RICH FAMILY-POOR FAMILY
Keajaiban DOA. Efesus 6:18-20, “18dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu
di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak
putus-putusnya untuk segala orang Kudus, 19juga untuk aku, supaya
kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar
dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, 20yang kulayani
sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku
menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.” Setelah menjabarkan
seluruh senjata Peperangan Rohani yang Allah berikan (Ef 6:10-17), akhirnya
Paulus menulis tentang senjata yang paling ampuh yaitu DOA. Bagaimana sih seharusnya kita BERDOA? Baca sekali lagi ayat
18-19: (1) Berdoa dalam segala doa & permohanan; (2) Berdoa
setiap waktu; (3) Berdoa dalam Roh; (4) Berdoa &
berjaga-jaga; (5) Berdoa tak putus-putus; (6) Berdoa untuk segala
‘Orang Kudus’. (7) Berdoa untuk yang terhilang. Percayalah bila Allah
mendengar & menjawab DOA-DOA kita, seharusnya DOA bukan menjadi alternatif
terakhir melainkan PILIHAN PERTAMA J. Amin. Sudahkah
kita berDOA pagi hari ini?
Xavier
Quentin Pranata
"Saat sadar hidup begitu singkat, mengapa
kita tidak menjadi berkat?" Xavier Quentin Pranata.
GNCC
1 Samuel 17:11, 24. (11) Ketika Saul dan segenap orang Israel
MENDENGAR perkataan orang Filistin itu, maka CEMASLAH hati mereka dan SANGAT
KETAKUTAN. (24) Ketika semua orang Israel MELIHAT orang itu, larilah mereka
dari padanya dengan SANGAT KETAKUTAN. Hanya dengan MENDENGAR dan MELIHAT bisa
membuat CEMAS dan SANGAT KETAKUTAN. Jangan berjalan dengan perasaan kita. Orang
benar akan hidup oleh IMAN (Roma 1:17).
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Jumat, 19 Februari 2016. Demi
Kebaikan. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan memakai bantal. Lalu
murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya, ‘Guru, tidak pedulikah
Engkau kalau kita binasa?’ (Markus 4:38). Seorang ibu melatih anaknya tidur
sendiri. Ia membaringkan anak itu di tempat tidur, memberikan ciuman selamat
malam, kemudian mematikan lampu. Dalam kegelapan, anak itu menangis memanggil-manggil
ibunya. Ibunya diam. Anak itu mengira ibunya tidak mendengar tangisannya dan
tidak mengasihinya. Padahal, ibu berada tidak jauh darinya. Sang ibu hanya
bersembunyi di kamar sebelah. Rasa keibuannya terusik. Sang ibu mendengarnya
menangis dan ingin mendatangi anak itu untuk menenangkannya. Tetapi demi
kebaikan si anak, sang ibu menahan diri dan tetap bersembunyi. “Di manakah
Allah saat aku menghadapi persoalan berat? Mengapa Dia meninggalkanku?” Sewaktu
badai topan melanda perahu mereka, para murid bertanya, “Guru, apakah Engkau
membiarkan kami binasa?” Mengapa Dia seolah membiarkan para murid menghadapi
persoalan berat? Apakah Tuhan benar-benar membiarkan dan meninggalkan kita?
Lihatlah kembali janji yang pernah diucapkan-Nya: “Aku sekali-kali tidak akan
membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr.
13:5). Salah satu alasan Allah “menyembunyikan diri” adalah karena Dia ingin
kita belajar memercayai Dia. Dia menghendaki kita mengenal-Nya sebagai Bapa
yang selalu menyertai kita. Ketika kita berada di tengah ketakutan, Dia
mendengar seruan kita dan memedulikan kita. Sebagai Bapa, ia turut merasakan
kepedihan hati kita. Jika Dia belum melakukan sesuatu, bukan karena Dia
meninggalkan kita, tetapi Dia ingin kita bertumbuh dewasa dan memercayai-Nya
—SYS. KETIKA TUHAN “MENYEMBUNYIKAN DIRI”, MASIHKAH KITA PERCAYA BAHWA DIA TIDAK
MENINGGALKAN KITA? Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.
Samuel
Sianto-Yestoya Ministry
Yoh 10:10 – YESUS datang, supaya kita mempunyai
hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan! Berkat jasmani terlebih rohani
pasti berlimpah-limpah buat kita, disediakan, ambil dan nikmatilah. YESUS
Sumber berkat kita! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
No comments:
Post a Comment