Saturday, 20 February 2016

20 Februari 2016





RICH FAMILY-POOR FAMILY


Apakah kita BAHAGIA? Pengkhotbah 5:9-10 & Yesaya 48:18. Seorang Isteri Pembicara Terkenal pernah diwawancara olh seorang Wartawan: Apakah suami Anda bisa MEMBAHAGIAKAN Anda?? Lalu Istri Pembicara itu menjawab: Saya tahu bahwa suami saya adalah orang yang takut Tuhan & dekat dengan Tuhan, tetapi dia tidak bisa membahagiakan saya J. Karena masalah bahagia itu bukan ditentukan oleh “Orang Lain”, tetapi ditentukan oleh “HATI” kita sendiri. Jadi orang lain tidak punya kewajiban untuk membahagiakan kita J. Jadi pada intinya adalah: KEBAHAGIAAN itu tidak ditentukan oleh orang lain tetapi oleh sikap HATI kita sendiri J. BAHAGIA itu sederhana: BAHAGIA adalah ungkapan rasa syukur kita kepada Sang Pemberi bukan kepada pemberianNya J. Amin.

Xavier Quentin Pranata
“Ketika melihat orang lain lebih peduli terhadap kita ketimbang keluarga sendiri bisa membuat kita sedih hati.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Sabtu, 20 Februari 2016. Bersaksi Itu Indah. Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegurlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran (2 Timotius 4:2). Pagi itu saya membawa mobil gereja ke tempat cuci mobil. Sambil menunggu giliran, saya bercakap-cakap dengan seorang bapak yang juga sedang menunggu. Pada awalnya kami berbasa-basi mengomentari beberapa mobil yang sedang dicuci. Percakapan berlanjut sampai menanyakan pekerjaan masing-masing. Sang bapak terlihat terkejut setelah tahu saya seorang pendeta. Tak lama, bapak itu menceritakan siapa dirinya dan kerinduannya untuk kembali bergereja setelah memeluk keyakinan lain. Rupanya ia gundah karena merasa tidak punya keyakinan. Ke gereja tidak, menjalankan ibadahnya juga tidak. Percakapan itu memberi saya ruang untuk bersaksi. Kepada Timotius, Paulus memberikan serangkaian nasihat praktis. Pertama, agar Timotius selalu siap memberikan kebenaran firman Tuhan dan, tentu saja, menyatakan kasih Tuhan. Kedua, berani menyatakan benar itu benar dan salah itu salah, serta berani menegur orang yang berlaku salah dengan penuh kesabaran dan pengajaran sesuai dengan kebenaran Firman. Nasihat ini juga dialamatkan kepada kita semua. Kadang kita merasa tidak siap dan tidak peka akan adanya kesempatan untuk memberitakan firman dan menyatakan kasih Allah. Ketidaksiapan itu bisa jadi karena kita merasa tidak cukup pandai berkata-kata. Nasihat ini kiranya mendorong kita untuk mengasah kepekaan kita pada kesempatan itu. Sisanya, serahkan pada tuntunan dan pimpinan Roh Kudus yang membuat kita mampu memberitakan firman, menyatakan kasih Allah, dan mengungkapkan kebenaran —AAS. ROH KUDUS SELALU MEMBERI KITA KESEMPATAN DAN PELUANG UNTUK MEMBERITAKAN KASIH DAN RAHMAT TUHAN YESUS KRISTUS. Selamat pagi. Selamat berakhir pekan. Senantiasa bersyukur. Tuhan Yesus memberkati.

Worship Center Surabaya
Pada iman kita harus ditambahkan kebajikan, demikian kata rasul Petrus (2 Pet. 1:5b). Bukan sebagai syarat keselamatan tapi sebagai bagian dari kesungguhan kita tinggal dalam kasih karunia Tuhan & bertumbuh di dalamnya. Apakah kebajikan itu? Dalam bahasa aslinya, itu berarti suatu cara berpikir, merasa & bertindak dalam suatu ukuran moral yang baik, dalam berbagai-bagai hal yang dipandang terhormat & mulia di hadapan manusia & Tuhan. Mengapa pada iman kita perlu berkembang menuju suatu kehidupan yang bermoral & berstandar tinggi sesuai ukuran kebenaran firman? •Sebab itu membuktikan iman kita hidup, aktif & bekerja (1 Tes.1:3a). Iman yang benar tidak statis tapi aktif & dinamis. Jika iman benar-benar ada, maka akan ada langkah-langkah iman, kemajuan dalam iman, perbuatan-perbuatan iman. Ditopang oleh kuasa Tuhan, iman akan membubung tinggi melampaui kehidupan lama yang duniawi. Iman akan naik satu tingkat lebih tinggi pada perkara yang di atas. Dari suatu cara hidup yang berbeda dari orang-orang duniawi, yang bertumbuh dalam karakter-karakter yang baik & mulia, ialah bukti bahwa iman kita itu iman yang sejati (bukan sekedar mengaku-ngaku percaya). •Sebab itu menunjukkan suatu kualitas iman yang terhubung pada Allah yang benar. Siapa yang ada dalam Kristus adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu & yang baru sudah datang (2 Kor. 5:17). Itu artinya, kita sudah seharusnya mengalami suatu perubahan hidup dari sifat & gaya hidup lama yang berdosa menjadi suatu gaya hidup yang lebih tinggi: hidup dalam kebenaran, kejujuran & ketulusan sebagai gaya hidup yang baru di hadapan Tuhan, oleh kerja kuasa Roh Kudus. Bukankah memalukan & menuai cemooh jika ternyata orang-orang yang mengaku percaya pada Tuhan ternyata sikap hidup & kelakuannya lebih buruk dari mereka yang tak beriman? Orang yang mengaku bertuhan tapi hati & sifat-sifatnya lebih buruk & jahat DALAM HIDUP SEHARI-HARINYA (khususnya yang tak terlihat di depan orang banyak) pasti palsu imannya atau ia terhubung pada tuhan yang keliru & tak mampu mengubah hati manusia. Bagaimana dengan Anda? Salam revival! GBU.

No comments:

Post a Comment