I AM LOVED
I'M Loved ❤ (Aku Dikasihi/Aku
DicintaiNya).
Efesus 3:18-19, “18Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan
segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya
dan dalamnya kasih Kristus, 19dan dapat mengenal kasih itu,
sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di
dalam seluruh kepenuhan Allah.” Kata tinggi dalam bahasa aslinya adalah hupsos
yang artinya: ukuran tinggi, tempat tinggi di surga. Rasul Paulus memakai kata hupsos
ini untuk memberikan gambaran kepada jemaat Efesus bahwa tinggiNya Kasih Allah
mengatasi langit, bahkan sampai kesurga.menunjukkan bahwa Kasih Allah tidak
terukur dan tidak tebatas. TinggiNya kasih Allah juga menggambarkan bahwa
ketika kita hidup dalam kasihNya, tidak ada satupun musuh yang dapat menjangkau
kita. Kita aman bersamaNya. TinggiNya Kasih Allah menggambarkan sukacita yang
kita dapatkan bersamaNya (Maz 91:1-16). Setiap orang yang menaruh
perlindungannya kepada Tuhan tidak perlu merasa takut dan kuatir akan kehidupan
ini sebab mereka mengetahui bahwa Allah adalah tempat perlindungan mereka (baca
Mazmur 91:1-16). Kehidupan ini tidak terdiri dari hal-hal yang material yang
bisa kita lihat dan rasakan, tetapi yang terutama adalah kehidupan yang
spiritual. Dimensi tinggi/mencari Allah merupakan dimensi kehidupan yang akan
selalu ada didasar hati manusia karena Allah meletakkan kehausan akan DIA
didalam setiap hati manusia! Amin. Sudahkah Kasih Allah yang tinggi
itu/kehausan untuk bertemu dan mendekat kepada Sang Pencipta itu ada dalam hati
kita?
#BibleMessages?
#BuildingABetterYou?
#IMLoved
Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab Mazmur 146-147
PB: Lukas 15:1-10
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble?
#IMLoveD
Bp. Anto – Citraland
RENUNGAN PAGI: Karena itu buanglah dusta dan berkatalah
benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota (Efesus
4:25). Setiap orang ingin hidupnya sukses, bukan hanya ditinjau dari materi
ataupun kekuasaan, tetapi juga sukses dalam arti sebagai manusia yang disukai
dan dihormati banyak orang. Untuk itu memang perlu karakter yang baik untuk
mencapai kesuksesan hidup. Sebagai orang percaya kita dituntut untuk berkata,
berpikir dan bertindak benar. Dan dasar dari kebenaran yang kita harus jadikan
sebagai standar adalah firman Tuhan. Berkata benar artinya setiap ucapan kita dapat
dipertanggung jawabkan, tidak ada dusta, kalau “ya” katakan ya dan kalau
“tidak” katakan tidak. Ucapan kita hendaklah dipakai untuk mendorong
menyejukkan, menghibur orang lain, bukan untuk menjatuhkan apalagi memfitnah
dan menghina orang lain, perkataan kita hendaklah sesuai dengan tindakan kita.
Berpikir benar, Paulus mengatakan, semua yang benar, semua yang mulia, semua
yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua
yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu, hendaklah
pikiran kita diisi dengan hal-hal positif dan untuk itu kita perlu menawan
segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus. Untuk bertindak benar, kita
perlu pimpinan Roh Kudus agar bukan kedagingan kita yang mendominasi perbuatan kita
melainkan Roh Kudus yang mengajarkan kita untuk bertindak sesuai kebenaran
firman Tuhan. Yesus mengatakan, “Tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia
datang kepada terang, supaya nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan
dalam Allah.” Marilah kita belajar untuk hidup dalam kebenaran. Selamat pagi,
Tuhan Yesus memberkati.
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Selasa, 5 September 2017. DI PUSARAN
KONFORMISME. Bacaan: 1 Tesalonika 5:21-23. Ujilah segala sesuatu dan peganglah
yang baik (1 Tesalonika 5:21). Datanglah ke tempat di mana banyak orang
berkumpul (mal, stasiun kereta, objek wisata, dll.), dan perhatikanlah mereka.
Warna kulit, postur tubuh, dan jenis rambut mereka memang berbeda-beda. Tetapi,
lihat busana mereka. Ada begitu banyak orang berbusana nyaris serupa. Apakah
yang terjadi? Konformisme, yakni hasrat untuk menjadi sama dengan orang lain,
karena ingin aman, diterima, diakui setara, karena iseng, atau alasan-alasan
lain. Konformisme punya banyak wujud: dari yang sederhana (konformisme busana
seperti contoh tadi, konformisme hobi, arsitektur rumah, dll.), sampai yang
amat serius: konformisme paham, perilaku, tata nilai, dan sikap hidup. Ada
fakta yang amat mencemaskan. Bagai pusaran raksasa, konformisme menyeret dan
menelan semua ke tengahnya. Banyak orang tidak tahan untuk tetap menjadi diri
sendiri, dan baru merasa aman kala menjadi sama dengan orang lain. Padahal,
konformisme sering mengabaikan moralitas. Tak peduli baik atau jahat, yang
penting menjadi sama. Hal-hal buruk pun (perilaku konsumtif, adiktif, permisif,
dll) bisa jadi ditiru pula. Tuhan berfirman, “Ujilah segala sesuatu, dan
peganglah yang baik.” Artinya? Bukan membabi-buta mengambil apa pun yang kita
mau, melainkan teliti menguji segala sesuatu. Bukan asal menyamakan diri dengan
sesuatu tanpa menimbang moralitasnya, melainkan bersikap kritis dan cermat
menakar apakah sesuatu itu dapat dipertanggungjawabkan. Lalu, tolak yang jahat
dengan tegas, ambil yang baik jika ada, dan jadilah diri sendiri. TOLAK YANG
JAHAT DENGAN TEGAS, AMBIL YANG BAIK JIKA ADA, DAN JADILAH DIRI SENDIRI --O.S.
RAILLE. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: Mazmur
146-147 dan Lukas 15:1-10.
Bp. Peter – Worship Center Surabaya
BERMULA DARI API ITU. Oleh Peter B, MA.
http://worshipcenterindonesia.blogspot.co.id/2017/08/bermula-dari-api-itu.html
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1418881201480617&id=517254991643247
“Setelah Daud menetap di rumahnya, berkatalah Ia kepada nabi
Natan: ‘Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut
perjanjian TUHAN itu ada di bawah tenda-tenda’” (1 Tawarikh 17:1).
“Sesungguhnya aku tidak akan masuk ke dalam kemah kediamanku, tidak akan
berbaring di ranjang petiduranku, sesungguhnya aku tidak akan membiarkan mataku
tidur atau membiarkan kelopak mataku terlelap, sampai aku mendapat tempat untuk
TUHAN, kediaman untuk Yang Mahakuat dari Yakub” (Mazmur 132:3-5).
Hampir setiap pekerjaan memerlukan suatu proses untuk sampai
pada titik tujuan atau hasil yang baik maupun yang terbaik. Suatu contoh sederhana
adalah memasak air. Hal itu adalah suatu proses. Air akan mendidih setelah
dipanaskan beberapa saat lamanya. Semula air itu dingin tetapi kemudian berubah
menjadi hangat, semakin panas dan semakin panas dan akhirnya mendidih. Yang
perlu diketahui adalah bahwa untuk dapat mencapai tingkat mendidihnya air itu,
yang paling diperlukan adalah pemanasan yang terus-menerus. Tidak adanya api,
api kecil, api yang sesekali diberikan pada akhirnya tidak akan membawa hasil
apa-apa. Itulah yang disebut sebagai Intensitas, peningkatan yang terus menerus
sampai pada titik puncaknya.
Apabila diamati, proses pernyataan manifestasi hadirat Tuhan
dalam bait Salomo pada saat pentahbisannya, pada dasarnya merupakan hasil
intensitas. Dimulai dengan sebuah api kecil tetapi terus menyala. Api itu tetap
menyala dan menjadi semakin besar. Menjadi semakin besar di generasi berikutnya
dan kemudian mencapai titik didih: manifestasi lawatanNya di tengah-tengah
umatNya. _Revival_ pun terjadilah. Jadi, sesungguhnya TIDAK ADA KEBANGUNAN
ROHANI TANPA PROSES. Tidak ada kebangunan tanpa api. TIDAK ADA KEBANGUNAN DALAM
WAKTU SINGKAT. Tidak ada kebangunan tanpa harga. Tidak ada kebangunan yang
murahan.
Hati yang hancur dan merendahkan diri di hadapanNya, yang
dimiliki oleh satu orang, merupakan suatu ‘api kecil’ itu. Hati yang
demikianlah yang kemudian menjadi ‘mendidih’, saat segenap Israel berseru
dengan kerinduan dan gairah yang tak terbendung, dalam penyembahan yang dalam
dan penuh hormat, dalam ucapan syukur yang tak terkatakan: “Sebab Tuhan baik,
bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya”.
Api kecil itu dimulai dari Daud. Dari hati seorang penyembah
yang sejati inilah, kerinduan akan Tuhan dikobarkan. Memang hanya api yang
kecil tetapi api itu tidak pernah padam. Dengarlah kobaran api itu:
“Sesungguhnya… Aku tidak akan masuk ke dalam kemah
kediamanku, tidak akan berbaring di ranjang petiduranku,… Tidak akan membiarkan
mataku tidur atau membiarkan kelopak mataku terlelap,… Sampai aku mendapat
tempat untuk TUHAN, kediaman untuk Yang Mahakuat dari Yakub.”
Kerinduan Daud akan Tuhan begitu kuat dan mendalam. Hasrat
untuk menjalin persekutuan setiap saat dan berkomunikasi secara dekat dengan
Tuhannya tidak pernah surut sepanjang hidupnya. Sejak muda, Daud telah mengenal
dan bergaul karib dengan Tuhan. Hatinya yang hancur dan menjerit akan kehadiran
Tuhan dalam hidupnya menarik perhatian Tuhan. Bukankah Dia Allah yang
berfirman: “Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan
kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia” (2 Tawarikh
16:9).
Mengenai Daud, tidak ada perkataan Tuhan yang lebih tegas
dan terbuka selain ini: “Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang
berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku” (Kisah Para Rasul
13:22).
Apa yang dikatakan Allah bukanlah suatu hal yang main-main.
Itu bukanlah sesuatu yang asal diucapkan ataupun suatu kebohongan. Tuhan
melihat suatu hati yang benar. Hati yang rindu untuk memberikan yang terbaik
bagi Dia. Kita telah tahu, bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Demikian
juga dengan hati Daud. Hati yang sedemikian akan jelas nampak dari
perbuatan-perbuatannya. Mari kita lihat bahwa Tuhan tidak salah memilih Daud.
Hal pertama yang dipikirkan dan hendak dilakukan Daud
setelah ia menjadi raja atas seluruh Israel bukan untuk mendirikan istana yang
megah, program menolong rakyat yang miskin, menaklukkan kerajaan tetangga,
maupun membuat peraturan-peraturan baru. Program pertama Daud adalah membawa
Tabut perjanjian Tuhan ke ibukota Israel waktu itu yaitu Yerusalem (yang saya
percaya juga telah di sediakannya sebagai kota dimana Tuhan disembah dan
dimuliakan atas seluruh Israel). Kerinduan Daud tetap seperti sejak masa
remajanya. Ia mendahulukan Tuhan di atas segalanya. Kerinduannya itu membawa
kepada program-program yang meletakkan Tuhan di tempat yang pertama bahkan di
atas segala-galanya. Dan memang api itu tidak berkurang sedikitpun tetapi
menjadi semakin membara.
Tabut Tuhan telah dibawa ke Yerusalem, kini apa lagi? Hati
Daud terus bertanya-tanya, “Adakah perkara lain yang dapat kulakukan untuk
menyenangkan Dia? Dengan cara apa lagi aku dapat memberikan kemuliaan yang
lebih lagi kepadaNya? Bukankah semua ini masih kurang? Mengapa kelihatannya
Tuhan masih belum menerima yang terbaik dariku? Ya, Tuhan harus memperoleh yang
lebih baik dari ini!” Saudara-saudaraku kekasih, inilah hati yang diinginkan
Tuhan. Tuhan mencari dalam diri kita hati yang seperti demikian. Sebaliknya
daripada hati yang selalu memikirkan apa yang dapat Tuhan berikan kepada kita,
Tuhan mencari hati yang terpesona dan terikat kepadaNya sehingga dengan
sukacita memberikan segala-galanya bagi Dia.
Dan inilah yang keluar dari hati yang berkenan itu:
“Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal
tabut perjanjian TUHAN itu ada di bawah tenda-tenda.” Apa maksud hati Daud? Ia
ingin mendirikan suatu rumah atau tempat kediaman yang megah bagi Tuhannya. Ia
telah menemukan apa yang kurang itu: mengapa ia tinggal di istana sedangkan
Allah (digambarkan dengan Tabut Perjanjian) tinggal di bawah tenda. Tuhan layak
menerima yang lebih baik; bahkan yang terbaik. Inilah api kecil itu.
Kedahsyatan kehadiran Tuhan dimulai dari sebuah api yang kecil dari dalam hati
sesorang bernama Daud. Bagaimana “Revival” terjadi? Itu tidak akan terjadi
sebelum ada api kecil itu di hati Anda dan saya. AMIN.

No comments:
Post a Comment