Friday, 12 February 2016

12 Februari 2016




RICH FAMILY-POOR FAMILY


Efesus 6:1-3, 1Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. 2Hormatilah ayahmu dan ibumu-- ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: 3supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.” Tiga aspek hubungan yang perlu dibina dengan baik untuk dapat memiliki hidup yang PENUH adalah hubungan dalam keluarga, tempat pekerjaan & Gereja J. Kita diperintahkan untuk menghormati dan mentaati orang tua sebagai perwakilan dari Tuhan di dunia. Kalau kita tidak bisa menghormati apa yang kelihatan, maka akan sangat sulit untuk dapat menghormati Tuhan yang tidak kelihatan. KETAATAN & HORMAT pada orang tua mengandung janji supaya anak-anak BERBAHAGIA. Kata berbahagia dalam Efesus 6:3 adalah Eu soi genetai  yang artinya menjadi BAIK adanya, MAKMUR. Amin. Anak-anak mentaati orang tua bukan untuk menyenangkan orang tua tetapi karena hal itu MENYENANGKAN HATI Tuhan. Amin.

Ibu Caroline – Bandung
Jumat, 12 Februari 2016. Bacaan: Markus 4:35-41. Setahun: Bilangan 1-2. Nats: Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan memakai bantal. Lalu murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya, “Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa?” (Markus 4:38). Demi Kebaikan. Seorang ibu melatih anaknya tidur sendiri. Ia membaringkan anak itu di tempat tidur, memberikan ciuman selamat malam, kemudian mematikan lampu. Dalam kegelapan, anak itu menangis memanggil-manggil ibunya. Ibunya diam. Anak itu mengira ibunya tidak mendengar tangisannya dan tidak mengasihinya. Padahal, ibu berada tidak jauh darinya. Sang ibu hanya bersembunyi di kamar sebelah. Rasa keibuannya terusik. Sang ibu mendengarnya menangis dan ingin mendatangi anak itu untuk menenangkannya. Tetapi demi kebaikan si anak, sang ibu menahan diri dan tetap bersembunyi. “Di manakah Allah saat aku menghadapi persoalan berat? Mengapa Dia meninggalkanku?” Sewaktu badai topan melanda perahu mereka, para murid bertanya, “Guru, apakah Engkau membiarkan kami binasa?” Mengapa Dia seolah membiarkan para murid menghadapi persoalan berat? Apakah Tuhan benar-benar membiarkan dan meninggalkan kita? Lihatlah kembali janji yang pernah diucapkan-Nya: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr. 13:5). Salah satu alasan Allah “menyembunyikan diri” adalah karena Dia ingin kita belajar memercayai Dia. Dia menghendaki kita mengenal-Nya sebagai Bapa yang selalu menyertai kita. Ketika kita berada di tengah ketakutan, Dia mendengar seruan kita dan memedulikan kita. Sebagai Bapa, ia turut merasakan kepedihan hati kita. Jika Dia belum melakukan sesuatu, bukan karena Dia meninggalkan kita, tetapi Dia ingin kita bertumbuh dewasa dan memercayai-Nya --Samuel Yudi Susanto. Ketika Tuhan “menyembunyikan diri”, masihkah kita percaya bahwa Dia tidak meninggalkan kita?
                                                                                                
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Jumat, 12 Februari 2016. Berpadanan dengan Injil. Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Injil (Filipi 1:27). Seorang ayah memberikan tugas kepada anaknya untuk memotong-motong sebatang kayu. Untuk menolong anak itu, sang ayah memberikan contoh sepotong kayu dan menyuruhnya mengikuti potongan kayu itu. Lalu anak itu pun memotong kayu pertama dengan memakai contoh tersebut. Tetapi, anak itu lalu membuang contoh dari ayahnya dan memakai hasil potongan pertama untuk contoh potongan kayu kedua. Potongan kayu kedua untuk potongan kayu ketiga, begitu seterusnya. Setelah selesai, betapa kagetnya ia sebab potongan terakhir ternyata lebih panjang beberapa sentimeter dari contoh potongan kayu milik ayahnya. Kepada jemaat di Filipi, Rasul Paulus menasihatkan supaya hidup mereka berpadanan dengan Injil Kristus. Tentu ada sesuatu yang mendorong Paulus sehingga ia memberikan peringatan dan nasihat ini. Paulus mengkhawatirkan jika ada injil lain yang diikuti oleh jemaat Filipi. Jika hidup mereka sudah tidak lagi menjadikan Injil Kristus sebagai penuntun hidup, tentu saja hidup mereka pun akan bergeser atau tidak sesuai lagi dengan pola yang tepat. Injil Kristus adalah satu-satunya kebenaran yang patut kita ikuti. Ketika kita menyelaraskan hidup kita dengan Injil atau firman Allah, kita akan hidup sama seperti Kristus telah hidup. Apa yang seharusnya kita lakukan, bagaimana kita bersikap terhadap sesama, mestilah berpadanan dengan Kristus. Karena itu, jika kita mendapati hidup kita mulai melenceng, mari kembali kepada pola yang semula: Injil Kristus —SYS. INJIL KRISTUS ADALAH TOLOK UKUR DAN PENUNTUN KEHIDUPAN KITA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.

