Tuesday, 5 September 2017

5 September 2017

I AM LOVED






I'M Loved ❤ (Aku Dikasihi/Aku DicintaiNya). Efesus 3:18-19, 18Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 19dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.” Kata tinggi dalam bahasa aslinya adalah hupsos yang artinya: ukuran tinggi, tempat tinggi di surga. Rasul Paulus memakai kata hupsos ini untuk memberikan gambaran kepada jemaat Efesus bahwa tinggiNya Kasih Allah mengatasi langit, bahkan sampai kesurga.menunjukkan bahwa Kasih Allah tidak terukur dan tidak tebatas. TinggiNya kasih Allah juga menggambarkan bahwa ketika kita hidup dalam kasihNya, tidak ada satupun musuh yang dapat menjangkau kita. Kita aman bersamaNya. TinggiNya Kasih Allah menggambarkan sukacita yang kita dapatkan bersamaNya (Maz 91:1-16). Setiap orang yang menaruh perlindungannya kepada Tuhan tidak perlu merasa takut dan kuatir akan kehidupan ini sebab mereka mengetahui bahwa Allah adalah tempat perlindungan mereka (baca Mazmur 91:1-16). Kehidupan ini tidak terdiri dari hal-hal yang material yang bisa kita lihat dan rasakan, tetapi yang terutama adalah kehidupan yang spiritual. Dimensi tinggi/mencari Allah merupakan dimensi kehidupan yang akan selalu ada didasar hati manusia karena Allah meletakkan kehausan akan DIA didalam setiap hati manusia! Amin. Sudahkah Kasih Allah yang tinggi itu/kehausan untuk bertemu dan mendekat kepada Sang Pencipta itu ada dalam hati kita?

#BibleMessages?
#BuildingABetterYou?
#IMLoved

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab Mazmur 146-147
PB: Lukas 15:1-10

#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble?
#IMLoveD

Bp. Anto – Citraland
RENUNGAN PAGI: Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota (Efesus 4:25). Setiap orang ingin hidupnya sukses, bukan hanya ditinjau dari materi ataupun kekuasaan, tetapi juga sukses dalam arti sebagai manusia yang disukai dan dihormati banyak orang. Untuk itu memang perlu karakter yang baik untuk mencapai kesuksesan hidup. Sebagai orang percaya kita dituntut untuk berkata, berpikir dan bertindak benar. Dan dasar dari kebenaran yang kita harus jadikan sebagai standar adalah firman Tuhan. Berkata benar artinya setiap ucapan kita dapat dipertanggung jawabkan, tidak ada dusta, kalau “ya” katakan ya dan kalau “tidak” katakan tidak. Ucapan kita hendaklah dipakai untuk mendorong menyejukkan, menghibur orang lain, bukan untuk menjatuhkan apalagi memfitnah dan menghina orang lain, perkataan kita hendaklah sesuai dengan tindakan kita. Berpikir benar, Paulus mengatakan, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu, hendaklah pikiran kita diisi dengan hal-hal positif dan untuk itu kita perlu menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus. Untuk bertindak benar, kita perlu pimpinan Roh Kudus agar bukan kedagingan kita yang mendominasi perbuatan kita melainkan Roh Kudus yang mengajarkan kita untuk bertindak sesuai kebenaran firman Tuhan. Yesus mengatakan, “Tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.” Marilah kita belajar untuk hidup dalam kebenaran. Selamat pagi, Tuhan Yesus memberkati.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Selasa, 5 September 2017. DI PUSARAN KONFORMISME. Bacaan: 1 Tesalonika 5:21-23. Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik (1 Tesalonika 5:21). Datanglah ke tempat di mana banyak orang berkumpul (mal, stasiun kereta, objek wisata, dll.), dan perhatikanlah mereka. Warna kulit, postur tubuh, dan jenis rambut mereka memang berbeda-beda. Tetapi, lihat busana mereka. Ada begitu banyak orang berbusana nyaris serupa. Apakah yang terjadi? Konformisme, yakni hasrat untuk menjadi sama dengan orang lain, karena ingin aman, diterima, diakui setara, karena iseng, atau alasan-alasan lain. Konformisme punya banyak wujud: dari yang sederhana (konformisme busana seperti contoh tadi, konformisme hobi, arsitektur rumah, dll.), sampai yang amat serius: konformisme paham, perilaku, tata nilai, dan sikap hidup. Ada fakta yang amat mencemaskan. Bagai pusaran raksasa, konformisme menyeret dan menelan semua ke tengahnya. Banyak orang tidak tahan untuk tetap menjadi diri sendiri, dan baru merasa aman kala menjadi sama dengan orang lain. Padahal, konformisme sering mengabaikan moralitas. Tak peduli baik atau jahat, yang penting menjadi sama. Hal-hal buruk pun (perilaku konsumtif, adiktif, permisif, dll) bisa jadi ditiru pula. Tuhan berfirman, “Ujilah segala sesuatu, dan peganglah yang baik.” Artinya? Bukan membabi-buta mengambil apa pun yang kita mau, melainkan teliti menguji segala sesuatu. Bukan asal menyamakan diri dengan sesuatu tanpa menimbang moralitasnya, melainkan bersikap kritis dan cermat menakar apakah sesuatu itu dapat dipertanggungjawabkan. Lalu, tolak yang jahat dengan tegas, ambil yang baik jika ada, dan jadilah diri sendiri. TOLAK YANG JAHAT DENGAN TEGAS, AMBIL YANG BAIK JIKA ADA, DAN JADILAH DIRI SENDIRI --O.S. RAILLE. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: Mazmur 146-147 dan Lukas 15:1-10.

Bp. Peter – Worship Center Surabaya
BERMULA DARI API ITU. Oleh Peter B, MA.
http://worshipcenterindonesia.blogspot.co.id/2017/08/bermula-dari-api-itu.html
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1418881201480617&id=517254991643247

“Setelah Daud menetap di rumahnya, berkatalah Ia kepada nabi Natan: ‘Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut perjanjian TUHAN itu ada di bawah tenda-tenda’” (1 Tawarikh 17:1). “Sesungguhnya aku tidak akan masuk ke dalam kemah kediamanku, tidak akan berbaring di ranjang petiduranku, sesungguhnya aku tidak akan membiarkan mataku tidur atau membiarkan kelopak mataku terlelap, sampai aku mendapat tempat untuk TUHAN, kediaman untuk Yang Mahakuat dari Yakub” (Mazmur 132:3-5).
Hampir setiap pekerjaan memerlukan suatu proses untuk sampai pada titik tujuan atau hasil yang baik maupun yang terbaik. Suatu contoh sederhana adalah memasak air. Hal itu adalah suatu proses. Air akan mendidih setelah dipanaskan beberapa saat lamanya. Semula air itu dingin tetapi kemudian berubah menjadi hangat, semakin panas dan semakin panas dan akhirnya mendidih. Yang perlu diketahui adalah bahwa untuk dapat mencapai tingkat mendidihnya air itu, yang paling diperlukan adalah pemanasan yang terus-menerus. Tidak adanya api, api kecil, api yang sesekali diberikan pada akhirnya tidak akan membawa hasil apa-apa. Itulah yang disebut sebagai Intensitas, peningkatan yang terus menerus sampai pada titik puncaknya.
Apabila diamati, proses pernyataan manifestasi hadirat Tuhan dalam bait Salomo pada saat pentahbisannya, pada dasarnya merupakan hasil intensitas. Dimulai dengan sebuah api kecil tetapi terus menyala. Api itu tetap menyala dan menjadi semakin besar. Menjadi semakin besar di generasi berikutnya dan kemudian mencapai titik didih: manifestasi lawatanNya di tengah-tengah umatNya. _Revival_ pun terjadilah. Jadi, sesungguhnya TIDAK ADA KEBANGUNAN ROHANI TANPA PROSES. Tidak ada kebangunan tanpa api. TIDAK ADA KEBANGUNAN DALAM WAKTU SINGKAT. Tidak ada kebangunan tanpa harga. Tidak ada kebangunan yang murahan.

Hati yang hancur dan merendahkan diri di hadapanNya, yang dimiliki oleh satu orang, merupakan suatu ‘api kecil’ itu. Hati yang demikianlah yang kemudian menjadi ‘mendidih’, saat segenap Israel berseru dengan kerinduan dan gairah yang tak terbendung, dalam penyembahan yang dalam dan penuh hormat, dalam ucapan syukur yang tak terkatakan: “Sebab Tuhan baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya”.
Api kecil itu dimulai dari Daud. Dari hati seorang penyembah yang sejati inilah, kerinduan akan Tuhan dikobarkan. Memang hanya api yang kecil tetapi api itu tidak pernah padam. Dengarlah kobaran api itu:
“Sesungguhnya… Aku tidak akan masuk ke dalam kemah kediamanku, tidak akan berbaring di ranjang petiduranku,… Tidak akan membiarkan mataku tidur atau membiarkan kelopak mataku terlelap,… Sampai aku mendapat tempat untuk TUHAN, kediaman untuk Yang Mahakuat dari Yakub.”

Kerinduan Daud akan Tuhan begitu kuat dan mendalam. Hasrat untuk menjalin persekutuan setiap saat dan berkomunikasi secara dekat dengan Tuhannya tidak pernah surut sepanjang hidupnya. Sejak muda, Daud telah mengenal dan bergaul karib dengan Tuhan. Hatinya yang hancur dan menjerit akan kehadiran Tuhan dalam hidupnya menarik perhatian Tuhan. Bukankah Dia Allah yang berfirman: “Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia” (2 Tawarikh 16:9).
Mengenai Daud, tidak ada perkataan Tuhan yang lebih tegas dan terbuka selain ini: “Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku” (Kisah Para Rasul 13:22).

Apa yang dikatakan Allah bukanlah suatu hal yang main-main. Itu bukanlah sesuatu yang asal diucapkan ataupun suatu kebohongan. Tuhan melihat suatu hati yang benar. Hati yang rindu untuk memberikan yang terbaik bagi Dia. Kita telah tahu, bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Demikian juga dengan hati Daud. Hati yang sedemikian akan jelas nampak dari perbuatan-perbuatannya. Mari kita lihat bahwa Tuhan tidak salah memilih Daud.

Hal pertama yang dipikirkan dan hendak dilakukan Daud setelah ia menjadi raja atas seluruh Israel bukan untuk mendirikan istana yang megah, program menolong rakyat yang miskin, menaklukkan kerajaan tetangga, maupun membuat peraturan-peraturan baru. Program pertama Daud adalah membawa Tabut perjanjian Tuhan ke ibukota Israel waktu itu yaitu Yerusalem (yang saya percaya juga telah di sediakannya sebagai kota dimana Tuhan disembah dan dimuliakan atas seluruh Israel). Kerinduan Daud tetap seperti sejak masa remajanya. Ia mendahulukan Tuhan di atas segalanya. Kerinduannya itu membawa kepada program-program yang meletakkan Tuhan di tempat yang pertama bahkan di atas segala-galanya. Dan memang api itu tidak berkurang sedikitpun tetapi menjadi semakin membara.

Tabut Tuhan telah dibawa ke Yerusalem, kini apa lagi? Hati Daud terus bertanya-tanya, “Adakah perkara lain yang dapat kulakukan untuk menyenangkan Dia? Dengan cara apa lagi aku dapat memberikan kemuliaan yang lebih lagi kepadaNya? Bukankah semua ini masih kurang? Mengapa kelihatannya Tuhan masih belum menerima yang terbaik dariku? Ya, Tuhan harus memperoleh yang lebih baik dari ini!” Saudara-saudaraku kekasih, inilah hati yang diinginkan Tuhan. Tuhan mencari dalam diri kita hati yang seperti demikian. Sebaliknya daripada hati yang selalu memikirkan apa yang dapat Tuhan berikan kepada kita, Tuhan mencari hati yang terpesona dan terikat kepadaNya sehingga dengan sukacita memberikan segala-galanya bagi Dia.

Dan inilah yang keluar dari hati yang berkenan itu:
“Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut perjanjian TUHAN itu ada di bawah tenda-tenda.” Apa maksud hati Daud? Ia ingin mendirikan suatu rumah atau tempat kediaman yang megah bagi Tuhannya. Ia telah menemukan apa yang kurang itu: mengapa ia tinggal di istana sedangkan Allah (digambarkan dengan Tabut Perjanjian) tinggal di bawah tenda. Tuhan layak menerima yang lebih baik; bahkan yang terbaik. Inilah api kecil itu. Kedahsyatan kehadiran Tuhan dimulai dari sebuah api yang kecil dari dalam hati sesorang bernama Daud. Bagaimana “Revival” terjadi? Itu tidak akan terjadi sebelum ada api kecil itu di hati Anda dan saya. AMIN.

No comments:

Post a Comment