SPECTACULAR
CHRISTMAS
Mengapa
Natal
Spektakuler?
Coba renungkan hal-hal sebagai berikut:
- Allah menjadi Manusia. Mengapa DIA harus melakukan tindakan yang spektakuler bahkan tidak masuk akal ini, hanya 1 kata: KASIH, karena DIA mengasihi kita (cinta sejatiNya = Spektakuler -- Yoh 3:16).
- Lahir di dalam sebuah palungan. Mengapa? Tanda dari kerendahan hatiNya: DIA rela memberi diri dan Raja yang melayani/DIA Pribadi yang datang bukan untuk dilayani melainkan melayani & memberikan nyawanya bagi tebusan banyak orang (Markus 10:45).
- Lahir ke dunia... untuk Mati. Yesus tidak pernah ragu untuk menjalani Tujuan kehidupanNya (Markus 8:31).
- Untuk dosa yang kita perbuat, kita diSELAMATkan. Skenario yang spektakuler namun itulah kenyataan yang diberikan kepada kita: Keselamatan Kekal (Efesus 2:4-6).
- Natal adalah hadiah buat kita semua. Setiap Natal kita mengadakan acara natal dengan tukar kado, kalau dipikir-pikir, sangat tidak masuk akal/spektakuler: Kelahiran siapa yang sedang kita rayakan? Padahal Hadiah Keselamatan yang DIA berikan sangat spektakuler: kita dibebaskan dari hukuman kematian kekal, itulah Hadiah yang sesungguhnya.
Kita
bersyukur untuk Natal yang Spectakuler ini ya
Amin.
Xavier
Quentin Pranata
“Suara
hati yang dikuduskan mendekatkan diri kita kepada Tuhan.” Xavier
Quentin Pranata.
Bp.
Budi – PT. Multipack Unggul
Renungan
Pagi. Kedewasaan. Seorang anak berusia 3 tahun berkata kepada ibunya,
“Mah, aku mau balon!” Lalu,anak itu meminta banyak hal lagi
kepada ibunya. Ia minta digendong, minta disuap ketika makan, minta
dimandikan dan sebagainya. Ketika keinginannya tidak dipenuhi mungkin
ia akan menangis dan sangat kecewa pada ibunya. Namun, ketika semua
keinginannya dituruti mungkin ia akan menganggap ibunya sebagai ibu
yang paling baik. Saya rasa hal ini wajar karena usianya baru 3
tahun. Saudaraku, coba bayangkan apabila ada anak yang sudah berusia
30 tahun tetapi masih bersikap sama seperti anak yang berusia 3
tahun! Bayangkan anak yang berusia 30 tahun ini masih minta balon,
minta digendong dan sebagainya! Sungguh anak yang keterlaluan, bukan?
Saudaraku, begitu juga dengan kita, ketika kita berurusan dengan
Tuhan, kebanyakan kita masih bersikap seperti anak berusia 3 tahun.
Kita merasa Tuhan wajib menuruti semua keinginan kita. Kita merasa
berhak minta ini dan minta itu kepada Tuhan. Dan apabila Tuhan tidak
mengabulkannya, maka kita merasa sedih dan kecewa kepada-Nya.
Sebaliknya, jika semuanya terpenuhi, kebanyakan kita merasa sangat
senang dan mulai menyukai cara kerja Tuhan. Ibrani 5:12-14, “Sebab
barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang
kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah
untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang
terlatih untuk membedakan yang baik daripada yang jahat.”
Saudaraku, mari kita belajar bangun kedewasaan rohani kita! Tuhan
bukanlah pribadi yang bisa kita perlakukan suka-suka kita sendiri.
Mari periksa diri kita! Untuk apakah kita berhubungan dengan Tuhan?
Apakah kita hanya sekedar mau “memanfaatkan” Tuhan demi
kepentingan kita sendiri? Seringkali kita kecewa jika keinginan kita
tidak dikabulkan oleh Tuhan. Namun, pernahkah kita berpikir Tuhan pun
kecewa ketika hidup kita tidak sesuai dengan yang diingini-Nya?
Selamat pagi. Selamat beraktivitas. Tuhan Yesus memberkati.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Rabu, 14 Desember 2016. MAU HIDUP? Ia insaf dan bertobat dari
segala durhaka yang dibuatnya, ia pasti hidup, ia tidak akan mati
(Yehezkiel 18:28). Banyak orang meyakini bahwa dosa orang tua menurun
pada anak. Kutuk juga dianggap menurun. Kesalahan adalah sesuatu yang
diwariskan. Pandangan ini juga cukup kuat dalam Taurat. Juga demikian
halnya dalam pemikiran orang Kristen sekarang ini. Apakah pemahaman
ini benar? Kitab Yehezkiel 18 menolak hal ini. Bagi nabi, sindiran
“ayah-ayah makan buah mentah, gigi anak-anak menjadi ngilu” (ay.
2) itu salah. Bila orang berbuat dosa, ia sendiri yang akan
menanggung akibatnya (ay. 4). Anak tak lagi menanggung dosa orang
tuanya. Dosa adalah urusan pribadi, bukan warisan. Ini pandangan yang
cukup radikal pada masanya. Alasannya, “semua jiwa Aku punya”
(ay. 4). Maksudnya, hidup ayah maupun anak ditentukan oleh Tuhan.
Hidup anak adalah urusan sang anak dengan Tuhan dan bukan sebagai
konsekuensi dosa orangtua. Jadi, setiap orang berdosa harus menyadari
bagiannya dan berpaling dari dosanya (ay. 30-32). Bagi nabi masalah
hukuman adalah masalah pribadi, demikian pula dengan hal hidup. Yang
penting jangan lagi merasa hidup di bawah karma orang tua. Hidup kita
dicapai melalui pertobatan, peralihan diri seutuhnya kepada Tuhan.
Siapa yang beralih dari kutuk karma ke kasih Tuhan akan mengalami
kehidupan. Hidup setiap orang adalah pergumulan orang itu dengan
Tuhan. Jadi, bila seseorang ingin hidup, ia perlu mengarahkan
hidupnya sendiri pada Tuhan. Tak bisa ia mengandalkan jerih juang
iman orang. Hidup adalah soal kesungguhan pribadi kita dalam beralih
kepada Tuhan. HIDUP KITA TIDAK DITENTUKAN OLEH DOSA ATAU KESALEHAN
ORANG LAIN, MELAINKAN OLEH HUBUNGAN KITA DENGAN TUHAN. Selamat pagi.
Selamat berkarya. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:
Post a Comment