Xavier Quentin Pranata
“Orang sering lupa bahwa di balik mendung yang pekat tersimpan hujan berkat yang lebat.” Xavier Quentin Pranata.

Tante Elisabeth – NTT
Terus untuk menguji dasar kehidupan yang mereka miliki -baik kehidupan rohani maupun kehidupan sehari-hari mereka. 1) Dasar kehidupan rohani adalah hati yang mencintai Tuhan sadar ataupun tidak, musuh akan terus berupaya dengan segala macam cara untuk membuat sebanyak mungkin orang percaya jadi kehilangan hati yang mencintai Tuhan, kembali memanifestasikan kehidupan yang mencintai diri  sendiri. Pernakah saudara mengalami terjadinya hehidupan seperti dalam renungan ini? Teruslah saudara mengecek dalam kehidupan sehari-hari kita karena Tuhan ada didalam baitNya yang kudus, mataNya menguji anak-anak manusia dan menguji orang benar dan orang fasik. Sebab Tuhan adalah adil dan Ia mengasihi keadilan, orang yang tulus akan memandang wajahNya. Selamat pagi. JBU all.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Yer 17:7 – Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Berkat jasmani terlebih rohani milik kita yang mengandalkan YESUS. Ayo utamakan DIA dalam segala hal! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Worship Center Surabaya
Mungkin tidak ada yang menjadi ciri pembeda terbesar antara kasih sejati dengan jenis kasih yang lainnya selain ciri yang disebutkan dalam 1 Korintus 13:5 yaitu “kasih itu... tidak mencari keuntungan diri sendiri.” Yang dimaksud sebenarnya telah jelas namun inilah yang diterjemahkan dalam berbagai versi Alkitab dengan yang dimaksud dengan “tidak mencari keuntungan diri sendiri” itu: -Selalu memikirkan kepentingan orang lain dulu, baru kepentingannya sendiri; -Tidak memikirkan dirinya sendiri; -Tidak bersikeras untuk memperoleh hak-haknya atau memaksa menggunakan caranya sendiri; -Tidak melayani dirinya sendiri; -Tidak mendahulukan dirinya sendiri; -Tidak egois; tidak mementingkan diri sendiri. Kasih sejati selalu dimulai dari dalam hati -sebab dari sanalah kesejatian manusia itu ada, sebagaimana yang dilihat Tuhan sendiri. Begitu pula dengan sikap tidak mementingkan diri itu. Ada perbuatan-perbuatan yang jelas-jelas menampilkan keegoisannya. Namun ada pula perbuatan-perbuatan yang sepertinya tidak mementingkan diri namun jika didalami & dilihat lebih jauh nyatanya mengarah pada pencapaian keuntungan-keuntungan pribadi. Kasih sejati tidak demikian sebab ia TULUS mengorbankan kepentingan-kepentingannya bagi yang dikasihinya. Dalam hal inilah kita benar-benar tahu apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan atau orang lain. Kita tahu Tuhan sangat mengasihi kita sebab Dia merelakan segala keberadaan-Nya demi menjangkau & menyelamatkan kita, bukan demi keuntungan diri-Nya (bukankah Dia tak kekurangan apapun atau memerlukan apapun dari kita?). Kita juga tahu Musa mengasihi bangsanya sebab ia rela dihapuskan namanya dari kitab kehidupan asal bangsanya memperoleh pengampunan dari Tuhan (Kel. 31:31-32). Hari ini, jika Anda merasa sebagai orang-orang yang mengasihi Tuhan, renungkanlah seberapa besar Anda memikirkan apa yang menjadi maksud & tujuan pekerjaan Tuhan (yaitu yang dipikirkan & dirindukan hati-Nya atas dunia)? Seberapa pula Anda telah mengorbankan hak-hak Anda oleh karena mendahulukan Dia & kerajaan-Nya? Salam revival! GBU.

No comments:

Post a Comment