RICH FAMILY-POOR FAMILY
Mazmur 119:105, “Firman-Mu itu pelita bagi
kakiku dan terang bagi jalanku.” Firman Tuhan harus menjadi tuntunan dalam
setiap kehidupan pribadi kita masing-masing. Melalui firman Tuhan kita belajar
melihat hidup ini sebagaimana Tuhan melihatNya, menghargai apa yang dihargaiNya
& mengasihi apa yang dikasihiNya. Firman Tuhan itu kekal. Matius
24:35, “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan
berlalu.” Tuhan terima kasih untuk karunia firmanMu. Tolong kami untuk
mempercayai & meyakini semua yang Kau katakan. Amin.
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Kamis, 11 Februari 2016. Awas Palsu.
Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar
seperti domba (Matius 7:15). Beberapa waktu lalu marak diberitakan soal
jual-beli ijazah dan gelar akademik palsu. Aparat menduga, bisnis ilegal dapat
berjalan karena ada keterlibatan “orang dalam” di perguruan tinggi tertentu.
Tersangka mengaku meraup keuntungan dari satu ijazah S1 palsu sebesar 3 juta
dan pembuatannya hanya perlu waktu 3 jam. Ijazah S2 palsu tarifnya lebih
tinggi, mencapai 45 juta. Alkitab juga mencatat banyak kepalsuan. Tuhan Yesus
memperingatkan kita untuk waspada terhadap nabi palsu yang datang dengan
menyamar seperti domba (Mat. 7:15). Mesias palsu dan nabi palsu akan datang dan
berusaha menyesatkan orang-orang pilihan Tuhan (Mat. 24:23-27). Cara untuk
melindungi diri dari kepalsuan adalah dengan mempelajari dan mengenal yang
asli, yaitu kebenaran. Nah, apakah kebenaran itu? Menurut Pemazmur, firman
Tuhan itu benar (Maz. 33:4). Yesus menyatakan, firman Tuhan adalah kebenaran
(Yoh. 17:17). Kepalsuan juga dapat terjadi pada orang yang merasa mengenal
firman Tuhan, tetapi mereka hanya mau melakukan firman yang sesuai dengan
keinginan mereka. Mereka mengambil ayat Kitab Suci secara terpotong-potong,
tidak utuh, dan memandangnya sebagai kebenaran, padahal itu adalah kepalsuan
belaka. Supaya kita tidak disesatkan oleh kepalsuan, kita perlu membaca,
mempelajari, dan memahami Alkitab dan menilai semua pengajaran berdasarkan
Alkitab. Biarlah kita seperti Rasul Paulus yang memiliki komitmen untuk selalu
menyatakan kebenaran dan tidak memalsukan firman Allah (2 Kor. 4:2) —IN. DENGAN
MENGENALI YANG ASLI SEBAIK MUNGKIN, KITA AKAN TERHINDAR DARI YANG PALSU.
Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.
Xavier Quentin Pranata
“Saat orang tidak lagi mendengar teguran hati
nuraninya sendiri, pada saat itu sebenarnya dia sudah mati suri.” Xavier
Quentin Pranata.
Samuel Sianto-Yestoya Ministry
1 Taw 21:13 – Biarlah kiranya aku jatuh kedalam
tangan TUHAN, sebab sangat besar kash sayang-NYA, jangan jatuh kedalam tangan
manusia! YESUS sangat baik dan sangat mengasihi kita. Berjalanlah bersama-NYA!
Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Worship Center Surabaya
Orang-orang berhikmat akan menjauhi apa yang
disebut sebagai kesombongan. Tidak mengherankan jika kita menemukan idak
sedikit pesan mengenai keangkuhan dalam kitab hikmat yaitu Amsal. Salah satunya
dalam Amsal 16:18. Di sana dikatakan bahwa “kecongkakan mendahului kehancuran,
dan tinggi hati mendahului kejatuhan.” Kehancuran & kejatuhan apa? Segalanya.
