RICH FAMILY-POOR FAMILY
Efesus 6:1-3, “1Hai anak-anak, taatilah
orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. 2Hormatilah
ayahmu dan ibumu-- ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata
dari janji ini: 3supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.”
Tiga aspek hubungan yang perlu dibina dengan baik untuk dapat memiliki hidup
yang PENUH adalah hubungan dalam keluarga, tempat pekerjaan & Gereja J. Kita
diperintahkan untuk menghormati dan mentaati orang tua sebagai perwakilan dari
Tuhan di dunia. Kalau kita tidak bisa menghormati apa yang kelihatan, maka akan
sangat sulit untuk dapat menghormati Tuhan yang tidak kelihatan. KETAATAN &
HORMAT pada orang tua mengandung janji supaya anak-anak BERBAHAGIA. Kata berbahagia
dalam Efesus 6:3 adalah Eu soi genetai
yang artinya menjadi BAIK adanya, MAKMUR. Amin. Anak-anak
mentaati orang tua bukan untuk menyenangkan orang tua tetapi karena hal itu
MENYENANGKAN HATI Tuhan. Amin.
Ibu Caroline – Bandung
Jumat, 12 Februari 2016. Bacaan: Markus 4:35-41.
Setahun: Bilangan 1-2. Nats: Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan
memakai bantal. Lalu murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya,
“Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa?” (Markus 4:38). Demi Kebaikan.
Seorang ibu melatih anaknya tidur sendiri. Ia membaringkan anak itu di tempat
tidur, memberikan ciuman selamat malam, kemudian mematikan lampu. Dalam
kegelapan, anak itu menangis memanggil-manggil ibunya. Ibunya diam. Anak itu
mengira ibunya tidak mendengar tangisannya dan tidak mengasihinya. Padahal, ibu
berada tidak jauh darinya. Sang ibu hanya bersembunyi di kamar sebelah. Rasa
keibuannya terusik. Sang ibu mendengarnya menangis dan ingin mendatangi anak
itu untuk menenangkannya. Tetapi demi kebaikan si anak, sang ibu menahan diri
dan tetap bersembunyi. “Di manakah Allah saat aku menghadapi persoalan berat?
Mengapa Dia meninggalkanku?” Sewaktu badai topan melanda perahu mereka, para
murid bertanya, “Guru, apakah Engkau membiarkan kami binasa?” Mengapa Dia
seolah membiarkan para murid menghadapi persoalan berat? Apakah Tuhan
benar-benar membiarkan dan meninggalkan kita? Lihatlah kembali janji yang
pernah diucapkan-Nya: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku
sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr. 13:5). Salah satu alasan
Allah “menyembunyikan diri” adalah karena Dia ingin kita belajar memercayai
Dia. Dia menghendaki kita mengenal-Nya sebagai Bapa yang selalu menyertai kita.
Ketika kita berada di tengah ketakutan, Dia mendengar seruan kita dan
memedulikan kita. Sebagai Bapa, ia turut merasakan kepedihan hati kita. Jika
Dia belum melakukan sesuatu, bukan karena Dia meninggalkan kita, tetapi Dia
ingin kita bertumbuh dewasa dan memercayai-Nya --Samuel Yudi Susanto. Ketika
Tuhan “menyembunyikan diri”, masihkah kita percaya bahwa Dia tidak meninggalkan
kita?
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Jumat, 12 Februari 2016. Berpadanan
dengan Injil. Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya,
apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar
bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman
yang timbul dari Injil (Filipi 1:27). Seorang ayah memberikan tugas kepada anaknya
untuk memotong-motong sebatang kayu. Untuk menolong anak itu, sang ayah
memberikan contoh sepotong kayu dan menyuruhnya mengikuti potongan kayu itu.
Lalu anak itu pun memotong kayu pertama dengan memakai contoh tersebut. Tetapi,
anak itu lalu membuang contoh dari ayahnya dan memakai hasil potongan pertama
untuk contoh potongan kayu kedua. Potongan kayu kedua untuk potongan kayu
ketiga, begitu seterusnya. Setelah selesai, betapa kagetnya ia sebab potongan
terakhir ternyata lebih panjang beberapa sentimeter dari contoh potongan kayu
milik ayahnya. Kepada jemaat di Filipi, Rasul Paulus menasihatkan supaya hidup
mereka berpadanan dengan Injil Kristus. Tentu ada sesuatu yang mendorong Paulus
sehingga ia memberikan peringatan dan nasihat ini. Paulus mengkhawatirkan jika
ada injil lain yang diikuti oleh jemaat Filipi. Jika hidup mereka sudah tidak
lagi menjadikan Injil Kristus sebagai penuntun hidup, tentu saja hidup mereka
pun akan bergeser atau tidak sesuai lagi dengan pola yang tepat. Injil Kristus
adalah satu-satunya kebenaran yang patut kita ikuti. Ketika kita menyelaraskan
hidup kita dengan Injil atau firman Allah, kita akan hidup sama seperti Kristus
telah hidup. Apa yang seharusnya kita lakukan, bagaimana kita bersikap terhadap
sesama, mestilah berpadanan dengan Kristus. Karena itu, jika kita mendapati
hidup kita mulai melenceng, mari kembali kepada pola yang semula: Injil Kristus
—SYS. INJIL KRISTUS ADALAH TOLOK UKUR DAN PENUNTUN KEHIDUPAN KITA. Selamat
pagi. Tuhan Yesus memberkati.
