RICH FAMILY-POOR FAMILY
Titus 2:7, “dan jadikanlah dirimu
sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan
bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu” Dalam konteks ayat ini TELADAN
merupakan salah satu syarat yang paling penting untuk seorang pemimpin (rohani
khususnya). Teladan = Tupos yang berarti Model, Gambar, Ideal, Pola.
“Seorang Pemimpin” (rohani khususnya) harus
menjadi contoh dalam kesetiaan, kekudusan, ketekunan dan kesalehannya.
Apakah kita adalah seorang Pemimpin yang sudah menjadi contoh? Apakah kita
pemimpin yang jujur & sungguh-sungguh dalam Pengajaran? Kita (saya)
khususnya belum menjadi contoh yang baik sepenuhnya J. Kita
semua (saya) khususnya terus sedang dibentuk untuk menjadi contoh atau yang
lebih baik melalui proses yang sedang Tuhan kerjakan. Oleh karenanya, jangan
pernah menyerah menjadi contoh yang baik, jujur & sungguh-sungguh di tengah
keluarga & marketplace kita.
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Jumat, 26 Februari 2016.
Bintang Dunia. Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut... sehingga
kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia (Filipi
2:14-15). Bintang sepakbola Portugal, Christiano Ronaldo, membuat kejutan di
Madrid pada 25 Januari 2015. Pemain penyerang Real Madrid itu menghebohkan
penggemarnya dengan menyamar sebagai seorang tunawisma. Pemain berjuluk CR7 itu
bermain bola bersama anak-anak di Plaza de Callao, di pusat kota Madrid.
Orang-orang yang lewat di situ tertegun, karena melihat seorang tunawisma
begitu mahir bermain bola. Namun saat pemenang Ballon d'Or itu membuka
penyamarannya, orang-orang yang berkumpul—termasuk anak-anak yang bermain
dengannya—seketika terperangah. Ronaldo pun segera memberi pelukan hangat pada
anak-anak dan menandatangani bola mereka. Betapa lebih mencengangkan lagi apa
yang telah dibuat Yesus! Sebagai Allah sejati, Dia menanggalkan segala atribut
keilahian-Nya, dan menjadi manusia sejati dengan mengambil rupa seorang hamba.
Bahkan Dia rela memberikan nyawa-Nya untuk menebus segala dosa yang
mendatangkan maut bagi manusia. Dia tidak hanya bermain-main dan memberikan
kesenangan sesaat bagi umat manusia yang dilawat-Nya; Dia memberikan seluruh
hidup-Nya bagi kita! Sungguh menakjubkan, bukan? Mengapa? Sebab Allah sangat
mengasihi dan menghargai hidup kita. Apakah respons yang layak kita berikan
terhadap fakta ini? Tak ada persembahan lebih berharga yang dapat kita berikan
kepada-Nya selain segenap hidup kita. Mari persembahkan diri kita, dengan rela
dipakai sebagai saksi-Nya. Agar banyak orang berdosa mengenal dan menerima-Nya
sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Bersediakah Anda? —SST. ALLAH MENGARUNIAKAN
NAMA DI ATAS SEGALA NAMA, AGAR BUMI DAN SURGA MENYEMBAH SERTA MENGAKU:
YESUS-LAH RAJA. Selamat pagi. Happy Friday and enjoy. Thank YOU GOD. Tuhan
Yesus memberkati.
Bp. Budi – PT. Multipack Unggul
MELAKUKAN SEGALA SESUATU UNTUK KEMULIAAN
TUHAN. Bunda Teresa adalah biarawati yang terpanggil untuk melayani orang-orang
miskin yang ada di Calcutta, India. Dalam suatu wawancara di tahun 1974 ia
berkata, “Saya melihat TUHAN dalam diri manusia. Ketika saya membasuh penderita
lepra, saya merasa sedang merawat TUHAN sendiri. Bukankah hal itu merupakan
pengalaman yang paling menakjubkan?” Di India biaya pembakaran mayat sangatlah
mahal. Biaya itu tidak dapat terpenuhi oleh orang-orang miskin, oleh sbab itu
banyak orang tua yang sudah sekarat di buang oleh anak-anaknya ke tempat
pembuangan sampah, karena mereka tak mau menanggung biaya kremasi. Pada suatu
petang Bunda Teresa memungut 4 orang dari jalan. Salah satu dari mereka dalam
kondisi yang sangat buruk. Bunda Teresa memberitahu para suster, “Kalian
merawat yang 3 orang, saya akan merawat orang itu yang kelihatan paling buruk.”
Bunda Teresa menaruh orang tersebut di tempat tidur & ia memegang tangan
Bunda Teresa sambil berkata, ”Terima kasih”, lalu orang itu meninggal. Seorang
laki-laki dipungut dari selokan, sebagian badannya sudah dimakan ulat, &
setelah dibawa ke rumah perawatan ia hanya berkata, ”Saya tlah hidup seperti
hewan di jalan, tapi saya akan mati seperti malaikat, dikasihi &
dipedulikan.” Setelah mereka membuang semua ulat dari tubuhnya, dengan senyum
ia berkata, ”Ibu, saya akan pulang kepada TUHAN...”, lalu meninggal. Bagaimana
dengan kita? Kita bisa melakukan hal-hal yang besar, tapi semuanya itu di
hadapan TUHAN tidak ada artinya, kecuali kita melakukan semuanya itu seperti
melakukannya untuk TUHAN. Alkitab mengajarkan, kemuliaan TUHAN harus menjadi
dasar & motivasi dari segala sesuatu yang kita lakukan. ”Apa pun juga yang
kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan
untuk manusia” (Kolose 3:23). God bless you all.
Xavier Quentin Pranata
“Jadilah lebih baik tanpa merasa lebih baik
dari orang lain.” Xavier Quentin Pranata.
GNCC
Orang yang kuat lahir dari sebuah
PROSES. Segala sesuatu yang kita nikmati adalah hasil dari sebuah proses.
Worship Center Surabaya
Sifat lain yang merupakan perwujudan
kasih ilahi & sejati ialah “tidak menyimpan kesalahan orang lain” (1 Kor.
13:5). Makna lain dari berbagai versi Alkitab menyebutkan bahwa kasih itu tidak
pendendam, tidak mengingat-ingat kesalahan yang dibuat orang padanya. Dan
terjemahan dari bahasa aslinya menjelaskan semuanya: “ia tidak (terus)
memperhitungkan & memikir-mikirkan perbuatan jahat orang kepadanya.” Tiada
kasih dalam mendendam sebab: •Hatinya dipenuhi rasa tidak terima, marah, kesal,
geram & banyak emosi negatif lain yang memuncak menjadi suatu kebencian
-suatu ekspresi yang merupakan kebalikan dari kasih. Dimana kasih menunjukkan
sikap-sikap yang tidak ingin menyakiti; kebencian menampilkan sikap-sikap yang
bermaksud melukai orang lain. •Para pendendam menolak untuk memaafkan kesalahan
orang lain. Masalahnya adalah, tak seorangpun yang tidak ingin diampuni bahkan
sang pendendam sekalipun ingin memperoleh pengampunan. Hanya mau menerima tapi
tidak mau memberikan kasih adalah keegoisan, kasih dalam tingkat terendah
karena hanya mengasihi diri sendiri (padahal kita diperintahkan mengasihi
sesama seperti mengasihi diri kita sendiri). •Pembuat-pembuat perhitungan, pada
gilirannya, akan mencari pembalasan pada orang yang menyakitinya -sesuatu yang
merupakan hak Tuhan, bukan manusia. Pembalasan berarti merencanakan suatu
perbuatan yang menyakiti bahkan berniat mendatangkan kehancuran &
penderitaan orang lain dimana kasih sejati justru rindu melihat kebaikan &
keselamatan terjadi atas orang lain -bahkan terhadap musuh-musuhnya. Itulah
sebabnya, Yesus Sang Anak Manusia mendoakan pengampunan bagi yang
menyalibkan-Nya (meski Dia sanggup melakukan pembalasan) sebab Dia itu kasih
adanya. Pengamal kasih sejati tidak hanya mengampuni namun juga melupakan.
Bukan berarti sama sekali lupa kenang-kenangan akan perbuatan buruk orang
padanya namun memiliki sikap hati yang TAK LAGI MEMPERHITUNGKAN keburukan yang
ditimpakan padanya itu sebagai suatu kesalahan lagi (Kej. 50:15-21). Jadi,
sudah seperti itukah kasih Anda? Salam revival! GBU.
No comments:
Post a Comment