Thursday, 28 December 2017

28 Desember 2017

SO LOVED CHRISTMAS






Kilas Balik 2017 (1)

Tahun 2017, tinggal 4 hari lagi. Apakah kita melalui tahun 2017 dengan “tahan uji”? Banyak hal yang sudah kita alami, tantangan demi tantangan hampir setiap saat ada didepan kita. Tuhan ingin kita bergantung sepenuhnya kepada DIA.  Kita butuh bergantung kepadaNya tidak hanya 100% tetapi 1000%. Apakah kita masih tetap mempercayai Tuhan disaat ”sepertinya” tidak ada harapan lagi dalam hidup kita? Apakh kita sudah melewati Tahun ini (Jan-Des) dengan setia tanpa mengeluh? Apakah kita sudah keluar sebagai PEMENANG ditahun ini? Dalam setiap keadaan apakah kita di gunung di lembah sekalipun, apakah kita masih tetap BERDOA (Saat Teduh). Apakah Kita sudah Tahan Uji dan keluar sebagai PEMENANG atas tantangan yang kita hadapi?

Yakobus menulis bahwa pertumbuhan iman kita juga dimungkinkan karena adanya berbagai kesulitan. Ia menulis, “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun” (Yak. 1:2-4).

Memang sulit untuk bersukacita ditengah pencobaan, tetapi kita dapat dikuatkan oleh kenyataan bahwa Allah akan memakai keadaan-keadaan sulit itu untuk menolong kita mencapai kedewasaan. Seperti sebuah pohon, iman dapat bertumbuh di masa-masa pencobaan ketika kesulitan itu membuka jalan di dalam hati kita sehingga terang Allah dapat menjamah kita.

Terima kasih, ya Tuhan, karena Engkau menyertai kami dalam segala ujian yang kami hadapi dan menumbuhkan iman kami lewat semua itu. Karena kami PERCAYA pencobaan dan ujian dapat mendekatkan kami kepada Kristus. Amin.

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#SolovedChristmasSeries

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini: 
PL: Zhakharia 5-8
PB: Wahyu 19

#LoveGod
#lovepeople
#lovethebible
#IMLOVED

WM Stars
Shalom, Lukas 17:11-19... Ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring... (Lukas 17:15). TAHU BERTERIMA KASIH. Kapankah kebanyakan orang mencari Tuhan dan berteriak minta tolong kepada-Nya? Bukankah saat orang sudah merasa tak berdaya; saat semua usaha sudah dilakukan dan tak berhasil; atau saat sakit keras dan dokter sudah angkat tangan, baru ia berpaling mencari Tuhan? Ketika pertolongan Tuhan datang, barulah orang itu bersyukur dan menganggapnya mukjizat dari Tuhan. Di luar itu, orang kerap kali beranggapan bahwa semua yang terjadi dalam hidup ini apalagi hal-hal yang baik dan menyenangkan adalah hal biasa sehingga lupa menaikkan syukur kepada Tuhan. Hal ini terjadi karena orang menganggap semua hal baik yang dialaminya adalah hasil kerja kerasnya. Orang menjadi lupa bahwa di balik semuanya itu, Allah turut bekerja, menolong, dan memampukan agar ia berhasil. Tuhan yang memberi manusia akal budi, kekuatan, kesehatan, kesempatan, dan kemampuan untuk mengerjakan semua itu. Tangan-Nya yang tak tampak itu terus berkarya dalam segala peristiwa “biasa”, tak biasa, atau bahkan tak terencana dalam kehidupan anak-anak Tuhan. Yesus menyembuhkan kesepuluh penyandang kusta yang memanggil-Nya. Akan tetapi, hanya si Samaria yang tahu berterima kasih dan kembali tersungkur dalam syukur di hadapan Yesus. Ia tahu jamahan tangan kasih Tuhan tidak hanya menyembuhkan sakit fisiknya, tetapi juga mengubah hati dan menyelamatkan hidupnya (ay 19). Mari teladani cara pandangnya ini. Ketika Tuhan menjamah hati dan mengubah hidup kita menjadi baru, seharusnya itu membuat kita melihat karya Allah dalam setiap aspek kehidupan kita. Syukurilah selalu! JBU all. *TUHAN ITU MEMBERI HIDUP DAN MENOLONG KITA UNTUK HIDUP BIARLAH SYUKUR KITA SELALU ADA DI SEGALA WAKTU*

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Kamis, 28 Desember 2017. KHILAF. Bacaan: Roma 7:13-25. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku lakukan, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku lakukan (Roma 7:19). Dalam persidangan, hakim biasanya bertanya kepada terdakwa, “Apakah kamu tahu bahwa apa yang kamu lakukan itu salah?” Biasanya terdakwa menjawab, “Iya,” atau sekadar menganggukkan kepala. Biasanya hakim bertanya lagi, “Kalau sudah tahu salah kenapa dilakukan juga?” Biasanya terdakwa menjawab, “Saya khilaf”. Manusia pada dasarnya tahu apa yang benar dan salah. Namun, kodrat bawaan manusia membuatnya cenderung lebih suka melakukan perkara yang tidak benar. Sebagai orang Kristen kita pun seperti itu. Kita tahu hukum Tuhan, mana yang dosa dan yang tidak. Namun, sering kali kita khilaf. Melakukan apa yang seharusnya tidak kita lakukan, kemudian menyesalinya, hanya untuk mengulanginya di kemudian hari. Jadi bagaimana? Apakah kita akan selamanya menjadi manusia khilaf? Tentu tidak. Yesus sudah datang ke dunia, mati di kayu salib, bukan hanya supaya kita bisa masuk surga, tetapi juga supaya bisa hidup berkemenangan. Yohanes 1:12 mengatakan, “Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah.” Bagi setiap orang yang percaya kepada Yesus, tersedia kuasa yang membuatnya bisa menang atas dorongan untuk berbuat jahat atau berdosa. Dengan kekuatan sendiri tentu kita tidak bisa melawannya. Namun, bila kita mengandalkan kekuatan anugerah-Nya, kita pasti mampu. Karena itu, ketika kita tahu harus berbuat baik, tetapi merasa tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya, berserulah kepada-Nya, mintalah anugerah-Nya untuk menguatkan kita. ANUGERAH-NYA CUKUP UNTUK MEMBUAT KITA TIDAK KHILAF. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: Zakharia 5-8 dan Wahyu 19.

No comments:

Post a Comment