Wednesday, 13 September 2017

13 September 2017

I AM LOVED






I'M Loved ❤ (Aku Dikasihi/Aku DicintaiNya). Efesus 3:18-19, 18Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 19dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.” KASIH Tuhan memungkinkan kita untuk mengalami kepenuhan Allah / pleroma / penuh / berkelimpahan / komplit / mencapai tujuan yang diharapkan, termasuk menjadi “seperti Kristus”. Contohnya: Yusuf, Rasul Paulus dan berbagai pahlawan iman lainnya. Mereka semua pernah mengalami ujian hidup yang luar biasa, pernah merasakan kekecewaan yang mendalam, ditolak, doa yang belum terjawab. Tetapi mereka tetap setia karena mereka semua telah mengalami 4 dimensi Allah yang Ilahi, mereka mengenal betapa lebar, panjang, tinggi dan dalamNya KASIH Allah. Bila seseorang telah hidup dalam 4 Dimensi KASIH Ilahi ini maka ia juga akan mengalami kehidupan yang besar, maksudnya: hidup dalam kebesaran jiwa, memandang kehidupannya sebagai kepercayaan yang besar dari Allah untuk diturunkan bagi generasi yang akan datang. Kehidupan yang besar adalah menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri yaitu: Allah dan rencanaNya bagi hidup kita. Sudahkah kita mengalami kepenuhan KASIH Allah yang lebar, panjang, tinggi dan dalam? Amin.

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#IMLoved

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab Amsal 16-18
PB: Lukas 19:28-48

#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoveD

(Sumber: Life Full Lives/Hidup dalam Kepenuhan Allah/Ps Jimmy Oentoro)

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Rabu, 13 September 2017. HIDUP YANG BERGUNA. Bacaan: 1 Korintus 13:1-7. Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing (1 Korintus 13:1). Banyak orang tergerak untuk melakukan kebaikan, menunjukkan kepedulian bagi mereka yang lemah dan tak berdaya. Sayangnya, khususnya di tengah situasi bencana, kepedulian tak jarang menjadi komoditas persaingan untuk menonjolkan keunggulan masing-masing. Padahal, tanpa didasari oleh ketulusan, kepedulian kita menjadi sia-sia. Terlebih lagi jika motivasi kita sekadar mencari eksistensi diri, pujian, bahkan keuntungan. Saat pamrih yang diharapkan tak juga diraih, kita berhenti berbuat baik karena kecewa dan merasa rugi. Rasul Paulus menekankan kepada jemaat Korintus bahwa memiliki karunia roh tanpa mempunyai kasih itu tidak berguna. Karunia rohani dapat memenuhi kehendak Allah hanya jika dikendalikan oleh prinsip kasih. Umat Tuhan harus bersungguh-sungguh dalam kasih dan berusaha memperoleh karunia roh karena memiliki kerinduan yang tulus untuk menolong, menghibur, dan memberkati orang lain. Saat kasih menjadi jati diri, seseorang akan memiliki kepedulian terhadap sesama sekalipun kepeduliannya tidak menghasilkan keuntungan, bahkan sebaliknya menuntutnya untuk banyak berkorban. Kerugian tidak pernah membuat pengikut Kristus jera melakukan kasih. Kita perlu menjadikan kasih sebagai lem perekat atau garam yang menghilangkan rasa tawar. Kiranya di antara kita ada jalinan persekutuan yang indah. Sekalipun karunia kita berbeda-beda, kasih Kristus mempersatukan, merekatkan, dan memberi rasa untuk bersinergi dalam berkarya bagi kemuliaan-Nya. GEREJA MEMANCARKAN DAYA SURGAWI KETIKA KASIH MENJADI JIWA DAN JATI DIRI KEHIDUPANNYA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: Amsal 16-18 dan Lukas 19:28-48.

No comments:

Post a Comment