Monday, 12 December 2016

12 Desember 2016

SPECTACULAR CHRISTMAS




Kolose 1:23, “Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari PENGHARAPAN Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.” Amin. Kita harus bertekun dalam Iman (memelihara iman), tetap teguh & tidak tergoncangkan dalam ajaran Yesus & jangan mau digeser dari PENGHARAPAN Injil, yaitu kita tidak boleh kembali kepada keadaan lama kita yang tanpa HARAPAN dengan segala perbuatan jahatnya yang membinasakan jiwa. Amin.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Senin, 12 Desember 2016. KEMARAHAN SIA-SIA. Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu (Mazmur 90:5-6). Usia nenek Peni saat itu 61 tahun. Ia tinggal di panti jompo. Ketika usianya baru menginjak dua puluhan tahun, ia bertengkar hebat dengan sang kakak, gara-gara rumah warisan. Ia kabur dari rumah karena tidak tahan dengan kakaknya. Lalu, ia menjalani hidupnya dengan berpindah-pindah kota. Rumah warisan yang diperebutkan itu nantinya jatuh ke tangan orang lain. Nenek Peni menyesal, mengapa dahulu harus ada kemarahan, harus ada pertengkaran yang bertahan lama seperti bara api? Hidup ini terlalu singkat hanya untuk mempertahankan siapa yang benar dan siapa yang salah. Perasaan Kain bisa jadi mirip dengan perasaan nenek Peni. Penyesalan. Setelah semuanya terjadi, setelah kemarahan dan emosinya meledak terhadap Habel, ternyata sia-sia meraih kemenangan dengan cara seperti itu, ternyata tidak ada artinya mempertahankan egoisme diri. Oh, ternyata pemuasan kemarahan yang semula “mengintip” itu hanya terjadi sesaat (ay. 6-7). Dan, selanjutnya yang terjadi adalah ia harus kehilangan sang adik (ay. 8), hidupnya tidak tenteram. Ia harus menjadi pengembara di bumi (ay. 11-12). Di ujung cerita tentang kemarahan itu, Kain dan kita dapat menyadari kebenaran doa Musa: betapa cepat dan singkatnya waktu hidup ini. Jadi, betapa sia-sianya kemarahannya itu. Apakah kita sedang berlarut-larut dalam kemarahan menahun? Ketika kita kembali melihat cepatnya waktu ini berlalu dan singkatnya hidup kita yang seumpama rumput, sesungguhnya kemarahan tak banyak membawa makna. HIDUP INI TERLALU SINGKAT UNTUK LARUT DALAM KEMARAHAN MENAHUN. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.

Xavier Quentin Pranata
Masa depan kita taklukkan dengan mempercayakannya kepada Tuhan dan bekerja keras hari ini.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:

Post a Comment