I AM LOVED
I'M Loved ❤ (Aku Dikasihi/Aku
DicintaiNya) – Discipleship.
Selain melakukan segala tanda yang ajaib (Markus 1:16-28), Tuhan Yesus
memanggil murid-murid dan menjadikan mereka penjala manusia. Ia memanggil
mereka untuk menyertai DIA didalam pelayanan dan menyaksikan bagaimana DIA
melakukanNya. Mereka yang mengikutiNya ini boleh dikatakan sedang
dilatih/ditraining. Pelatihannya bukan dikelas tetapi langsung dipraktekkan.
Ayat 17, “Yesus berkata kepada mereka: ‘Mari, ikutlah Aku dan kamu akan
Kujadikan penjala manusia.’” Ayat 18, “Lalu merekapun segera
meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.” Ayat 19, “Dan setelah Yesus
meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan
Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu.” Ayat 20, “Yesus
segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam
perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia.” Dalam proses
dilatih ini, Tuhan Yesus melihat perkembangan setiap murid-muridNya. Setelah
itu Yesus juga memanggil orang-orang yang dipilihNya supaya menyertai DIA.
Setelah itu baru Tuhan Yesus MENGUTUS murid-muridNya untuk PERGI memberitakan
Injil, pergi untuk menjadi penjala jiwa. Demikian juga dengan kita. Kita diutus
untuk pergi di marketplace kita masing-masing, DIA akan MENYERTAI kita hingga
kesudahan jaman ini. Masihkah kita ragu, jika kita yang sudah DIPILIH, DIUTUS
juga untuk memberitakan Injil KerajaanNya? Amin.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#IMLoved
Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Yesaya 1-2
PB: Titus 2
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoveD
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Selasa, 26 September 2017. RANCANGAN INDAH.
Bacaan: Kejadian 40. “Tetapi, ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik
nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku
kepada Firaun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini” (Kejadian 40:14).
Karena fitnah, Yusuf dipenjara. Tetapi ketika di dalam penjara pun Yusuf
menolong orang lain. Diantaranya adalah juru minuman Firaun. Saat ia bermimpi,
Yusuflah yang bisa menafsirkannya. Kemudian Yusuf meminta kepadanya: “Ingatlah
kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu
kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Firaun dan tolonglah keluarkan
aku dari rumah ini.” Tetapi, ketika tafsiran Yusuf itu terjadi, dan ia
dikeluarkan dari penjara, ia melupakan Yusuf (ay. 23). Walaupun Yusuf telah
terbukti menjadi orang yang handal dan melakukan hal yang baik pada sesamanya,
ia dilupakan dan dibiarkan di penjara selama bertahun-tahun. Namun Tuhan tidak
berhenti bekerja dalam hidup Yusuf di situ. Lambat laun, pemimpin penjara
memercayai Yusuf dengan tanggung jawab mengelola segala urusan penjara. Selama
ia di dalam penjara, pasti Yusuf tidak mengetahui bahwa ketika ia melayani para
tawanan di penjara Firaun, Allah sedang mempersiapkannya untuk melayani
masyarakat Mesir. Mungkin Anda juga mengalami seperti Yusuf. Ada teman yang
telah mengecewakan Anda. Ada perbuatan baik Anda yang tak dibalas dengan
serupa. Tetapi ingatlah bahwa sepanjang hidup kita, Allah tidak pernah berhenti
untuk bekerja di dalamnya. Ketika kita menjalani masa-masa penuh rintangan,
kita sering kecewa, karena kita tidak tahu rencana Allah buat kita. Seringkali
Allah belum selesai, Dia sedang mempersiapkan kita untuk rancangan-Nya yang
mulia dan yang tidak terpikirkan oleh kita! KETIKA MENJALANI MASA SULIT, TAK
JARANG KITA KECEWA, KARENA TAK MEMAHAMI RENCANA ALLAH. IA SEDANG MERANCANG YANG
MULIA DAN TAK TERPIKIRKAN OLEH KITA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.
#LoveTheBible – Bacaan: Yesaya 1-2 dan Titus 2.
Bp. Peter – Worship Center Surabaya
THE LAST DEEDS OF DAVID. Oleh Peter B, MA.
http://worshipcenterindonesia.blogspot.co.id/2017/09/the-last-deeds-of-david.html
“Dengan segenap kemampuan aku telah mengadakan persediaan
untuk rumah Allahku, yakni emas untuk barang-barang emas, perak untuk
barang-barang perak, tembaga untuk barang-barang tembaga, besi untuk
barang-barang besi, dan kayu untuk barang-barang kayu, batu permata syoham dan
permata tatahan, batu hitam dam batu permata yang berwarna-warna, dan segala
macam batu mahal-mahal dan sangat banyak pualam. Lagipula oleh karena cintaku
kepada rumah Allahku, maka sebagai tambahan pada segala yang telah kusediakan
bagi rumah kudus, aku dengan ini memberikan kepada rumah Allahku dari emas dan
perak kepunyaanku sendiri: tiga ribu talenta emas dari emas Ofir dan tujuh ribu
talenta perak murni untuk menyalut dinding ruangan,” (1 Tawarikh 29:2-4)
David Livingstone adalah seorang misionaris yang seringkali
disebut-sebut sebagai rasul bagi Afrika. Hampir ¾ hidupnya dihabiskan untuk
membawa Injil ke Afrika. Dalam pelayanannya,ia tidak hanya dapat disebut
habis-habisan tetapi juga mati-matian. Puluhan tahun kemudian, Penginjil
Reinhard Bonnke dengan penuh rasa syukur memberikan pengakuan kepada dunia
bahwa darah dan air mata para pendahulunya-lah yang telah menyuburkan “ladang
Tuhan” di Afrika. Tuaian jiwa-jiwa yang besar dan berlimpah ruah di zaman ini,
diakui Bonnke merupakan hasil dari tanah yang subur sehingga menyiapkan tuaian
sekarang ini. Salah satu pendahulu Bonnke yang telah menapaki jalan-jalan
berdarah itu adalah Livingstone.
Kehidupan Livingstone seringkali menjadi acuan bagi
pelayanan-pelayanan para misionaris selanjutnya. Ia kehilangan penglihatan satu
matanya, satu kaki yang cacat dan tidak dapat berjalan sempurna, tubuh yang
bungkuk karena demam dan kulit yang menjadi hitam legam akibat panas matahari
Afrika yang ganas. Berkali-kali ia hampir kehilangan nyawanya karena binatang
buas, penyakit dan serangan penduduk asli Afrika. Seluruh hidupnya menjadi satu
persembahan untuk memenangkan Afrika bagi Tuhan.
Tetapi ada satu hal lagi yang menarik dari Livingstone.
Setiap pagi Ia berdoa di sisi tempat tidurnya di dalam tendanya. Setiap pagi ia
berdoa bagi Afrika yang sangat dikasihinya. Tidak berbeda dengan hari terakhir
hidupnya. Hari itu ia berlutut dan berdoa bagi Afrika, semua pembantunya
mengetahui hal itu. Namun hari itu berbeda, hari telah siang tetapi Livingstone
tidak kunjung keluar. Apa yang terjadi? Para pembantunya pun memberanikan diri
untuk masuk dan mereka melihat Livingstone masih berlutut tidak bergerak.
Mereka memanggil tetapi tidak ada jawaban dan tahulah mereka: Livingstone telah
pulang ke rumah Bapa dalam doa bagi Afrika. Itulah perbuatan terakhirnya: ia
menyerahkan Afrika dan berdoa bagi revival di Afrika.
Hari ini kita belajar sesuatu yang lebih dari sekadar
kata-kata. Hari ini kita belajar perbuatan terakhir dari Daud. Seperti
kata-kata terakhirnya, tindakan terakhir Daud mencerminkan siapa sesungguhnya
dia dan bagaimana ia menjalani hidupnya.
Persis sebelum ia mangkat, Daud menyampaikan kata-kata
terakhirnya kepada seluruh bawahan dan anaknya. Tidak hanya itu, di depan mata
seluruh pengikutnya itu, ia melakukan tindakan iman perbuatan terakhir yang
dilakukannya. Tahukah Anda apa yang dilakukan Daud di masa akhir hidupnya?
Tidak seperti kebanyakan orang lain yang menganggap usia senja sebagai masa
penuaian dari apa yang telah mereka tabur semasa hidup, Daud pada masa tuanya tetap
menabur. Jika yang lain cenderung meminta dan menerima dari orang lain pada
masa akhir hidupnya, Daud berbeda. Ia memberi. Ia telah memberi sepanjang
hidupnya dan ia tetap memberi hingga akhir hidupnya. Memberi adalah gaya
hidupnya!
Hidup Daud pada masa tua menggenapi firman Tuhan dalam
Mazmur 92:13-16:
“Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh
subur seperti pohon aras di Libanon; ….Pada masa tua pun mereka masih berbuah,
menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia
gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.”
Berbuah berarti berguna dan membawa hasil bagi banyak orang.
Itulah hidup dalam kedewasaan rohani. Itulah puncak hidup dalam penyembahan
yang sejati karena menyembah berarti memberi. Penyembahan adalah pengorbanan.
Pengorbanan dari apa yang menguntungkan bagi kita, dalam hidup kita bahkan yang
terbaik dari kita untuk dipersembahkan sepenuhnya bukan lagi bagi kepentingan
dan kemuliaan diri kita sendiri tetapi bagi TUHAN saja.
Setiap penyembah sejati pastilah seorang pemberi dan para
pakar dan ahli dalam bidang pengorbanan. Beginilah cara Daud memberi:
-ia memberi dengan segenap kemampuan
-ia memberi karena cinta kepada Allah
Daud mengusahakan dengan segenap kemampunnya untuk
menyiapkan segenap kebutuhan Bait Allah yang nanti dibangun Salomo. Lebih dari
itu, ia menegaskan bahwa karena cinta pada rumah Allahnya, ia masih memberikan
emas dan perak kepunyaannya sendiri bagi pembangunan Bait itu. Di hadapan
manusia, Daud memberikan lebih kepada Tuhan. Di hadapan Tuhan, Daud telah
memberikan yang terbaik: yaitu semua yang dapat ia berikan.
Pikiran Daud diungkapkan begitu jelas pada kita dalam 1
Tawarikh 22:5; Karena pikir Daud: “Salomo, anakku, masih muda dan kurang
berpengalaman, dan rumah yang harus didirikannya bagi TUHAN haruslah luar biasa
besarnya sehingga menjadi kenamaan dan termasyhur di segala negeri; sebab itu
baiklah aku mengadakan persediaan baginya!” Lalu Daud membuat sangat banyak
persediaan sebelum ia mati.
Daud rindu Bait Allah itu menjadi bangunan yang terbaik yang
tepat dan layak sebagai tempat kediaman dan tahta Tuhan di bumi. Sesungguhnya
yang dirindukan Daud bukanlah kedahsyatan dan kemegahan bagunan itu, yang ia
rindukan adalah Allah yang ia sembah dengan penuh cinta itu berkenan hadir di
sana. Ini suatu permintaan yang sukar, tetapi Daud mengharapkan yang terbaik
sebab itu ia memberikan yang terbaik.
Apakah kita sedang mengharapkan yang terbaik dari Tuhan?
Berapa banyak di antara Anda yang mengharapkan Tuhan melakukan yang terbaik
dalam hidup Anda? Pemulihan? Kesembuhan? Berkat-berkat terbaik? Sudahkah Anda
berikan yang terbaik bagi Dia? Tuhan akan memberikan yang terbaik pada mereka
yang mengejar Dia dan memberikan yang terbaik bagi Dia (Matius 6:33).
Atau seperti Daud, Anda sedang merindukan lawatan kehadiran
Tuhan yang membawa kebangunan atas keluarga, kota dan bangsamu? Adakah engkau
sedang menginginkan lawatan dan kuasa Tuhan tercurah mempertobatkan orang-orang
terhilang di kotamu? Pandanglah Daud. Ia tahu bagaimana membawa lawatan Tuhan
itu turun dan tercurah atas bangsanya. Sekali lagi, hanya penyembahan dan
penyembahan saja yang akan menarik Tuhan turun dari tahtanya di surga dan sudi
berdiam di atas tahta-tahta rapuh manusia bejana tanah liat ini.
Daud membuktikan dirinya sebagai penyembahan sejati.
Hidupnya yang penuh dengan penyembahan itulah yang membawa hadirat Tuhan
mendekat. Walau ia kemudian tiada, penyembahannya tidak pernah sia-sia. Hidup
Daud di dunia ditutup dengan penyembahan. Ia memang tidak pernah menyaksikan
dan merasakan lawatan Tuhan yang perkasa atas Bait itu. Tetapi ia melihat Yang
Jauh Lebih Berharga Dari Segalanya. Ia masuk dalam tingkatan penyembahan yang
baru. Muka dengan muka. AMIN.
GNCC
Seberapa besar rindumu akan Tuhan maka sebesar itu juga Tuhan
akan memuaskan hasratmu. #gncc #maturity

No comments:
Post a Comment