Sunday, 18 January 2015

18 Januari 2015



-BUILD A BETTER YOU-


Baca: Wahyu 3:1-6. Ayat 1b, “...Engkau dikatakan Hidup, padahal engkau Mati!” Bagaimana orang hidup bisa mati? L. Jadi siapa yang disebut mati walaupun masih hidup? L. Jemaat di Sardis telah mati secara “rohani” & hanya beberapa anggotanya yang setia kepada Injil J. Secara lahiriah tampaknya mereka hidup & aktif serta memiliki keberhasilan & kerohanian yang terkenal baik. Mereka memiliki bentuk penyembahan yang menarik tetapi bukan “kuasa & kebenaran yang sejati dari Roh Kudus”. Tuhan melihat kehidupan batin / rohani & hati kita J. Kita dipilih untuk membawa dampak positif yang maksimal bagi dunia, bukan untuk mencuri KemuliaanNya.

Respon 1
SAAT TEDUH. Minggu, 18 Januari 2015. Makan untuk Hidup. Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4). Berapa banyak dari kita yang suka pilih-pilih makanan? Bukan sekadar memilih kandungan gizinya, melainkan memilih berdasarkan nilai gengsinya. Makan di tempat yang mewah, berkelas, bahkan meluangkan waktu dan anggaran khusus demi mencoba menu tertentu. Ada pula yang merasa puas jika telah membagikan foto menu rumah makan ternama di media sosial. Ada orang yang menghabiskan banyak waktu untuk urusan makan, seakan makanan adalah hal terpenting untuk dikejar dalam hidup ini. Padahal makanan bersifat sementara. Adam-Hawa dan Yesus mengalami pergumulan serupa. Mereka dicobai Iblis dengan iming-iming makanan. Tetapi, pilihan mereka berbeda. Adam dan Hawa memilih memenuhi hasrat jasmani dengan memakan buah yang dilarang Allah. Adapun Yesus memilih taat kepada Bapa dan melawan bujukan Iblis. Jika diperhatikan, sebenarnya Yesus sangat membutuhkan roti, sedangkan Adam dan Hawa masih dapat memakan buah yang lain. Yesus tidak melakukannya karena Dia tak mau tunduk kepada Iblis. Dia tetap fokus pada kekekalan meski secara jasmani Dia perlu makan. Dari kisah Adam dan Yesus, ada dua prinsip hidup yang dapat kita pilih. Pertama, prinsip “hidup untuk makan”. Orang tipe ini akan memanfaatkan hidupnya untuk mencari kepuasan dengan “makanan” (hal-hal fana). Kesuksesan duniawi menjadi fokus hidup mereka. Sedangkan prinsip kedua adalah “makan untuk hidup”. Orang tipe ini berfokus kepada Tuhan dan menggunakan “makanan” sebagai sarana bersahabat dengan Tuhan, Sang Hidup. Mana yang menjadi prinsip hidup Anda? HIDUP UNTUK MAKAN MEMBUAT KITA KEHILA-NGAN “HIDUP”. TETAPI, MAKAN UNTUK HIDUP MEMBUAT KITA BEROLEH “HIDUP”. Selamat pagi. Selamat beribadah, selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 2
Di atas bukit, dalam pengajaran-Nya yang terkenal, Yesus memberikan pelajaran yang amat berharga mengenai bagaimana sesungguhnya beribadah yang berkenan di hadapan Tuhan, yang disebut-Nya Bapa yang di sorga. Jika kita mengetahui tepat seperti yang Tuhan inginkan, ibadah kita tidak akan pernah sia-sia namun penuh perkenanan dan berkat Tuhan. Membaca ajaran Yesus mengenai 3 bentuk ibadah yang paling umum (yaitu bersedekah, berdoa & berpuasa) dalam Matius 6:1-18, kita menemukan kesamaan & pengulangan bahwa praktek ibadah yang benar di hadapan Bapa itu: 1) Dikerjakan dalam segala ketulusan hanya kepada Tuhan semata, tanpa motif-motif tersembunyi untuk mengesankan atau menyenangkan manusia (6:1,5-6,16). Ibadah dalam kemunafikan adalah kebencian di hadapan Tuhan dimana orang tampak seperti sedang berbuat bakti kepada Tuhan tetapi jauh di dasar hatinya, ia sebenarnya melakukannya supaya tampak baik & saleh di depan orang & keuntungan-keuntungan pribadi lainnya. 2) Sederhana, tanpa banyak aturan ini & itu. Tidak ada tempat khusus, tatacara-tatacara yang rumit, pakaian-pakaian tertentu, seremonial yang tersusun rapi atau segala pernak-pernik & simbol-simbol tertentu yang harus dipenuhi sebagai persyaratan ibadah yang pas di hati Tuhan. Yesus memerintahkan: berikan saja sedekah tanpa dicanangkan, berdoalah dalam kamarmu, berpuasalah dengan muka segar. Hanya itu. Tuhan yang mahatahu melihat kualitas sembahyang kita seutuhnya dari hati kita. Kerumitan & kesibukan dengan berbagai cara & gaya dapat digunakan iblis mengalihkan kita dari pusat ibadah kita: Tuhan sendiri! 3) Dilakukan dalam keyakinan iman yang teguh. Dan memang harus demikian. Saat kita menujukan seluruh penyembahan kita tulus semata-mata pada-Nya, iman kita tidak boleh goyah bahwa Dia pasti membalas kita (6:4,6,18). Saat hati kita rindu menyenangkan Dia -dalam ketulusan, kesederhanaan & iman yang teguh- maka tidak akan ada yang dapat menahan berkat-berkat yang memang telah disediakan untuk kita (Maz. 125:4;73:1). Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment