Wednesday, 14 December 2016

14 Desember 2016

SPECTACULAR CHRISTMAS




Mengapa Natal Spektakuler? Coba renungkan hal-hal sebagai berikut:
  1. Allah menjadi Manusia. Mengapa DIA harus melakukan tindakan yang spektakuler bahkan tidak masuk akal ini, hanya 1 kata: KASIH, karena DIA mengasihi kita (cinta sejatiNya = Spektakuler -- Yoh 3:16).
  2. Lahir di dalam sebuah palungan. Mengapa? Tanda dari kerendahan hatiNya: DIA rela memberi diri dan Raja yang melayani/DIA Pribadi yang datang bukan untuk dilayani melainkan melayani & memberikan nyawanya bagi tebusan banyak orang (Markus 10:45).
  3. Lahir ke dunia... untuk Mati. Yesus tidak pernah ragu untuk menjalani Tujuan kehidupanNya (Markus 8:31).
  4. Untuk dosa yang kita perbuat, kita diSELAMATkan. Skenario yang spektakuler namun itulah kenyataan yang diberikan kepada kita: Keselamatan Kekal (Efesus 2:4-6).
  5. Natal adalah hadiah buat kita semua. Setiap Natal kita mengadakan acara natal dengan tukar kado, kalau dipikir-pikir, sangat tidak masuk akal/spektakuler: Kelahiran siapa yang sedang kita rayakan? Padahal Hadiah Keselamatan yang DIA berikan sangat spektakuler: kita dibebaskan dari hukuman kematian kekal, itulah Hadiah yang sesungguhnya.
Kita bersyukur untuk Natal yang Spectakuler ini ya Amin.

Xavier Quentin Pranata
Suara hati yang dikuduskan mendekatkan diri kita kepada Tuhan.” Xavier Quentin Pranata.

Bp. Budi – PT. Multipack Unggul
Renungan Pagi. Kedewasaan. Seorang anak berusia 3 tahun berkata kepada ibunya, “Mah, aku mau balon!” Lalu,anak itu meminta banyak hal lagi kepada ibunya. Ia minta digendong, minta disuap ketika makan, minta dimandikan dan sebagainya. Ketika keinginannya tidak dipenuhi mungkin ia akan menangis dan sangat kecewa pada ibunya. Namun, ketika semua keinginannya dituruti mungkin ia akan menganggap ibunya sebagai ibu yang paling baik. Saya rasa hal ini wajar karena usianya baru 3 tahun. Saudaraku, coba bayangkan apabila ada anak yang sudah berusia 30 tahun tetapi masih bersikap sama seperti anak yang berusia 3 tahun! Bayangkan anak yang berusia 30 tahun ini masih minta balon, minta digendong dan sebagainya! Sungguh anak yang keterlaluan, bukan? Saudaraku, begitu juga dengan kita, ketika kita berurusan dengan Tuhan, kebanyakan kita masih bersikap seperti anak berusia 3 tahun. Kita merasa Tuhan wajib menuruti semua keinginan kita. Kita merasa berhak minta ini dan minta itu kepada Tuhan. Dan apabila Tuhan tidak mengabulkannya, maka kita merasa sedih dan kecewa kepada-Nya. Sebaliknya, jika semuanya terpenuhi, kebanyakan kita merasa sangat senang dan mulai menyukai cara kerja Tuhan. Ibrani 5:12-14, “Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik daripada yang jahat.” Saudaraku, mari kita belajar bangun kedewasaan rohani kita! Tuhan bukanlah pribadi yang bisa kita perlakukan suka-suka kita sendiri. Mari periksa diri kita! Untuk apakah kita berhubungan dengan Tuhan? Apakah kita hanya sekedar mau “memanfaatkan” Tuhan demi kepentingan kita sendiri? Seringkali kita kecewa jika keinginan kita tidak dikabulkan oleh Tuhan. Namun, pernahkah kita berpikir Tuhan pun kecewa ketika hidup kita tidak sesuai dengan yang diingini-Nya? Selamat pagi. Selamat beraktivitas. Tuhan Yesus memberkati.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Rabu, 14 Desember 2016. MAU HIDUP? Ia insaf dan bertobat dari segala durhaka yang dibuatnya, ia pasti hidup, ia tidak akan mati (Yehezkiel 18:28). Banyak orang meyakini bahwa dosa orang tua menurun pada anak. Kutuk juga dianggap menurun. Kesalahan adalah sesuatu yang diwariskan. Pandangan ini juga cukup kuat dalam Taurat. Juga demikian halnya dalam pemikiran orang Kristen sekarang ini. Apakah pemahaman ini benar? Kitab Yehezkiel 18 menolak hal ini. Bagi nabi, sindiran “ayah-ayah makan buah mentah, gigi anak-anak menjadi ngilu” (ay. 2) itu salah. Bila orang berbuat dosa, ia sendiri yang akan menanggung akibatnya (ay. 4). Anak tak lagi menanggung dosa orang tuanya. Dosa adalah urusan pribadi, bukan warisan. Ini pandangan yang cukup radikal pada masanya. Alasannya, “semua jiwa Aku punya” (ay. 4). Maksudnya, hidup ayah maupun anak ditentukan oleh Tuhan. Hidup anak adalah urusan sang anak dengan Tuhan dan bukan sebagai konsekuensi dosa orangtua. Jadi, setiap orang berdosa harus menyadari bagiannya dan berpaling dari dosanya (ay. 30-32). Bagi nabi masalah hukuman adalah masalah pribadi, demikian pula dengan hal hidup. Yang penting jangan lagi merasa hidup di bawah karma orang tua. Hidup kita dicapai melalui pertobatan, peralihan diri seutuhnya kepada Tuhan. Siapa yang beralih dari kutuk karma ke kasih Tuhan akan mengalami kehidupan. Hidup setiap orang adalah pergumulan orang itu dengan Tuhan. Jadi, bila seseorang ingin hidup, ia perlu mengarahkan hidupnya sendiri pada Tuhan. Tak bisa ia mengandalkan jerih juang iman orang. Hidup adalah soal kesungguhan pribadi kita dalam beralih kepada Tuhan. HIDUP KITA TIDAK DITENTUKAN OLEH DOSA ATAU KESALEHAN ORANG LAIN, MELAINKAN OLEH HUBUNGAN KITA DENGAN TUHAN. Selamat pagi. Selamat berkarya. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment