Friday, 2 December 2016

2 Desember 2016

SPECTACULAR CHRISTMAS




Kasih yang Rela Berkorban. Filipi 2:30a, “Sebab oleh karena pekerjaan Kristus (Epafroditus) ia nyaris mati dan ia mempertaruhkan jiwanya.” Jika kita berpikir bahwa kita tidak dapat mempertaruhkan hidup kita untuk orang lain, Epafroditus (ia nyaris mati) demi melayani orang lain. Ini menunjukkan kepada kita langkah pertama dengan teladannya yang rela berkorban. Kasih seperti ini adalah kasih yang luar biasa dan bukan berasal dari diri sendiri. Kasih ini berasal dari Roh Allah yang dapat memberi kita kerinduan dan kemampuan untuk peka terhadap orang lain. Menyerahkan diri bagi orang lain / mengasihi dengan rela berkorban, itu sepertinya sesuatu yang susah untuk dilakukan ya, tetapi itulah caranya agar kita bisa memastikan bahwa Kasih Allah sedang bekerja melalui diri kita. Amin.

Ibu Caroline – Bandung
[RENUNGAN HARIAN]. Kamis, 1 Desember 2016. Bacaan: Amsal 30:1-14. Setahun: Galatia 1-3. Nas: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku (Amsal 30:8). Secukupnya. Suatu ketika saya pergi ke restoran yang menawarkan paket makan sepuasnya. Saya makan sebanyak-banyaknya sampai kekenyangan. Begitu kenyang, sampai saya hanya bisa duduk tak bergerak selama beberapa waktu dan berjuang keras untuk tidak muntah. Penelitian medis sendiri menemukan bahwa kebiasaan makan yang berlebihan akan mendatangkan banyak masalah kesehatan bagi tubuh kita. Sebaliknya, kita tahu betapa sengsaranya merasa kelaparan. Ketika perut berteriak meminta diisi, pikiran dan tubuh kita berpikir keras untuk memenuhi tuntutan itu. Jika situasi ini berlangsung terus-menerus, tubuh akan menjadi semakin kurus dan semakin memburuk hingga bisa berujung kepada kematian. Dari observasi tentang kelebihan dan kekurangan makan ini, kita bisa menyimpulkan bahwa makan secukupnya adalah yang terbaik. Prinsip secukupnya ini juga berlaku bagi banyak hal dalam kehidupan kita. Inilah yang disampaikan oleh Agur bin Yake dalam perikop Alkitab kita hari ini. Hidup terlampau berlebihan membuat orang lupa akan kebergantungannya pada Tuhan. Sebaliknya, hidup kekurangan membuat orang melakukan hal-hal yang memalukan nama Tuhan. Karena itu, yang terbaik adalah yang secukupnya saja. Lalu bagaimana kalau kita diberkati secara berlebihan? Apakah kita harus menolaknya? Paulus mengajarkan agar kita berbagi dengan mereka yang berkekurangan (2 Kor. 8:13-14). Dengan demikian, baik yang berkelebihan maupun yang berkekurangan sama-sama mengalami kecukupan dan memuji Allah --ALS/Renungan Harian. BUKAN BERLEBIHAN ATAU BERKEKURANGAN, MELAINKAN MENCUKUPKAN DIRI DALAM SEGALA HAL.

Xavier Quentin Pranata
Jika ilmu kita BAGI hasilnya justru berKALI lipat.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:

Post a Comment