Friday, 5 February 2016

5 Februari 2016



RICH FAMILY-POOR FAMILY



Ayub 1:5, “Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: ‘Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.’ Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.” Sebagai orang tua, Ayub sangat memperhatikan kehidupan spiritual anak-anaknya, Ayub menjadi contoh, Bapak yang hatinya terarah kepada Tuhan & juga memperhatikan kehidupan spiritual anak-anaknya. Sudahkah saat ini kita, orang tua / keluarga-keluarga ilahi, memperhatikan kehidupan spiritual anak-anak kita baik dalam jam-jam ibadahnya & “dalam mezbah keluarga bersama anak-anak” kita??

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Ams 11:25 – Siapa banyak memberi berkat diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum! Nggak masuk akal, lakukan... Pasti ada kelimpahan! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Jumat, 5 Februari 2016. Yunus Dalam Perut Ikan. Maka atas penentuan TUHAN datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya (Yunus 1:17). Dengan kebesaran-Nya, Allah menyediakan seekor ikan besar untuk menyelamatkan nyawa Yunus. Banyak orang menolak mukjizat ini, dan menganggapnya sebagai khayalan belaka. Namun pada tahun 1933, di pantai Cape Cod, Massachusetts, pernah ditangkap seekor paus biru. Panjangnya 30 meter, lebar mulutnya 3,5 meter. Ikan paus jenis ini mempunyai 4 ruangan dalam perutnya. Di kepalanya terdapat rongga pembesaran sinus sebagai ruang penyimpan udara yang sangat baik, berukuran 2,7 x 2,7 x 5,4 meter. Bila ikan ini menelan sesuatu yang menyebabkan sakit kepala, ia akan berenang ke pantai terdekat dan memuntahkan benda yang ditelannya. Keberadaan ikan paus ini menunjukkan bahwa mukjizat Yunus itu mungkin terjadi. Kisah Yunus menggambarkan ketidaktaatan Israel dan juga gereja masa kini sebagai umat Allah. Seharusnya mereka semua ini sudah lenyap “ditelan” zaman. Namun oleh karena kemurahan dan kesetiaan Tuhan, umat-Nya masih terus ada hingga saat ini. Pada kenyataannya, bangsa Israel dan umat kristiani kerap kali gagal menjadi hamba Allah yang menyatakan kebenaran dan kasih-Nya bagi dunia. Akan tetapi, Allah tak pernah gagal memelihara umat-Nya, dan tetap setia mewujudkan rencana dan panggilan-Nya bagi kita semua. “Karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar... karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu, baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya... sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia” (Fil. 2:12-15) —SST. KITA SERING GAGAL DALAM MENGIRING KRISTUS, TAPI DIA TAK PERNAH GAGAL MENOLONG KITA MENJADI SAKSI-NYA. Selamat pagi. Sudah Jumat lagi. Tetap bersyukur ya... Tuhan Yesus memberkati.

Xavier Quentin Pranata
“Begitu kita merasa angkuh bahwa kita berdiri teguh, pada saat itulah kita justru jatuh.” Xavier Quentin Pranata.

Worship Center Surabaya
Bagi mereka yang merasa telah cukup mempraktekkan kasih sejati, seharusnya memberikan waktu lebih banyak untuk merenung & memikirkan kembali seperti apa sejatinya penerapan kasih yang tepat sesuai hati Tuhan. Salah satu contoh ialah kebiasaan kecil yang kerap dipandang bukan masalah serius sehingga sering diabaikan oleh beberapa orang Kristen. Ini diungkapkan oleh Paulus dalam 1 Korintus 13:5a, “Kasih itu...tidak melakukan yang tidak sopan.” Apa maksudnya? Jika mendalami makna dari kata aslinya, ada beberapa pengertian dari yang diterjemahkan sebagai ‘tidak sopan’. Yang dimaksud antara lain: “sikap (kata-kata atau perbuatan yang) kasar; tidak sepantasnya/sepatutnya, tidak tepat atau tidak pas (sesuai situasi yang sedang berlangsung); sikap kurang ajar; sikap tidak semestinya ditunjukkan (dalam keadaan tertentu).” Dalam praktek nyatanya, sikap ini dinyatakan dalam kata atau tindakan yang tidak mengikuti tata krama; tak membawa diri secara benar; bersikap sinis, menghina & merendahkan orang lain (baik langsung atau tidak langsung); sering mencela; kerap menunjukkan sikap yang membawa sakit hati bagi orang lain (baik secara terang-terangan atau dengan cara-cara yang halus tapi melukai perasaan orang lain; lihat Ams. 15:1,23). Kasih itu santun (meski yang santun belum tentu kasih jika itu dilakukan dalam kemunafikan belaka). Kasih sejati itu peduli pada perasaan orang lain -sebab kasih membebat & mengobati yang terluka, bukan sebaliknya. Kasih juga menunjukkan sikap yang penuh penghargaan & penghormatan pada orang lain; bergerak dengan hikmat dalam membawa diri di berbagai keadaan sehingga hubungan-hubungan yang benar & sehat dapat terbangun. Mereka yang mengasihi Tuhan & sesamanya membawa dirinya dalam kelemahlembutan & kerendahan hati sebab sedikit arogansi akan membuat kita mudah tergelincir untuk merendahkan yang lain (Ams 14:21; 16:24; 17:5; 25:11). Sudahkah kasih Anda nyata dalam sikap manis yang tulus mempedulikan perasaan & hati Tuhan atau orang-orang di sekitar Anda? Salam revival! GBU.

No comments:

Post a Comment