Thursday, 11 February 2016

11 Februari 2016



RICH FAMILY-POOR FAMILY


Mazmur 119:105, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Firman Tuhan harus menjadi tuntunan dalam setiap kehidupan pribadi kita masing-masing. Melalui firman Tuhan kita belajar melihat hidup ini sebagaimana Tuhan melihatNya, menghargai apa yang dihargaiNya & mengasihi apa yang dikasihiNya. Firman Tuhan itu kekal. Matius 24:35, “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” Tuhan terima kasih untuk karunia firmanMu. Tolong kami untuk mempercayai & meyakini semua yang Kau katakan. Amin.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Kamis, 11 Februari 2016. Awas Palsu. Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba (Matius 7:15). Beberapa waktu lalu marak diberitakan soal jual-beli ijazah dan gelar akademik palsu. Aparat menduga, bisnis ilegal dapat berjalan karena ada keterlibatan “orang dalam” di perguruan tinggi tertentu. Tersangka mengaku meraup keuntungan dari satu ijazah S1 palsu sebesar 3 juta dan pembuatannya hanya perlu waktu 3 jam. Ijazah S2 palsu tarifnya lebih tinggi, mencapai 45 juta. Alkitab juga mencatat banyak kepalsuan. Tuhan Yesus memperingatkan kita untuk waspada terhadap nabi palsu yang datang dengan menyamar seperti domba (Mat. 7:15). Mesias palsu dan nabi palsu akan datang dan berusaha menyesatkan orang-orang pilihan Tuhan (Mat. 24:23-27). Cara untuk melindungi diri dari kepalsuan adalah dengan mempelajari dan mengenal yang asli, yaitu kebenaran. Nah, apakah kebenaran itu? Menurut Pemazmur, firman Tuhan itu benar (Maz. 33:4). Yesus menyatakan, firman Tuhan adalah kebenaran (Yoh. 17:17). Kepalsuan juga dapat terjadi pada orang yang merasa mengenal firman Tuhan, tetapi mereka hanya mau melakukan firman yang sesuai dengan keinginan mereka. Mereka mengambil ayat Kitab Suci secara terpotong-potong, tidak utuh, dan memandangnya sebagai kebenaran, padahal itu adalah kepalsuan belaka. Supaya kita tidak disesatkan oleh kepalsuan, kita perlu membaca, mempelajari, dan memahami Alkitab dan menilai semua pengajaran berdasarkan Alkitab. Biarlah kita seperti Rasul Paulus yang memiliki komitmen untuk selalu menyatakan kebenaran dan tidak memalsukan firman Allah (2 Kor. 4:2) —IN. DENGAN MENGENALI YANG ASLI SEBAIK MUNGKIN, KITA AKAN TERHINDAR DARI YANG PALSU. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.

Xavier Quentin Pranata
“Saat orang tidak lagi mendengar teguran hati nuraninya sendiri, pada saat itu sebenarnya dia sudah mati suri.” Xavier Quentin Pranata.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
1 Taw 21:13 – Biarlah kiranya aku jatuh kedalam tangan TUHAN, sebab sangat besar kash sayang-NYA, jangan jatuh kedalam tangan manusia! YESUS sangat baik dan sangat mengasihi kita. Berjalanlah bersama-NYA! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Worship Center Surabaya
Orang-orang berhikmat akan menjauhi apa yang disebut sebagai kesombongan. Tidak mengherankan jika kita menemukan idak sedikit pesan mengenai keangkuhan dalam kitab hikmat yaitu Amsal. Salah satunya dalam Amsal 16:18. Di sana dikatakan bahwa “kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.” Kehancuran & kejatuhan apa? Segalanya. Baik di dunia sekarang dan/atau di dunia yang akan datang. Dunia mungkin memegahkan & masih memberikan kesempatan kepada orang-orang sombong. Tapi sorga tidak. Masalahnya, mudah menilai orang lain sombong sedangkan kita tak pernah merasa demikian sehingga tak mengakuinya. Jika itu yang terjadi, celakalah kita karena tanpa sadar kita ada di atas tebing kepongahan di bibir jurang kejatuhan. Melihat dalam hati kita terdalam, kita tahu hati kita angkuh ketika: •Kita merasa telah banyak tahu sehingga enggan mendengarkan atau belajar dari orang lain (khususnya yang kita pandang lebih rendah daripada kita dari berbagai segi misalnya usia, pendidikan, pengalaman dsb). Lebih-lebih jika kita lebih suka menyampaikan pendapat & ingin didengarkan orang lain. •Kita merasa mampu menjalani hidup dengan segala keberadaan kita (termasuk jabatan, kekayaan, reputasi, gaya hidup, pengalaman kita dsb). Meski ini dikatakan dalam hati saja, Allah yang maha tahu menilai semuanya & akan berurusan dengan kesombongan di hati kita (Dan. 4). •Kita lupa atau menolak bahwa pusat segala sesuatu di dunia ini ialah Tuhan yang telah menciptakan seluruh semesta & yang telah melakukan karya penebusan atas jiwa-jiwa manusia dengan mati disalib sebab kasih-Nya pada manusia. Yang beragama & menjalankan ibadah dengan tekun, namun dalam kesehariannya menjalani hidupnya seolah-olah Tuhan tidak ada atau jauh (tanpa suatu kesadaran yang nyata & kuat akan Tuhan), maka hatinya telah dikuasai kesombongan. Kesadaran, pengakuan & kesediaan kita menyediakan hati mencari & mengikut Tuhan ialah ukuran kerendahan hati kita (Mat. 5:3). Jadi, apakah Anda rendah hati di hadapan-Nya? Salam revival! GBU.

