Tuesday, 6 December 2016

6 Desember 2016

SPECTACULAR CHRISTMAS




Natal berbicara tentang Tuhan yang turun ke dunia saat DIA datang ke dunia DIA memberi batasan/garis dalam hidup kita. Matius 10:34 (TB), “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai melainkan pedang.” Siapapun bisa merespon dengan bebas tentang kedatanganNya. TujuanNya adalah untuk kebaikkan semua orang di dunia, termasuk dengan semua konsekuensinya. Yaitu Yesus sedang memberi GARIS antara kita harus IN (mengikut DIA) beserta dengan semua resikonya atau OUT (keluar dengan semua resikonya), pilihan ada ditangan kita. Apakah kita memilih mengikut Yesus dan ada harga yang harus dibayar atau tidak mengikut Yesus namun LEBIH BANYAK HARGA yang HARUS DIBAYAR. Yosua 24:15b, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”

Ibu Caroline – Bandung
[RENUNGAN HARIAN]. Selasa, 6 Desember 2016. Bacaan: Mazmur 19. Setahun: Kolose 1-4. Nas: Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari (Mazmur 19:13). Mengeruhkan dan Memelesetkan. Saya punya klip video berisi penggalan ibadah Natal berbahasa Arab di sebuah gereja. Biduanita melantunkan lagu-lagu Natal, jemaat menanggapinya, berganti-ganti. Ketika saya mempelihatkannya pada seorang teman, ia kaget dan melontarkan komentar bernada tak percaya, “Lho, di negeri yang berbahasa Arab kok ada gereja?” Kita memiliki banyak stereotip, yakni anggapan bahwa semua hal dengan ciri yang sama pasti memiliki sifat yang sama. Semua orang Arab pasti Islam. Semua orang Tionghoa pasti pintar berdagang. Kawan dari luar Jawa lugas, tanpa basa-basi, apa adanya. Dan, banyak lagi. Stereotip sebenarnya wajar, namun ketika dimutlakkan sebagai fakta dan menjadi stigma, tentu tidak elok. Stereotip membuat persepsi dan penilaian terhadap sesuatu menjadi tidak jernih, dan berbuah kekeliruan. Meyakini bahwa yang berbahasa Arab pasti Islam, misalnya, jelas keliru karena di negara-negara Arab pun ada gereja dan orang Kristen. Juga, tidak semua orang Tionghoa senang berdagang. Masalahnya, stereotip tidak selalu disadari, keberadaannya maupun kekeliruannya. Meminjam istilah pemazmur, stereotip adalah salah satu “kesesatan yang tidak disadari”. Bagaimana kita bisa bebas dari “kesesatan yang tak disadari” itu? Sulit, sangat sulit. Karena itu, pemazmur memohon, “Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari.” Mazmur 19:13 adalah isyarat agar kita berjuang mengenali stereotip yang kita hidupi dan bersikap kritis terhadapnya, serta gigih memurnikan pikiran dan hati kita --EE/Renungan Harian. STEREOTIP DAPAT MENGABURKAN PERSEPSI, MENGERUHKAN PENILAIAN, MENGELIRUKAN KESIMPULAN, DAN MEMELESETKAN TINDAKAN.

Xavier Quentin Pranata
Bukan yang berteriak 'Aku benar,' yang benar-benar benar, namun yang melakukan kebenaran.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:

Post a Comment