SPECTACULAR
CHRISTMAS
Kasih
yang Rela Berkorban. Filipi 2:30a, “Sebab
oleh karena pekerjaan Kristus (Epafroditus) ia nyaris mati dan ia
mempertaruhkan jiwanya.”
Jika kita berpikir bahwa kita tidak dapat mempertaruhkan hidup kita
untuk orang lain, Epafroditus (ia nyaris mati) demi melayani orang
lain. Ini menunjukkan kepada kita langkah pertama dengan teladannya
yang rela berkorban. Kasih seperti ini adalah kasih yang luar biasa
dan bukan berasal dari diri sendiri. Kasih ini berasal dari Roh Allah
yang dapat memberi kita kerinduan dan kemampuan untuk peka terhadap
orang lain. Menyerahkan diri bagi orang lain / mengasihi dengan rela
berkorban, itu sepertinya sesuatu yang susah untuk dilakukan ya,
tetapi itulah caranya agar kita bisa memastikan bahwa Kasih Allah
sedang bekerja melalui diri kita. Amin.
Ibu
Caroline – Bandung
[RENUNGAN
HARIAN]. Kamis, 1 Desember 2016. Bacaan: Amsal 30:1-14. Setahun:
Galatia 1-3. Nas: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan.
Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku
menikmati makanan yang menjadi bagianku (Amsal 30:8). Secukupnya.
Suatu ketika saya pergi ke restoran yang menawarkan paket makan
sepuasnya. Saya makan sebanyak-banyaknya sampai kekenyangan. Begitu
kenyang, sampai saya hanya bisa duduk tak bergerak selama beberapa
waktu dan berjuang keras untuk tidak muntah. Penelitian medis sendiri
menemukan bahwa kebiasaan makan yang berlebihan akan mendatangkan
banyak masalah kesehatan bagi tubuh kita. Sebaliknya, kita tahu
betapa sengsaranya merasa kelaparan. Ketika perut berteriak meminta
diisi, pikiran dan tubuh kita berpikir keras untuk memenuhi tuntutan
itu. Jika situasi ini berlangsung terus-menerus, tubuh akan menjadi
semakin kurus dan semakin memburuk hingga bisa berujung kepada
kematian. Dari observasi tentang kelebihan dan kekurangan makan ini,
kita bisa menyimpulkan bahwa makan secukupnya adalah yang terbaik.
Prinsip secukupnya ini juga berlaku bagi banyak hal dalam kehidupan
kita. Inilah yang disampaikan oleh Agur bin Yake dalam perikop
Alkitab kita hari ini. Hidup terlampau berlebihan membuat orang lupa
akan kebergantungannya pada Tuhan. Sebaliknya, hidup kekurangan
membuat orang melakukan hal-hal yang memalukan nama Tuhan. Karena
itu, yang terbaik adalah yang secukupnya saja. Lalu bagaimana kalau
kita diberkati secara berlebihan? Apakah kita harus menolaknya?
Paulus mengajarkan agar kita berbagi dengan mereka yang berkekurangan
(2 Kor. 8:13-14). Dengan demikian, baik yang berkelebihan maupun yang
berkekurangan sama-sama mengalami kecukupan dan memuji Allah
--ALS/Renungan Harian. BUKAN BERLEBIHAN ATAU BERKEKURANGAN, MELAINKAN
MENCUKUPKAN DIRI DALAM SEGALA HAL.
Xavier
Quentin Pranata
“Jika
ilmu kita BAGI hasilnya justru berKALI lipat.” Xavier Quentin
Pranata.

No comments:
Post a Comment