Ibu Caroline – Bandung
Arti sebuah kebahagiaan. KOIN PENYOK. Seorang lelaki berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Saat menyusuri jalanan sepi, kakinya terantuk sesuatu. Ia membungkuk & menggerutu kecewa. “Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok.” Meskipun begitu ia membawa koin itu ke bank. “Sebaiknya koin ini dibawa ke kolektor uang kuno”, kata teller itu memberi saran. Lelaki itu membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, koinnya dihargai 30 dirham. Lelaki itu begitu senang. Saat lewat toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu obral. Dia pun membeli kayu seharga 30 dirham untuk membuat rak buat istrinya. Dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu bermutu yang dipanggul lelaki itu. Dia menawarkan lemari 100 dirham untuk menukar kayu itu. Setelah setuju, dia meminjam gerobak untuk membawa pulang lemari itu. Dalam perjalanan dia melewati perumahan. Seorang wanita melihat lemari yang indah itu & menawarnya 200 dirham, lelaki itu ragu-ragu. Si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dirham. Lelaki itupun setuju. Saat sampai di pintu desa, dia ingin memastikan uangnya. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dirham. Tiba-tiba seorang perampok datang, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur. Istrinya kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya dan bertanya, “Apa yang terjadi?  Engkau baik-baik saja kan? Apa yang diambil perampok tadi?” Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi.” Bila kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan? Sebaliknya, sepatutnya kita harus bersyukur atas segala yang telah kita miliki, karena ketika datang & pergi kita tidak membawa apa-apa. Menderita karena melekat. Bahagia karena melepas. Karena demikianlah hakikat sejatinya kehidupan, apa yang sebenarnya yang kita punya dalam hidup ini? Tidak ada, karena bahkan nafas kita saja, bukan kepunyaan kita dan tidak bisa kita genggam selamanya. Hidup itu perubahan dan pasti akan berubah. Saat kehilangan sesuatu, kembalilah ingat bahwa sesungguhnya kita tidak punya apa-apa. Jadi “kehilangan” itu tidaklah nyata dan tidak akan pernah menyakitkan. Kehilangan hanya sebuah tipuan pikiran yang penuh dengan ke‘aku’an. Ke‘aku’an itulah yang membuat kita menderita. Rumahku, hartaku, istriku, suami ku, anakku dll. Lahir tidak membawa apa-apa, meninggal pun sendiri, tidak membawa apa-apa dan tidak mengajak siapa-siapa. Pada waktunya “let it go”, siapapun yang bisa melepas dengan hati yang bisa bersyukur, ikhlas, tidak melekat & tidak menggenggam erat pada harta, tapi melekat pada Tuhan maka dia akan BAHAGIA! Selamat pag. Selamat berkarya dalam tuntunanNya.


No comments:

Post a Comment