RICH FAMILY-POOR
FAMILY
Ayub 1:5, “Setiap
kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan
menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu
mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya:
‘Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam
hati.’ Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.” Sebagai orang tua, Ayub
sangat memperhatikan kehidupan spiritual anak-anaknya, Ayub menjadi contoh,
Bapak yang hatinya terarah kepada Tuhan & juga memperhatikan kehidupan
spiritual anak-anaknya. Sudahkah saat ini kita, orang tua / keluarga-keluarga
ilahi, memperhatikan kehidupan spiritual anak-anak kita baik dalam jam-jam ibadahnya
& “dalam mezbah keluarga bersama anak-anak” kita??
Samuel
Sianto-Yestoya Ministry
Ams 11:25 – Siapa
banyak memberi berkat diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan
diberi minum! Nggak masuk akal, lakukan... Pasti ada kelimpahan! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA
Ministry.
Madam Ossy
SAAT TEDUH.
Jumat, 5 Februari 2016. Yunus Dalam Perut Ikan. Maka atas penentuan TUHAN
datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan Yunus tinggal di dalam
perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya (Yunus 1:17). Dengan kebesaran-Nya,
Allah menyediakan seekor ikan besar untuk menyelamatkan nyawa Yunus. Banyak
orang menolak mukjizat ini, dan menganggapnya sebagai khayalan belaka. Namun
pada tahun 1933, di pantai Cape Cod, Massachusetts, pernah ditangkap seekor
paus biru. Panjangnya 30 meter, lebar mulutnya 3,5 meter. Ikan paus jenis ini
mempunyai 4 ruangan dalam perutnya. Di kepalanya terdapat rongga pembesaran
sinus sebagai ruang penyimpan udara yang sangat baik, berukuran 2,7 x 2,7 x 5,4
meter. Bila ikan ini menelan sesuatu yang menyebabkan sakit kepala, ia akan
berenang ke pantai terdekat dan memuntahkan benda yang ditelannya. Keberadaan
ikan paus ini menunjukkan bahwa mukjizat Yunus itu mungkin terjadi. Kisah Yunus
menggambarkan ketidaktaatan Israel dan juga gereja masa kini sebagai umat
Allah. Seharusnya mereka semua ini sudah lenyap “ditelan” zaman. Namun oleh
karena kemurahan dan kesetiaan Tuhan, umat-Nya masih terus ada hingga saat ini.
Pada kenyataannya, bangsa Israel dan umat kristiani kerap kali gagal menjadi
hamba Allah yang menyatakan kebenaran dan kasih-Nya bagi dunia. Akan tetapi,
Allah tak pernah gagal memelihara umat-Nya, dan tetap setia mewujudkan rencana
dan panggilan-Nya bagi kita semua. “Karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu
dengan takut dan gentar... karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu, baik
kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya... sehingga kamu bercahaya di
antara mereka seperti bintang-bintang di dunia” (Fil. 2:12-15) —SST. KITA
SERING GAGAL DALAM MENGIRING KRISTUS, TAPI DIA TAK PERNAH GAGAL MENOLONG KITA
MENJADI SAKSI-NYA. Selamat pagi. Sudah Jumat lagi. Tetap bersyukur ya... Tuhan
Yesus memberkati.
Xavier Quentin
Pranata
“Begitu kita
merasa angkuh bahwa kita berdiri teguh, pada saat itulah kita justru jatuh.”
Xavier Quentin Pranata.
Worship Center
Surabaya
Bagi mereka yang
merasa telah cukup mempraktekkan kasih sejati, seharusnya memberikan waktu
lebih banyak untuk merenung & memikirkan kembali seperti apa sejatinya
penerapan kasih yang tepat sesuai hati Tuhan. Salah satu contoh ialah kebiasaan
kecil yang kerap dipandang bukan masalah serius sehingga sering diabaikan oleh
beberapa orang Kristen. Ini diungkapkan oleh Paulus dalam 1 Korintus 13:5a,
“Kasih itu...tidak melakukan yang tidak sopan.” Apa maksudnya? Jika mendalami makna
dari kata aslinya, ada beberapa pengertian dari yang diterjemahkan sebagai
‘tidak sopan’. Yang dimaksud antara lain: “sikap (kata-kata atau perbuatan
yang) kasar; tidak sepantasnya/sepatutnya, tidak tepat atau tidak pas (sesuai
situasi yang sedang berlangsung); sikap kurang ajar; sikap tidak semestinya
ditunjukkan (dalam keadaan tertentu).” Dalam praktek nyatanya, sikap ini
dinyatakan dalam kata atau tindakan yang tidak mengikuti tata krama; tak
membawa diri secara benar; bersikap sinis, menghina & merendahkan orang
lain (baik langsung atau tidak langsung); sering mencela; kerap menunjukkan
sikap yang membawa sakit hati bagi orang lain (baik secara terang-terangan atau
dengan cara-cara yang halus tapi melukai perasaan orang lain; lihat Ams.
15:1,23). Kasih itu santun (meski yang santun belum tentu kasih jika itu
dilakukan dalam kemunafikan belaka). Kasih sejati itu peduli pada perasaan
orang lain -sebab kasih membebat & mengobati yang terluka, bukan
sebaliknya. Kasih juga menunjukkan sikap yang penuh penghargaan &
penghormatan pada orang lain; bergerak dengan hikmat dalam membawa diri di
berbagai keadaan sehingga hubungan-hubungan yang benar & sehat dapat
terbangun. Mereka yang mengasihi Tuhan & sesamanya membawa dirinya dalam
kelemahlembutan & kerendahan hati sebab sedikit arogansi akan membuat kita
mudah tergelincir untuk merendahkan yang lain (Ams 14:21; 16:24; 17:5; 25:11).
Sudahkah kasih Anda nyata dalam sikap manis yang tulus mempedulikan perasaan
& hati Tuhan atau orang-orang di sekitar Anda? Salam revival! GBU.
No comments:
Post a Comment