Wednesday, 6 September 2017

6 September 2017

I AM LOVED






I'M Loved ❤ (Aku Dikasihi/Aku DicintaiNya). Efesus 3:18-19, 18Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 19dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.” Kata dalam dalam bahasa aslinya adalah bahtos yang artinya kedalaman/tempat yang dalam. Dalam penerapannya dimensi ini berbicara tentang memiliki akar yang kokoh/akar yang dalam. Bertahan tidaknya sebuah pohon tergantung dari kuat tdknya akar pohon tersebut untuk tetap bercokol di tanah. Disamping itu dimensi dalam juga berbicara tentang membangun akar yang kokoh dalam keluarga dan Gereja. Rasul Paulus didalam kitab Roma 8:35,38-39 mengatakan bahwa tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah. Ketika kita merasa berada dalam lembah dosa sekalipun, kasih Allah tetap bersama kita. Ketika Adam dan Hawa melanggar perintah Allah dengan memakan buah terlarang, mereka takut dan bersembunyi, tetapi Allah mencari mereka. Apakah ketika kita gagal Allah berhenti mengasihi kita? Tidak! Sebaliknya, IA mencari dan mengangkat kita kembali. Seperti itulah DALAM-Nya KASIH Kristus kepada kita.

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#IMLoved

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab Mazmur 148-149
PB: Lukas 15:11-32

#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoveD

Bp. Sadrak Soewargo – Citraland
KU MAU SPERTI MU YESUS.
Yeremia 9:3, “Mereka melenturkan lidahnya seperti busur; dusta dan bukan kebenaran merajalela dalam negeri.”
Yeremia 9:4, “Baiklah setiap orang berjaga-jaga terhadap temannya, dan janganlah percaya kepada saudara manapun, sebab setiap saudara adalah penipu ulung, dan setiap teman berjalan kian kemari sebagai pemfinah.”
Yeremia 9:5, “Yang seorang menipu yang lain dan tidak seorangpun berkata benar; mereka sudah membiasakan lidahnya untuk berkata dusta; mereka melakukan kesalahan dan malas untuk bertobat.”
Yeremia 9:23, “Beginilah firman TUHAN, Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya.”
Ratapan yang disampaikan nabi Yeremia menunjukkan bahwa, umat Israel begitu bobrok tingkah laku dan moralnya, mereka tidak pernah melakukan pertobatan. Perbuatan yang mereka lakukan bukannya mengurangi kesedihan TUHAN, melainkan menambah amarah-Nya. Satu pribadi dengan yang lain, tidak ada kesepakatan yang benar, yang ada adalah tipu dusta dan fitnah. Firman TUHAN: jangan bermegah diri-sombong, merasa paling hebat, karena itu semua adalah sia-sia. TUHAN ingin mereka mengenal dan mengikuti, hidup penuh dengan Kasih-Setia, Keadilan dan kebenaran. Kehidupan kita saat ini, hampir mirip dengan kejadian yang disampaikan nabi Yeremia, penuh dengan tipu-iri dengki-fitnah dan dendam-kebencian. Kita tidak tahu siapa lawan dan siapa kawan, hidup sulit untuk memiliki kepercayaan dan kebersamaan bahkan terhadap orang yang dekat dengan kita sekalipun. Puji syukur bahwa kita memiliki TUHAN yang setia, selalu mengerti dan memberikan reminder setiap saat, walaupun sering kita tidak melihat-merasakannya karena kesombongan dan harga diri yang terlalu tinggi. Merendahkan diri dihadapan-Nya, hidup dalam Firman-Nya, ikuti teguran dan nasehat TUHAN, itulah jalan kedamaian dan hidup yang bersahaja. Bapa disurga, hanya Engkau yang peduli pada hidup kami. Terima kasih juga TUHAN, engkau mengirimkan pesan-teman dan reminder tanpa henti kepada kami. Kami mau mengikut Engkau, hidup penuh kasih-pengampunan, hidup dalam Firman dan kebenaran-Mu. Amin. “Ku mau sperti-Mu Yesus, Disempurnakan slalu. Dalam setiap jalanku, memuliakan nama-Mu.” Jesus Loves you.
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 46 - 49
#Jesus #Jesusloveyou #saatteduh #firmanTuhan #kasih #pengampunan
Anda diberkati - Like Page FB #Jesuslovesyou1006
Anda peduli, menabur benih - Share kepada teman

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Rabu, 6 September 2017. GEMBALA SEJATI ATAU UPAHAN. Bacaan: Yohanes 10:1-18. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu (Yohanes 10:13). Persis 1 Januari 2017, kapal wisata Zahro Express yang sarat penumpang terbakar di perairan Kepulauan Seribu. Puluhan penumpang meninggal dunia. Saat kapal mulai terbakar, kapten kapal justru melompat lebih dulu untuk menyelamatkan diri. Sikap sang kapten ini disesalkan oleh Direktur Hubungan Laut-Kementerian Perhubungan. “Kapten yang melompat duluan bukanlah kapten,” sesalnya. Firman Tuhan hari ini berbicara hal serupa. Ciri seorang gembala sejati ialah rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan domba-dombanya, ketika serigala hendak memangsa mereka. Itulah Kristus yang patut kita teladani. Namun gembala upahan akan segera lari menyelamatkan diri dan membiarkan kawanan domba gembalaannya berjuang sendiri dimangsa gerombolan serigala. Anda dan saya, dalam skala berbeda-beda, adalah pemimpin atau gembala. Baik di rumah tangga, sekolah, gereja, masyarakat, atau dunia kerja. Tuhan menempatkan setiap kita dalam peran yang unik agar kita mengambil tanggung jawab sebagai gembala sejati. Yakni yang rela memberi sepenuh hidup kita, untuk menjagai kawanan domba yang dipercayakan-Nya. Sebab, kawanan domba itu harus menghadapi berbagai tantangan dunia ini: pornografi, kekerasan rumah tangga, pelecehan seksual, bullying, penyalahgunaan narkotika, korupsi, intoleransi, dan masih banyak lagi. Di manakah posisi kita saat ini? Di bagian depan di mana kita menjagai kawanan domba kita, atau acuh tak acuh sebab kita hanyalah gembala upahan? Setia menjaga tanggung jawab sebagai gembala, adalah suatu kehormatan. SEORANG KAPTEN SEJATI MEMASTIKAN SELURUH PENUMPANG SELAMAT, NASIBNYA SENDIRI TIDAKLAH IA DAHULUKAN. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: Mazmur 148-150 dan Lukas 15:11-32.

GNCC
Yesus memberikan kepada kita AIR HIDUP supaya memancar dan bukan untuk disimpan di tandon. #gncc #maturity

Xavier Quentin Pranata
“Dalam suka maupun duka, keluarga inti tetap yang paling berharga” Xavier Quentin Pranata.

No comments:

Post a Comment