Friday, 26 February 2016

26 Februari 2016




RICH FAMILY-POOR FAMILY


Titus 2:7, “dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu” Dalam konteks ayat ini TELADAN merupakan salah satu syarat yang paling penting untuk seorang pemimpin (rohani khususnya). Teladan = Tupos yang berarti Model, Gambar, Ideal, Pola. “Seorang Pemimpin” (rohani khususnya) harus  menjadi contoh dalam kesetiaan, kekudusan, ketekunan dan kesalehannya. Apakah kita adalah seorang Pemimpin yang sudah menjadi contoh? Apakah kita pemimpin yang jujur & sungguh-sungguh dalam Pengajaran? Kita (saya) khususnya belum menjadi contoh yang baik sepenuhnya J.  Kita semua (saya) khususnya terus sedang dibentuk untuk menjadi contoh atau yang lebih baik melalui proses yang sedang Tuhan kerjakan. Oleh karenanya, jangan pernah menyerah menjadi contoh yang baik, jujur & sungguh-sungguh di tengah keluarga & marketplace kita.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Jumat, 26 Februari 2016. Bintang Dunia. Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut... sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia (Filipi 2:14-15). Bintang sepakbola Portugal, Christiano Ronaldo, membuat kejutan di Madrid pada 25 Januari 2015. Pemain penyerang Real Madrid itu menghebohkan penggemarnya dengan menyamar sebagai seorang tunawisma. Pemain berjuluk CR7 itu bermain bola bersama anak-anak di Plaza de Callao, di pusat kota Madrid. Orang-orang yang lewat di situ tertegun, karena melihat seorang tunawisma begitu mahir bermain bola. Namun saat pemenang Ballon d'Or itu membuka penyamarannya, orang-orang yang berkumpul—termasuk anak-anak yang bermain dengannya—seketika terperangah. Ronaldo pun segera memberi pelukan hangat pada anak-anak dan menandatangani bola mereka. Betapa lebih mencengangkan lagi apa yang telah dibuat Yesus! Sebagai Allah sejati, Dia menanggalkan segala atribut keilahian-Nya, dan menjadi manusia sejati dengan mengambil rupa seorang hamba. Bahkan Dia rela memberikan nyawa-Nya untuk menebus segala dosa yang mendatangkan maut bagi manusia. Dia tidak hanya bermain-main dan memberikan kesenangan sesaat bagi umat manusia yang dilawat-Nya; Dia memberikan seluruh hidup-Nya bagi kita! Sungguh menakjubkan, bukan? Mengapa? Sebab Allah sangat mengasihi dan menghargai hidup kita. Apakah respons yang layak kita berikan terhadap fakta ini? Tak ada persembahan lebih berharga yang dapat kita berikan kepada-Nya selain segenap hidup kita. Mari persembahkan diri kita, dengan rela dipakai sebagai saksi-Nya. Agar banyak orang berdosa mengenal dan menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Bersediakah Anda? —SST. ALLAH MENGARUNIAKAN NAMA DI ATAS SEGALA NAMA, AGAR BUMI DAN SURGA MENYEMBAH SERTA MENGAKU: YESUS-LAH RAJA. Selamat pagi. Happy Friday and enjoy. Thank YOU GOD. Tuhan Yesus memberkati.

