Tuesday, 16 February 2016

16 Februari 2016




RICH FAMILY-POOR FAMILY


2 Tim 3:14-17, 14Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. 15Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. 16Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. 17Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” Rasul Paulus telah mengingat kan kita, bahwa Firman Tuhan yang diilhamkan Allah telah diberikan kepada kita demi kebaikan dan pertumbuhan kita. Yakni membuat kita berHIKMAT & menuntun kita kepada keselamatan & kehendakNya. Jadikan Firman Tuhan sebagai tuntunan dalam hidup keluarga kita masing-masing, sehingga setiap kita diperlengkapi untuk melakukan Perbuatan Baik. Amin.

UNCHARTED TERRITORY
By: Don Moen

I find myself in uncharted territory
(Aku menemukan diriku di tempat yang tidak jelas)
Never felt so lost
(Tidak pernah begitu merasa tersesat)
Never felt so lonely
(Tidak pernah begitu merasa kesepian)
Where are You Lord
(Di mana Engkau Tuhan?)

I’m so afraid
(Aku begitu taku)
I can feel the fear inside me
(Aku bisa merasakan ketakutan di dalam diriku)
Can’t control the chaos all around me
(Tidak bisa mengendalikan kekacauan di sekelilingku)
Where are You Lord
(Di mana Engkau Tuhan?)

How can I sing the Lord’s song in a foreign land
(Bagaimana bisa aku menyanyikan pujian kepada Tuhan di tanah yang asing?)

(But) How can I forget
(Tapi bagaimana aku bisa lupa)
All You’ve done for me
(Semua yang telah Kau lakukan kepadaku)
Everything You’ve done Lord
(Semua yang Engkau lakukan)
Just to set me free
(Hanyalah untuk membebaskanku)
Teach me how to pray
(Ajar aku bagaimana berdoa)
Teach me how to praise
(Ajar aku bagaimana untuk memuji)
Even in the darkness
(Bahkan di dalam kegelapan)
Teach me how to sing Your song
(Ajar aku bagaimana untuk menyanyikan lagu pujianMu)

How can I sing
(Bagaimana aku menyanyi)
When my heart is broken
(Ketika hatiku hancur)
When every prayer is just a token
(Ketika setiap doa hanyalah satu-satunya jalan)
Where are You Lord
(Di mana Engkau Tuhan?)

Sometimes our pain can tell a tragic story
(Terkadang rasa sakit kita dapat menceritakan cerita yang tragis)
Still I will praise You
(Namun tetap aku akan memujiMu)
And give You glory
(Dan memuliakanMu)
Where are You Lord
(Di mana Engkau Tuhan?)

Help me to sing the Lord’s song in this foreign land
(Tolong aku untuk menyanyikan pujian Tuhan di tanah asing ini)

(But) How can I forget
(Tapi bagaimana aku bisa lupa)
All You’ve done for me
(Semua yang telah Kau lakukan kepadaku)
Everything You’ve done Lord
(Semua yang Engkau lakukan)
Just to set me free
(Hanyalah untuk membebaskanku)
Teach me how to pray
(Ajar aku bagaimana berdoa)
Teach me how to praise
(Ajar aku bagaimana untuk memuji)
Even in the darkness
(Bahkan di dalam kegelapan)
Teach me how to sing Your song
(Ajar aku bagaimana untuk menyanyikan lagu pujianMu)
Gonna sing Your song
(Akan menyanyikan pujianMu)

(But) How can I forget
(Tapi bagaimana aku bisa lupa)
All You’ve done for me
(Semua yang telah Kau lakukan kepadaku)
You have been so faithful
(Engkau telah begitu setia)
Meeting every need
(Dalam setiap kebutuhanku)
Teach me how to pray
(Ajar aku bagaimana berdoa)
Teach me how to praise
(Ajar aku bagaimana untuk memuji)
Even in the darkness
(Bahkan di dalam kegelapan)
Teach me how to sing Your song
(Ajar aku bagaimana untuk menyanyikan lagu pujianMu)

Bp. Budi – PT. Multipack Unggul
Selasa, 16 Februari 2016. Bacaan: Matius 6:5-8. Setahun: Bilangan 8-9. Nats: Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya (Matius 6:8). Tahu yang Terbaik. Seorang laki-laki menanam pohon di kebun. Ia berdoa, “Tuhan, berilah hujan agar akar pohon ini mendapat cukup air dan tumbuh.” Tuhan menurunkan hujan yang cukup lebat. Orang itu khawatir karena hujan tak kunjung berhenti, jadi ia memohon, “Tuhan, hentikanlah hujan ini supaya pohonku mendapat sinar matahari.” Hujan berhenti dan matahari bersinar dengan terik. Orang itu khawatir pohonnya mati kepanasan, ia berdoa, “Tuhan, turunkan hujan es agar pohonku merasa sejuk.” Tuhan mengirimkan hujan es. Pohon itu sesaat tampak segar, tetapi sorenya layu dan mati. Dengan sedih orang itu bercerita kepada temannya. Temannya berkata, “Aku juga menanam pohon, dan lihatlah pohon itu tumbuh dengan baik. Aku memercayakan pohon itu sepenuhnya pada Tuhan. Dia yang telah menciptakannya tentu lebih tahu apa yang diperlukan pohon daripada aku, seorang manusia. Badai, cahaya matahari, hujan, angin, atau apa pun, Tuhan tentu tahu yang terbaik bagi kebutuhan pohon itu.” Yesus mengajar kita bagaimana seharusnya berdoa. Bukan bertele-tele dan menyangka banyaknya perkataan membuat dikabulkan, melainkan doa yang penuh penyerahan. Doa yang percaya bahwa Allah pasti melakukan yang terbaik untuk kita, bagaimanapun caranya. Itu sebabnya Allah menghendaki agar kita tidak mengkhawatirkan segala hal, sebaliknya mengucap syukur apa pun jawaban-Nya. Bukankah Dia tahu yang terbaik dan yang paling kita perlukan? Dia yang menjadikan kita, Dia tahu bagaimana mencukupi kebutuhan kita -- Samuel Yudi Susanto. Seorang bapa yang bertanggung jawab pasti tahu menyediakan yang terbaik bagi anak-anaknya.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Maz 86:5 – Sebab ENGKAU, ya TUHAN, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-MU! YESUS, ENGKAU baik, sungguh baik, sangat baik. Kasih-MU tak berkesudahan. Terima kasih YESUSku! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Xavier Quentin Pranata
"Kesempatan kedua bisa saja ada tetapi belum tentu seindah yang pertama." Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Selasa, 16 Februari 2016. Bernyanyi dalam Kesulitan. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku (Mazmur 23:1). Lagu Kidung Jemaat 392, Ku berbahagia, ditulis oleh Fanny Crosby. Ketika berusia enam tahun, dokter keliru mengobatinya sehingga ia kehilangan penglihatan seumur hidup. Ia menikah dengan pria yang juga tuna netra. Dikaruniai seorang anak, anak mereka meninggal saat berumur delapan tahun. Tidak lama kemudian, suaminya juga meninggal dunia. Sebatang kara di dunia, Crosby mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Tetapi dalam kesulitan ia justru menciptakan lagu-lagu yang nantinya menguatkan jutaan orang di seluruh dunia. Dalam lagu pop, kita cukup sering menjumpai lirik semacam ini, “Aku tak sanggup lagi menanggung penderitaan ini.” Lirik ini mungkin mewakili jeritan hati banyak orang. Adalah hal yang lazim jika kebanyakan orang terpuruk dan kehilangan pengharapan saat penderitaan datang bertubi-tubi. Misalnya, saat kehilangan orang yang dikasihi atau kehilangan hal yang berharga. Kita kecewa, rentan, dan menjadi gampang menyalahkan orang lain, bahkan mungkin Tuhan. Akan tetapi, orang yang percaya pada rencana baik Allah akan tetap bernyanyi dan bersukacita. Mengubah penderitaan dan kesedihan itu sebagai inspirasi dan pujian bagi Allah. Hal itu bukan hanya menguatkan dirinya, tetapi juga orang lain. Ia tahu Allah tidak meninggalkannya. Ia yakin akan penyertaan dan pertolongan Tuhan. Tetap bahagia walau kondisinya sulit dan menyedihkan. Dalam segala keadaan ia berkata, “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” Apakah kita termasuk orang yang seperti itu?—PRB. ORANG PERCAYA YAKIN BAHWA DALAM SEGALA KEADAAN DAN SITUASI TUHAN TURUT BEKERJA UNTUK MENDATANGKAN KEBAIKAN. Selamat pagi. Tetap semangat ya. Tuhan Yesus memberkati.

Ibu Caroline – Bandung
ADAKAH yang SALAH?? Doeloe... Orang tua kita berangkat bekerja setelah matahari terbit dan sudah kembali ke rumah sebelum matahari terbenam... Walaupun memiliki anak yang banyak... Rumah dan halaman pun tetap luas... Bahkan tidak sedikit ada yang memiliki kebun... Dan semua anak-anaknya bersekolah... Sekarang... Banyak yang berangkat kerja subuh dan sampai rumah setelah isya... Tapi... Rumah dan tanah yang dimiliki tidak seluas rumah orang tua kita... Dan bahkan banyak yang takut memiliki anak banyak karena takut kekurangan... Ada yang salah dengan cara hidup orang MODERN... Orang tua kita hidup tanpa banyak ALAT BANTU... Tapi TENANG menjalani hidupnya... Sementara kita yang dilengkapi dengan, mesin cuci, kompor gas, HP, kendaraan, TV, email, FB, Twitter, i-pad, ruangan ber-AC dll... HARUSNYA mempermudah hidup ini... TAPI TERNYATA TIDAK... Sampai-sampai, tidak sempat kita MENIKMATI HIDUP, karena semuanya dilakukan TERBURU-BURU... Berangkat kerja, TERBURU-BURU... Pulang kerja, juga TERBURU-BURU... Makan siang, TERBURU-BURU... Di lampu merah, TERBURU-BURU... Berdoapun, TERBURU-BURU... Hanya MATI... Yang tidak seorangpun mau TERBURU-BURU... Karena ketakutan akan kurangnya harta untuk keluarga sampai-sampai kita HITUNGAN dalam MEMBERI... Sementara  Tuhan tidak pernah hitungan dalam memberi rejeki kepada kita. Bahkan karena lebih takut kehilangan pekerjaan, kita berani melewatkan Ibadah. Sampai dimanakah hidup kita pada hari ini.....??? Apa ini terjadi pada diri kita? Hanya kita yang tahu. Semoga menjadi renungan...

No comments:

Post a Comment