Sunday, 7 February 2016

7 Februari 2016



RICH FAMILY-POOR FAMILY



Ayub 1:5, “Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: ‘Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.’ Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.” Ayub adalah contoh/teladan seorang ayah yang hatinya mengasihi/mencintai anak-anaknya lebih dari yang lain, Ayub menyediakan waktu & memperhatikan kehidupan anak-anaknya dengan selalu mendoakannya secara khusus setiap hari. Sebagai orang tua apakah kita sudah melakukan bagian kita ini: “Tetap Berdoa” untuk anak-anak kita sekalipun kita belum melihat jawaban doa tersebut?? Ketika kita menyerahkan anak-anak kita dalam Doa, Allah akan memberikan yang terbaik bagi anak-anak kita. Amin.

Xavier Quentin Pranata
“Iman tanpa perbuatan persis seperti pelamun yang tidak pernah terjun.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Minggu, 7 Februari 2016. Selamat Tinggal Masa Lalu. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi inilah yang kulakukan: Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku (Filipi 3:13). Susan telantar karena orang tuanya bercerai. Sejak kecil ia sering dicabuli tukang kebun neneknya. Ia tidak ingat kapan kehilangan keperawanannya. Sejak SMP ia sudah menjalani pergaulan bebas dan memakai narkoba. Sudah tiga kali ia mencoba untuk bunuh diri. Sampai seorang dokter mengingatkannya pada Yesus yang pernah didengarnya saat kecil. Susan bertobat dan kembali pada Kristus. Tidak peduli seberapa kelam masa lalunya, Susan belajar hidup kudus bagi Kristus dan melayani-Nya. Tuhan mengarunianya suami dan dua anak yang baik. Rasul Paulus juga memiliki masa lalu yang kelam. Ia bangga sebagai penganiaya jemaat, bahkan Ia adalah dalang di balik kematian Stefanus. Pengenalannya akan Kristus mengubah segalanya. Apa yang dulu ia banggakan, kini ia anggap sampah karena Kristus. Paulus telah meninggalkan masa lalunya dan hidup dalam panggilan Tuhan untuk menjadi rasul bagi orang bukan Yahudi. Melupakan masa lalu bukan berarti hilang ingatan, namun kita tidak menjadikan masa lalu sebuah batu sandungan dalam hidup kita. Tidak peduli betapa kelamnya masa lalu kita, selama kita mau bertobat dan hidup bagi Kristus, kita akan memiliki hidup yang berarti. Yang paling penting adalah, apakah kita mau meninggalkan dosa masa lalu dan memulai lembaran baru bersama dengan Kristus? Tuhan tidak menginginkan kita merasa bersalah berkepanjangan karena Dia telah mengampuni kita. Tuhan menghendaki agar kita hidup bagi-Nya dan melakukan kehendak-Nya setiap hari. Mulailah dari saat ini —VT. SEBERAPA PUN KELAM MASA LALU KITA, TUHAN MEMBERIKAN LEMBARAN BARU UNTUK HIDUP BAGI-NYA. Selamat pagi. Bersyukur selalu. Beribadahlah dengan sukacita. Melayani dengan semangat. Tuhan Yesus memberkati.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
1 Tim 6:6 – Memang Ibadah itu kalau disertai rasa cukup (penuh syukur, terima kasih, sukacita) PASTI memberi Keuntungan Besar! YESUS sediakan BERKAT besar jasmani terlebih rohani. Selamat ibadah dan melayani! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Worship Center Surabaya
Penyembahan atau ibadah sejati menurut Paulus rupanya tidak seperti yang dipikirkan orang-orang Kristen hari ini. Tidak ada penekanan khusus mengenai hari, jam, acara, tempat, seremoni atau tatacara tertentu yang harus diikuti & dijalankan. Kita membaca dalam Roma 12:1, ibadah sejati itu suatu persembahan diri oleh karena kemurahan Allah dengan menampakkan suatu kehidupan yang kudus di hadapan Allah. Bahkan itu pun belum cukup. Satu hal lagi, persembahan diri itu juga harus BERKENAN di hadapan Tuhan. Jika disatukan, ibadah sejati ialah persembahan seluruh keberadaan kita, dengan anggota-anggota tubuh kita yang diserahkan mengerjakan kekudusan & apa yang berkenan di hadapan Tuhan. Ada satu hal yang kerap luput dari pikiran kita pada umumnya. Sebagian (dan jumlahnya relatif tidak sedikit) beranggapan bahwa hidup Kristen yang beribadah itu ialah hidup secara baik. Mengikuti setidaknya perintah-perintah firman pada umumnya. Menjadi pribadi-pribadi bermoral, tidak melakukan kejahatan besar atau menjadi pelanggar-pelanggar hukum. Tidak melupakan ibadah setiap minggu ke gereja. Aktif berpartispasi dalam berbagai acara-acara rohani bahkan turut melayani dalam program-program rohani yang diadakan, entah dalam tugas yang kecil atau tanggung jawab yang besar. Maka hati Tuhan pun pasti disenangkan, bukan? Masalahnya ialah hidup semacam itu juga dijalani orang-orang yang tidak mengenal Kristus Tuhan, dalam mempraktekkan keyakinan agamanya masing-masing. Yang Tuhan cari lebih daripada hidup beragama. Yang dicari Tuhan ialah pribadi-pribadi yang dari dalam hati-Nya rindu & terus mencari apa yang menyenangkan hati-Nya. Hidup kudus baru sebagian dari apa yang ingin dilihat-Nya dari kita. Ada sesuatu dari hidup kita yang sangat dirindukan-Nya, yang akan menyenangkan hati-Nya. Salah satu yang terbesar ialah melihat apa yang telah direncanakan-Nya sejak semula bagi kita yaitu tujuan-tujuanNya yang terbaik bagi kita, boleh terjadi & digenapi. Menurut Anda, adakah yang lebih baik dari itu sebagai persembahan & penyembahan sejati kita? Salam revival! GBU.

Bp. Budi – PT. Multipack Unggul
“It is not the cares of today, but the cares of tomorrow, that weigh a man down” »George MacDonald«. “Bukan kepedulian akan hari ini yang melemahkan seseorang, tetapi kepedulian akan hari esok” »George MacDonald«. Matius 6:34 “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, sebab hari besok mempunyai kesusahannya sendiri, kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Banyak orang terlalu perduli untuk menghadapi hari esok, minggu depan, bulan depan, bahkan tahun depan. Manusia boleh membuat rencana, tetapi kalau Tuhan tidak mengijinkan maka semua rencana kita pasti gagal. Jadi mulai hari ini serahkan seluruh rencana kita kedalam tangan Tuhan, dengan ucapan syukur, maka apapun yang terjadi kita akan menjadi kuat.

No comments:

Post a Comment