SPECTACULAR
CHRISTMAS
Natal
berbicara tentang Tuhan yang turun ke dunia saat DIA datang ke dunia
DIA memberi batasan/garis dalam hidup kita. Matius 10:34 (TB),
“Jangan
kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi;
Aku datang bukan untuk membawa damai melainkan pedang.”
Siapapun bisa merespon dengan bebas tentang kedatanganNya. TujuanNya
adalah untuk kebaikkan semua orang di dunia, termasuk dengan semua
konsekuensinya. Yaitu Yesus sedang memberi GARIS antara kita harus IN
(mengikut DIA) beserta dengan semua resikonya atau OUT
(keluar dengan semua resikonya), pilihan ada ditangan kita. Apakah
kita memilih mengikut Yesus dan ada harga yang harus dibayar atau
tidak
mengikut Yesus namun LEBIH BANYAK HARGA yang HARUS DIBAYAR. Yosua
24:15b, “Tetapi
aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”
Ibu
Caroline – Bandung
[RENUNGAN
HARIAN]. Selasa, 6 Desember 2016. Bacaan: Mazmur 19. Setahun: Kolose
1-4. Nas: Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku
dari apa yang tidak kusadari (Mazmur 19:13). Mengeruhkan dan
Memelesetkan. Saya punya klip video berisi penggalan ibadah Natal
berbahasa Arab di sebuah gereja. Biduanita melantunkan lagu-lagu
Natal, jemaat menanggapinya, berganti-ganti. Ketika saya
mempelihatkannya pada seorang teman, ia kaget dan melontarkan
komentar bernada tak percaya, “Lho, di negeri yang berbahasa Arab
kok ada gereja?” Kita memiliki banyak stereotip, yakni anggapan
bahwa semua hal dengan ciri yang sama pasti memiliki sifat yang sama.
Semua orang Arab pasti Islam. Semua orang Tionghoa pasti pintar
berdagang. Kawan dari luar Jawa lugas, tanpa basa-basi, apa adanya.
Dan, banyak lagi. Stereotip sebenarnya wajar, namun ketika
dimutlakkan sebagai fakta dan menjadi stigma, tentu tidak elok.
Stereotip membuat persepsi dan penilaian terhadap sesuatu menjadi
tidak jernih, dan berbuah kekeliruan. Meyakini bahwa yang berbahasa
Arab pasti Islam, misalnya, jelas keliru karena di negara-negara Arab
pun ada gereja dan orang Kristen. Juga, tidak semua orang Tionghoa
senang berdagang. Masalahnya, stereotip tidak selalu disadari,
keberadaannya maupun kekeliruannya. Meminjam istilah pemazmur,
stereotip adalah salah satu “kesesatan yang tidak disadari”.
Bagaimana kita bisa bebas dari “kesesatan yang tak disadari” itu?
Sulit, sangat sulit. Karena itu, pemazmur memohon, “Bebaskanlah aku
dari apa yang tidak kusadari.” Mazmur 19:13 adalah isyarat agar
kita berjuang mengenali stereotip yang kita hidupi dan bersikap
kritis terhadapnya, serta gigih memurnikan pikiran dan hati kita
--EE/Renungan Harian. STEREOTIP DAPAT MENGABURKAN PERSEPSI,
MENGERUHKAN PENILAIAN, MENGELIRUKAN KESIMPULAN, DAN MEMELESETKAN
TINDAKAN.
Xavier
Quentin Pranata
“Bukan
yang berteriak 'Aku benar,' yang benar-benar benar, namun yang
melakukan kebenaran.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:
Post a Comment