RICH FAMILY-POOR
FAMILY
Ayub 1:5, “Setiap
kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan
menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu
mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya:
‘Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.’
Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.” Ayub adalah contoh/teladan seorang
ayah yang hatinya mengasihi/mencintai anak-anaknya lebih dari yang lain, Ayub
menyediakan waktu & memperhatikan kehidupan anak-anaknya dengan selalu
mendoakannya secara khusus setiap hari. Sebagai orang tua apakah kita sudah
melakukan bagian kita ini: “Tetap Berdoa” untuk anak-anak kita sekalipun
kita belum melihat jawaban doa tersebut?? Ketika kita menyerahkan anak-anak
kita dalam Doa, Allah akan memberikan yang terbaik bagi anak-anak kita. Amin.
Xavier Quentin
Pranata
“Iman tanpa
perbuatan persis seperti pelamun yang tidak pernah terjun.” Xavier Quentin
Pranata.
Madam Ossy
SAAT TEDUH.
Minggu, 7 Februari 2016. Selamat Tinggal Masa Lalu. Saudara-saudara, aku
sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi inilah yang
kulakukan: Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri
kepada apa yang di hadapanku (Filipi 3:13). Susan telantar karena orang tuanya
bercerai. Sejak kecil ia sering dicabuli tukang kebun neneknya. Ia tidak ingat
kapan kehilangan keperawanannya. Sejak SMP ia sudah menjalani pergaulan bebas
dan memakai narkoba. Sudah tiga kali ia mencoba untuk bunuh diri. Sampai
seorang dokter mengingatkannya pada Yesus yang pernah didengarnya saat kecil.
Susan bertobat dan kembali pada Kristus. Tidak peduli seberapa kelam masa
lalunya, Susan belajar hidup kudus bagi Kristus dan melayani-Nya. Tuhan
mengarunianya suami dan dua anak yang baik. Rasul Paulus juga memiliki masa
lalu yang kelam. Ia bangga sebagai penganiaya jemaat, bahkan Ia adalah dalang
di balik kematian Stefanus. Pengenalannya akan Kristus mengubah segalanya. Apa
yang dulu ia banggakan, kini ia anggap sampah karena Kristus. Paulus telah
meninggalkan masa lalunya dan hidup dalam panggilan Tuhan untuk menjadi rasul
bagi orang bukan Yahudi. Melupakan masa lalu bukan berarti hilang ingatan,
namun kita tidak menjadikan masa lalu sebuah batu sandungan dalam hidup kita.
Tidak peduli betapa kelamnya masa lalu kita, selama kita mau bertobat dan hidup
bagi Kristus, kita akan memiliki hidup yang berarti. Yang paling penting
adalah, apakah kita mau meninggalkan dosa masa lalu dan memulai lembaran baru
bersama dengan Kristus? Tuhan tidak menginginkan kita merasa bersalah
berkepanjangan karena Dia telah mengampuni kita. Tuhan menghendaki agar kita
hidup bagi-Nya dan melakukan kehendak-Nya setiap hari. Mulailah dari saat ini
—VT. SEBERAPA PUN KELAM MASA LALU KITA, TUHAN MEMBERIKAN LEMBARAN BARU UNTUK
HIDUP BAGI-NYA. Selamat pagi. Bersyukur selalu. Beribadahlah dengan sukacita.
Melayani dengan semangat. Tuhan Yesus memberkati.
Samuel
Sianto-Yestoya Ministry
1 Tim 6:6 –
Memang Ibadah itu kalau disertai rasa cukup (penuh syukur, terima kasih,
sukacita) PASTI memberi Keuntungan Besar! YESUS sediakan BERKAT besar jasmani
terlebih rohani. Selamat ibadah dan melayani! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA
Ministry.
Worship Center
Surabaya
Penyembahan atau
ibadah sejati menurut Paulus rupanya tidak seperti yang dipikirkan orang-orang
Kristen hari ini. Tidak ada penekanan khusus mengenai hari, jam, acara, tempat,
seremoni atau tatacara tertentu yang harus diikuti & dijalankan. Kita
membaca dalam Roma 12:1, ibadah sejati itu suatu persembahan diri oleh karena
kemurahan Allah dengan menampakkan suatu kehidupan yang kudus di hadapan Allah.
Bahkan itu pun belum cukup. Satu hal lagi, persembahan diri itu juga harus
BERKENAN di hadapan Tuhan. Jika disatukan, ibadah sejati ialah persembahan
seluruh keberadaan kita, dengan anggota-anggota tubuh kita yang diserahkan
mengerjakan kekudusan & apa yang berkenan di hadapan Tuhan. Ada satu hal
yang kerap luput dari pikiran kita pada umumnya. Sebagian (dan jumlahnya
relatif tidak sedikit) beranggapan bahwa hidup Kristen yang beribadah itu ialah
hidup secara baik. Mengikuti setidaknya perintah-perintah firman pada umumnya.
Menjadi pribadi-pribadi bermoral, tidak melakukan kejahatan besar atau menjadi
pelanggar-pelanggar hukum. Tidak melupakan ibadah setiap minggu ke gereja.
Aktif berpartispasi dalam berbagai acara-acara rohani bahkan turut melayani dalam
program-program rohani yang diadakan, entah dalam tugas yang kecil atau
tanggung jawab yang besar. Maka hati Tuhan pun pasti disenangkan, bukan?
Masalahnya ialah hidup semacam itu juga dijalani orang-orang yang tidak
mengenal Kristus Tuhan, dalam mempraktekkan keyakinan agamanya masing-masing.
Yang Tuhan cari lebih daripada hidup beragama. Yang dicari Tuhan ialah
pribadi-pribadi yang dari dalam hati-Nya rindu & terus mencari apa yang
menyenangkan hati-Nya. Hidup kudus baru sebagian dari apa yang ingin dilihat-Nya
dari kita. Ada sesuatu dari hidup kita yang sangat dirindukan-Nya, yang akan
menyenangkan hati-Nya. Salah satu yang terbesar ialah melihat apa yang telah
direncanakan-Nya sejak semula bagi kita yaitu tujuan-tujuanNya yang terbaik
bagi kita, boleh terjadi & digenapi. Menurut Anda, adakah yang lebih baik
dari itu sebagai persembahan & penyembahan sejati kita? Salam revival! GBU.
Bp. Budi – PT.
Multipack Unggul
“It is not the
cares of today, but the cares of tomorrow, that weigh a man down” »George
MacDonald«. “Bukan kepedulian akan hari ini yang melemahkan seseorang, tetapi
kepedulian akan hari esok” »George MacDonald«. Matius 6:34 “Sebab itu janganlah
kamu kuatir akan hari besok, sebab hari besok mempunyai kesusahannya sendiri,
kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Banyak orang terlalu perduli untuk
menghadapi hari esok, minggu depan, bulan depan, bahkan tahun depan. Manusia
boleh membuat rencana, tetapi kalau Tuhan tidak mengijinkan maka semua rencana
kita pasti gagal. Jadi mulai hari ini serahkan seluruh rencana kita kedalam
tangan Tuhan, dengan ucapan syukur, maka apapun yang terjadi kita akan menjadi
kuat.
No comments:
Post a Comment