-BUILD A BETTER YOU-
Baca: Wahyu
3:1-6. Ayat 1b, “...Engkau dikatakan Hidup, padahal engkau Mati!” Bagaimana
orang hidup bisa mati? L. Jadi siapa yang disebut mati walaupun masih hidup? L. Jemaat di
Sardis telah mati secara “rohani” & hanya beberapa anggotanya yang setia
kepada Injil J. Secara lahiriah tampaknya mereka hidup & aktif serta memiliki
keberhasilan & kerohanian yang terkenal baik. Mereka memiliki bentuk
penyembahan yang menarik tetapi bukan “kuasa & kebenaran yang sejati dari
Roh Kudus”. Tuhan melihat kehidupan batin / rohani & hati
kita J. Kita dipilih
untuk membawa dampak positif yang maksimal bagi dunia, bukan untuk mencuri
KemuliaanNya.
Respon 1
SAAT TEDUH. Minggu,
18 Januari 2015. Makan untuk Hidup. Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti
saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4).
Berapa banyak dari kita yang suka pilih-pilih makanan? Bukan sekadar memilih
kandungan gizinya, melainkan memilih berdasarkan nilai gengsinya. Makan di
tempat yang mewah, berkelas, bahkan meluangkan waktu dan anggaran khusus demi
mencoba menu tertentu. Ada pula yang merasa puas jika telah membagikan foto
menu rumah makan ternama di media sosial. Ada orang yang menghabiskan banyak
waktu untuk urusan makan, seakan makanan adalah hal terpenting untuk dikejar
dalam hidup ini. Padahal makanan bersifat sementara. Adam-Hawa dan Yesus
mengalami pergumulan serupa. Mereka dicobai Iblis dengan iming-iming makanan.
Tetapi, pilihan mereka berbeda. Adam dan Hawa memilih memenuhi hasrat jasmani
dengan memakan buah yang dilarang Allah. Adapun Yesus memilih taat kepada Bapa
dan melawan bujukan Iblis. Jika diperhatikan, sebenarnya Yesus sangat
membutuhkan roti, sedangkan Adam dan Hawa masih dapat memakan buah yang lain.
Yesus tidak melakukannya karena Dia tak mau tunduk kepada Iblis. Dia tetap
fokus pada kekekalan meski secara jasmani Dia perlu makan. Dari kisah Adam dan
Yesus, ada dua prinsip hidup yang dapat kita pilih. Pertama, prinsip “hidup
untuk makan”. Orang tipe ini akan memanfaatkan hidupnya untuk mencari kepuasan dengan
“makanan” (hal-hal fana). Kesuksesan duniawi menjadi fokus hidup mereka.
Sedangkan prinsip kedua adalah “makan untuk hidup”. Orang tipe ini berfokus
kepada Tuhan dan menggunakan “makanan” sebagai sarana bersahabat dengan Tuhan,
Sang Hidup. Mana yang menjadi prinsip hidup Anda? HIDUP UNTUK MAKAN MEMBUAT
KITA KEHILA-NGAN
“HIDUP”. TETAPI, MAKAN UNTUK HIDUP MEMBUAT KITA BEROLEH “HIDUP”. Selamat pagi.
Selamat beribadah, selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 2
Di atas bukit,
dalam pengajaran-Nya yang terkenal, Yesus memberikan pelajaran yang amat
berharga mengenai bagaimana sesungguhnya beribadah yang berkenan di hadapan
Tuhan, yang disebut-Nya Bapa yang di sorga. Jika kita mengetahui tepat seperti
yang Tuhan inginkan, ibadah kita tidak akan pernah sia-sia namun penuh
perkenanan dan berkat Tuhan. Membaca ajaran Yesus mengenai 3 bentuk ibadah yang
paling umum (yaitu bersedekah, berdoa & berpuasa) dalam Matius 6:1-18, kita
menemukan kesamaan & pengulangan bahwa praktek ibadah yang benar di hadapan
Bapa itu: 1) Dikerjakan dalam segala ketulusan hanya kepada Tuhan semata, tanpa
motif-motif tersembunyi untuk mengesankan atau menyenangkan manusia
(6:1,5-6,16). Ibadah dalam kemunafikan adalah kebencian di hadapan Tuhan dimana
orang tampak seperti sedang berbuat bakti kepada Tuhan tetapi jauh di dasar
hatinya, ia sebenarnya melakukannya supaya tampak baik & saleh di depan
orang & keuntungan-keuntungan pribadi lainnya. 2) Sederhana, tanpa banyak
aturan ini & itu. Tidak ada tempat khusus, tatacara-tatacara yang rumit,
pakaian-pakaian tertentu, seremonial yang tersusun rapi atau segala
pernak-pernik & simbol-simbol tertentu yang harus dipenuhi sebagai
persyaratan ibadah yang pas di hati Tuhan. Yesus memerintahkan: berikan saja
sedekah tanpa dicanangkan, berdoalah dalam kamarmu, berpuasalah dengan muka
segar. Hanya itu. Tuhan yang mahatahu melihat kualitas sembahyang kita
seutuhnya dari hati kita. Kerumitan & kesibukan dengan berbagai cara &
gaya dapat digunakan iblis mengalihkan kita dari pusat ibadah kita: Tuhan
sendiri! 3) Dilakukan dalam keyakinan iman yang teguh. Dan memang harus
demikian. Saat kita menujukan seluruh penyembahan kita tulus semata-mata
pada-Nya, iman kita tidak boleh goyah bahwa Dia pasti membalas kita (6:4,6,18).
Saat hati kita rindu menyenangkan Dia -dalam ketulusan, kesederhanaan &
iman yang teguh- maka tidak akan ada yang dapat menahan berkat-berkat yang
memang telah disediakan untuk kita (Maz. 125:4;73:1). Salam revival! GBU.
(Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment