Sunday, 11 December 2016

11 Desember 2016

SPECTACULAR CHRISTMAS




Efesus 2:12, “Bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.” Takkan pernah ada kata cukup untuk mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah, bersyukur dan berpengharapan akan menumbuhkan rasa percaya kita kepadaNya. Efesus 2:12 menyimpulkan bahwa Tanpa Pengharapan & Tanpa Allah, Tanpa Yesus kita akan selamanya terhilang tanpa pengharapan, tetapi Rasa Syukur akan membawa kita kembali kepada Allah. Amin.

Xavier Quentin Pranata
Saat kita mengkhawatirkan hari esok, kita lupa untuk berkarya maksimal hari ini.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Sabtu, 11 Desember 2016. SAMA SAJA. Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka (Kejadian 1:27). Simone de Beauvoir, seorang sosiolog, menulis buku The Second Sex. Ia menggugat pandangan yang menempatkan laki-laki secara hakiki lebih daripada perempuan sehingga lelaki adalah The First (yang pertama) dan perempuan adalah The Second (yang kedua). Dalam catatan Kitab Kejadian, lelaki dan perempuan, karena mereka adalah manusia, sama-sama berstatus sebagai gambar dan rupa Allah. Ini konsep kesetaraan gender secara teologis yang penting untuk kita resapi, justru di tengah-tengah pandangan hidup yang menempatkan perempuan sebagai sekadar “kanca wingking” (teman yang bertugas di bagian belakang). Konsep yang merendahkan perempuan ini perlu diletakkan dalam terang kisah Penciptaan. Sudah saatnya para lelaki bertobat dan berubah pandangan, dari sikap merasa diri lebih penting daripada perempuan ke sikap penuh hormat dan tulus. Demikian pula para perempuan, perlu mengubah pandangan dari “kelas dua” ke “kelas utama”. Memang tugas dan fungsi domestik masih dipengaruhi oleh kesepakatan sosial. Ini tidak masalah sejauh tidak meletakkan perempuan secara hakiki sebagai “lebih rendah” dibandingkan dengan laki-laki. Coba periksa anak dan cucu kita. Mana yang lebih kita sukai? Yang lelaki atau perempuan? Apa alasan kita? Bila alasan kita berpusat pada konsep perempuan sebagai manusia kedua, kita berjalan dan berpikir di jalur yang keliru dan tak Alkitabiah. Jadi, berbaliklah! Cintailah baik yang lelaki maupun yang perempuan sebagaimana mereka ada: sebagai gambar dan rupa Allah! HUBUNGAN ANTARA LELAKI DAN PEREMPUAN BUKANLAH SEPERTI ATASAN DAN BAWAHAN, MELAINKAN SEBAGAI KAWAN PENOLONG YANG SEPADAN. Selamat pagi. Selamat beribadah. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment