hampir mati tapi mengabaikannya begitu saja. Dua orang tersebut adalah gambaran mereka yang beribadah bahkan melayani dalam pekerjaan Tuhan tetapi fakta kehidupan sehari-hari mereka, khususnya jika tidak ada manusia lain yang melihat menunjukkan ketiadaan kasih. Tuhan tidak memerintahkan kita melayani sesama. Dia ingin kita mengasihi sesama sampai kita tidak dapat menahan diri melayani mereka. -Kasih adalah sesuatu yang dinyatakan dalam perbuatan, bukan sekedar teori & kata-kata semata. Dua kali Yesus menyatakan 'perbuatlah demikian' (10:28,37). Membicarakan, membahas, mengetahui, memikirkan, mengajarkan, menyanyikan atau berkhotbah tentang kasih tidak pernah cukup disebut sebagai mengasihi. Kasih diukur dari perbuatan-perbuatan kasih (1 Yoh.3:18). Kasih sejati dinyatakan dalam perhatian-perhatian & perbuatan-perbuatan baik lainnya, khususnya yang di luar jangkauan pandangan umum. -Kasih yang murni harus ditunjukkan bagi semua orang, tanpa membeda-bedakan atau pandang bulu. Meski tidak bersahabat, kasih jualah yang membuat orang Samaria menolong orang Yahudi yang terkapar tersebut. Cinta sejati paling terbukti saat dinyatakan pada mereka yang tidak sepandangan atau bahkan yang membenci kita. Tanpa cinta seperti ini, kita tidak mungkin diraih untuk diselamatkan-Nya. Nyatakanlah kasih seperti yang diajarkan & ditunjukkan oleh Yesus. Mulailah dari yang sederhana. Menunjukkan perhatian tulus. Mengampuni & mendoakan orang-orang yang telah menyakiti & mengecewakan Anda. Biarlah Tuhan -bukan orang- yang menilai perbuatan kasih Anda. Salam revival! GBU.

Respon 2
“Satu kata yang sulit diucapkan oleh orang serakah adalah 'Cukup!'” Xavier Quentin Pranata.

Respon 3
SAAT TEDUH. Senin, 26 Januari 2015. Lenyapnya Andalan Kita. Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari TUHAN (2 Tawarikh 20:4). Tatkala serdadu Arab (Sarasin) telah mendarat di jazirah Andalusia (Spanyol), komandannya memerintahkan agar perahu-perahu mereka dibakar semua. Apa alasannya? Agar, seandainya para prajurit terdesak oleh musuh, mereka tidak lari kembali ke perahu tersebut dan melarikan diri. Jadi, para prajurit itu hanya punya pilihan: maju terus, entah menang entah kalah. Sepasukan laskar besar dari Edom menyerang kerajaan Yehuda. Ketakutan melanda seluruh negeri termasuk Yosafat, raja kerajaan itu. Yosafat sadar ia tidak memiliki cukup kekuatan untuk menghalau musuh yang tiba-tiba menyerang itu. Ia terjepit dan tidak berdaya. Dalam suasana sangat mencekam itu, Yosafat mengambil keputusan yang tepat: mencari Tuhan! Ia mengajak seluruh rakyat Yehuda untuk berpuasa dan berseru meminta pertolongan Tuhan. Dan Tuhan, yang mendengar seruan doa itu, menyampaikan pesan melalui Yahaziel: “Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah” (ay. 15). Acap kali Tuhan dengan sengaja melenyapkan hal-hal yang selama ini menjadi andalan kita. Tuhan menghendaki agar kita hanya berharap dan mengandalkan pertolongan-Nya. Harta kekayaan, bakat, talenta, kecakapan, kepandaian, dan relasi yang kita anggap kuat, bisa jadi tempat kita bergantung seperti ‘perahu Sarasin’ itu. Sekali waktu, Tuhan mungkin akan membakar habis semua andalan kita itu dengan maksud agar kita hanya bergantung sepenuhnya kepada pertolongan-Nya. HIDUP BERGANTUNG KEPADA TUHAN BERARTI HIDUP BERDASARKAN IMAN, BUKAN BERGANTUNG PADA YANG LAIN. Selamat pagi. Selamat berkarya. Tetap Semangat! Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 4
Wah 3:7, Apabila TUHAN membuka, nggak ada yang bisa menutup; apabila TUHAN menutup, nggak ada yang bisa membuka! Hanya TUHAN yang bisa nolong kita. Hiduplah bersama-NYA! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 5
Jika kita melihat film pada bagian tertentu saja dimana tokoh yang baik mengalami tekanan, penghinaan, penderitaan & keadaan-keadaan yang sulit tanpa harapan, pastilah kita akan diserang rasa depresi yang hebat. Benak kita pastilah penuh pertanyaan: mengapa orang benar tidak mendapat keberuntungan. Menariknya, hingga kini kisah-kisah dengan akhir yang bahagia masih tetap menjadi favorit semua orang di dunia. Sebagian orang memandang kehidupan seperti menonton sebagian adegan film yang menyedihkan saja. Akibatnya, mereka berkesimpulan tidak ada keadilan dalam hidup. Yang hidup lurus & jujur malah hancur, sedangkan yang berbuat banyak kejahatan hidup senang bahkan tampak makin makmur. Seperti Ayub, mereka bertanya, “Mengapa yang Mahakuasa tidak menghakimi orang fasik? Mengapa orang benar menanti (keadilan-Nya) dalam kesia-siaan?”~Ayub 40:1, NLT. Begitulah jika kehidupan diamati dalam satu segmen saja. Kejahatan menang. Kegelapan berkuasa. Kesewenang-sewenangan dimana-mana. Orang-orang fasik & kejam merajalela & masih tampak hidup tenang. Hukum & undang-undang hanya menjadi alat pendukung perbuatan-perbuatan jahat. Tidak ada keadilan, khususnya bagi kaum yang lemah & miskin. Para pemimpin yang digadang-gadang pun masih meleset dari harapan: kepercayaan yang melambung tinggi jatuh menjadi kekecewaan tak tertahankan lagi. Namun, seperti Ayub, kita seharusnya melihat hingga akhir kisah. Di dalam Allahnya, Ayub beroleh pencerahan besar: “Tuhan, dalam kuasa-Nya, menyeret orang-orang yang kuat itu. Tuhan membiarkan mereka sementara berdiam dalam rasa aman mereka, tapi Dia mengamat-amati langkah-langkah mereka. Mereka ditinggikan untuk sementara waktu, lalu tiba-tiba lenyap, direndahkan seperti lainnya.” ~Ayub 24:22-24, NET. Percayalah. Di akhir kisah kita, keluarga kita, bangsa kita bahkan dunia ini -saat kita berpaling & menaruh pengharapan teguh pada TUHAN saja (bukan pada dunia ini), Dia menjamin kita dengan keadilan yang berujung sukacita yang besar. Sebab Dia, yang telah berfirman, tidak akan pernah mengecewakan Anda. Percayalah.  Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)


No comments:

Post a Comment