-BUILD A BETTER YOU-
Penghkhotbah 11:4, “Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak
akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai.” Amin J. Kita berada
dalam dunia dimana selalu menantikan “keadaan yang baik”, padahal jika kita
“hanya menunggu waktu” yang baik / tepat maka kita tidak akan
menghasilkan apa-apa L. Sebab keadaan tidak akan pernah ideal. Kalau kita hanya menunggu
waktu yang baik / tepat maka kita tidak akan bekerja, sehingga tidak akan
menghasilkan apa-apa L. Bekerjalah bukan berdasarkan waktu yang baik / tepat,
tetapi berdasarkan kewajiban & kebutuhan J.
Respon 1
“Semakin dalam
hubungan seseorang dengan Tuhan, semakin paham dia perbedaan antara kesenangan
dan kebahagiaan.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 2
SAAT TEDUH. Minggu,
25 Januari 2015. Sutradara Agung. Di situ ia berjumpa dengan seorang Yahudi
bernama Akwila, yang berasal dari Pontus... Paulus singgah di rumah mereka
(Kisah Para Rasul 18:2). Salah satu sebutan Tuhan yang menarik perhatian saya
adalah: Sang Sutradara Agung. Memang tidak tertulis dalam Alkitab, tetapi
banyak peristiwa yang menegaskan karya-Nya sebagai “sutradara”. Dia sanggup
mereka-reka agar kehendak dan rencana-Nya terjadi dengan sempurna. Salah satu
kehebatan Allah adalah ketika Dia mengatur segala sesuatu supaya tugas yang Dia
berikan kepada hamba-Nya dapat terselesaikan dengan baik. Menarik sekali keterangan
singkat dalam Alkitab tentang perjumpaan Paulus dengan Akwila dan Priskila di
Korintus. Entah bagaimana, ketika Paulus melanjutkan perjalanan dari Atena,
waktunya pas dengan tibanya pasangan Akwila dan Priskila di kota itu. Pasangan
itu kembali ke Korintus setelah Kaisar Klaudius memerintahkan agar semua orang
Yahudi meninggalkan Roma. Suatu kebetulan? Rasanya tidak! Bayangkan betapa
sempurna Allah mengatur agar mereka dapat bertemu dengan Paulus dan
mendukungnya dalam memberitakan Injil dan bekerja sebagai pembuat tenda.
Peranan Akwila dan Priskila sangat penting sehingga Paulus menyebut mereka
sebagai teman sekerja dalam Kristus (Rm. 16:3). Sesungguhnya, bagi orang
percaya tidak ada peristiwa kebetulan; semua ada dalam rencana-Nya. Pertemuan
kita dengan orang tertentu, keberadaan kita di daerah tertentu, bahkan
kemalangan atau sukacita yang kita alami, yakinlah bahwa Allah turut berperan
di dalamnya, bekerja dengan kuat kuasa-Nya, untuk mendatangkan kebaikan bagi
kita. Percayalah bahwa Dia adalah Sang Sutradara Agung! SETIAP PERISTIWA DALAM
HIDUP KITA ADALAH KESEMPATAN UNTUK MENIKMATI CAMPUR TANGAN-NYA DALAM HIDUP
KITA. Selamat hari Minggu. Selamat beribadah. Selamat melayani. Tuhan Yesus
memberkati. (Madam Ossy)
Respon 3
Minggu, 25 Januari
2015. Bacaan: Matius 27:1-10. Setahun: Keluaran 23-25. Nats: Pada waktu Yudas,
yang menyerahkan Dia, melihat bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati,
menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada
imam-imam kepala dan tua-tua (Matius 27:3). PENYESALAN TERBESAR. Di Belgia
pernah dilakukan survey terhadap warga berusia 60 tahun tentang penyesalan
terbesar yang mereka rasakan. Hasilnya? Ternyata 72% menyesal karena
mengabaikan waktu untuk bekerja dengan baik pada masa muda; 67% karena merasa
salah memilih pekerjaan; 63% karena tidak mendidik anak dengan benar; 58%
karena kurang berolahraga dan menjaga kesehatan; dan 11% karena tidak memiliki
cukup banyak uang. Ketika kita sadar telah mengambil langkah yang keliru, kita
menyesal. Ketika kita sadar telah melakukan hal yang salah, kita menyesal.
Ketika kita harus menerima konsekuensi atas suatu perbuatan dosa, kita
menyesal. Setiap orang pernah melakukan hal yang keliru dan membuatnya
menyesal. Tetapi, tidak semua orang mampu belajar dari kesalahan dan
penyesalannya. Banyak orang menyesali perbuatannya, tetapi mereka tidak segera
memperbaiki pola hidupnya yang salah. Akibatnya, seperti kata pepatah,
penyesalan selalu datang terlambat. Yudas juga menyesali kekeliruannya. Sayang,
ia memilih jalan bunuh diri untuk membayar kesalahannya. Tidak sedikit orang
menunjukkan penyesalannya dengan cara yang salah. Sesungguhnya, penyesalan
adalah sebuah kesempatan dan anugerah Allah! Masing-masing kita tentu pernah
membuat kesalahan dan hal itu menimbulkan rasa bersalah di dalam hati. Allah
menghargai penyesalan kita dan Dia sanggup memakai kesalahan itu untuk
menyatakan rencana-Nya yang besar dalam hidup kita. Anugerah-Nya tetap tersedia
untuk kita! --SYS. PENYESALAN ADALAH KESEMPATAN BAGI ALLAH UNTUK MENCURAHKAN
ANUGERAH PENGAMPUNAN DAN MEMULIHKAN HIDUP KITA. (Ibu Caroline – Bandung)

No comments:
Post a Comment