Sunday, 25 January 2015

25 Januari 2015



-BUILD A BETTER YOU-

Penghkhotbah 11:4, “Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai.” Amin J. Kita berada dalam dunia dimana selalu menantikan “keadaan yang baik”, padahal jika kita “hanya menunggu waktu” yang baik / tepat maka kita tidak akan menghasilkan apa-apa L. Sebab keadaan tidak akan pernah ideal. Kalau kita hanya menunggu waktu yang baik / tepat maka kita tidak akan bekerja, sehingga tidak akan menghasilkan apa-apa L. Bekerjalah bukan berdasarkan waktu yang baik / tepat, tetapi berdasarkan kewajiban & kebutuhan J.

Respon 1
“Semakin dalam hubungan seseorang dengan Tuhan, semakin paham dia perbedaan antara kesenangan dan kebahagiaan.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 2
SAAT TEDUH. Minggu, 25 Januari 2015. Sutradara Agung. Di situ ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus... Paulus singgah di rumah mereka (Kisah Para Rasul 18:2). Salah satu sebutan Tuhan yang menarik perhatian saya adalah: Sang Sutradara Agung. Memang tidak tertulis dalam Alkitab, tetapi banyak peristiwa yang menegaskan karya-Nya sebagai “sutradara”. Dia sanggup mereka-reka agar kehendak dan rencana-Nya terjadi dengan sempurna. Salah satu kehebatan Allah adalah ketika Dia mengatur segala sesuatu supaya tugas yang Dia berikan kepada hamba-Nya dapat terselesaikan dengan baik. Menarik sekali keterangan singkat dalam Alkitab tentang perjumpaan Paulus dengan Akwila dan Priskila di Korintus. Entah bagaimana, ketika Paulus melanjutkan perjalanan dari Atena, waktunya pas dengan tibanya pasangan Akwila dan Priskila di kota itu. Pasangan itu kembali ke Korintus setelah Kaisar Klaudius memerintahkan agar semua orang Yahudi meninggalkan Roma. Suatu kebetulan? Rasanya tidak! Bayangkan betapa sempurna Allah mengatur agar mereka dapat bertemu dengan Paulus dan mendukungnya dalam memberitakan Injil dan bekerja sebagai pembuat tenda. Peranan Akwila dan Priskila sangat penting sehingga Paulus menyebut mereka sebagai teman sekerja dalam Kristus (Rm. 16:3). Sesungguhnya, bagi orang percaya tidak ada peristiwa kebetulan; semua ada dalam rencana-Nya. Pertemuan kita dengan orang tertentu, keberadaan kita di daerah tertentu, bahkan kemalangan atau sukacita yang kita alami, yakinlah bahwa Allah turut berperan di dalamnya, bekerja dengan kuat kuasa-Nya, untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Percayalah bahwa Dia adalah Sang Sutradara Agung! SETIAP PERISTIWA DALAM HIDUP KITA ADALAH KESEMPATAN UNTUK MENIKMATI CAMPUR TANGAN-NYA DALAM HIDUP KITA. Selamat hari Minggu. Selamat beribadah. Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 3
Minggu, 25 Januari 2015. Bacaan: Matius 27:1-10. Setahun: Keluaran 23-25. Nats: Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua (Matius 27:3). PENYESALAN TERBESAR. Di Belgia pernah dilakukan survey terhadap warga berusia 60 tahun tentang penyesalan terbesar yang mereka rasakan. Hasilnya? Ternyata 72% menyesal karena mengabaikan waktu untuk bekerja dengan baik pada masa muda; 67% karena merasa salah memilih pekerjaan; 63% karena tidak mendidik anak dengan benar; 58% karena kurang berolahraga dan menjaga kesehatan; dan 11% karena tidak memiliki cukup banyak uang. Ketika kita sadar telah mengambil langkah yang keliru, kita menyesal. Ketika kita sadar telah melakukan hal yang salah, kita menyesal. Ketika kita harus menerima konsekuensi atas suatu perbuatan dosa, kita menyesal. Setiap orang pernah melakukan hal yang keliru dan membuatnya menyesal. Tetapi, tidak semua orang mampu belajar dari kesalahan dan penyesalannya. Banyak orang menyesali perbuatannya, tetapi mereka tidak segera memperbaiki pola hidupnya yang salah. Akibatnya, seperti kata pepatah, penyesalan selalu datang terlambat. Yudas juga menyesali kekeliruannya. Sayang, ia memilih jalan bunuh diri untuk membayar kesalahannya. Tidak sedikit orang menunjukkan penyesalannya dengan cara yang salah. Sesungguhnya, penyesalan adalah sebuah kesempatan dan anugerah Allah! Masing-masing kita tentu pernah membuat kesalahan dan hal itu menimbulkan rasa bersalah di dalam hati. Allah menghargai penyesalan kita dan Dia sanggup memakai kesalahan itu untuk menyatakan rencana-Nya yang besar dalam hidup kita. Anugerah-Nya tetap tersedia untuk kita! --SYS. PENYESALAN ADALAH KESEMPATAN BAGI ALLAH UNTUK MENCURAHKAN ANUGERAH PENGAMPUNAN DAN MEMULIHKAN HIDUP KITA. (Ibu Caroline – Bandung)


No comments:

Post a Comment