Baik di dunia sekarang dan/atau di dunia yang akan datang. Dunia mungkin
memegahkan & masih memberikan kesempatan kepada orang-orang sombong. Tapi
sorga tidak. Masalahnya, mudah menilai orang lain sombong sedangkan kita tak
pernah merasa demikian sehingga tak mengakuinya. Jika itu yang terjadi,
celakalah kita karena tanpa sadar kita ada di atas tebing kepongahan di bibir
jurang kejatuhan. Melihat dalam hati kita terdalam, kita tahu hati kita angkuh
ketika: •Kita merasa telah banyak tahu sehingga enggan mendengarkan atau
belajar dari orang lain (khususnya yang kita pandang lebih rendah daripada kita
dari berbagai segi misalnya usia, pendidikan, pengalaman dsb). Lebih-lebih jika
kita lebih suka menyampaikan pendapat & ingin didengarkan orang lain. •Kita
merasa mampu menjalani hidup dengan segala keberadaan kita (termasuk jabatan,
kekayaan, reputasi, gaya hidup, pengalaman kita dsb). Meski ini dikatakan dalam
hati saja, Allah yang maha tahu menilai semuanya & akan berurusan dengan
kesombongan di hati kita (Dan. 4). •Kita lupa atau menolak bahwa pusat segala
sesuatu di dunia ini ialah Tuhan yang telah menciptakan seluruh semesta &
yang telah melakukan karya penebusan atas jiwa-jiwa manusia dengan mati disalib
sebab kasih-Nya pada manusia. Yang beragama & menjalankan ibadah dengan
tekun, namun dalam kesehariannya menjalani hidupnya seolah-olah Tuhan tidak ada
atau jauh (tanpa suatu kesadaran yang nyata & kuat akan Tuhan), maka
hatinya telah dikuasai kesombongan. Kesadaran, pengakuan & kesediaan kita
menyediakan hati mencari & mengikut Tuhan ialah ukuran kerendahan hati kita
(Mat. 5:3). Jadi, apakah Anda rendah hati di hadapan-Nya? Salam revival! GBU.
Ibu Caroline – Bandung
Arti sebuah kebahagiaan. KOIN PENYOK. Seorang
lelaki berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Kondisi finansial
keluarganya morat-marit. Saat menyusuri jalanan sepi, kakinya terantuk sesuatu.
Ia membungkuk & menggerutu kecewa. “Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah
penyok.” Meskipun begitu ia membawa koin itu ke bank. “Sebaiknya koin ini
dibawa ke kolektor uang kuno”, kata teller itu memberi saran. Lelaki itu
membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, koinnya dihargai 30 dirham.
Lelaki itu begitu senang. Saat lewat toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar
kayu obral. Dia pun membeli kayu seharga 30 dirham untuk membuat rak buat
istrinya. Dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan
dia melewati bengkel pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat
kayu bermutu yang dipanggul lelaki itu. Dia menawarkan lemari 100 dirham untuk
menukar kayu itu. Setelah setuju, dia meminjam gerobak untuk membawa pulang
lemari itu. Dalam perjalanan dia melewati perumahan. Seorang wanita melihat
lemari yang indah itu & menawarnya 200 dirham, lelaki itu ragu-ragu. Si wanita
menaikkan tawarannya menjadi 250 dirham. Lelaki itupun setuju. Saat sampai di
pintu desa, dia ingin memastikan uangnya. Ia merogoh sakunya dan menghitung
lembaran bernilai 250 dirham. Tiba-tiba seorang perampok datang, mengacungkan
belati, merampas uang itu, lalu kabur. Istrinya kebetulan melihat dan berlari
mendekati suaminya dan bertanya, “Apa yang terjadi? Engkau baik-baik saja kan? Apa yang diambil
perampok tadi?” Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa.
Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi.” Bila kita sadar kita tak
pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?
Sebaliknya, sepatutnya kita harus bersyukur atas segala yang telah kita miliki,
karena ketika datang & pergi kita tidak membawa apa-apa. Menderita karena
melekat. Bahagia karena melepas. Karena demikianlah hakikat sejatinya
kehidupan, apa yang sebenarnya yang kita punya dalam hidup ini? Tidak ada,
karena bahkan nafas kita saja, bukan kepunyaan kita dan tidak bisa kita genggam
selamanya. Hidup itu perubahan dan pasti akan berubah. Saat kehilangan sesuatu,
kembalilah ingat bahwa sesungguhnya kita tidak punya apa-apa. Jadi “kehilangan”
itu tidaklah nyata dan tidak akan pernah menyakitkan. Kehilangan hanya sebuah
tipuan pikiran yang penuh dengan ke‘aku’an. Ke‘aku’an itulah yang membuat kita
menderita. Rumahku, hartaku, istriku, suami ku, anakku dll. Lahir tidak membawa
apa-apa, meninggal pun sendiri, tidak membawa apa-apa dan tidak mengajak
siapa-siapa. Pada waktunya “let it go”, siapapun yang bisa melepas dengan hati
yang bisa bersyukur, ikhlas, tidak melekat & tidak menggenggam erat pada
harta, tapi melekat pada Tuhan maka dia akan BAHAGIA! Selamat pag. Selamat
berkarya dalam tuntunanNya.
No comments:
Post a Comment