Xavier Quentin Pranata
“Orang sering lupa bahwa di balik mendung yang
pekat tersimpan hujan berkat yang lebat.” Xavier Quentin Pranata.
Tante Elisabeth – NTT
Terus untuk menguji dasar kehidupan yang mereka
miliki -baik kehidupan rohani maupun kehidupan sehari-hari mereka. 1) Dasar
kehidupan rohani adalah hati yang mencintai Tuhan sadar ataupun tidak, musuh
akan terus berupaya dengan segala macam cara untuk membuat sebanyak mungkin
orang percaya jadi kehilangan hati yang mencintai Tuhan, kembali
memanifestasikan kehidupan yang mencintai diri
sendiri. Pernakah saudara mengalami terjadinya hehidupan seperti dalam
renungan ini? Teruslah saudara mengecek dalam kehidupan sehari-hari kita karena
Tuhan ada didalam baitNya yang kudus, mataNya menguji anak-anak manusia dan
menguji orang benar dan orang fasik. Sebab Tuhan adalah adil dan Ia mengasihi
keadilan, orang yang tulus akan memandang wajahNya. Selamat pagi. JBU all.
Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Yer 17:7 – Diberkatilah orang yang mengandalkan
TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Berkat jasmani terlebih rohani milik
kita yang mengandalkan YESUS. Ayo utamakan DIA dalam segala hal! Samuel
Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Worship Center Surabaya
Mungkin tidak ada yang menjadi ciri pembeda
terbesar antara kasih sejati dengan jenis kasih yang lainnya selain ciri yang
disebutkan dalam 1 Korintus 13:5 yaitu “kasih itu... tidak mencari keuntungan
diri sendiri.” Yang dimaksud sebenarnya telah jelas namun inilah yang
diterjemahkan dalam berbagai versi Alkitab dengan yang dimaksud dengan “tidak
mencari keuntungan diri sendiri” itu: -Selalu memikirkan kepentingan orang lain
dulu, baru kepentingannya sendiri; -Tidak memikirkan dirinya sendiri; -Tidak
bersikeras untuk memperoleh hak-haknya atau memaksa menggunakan caranya
sendiri; -Tidak melayani dirinya sendiri; -Tidak mendahulukan dirinya sendiri;
-Tidak egois; tidak mementingkan diri sendiri. Kasih sejati selalu dimulai dari
dalam hati -sebab dari sanalah kesejatian manusia itu ada, sebagaimana yang
dilihat Tuhan sendiri. Begitu pula dengan sikap tidak mementingkan diri itu.
Ada perbuatan-perbuatan yang jelas-jelas menampilkan keegoisannya. Namun ada
pula perbuatan-perbuatan yang sepertinya tidak mementingkan diri namun jika
didalami & dilihat lebih jauh nyatanya mengarah pada pencapaian keuntungan-keuntungan
pribadi. Kasih sejati tidak demikian sebab ia TULUS mengorbankan
kepentingan-kepentingannya bagi yang dikasihinya. Dalam hal inilah kita
benar-benar tahu apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan atau orang lain.
Kita tahu Tuhan sangat mengasihi kita sebab Dia merelakan segala keberadaan-Nya
demi menjangkau & menyelamatkan kita, bukan demi keuntungan diri-Nya
(bukankah Dia tak kekurangan apapun atau memerlukan apapun dari kita?). Kita
juga tahu Musa mengasihi bangsanya sebab ia rela dihapuskan namanya dari kitab
kehidupan asal bangsanya memperoleh pengampunan dari Tuhan (Kel. 31:31-32).
Hari ini, jika Anda merasa sebagai orang-orang yang mengasihi Tuhan,
renungkanlah seberapa besar Anda memikirkan apa yang menjadi maksud &
tujuan pekerjaan Tuhan (yaitu yang dipikirkan & dirindukan hati-Nya atas
dunia)? Seberapa pula Anda telah mengorbankan hak-hak Anda oleh karena
mendahulukan Dia & kerajaan-Nya? Salam revival! GBU.
No comments:
Post a Comment