SPECTACULAR
CHRISTMAS
Kolose
1:23, “Sebab
itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang,
dan jangan mau digeser dari PENGHARAPAN Injil, yang telah kamu dengar
dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang
aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.”
Amin. Kita harus bertekun dalam Iman (memelihara iman), tetap teguh &
tidak tergoncangkan dalam ajaran Yesus & jangan mau digeser dari
PENGHARAPAN Injil, yaitu kita tidak boleh kembali kepada keadaan lama
kita yang tanpa HARAPAN dengan segala perbuatan jahatnya yang
membinasakan jiwa. Amin.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Senin, 12 Desember 2016. KEMARAHAN SIA-SIA. Engkau
menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang
bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang
lisut dan layu (Mazmur 90:5-6). Usia nenek Peni saat itu 61 tahun. Ia
tinggal di panti jompo. Ketika usianya baru menginjak dua puluhan
tahun, ia bertengkar hebat dengan sang kakak, gara-gara rumah
warisan. Ia kabur dari rumah karena tidak tahan dengan kakaknya.
Lalu, ia menjalani hidupnya dengan berpindah-pindah kota. Rumah
warisan yang diperebutkan itu nantinya jatuh ke tangan orang lain.
Nenek Peni menyesal, mengapa dahulu harus ada kemarahan, harus ada
pertengkaran yang bertahan lama seperti bara api? Hidup ini terlalu
singkat hanya untuk mempertahankan siapa yang benar dan siapa yang
salah. Perasaan Kain bisa jadi mirip dengan perasaan nenek Peni.
Penyesalan. Setelah semuanya terjadi, setelah kemarahan dan emosinya
meledak terhadap Habel, ternyata sia-sia meraih kemenangan dengan
cara seperti itu, ternyata tidak ada artinya mempertahankan egoisme
diri. Oh, ternyata pemuasan kemarahan yang semula “mengintip” itu
hanya terjadi sesaat (ay. 6-7). Dan, selanjutnya yang terjadi adalah
ia harus kehilangan sang adik (ay. 8), hidupnya tidak tenteram. Ia
harus menjadi pengembara di bumi (ay. 11-12). Di ujung cerita tentang
kemarahan itu, Kain dan kita dapat menyadari kebenaran doa Musa:
betapa cepat dan singkatnya waktu hidup ini. Jadi, betapa sia-sianya
kemarahannya itu. Apakah kita sedang berlarut-larut dalam kemarahan
menahun? Ketika kita kembali melihat cepatnya waktu ini berlalu dan
singkatnya hidup kita yang seumpama rumput, sesungguhnya kemarahan
tak banyak membawa makna. HIDUP INI TERLALU SINGKAT UNTUK LARUT DALAM
KEMARAHAN MENAHUN. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.
Xavier
Quentin Pranata
“Masa
depan kita taklukkan dengan mempercayakannya kepada Tuhan dan bekerja
keras hari ini.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:
Post a Comment