Bp. Budi – PT. Multipack Unggul
MELAKUKAN SEGALA SESUATU UNTUK KEMULIAAN TUHAN. Bunda Teresa adalah biarawati yang terpanggil untuk melayani orang-orang miskin yang ada di Calcutta, India. Dalam suatu wawancara di tahun 1974 ia berkata, “Saya melihat TUHAN dalam diri manusia. Ketika saya membasuh penderita lepra, saya merasa sedang merawat TUHAN sendiri. Bukankah hal itu merupakan pengalaman yang paling menakjubkan?” Di India biaya pembakaran mayat sangatlah mahal. Biaya itu tidak dapat terpenuhi oleh orang-orang miskin, oleh sbab itu banyak orang tua yang sudah sekarat di buang oleh anak-anaknya ke tempat pembuangan sampah, karena mereka tak mau menanggung biaya kremasi. Pada suatu petang Bunda Teresa memungut 4 orang dari jalan. Salah satu dari mereka dalam kondisi yang sangat buruk. Bunda Teresa memberitahu para suster, “Kalian merawat yang 3 orang, saya akan merawat orang itu yang kelihatan paling buruk.” Bunda Teresa menaruh orang tersebut di tempat tidur & ia memegang tangan Bunda Teresa sambil berkata, ”Terima kasih”, lalu orang itu meninggal. Seorang laki-laki dipungut dari selokan, sebagian badannya sudah dimakan ulat, & setelah dibawa ke rumah perawatan ia hanya berkata, ”Saya tlah hidup seperti hewan di jalan, tapi saya akan mati seperti malaikat, dikasihi & dipedulikan.” Setelah mereka membuang semua ulat dari tubuhnya, dengan senyum ia berkata, ”Ibu, saya akan pulang kepada TUHAN...”, lalu meninggal. Bagaimana dengan kita? Kita bisa melakukan hal-hal yang besar, tapi semuanya itu di hadapan TUHAN tidak ada artinya, kecuali kita melakukan semuanya itu seperti melakukannya untuk TUHAN. Alkitab mengajarkan, kemuliaan TUHAN harus menjadi dasar & motivasi dari segala sesuatu yang kita lakukan. ”Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23). God bless you all.

Xavier Quentin Pranata
“Jadilah lebih baik tanpa merasa lebih baik dari orang lain.” Xavier Quentin Pranata.

GNCC
Orang yang kuat lahir dari sebuah PROSES. Segala sesuatu yang kita nikmati adalah hasil dari sebuah proses.

Worship Center Surabaya
Sifat lain yang merupakan perwujudan kasih ilahi & sejati ialah “tidak menyimpan kesalahan orang lain” (1 Kor. 13:5). Makna lain dari berbagai versi Alkitab menyebutkan bahwa kasih itu tidak pendendam, tidak mengingat-ingat kesalahan yang dibuat orang padanya. Dan terjemahan dari bahasa aslinya menjelaskan semuanya: “ia tidak (terus) memperhitungkan & memikir-mikirkan perbuatan jahat orang kepadanya.” Tiada kasih dalam mendendam sebab: •Hatinya dipenuhi rasa tidak terima, marah, kesal, geram & banyak emosi negatif lain yang memuncak menjadi suatu kebencian -suatu ekspresi yang merupakan kebalikan dari kasih. Dimana kasih menunjukkan sikap-sikap yang tidak ingin menyakiti; kebencian menampilkan sikap-sikap yang bermaksud melukai orang lain. •Para pendendam menolak untuk memaafkan kesalahan orang lain. Masalahnya adalah, tak seorangpun yang tidak ingin diampuni bahkan sang pendendam sekalipun ingin memperoleh pengampunan. Hanya mau menerima tapi tidak mau memberikan kasih adalah keegoisan, kasih dalam tingkat terendah karena hanya mengasihi diri sendiri (padahal kita diperintahkan mengasihi sesama seperti mengasihi diri kita sendiri). •Pembuat-pembuat perhitungan, pada gilirannya, akan mencari pembalasan pada orang yang menyakitinya -sesuatu yang merupakan hak Tuhan, bukan manusia. Pembalasan berarti merencanakan suatu perbuatan yang menyakiti bahkan berniat mendatangkan kehancuran & penderitaan orang lain dimana kasih sejati justru rindu melihat kebaikan & keselamatan terjadi atas orang lain -bahkan terhadap musuh-musuhnya. Itulah sebabnya, Yesus Sang Anak Manusia mendoakan pengampunan bagi yang menyalibkan-Nya (meski Dia sanggup melakukan pembalasan) sebab Dia itu kasih adanya. Pengamal kasih sejati tidak hanya mengampuni namun juga melupakan. Bukan berarti sama sekali lupa kenang-kenangan akan perbuatan buruk orang padanya namun memiliki sikap hati yang TAK LAGI MEMPERHITUNGKAN keburukan yang ditimpakan padanya itu sebagai suatu kesalahan lagi (Kej. 50:15-21). Jadi, sudah seperti itukah kasih Anda? Salam revival! GBU.

No comments:

Post a Comment