SO LOVED CHRISTMAS
Kilas Balik 2017 (1)
Tahun
2017, tinggal 4 hari lagi. Apakah kita melalui tahun 2017 dengan “tahan uji”? Banyak
hal yang sudah kita alami, tantangan demi tantangan hampir setiap saat ada
didepan kita. Tuhan ingin kita bergantung sepenuhnya kepada DIA. Kita
butuh bergantung kepadaNya tidak hanya 100% tetapi 1000%. Apakah kita masih
tetap mempercayai Tuhan disaat ”sepertinya”
tidak ada harapan lagi dalam hidup kita? Apakh kita sudah melewati
Tahun ini (Jan-Des) dengan setia tanpa mengeluh? Apakah kita sudah keluar sebagai
PEMENANG ditahun ini? Dalam setiap keadaan apakah kita di gunung di lembah
sekalipun, apakah kita masih tetap BERDOA (Saat Teduh). Apakah Kita sudah Tahan
Uji dan keluar sebagai PEMENANG atas tantangan yang kita hadapi?
Yakobus
menulis bahwa pertumbuhan iman kita juga dimungkinkan karena adanya berbagai
kesulitan. Ia menulis, “Anggaplah sebagai
suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab
kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan
biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi
sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun” (Yak. 1:2-4).
Memang
sulit untuk bersukacita ditengah pencobaan, tetapi kita dapat dikuatkan oleh
kenyataan bahwa Allah akan memakai keadaan-keadaan sulit itu untuk menolong
kita mencapai kedewasaan. Seperti sebuah pohon, iman dapat bertumbuh di
masa-masa pencobaan ketika kesulitan itu membuka jalan di dalam hati kita
sehingga terang Allah dapat menjamah kita.
Terima
kasih, ya Tuhan, karena Engkau menyertai kami dalam segala ujian yang kami
hadapi dan menumbuhkan iman kami lewat semua itu. Karena kami PERCAYA pencobaan
dan ujian dapat mendekatkan kami kepada Kristus. Amin.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#SolovedChristmasSeries
Note:
Jangan
lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL:
Zhakharia 5-8
PB:
Wahyu 19
#LoveGod
#lovepeople
#lovethebible
#IMLOVED
WM Stars
Shalom,
Lukas 17:11-19... Ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil
memuliakan Allah dengan suara nyaring... (Lukas 17:15). TAHU BERTERIMA
KASIH. Kapankah kebanyakan orang mencari Tuhan dan berteriak minta tolong kepada-Nya? Bukankah
saat orang sudah merasa tak berdaya; saat semua usaha sudah dilakukan dan tak
berhasil; atau saat sakit keras dan dokter sudah angkat tangan, baru ia
berpaling mencari Tuhan? Ketika pertolongan Tuhan datang, barulah orang itu
bersyukur dan menganggapnya mukjizat dari Tuhan. Di luar itu, orang kerap kali
beranggapan bahwa semua yang terjadi dalam hidup ini apalagi hal-hal yang baik
dan menyenangkan adalah hal biasa sehingga lupa menaikkan syukur kepada Tuhan. Hal
ini terjadi karena orang menganggap semua hal baik yang dialaminya adalah hasil
kerja kerasnya. Orang menjadi lupa bahwa di balik semuanya itu, Allah turut
bekerja, menolong, dan memampukan agar ia berhasil. Tuhan yang memberi manusia
akal budi, kekuatan, kesehatan, kesempatan, dan kemampuan untuk mengerjakan
semua itu. Tangan-Nya yang tak tampak itu terus berkarya dalam segala peristiwa
“biasa”, tak biasa, atau bahkan tak terencana dalam kehidupan anak-anak Tuhan. Yesus
menyembuhkan kesepuluh penyandang kusta yang memanggil-Nya. Akan tetapi,
hanya si Samaria yang tahu berterima kasih dan kembali tersungkur dalam syukur
di hadapan Yesus. Ia tahu jamahan tangan kasih Tuhan tidak hanya menyembuhkan
sakit fisiknya, tetapi juga mengubah hati dan menyelamatkan hidupnya (ay 19). Mari
teladani cara pandangnya ini. Ketika Tuhan menjamah hati dan mengubah hidup
kita menjadi baru, seharusnya itu membuat kita melihat karya Allah dalam setiap
aspek kehidupan kita. Syukurilah selalu! JBU all. *TUHAN ITU MEMBERI HIDUP DAN
MENOLONG KITA UNTUK HIDUP BIARLAH SYUKUR KITA SELALU ADA DI SEGALA WAKTU*
Madam Ossy
SAAT
TEDUH. Kamis, 28 Desember 2017. KHILAF. Bacaan: Roma 7:13-25. Sebab bukan apa
yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku lakukan, melainkan apa yang tidak
aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku lakukan (Roma 7:19). Dalam
persidangan, hakim biasanya bertanya kepada terdakwa, “Apakah kamu tahu bahwa apa
yang kamu lakukan itu salah?” Biasanya terdakwa menjawab, “Iya,” atau sekadar
menganggukkan kepala. Biasanya hakim bertanya lagi, “Kalau sudah tahu salah
kenapa dilakukan juga?” Biasanya terdakwa menjawab, “Saya khilaf”. Manusia pada
dasarnya tahu apa yang benar dan salah. Namun, kodrat bawaan manusia membuatnya
cenderung lebih suka melakukan perkara yang tidak benar. Sebagai orang Kristen
kita pun seperti itu. Kita tahu hukum Tuhan, mana yang dosa dan yang tidak.
Namun, sering kali kita khilaf. Melakukan apa yang seharusnya tidak kita
lakukan, kemudian menyesalinya, hanya untuk mengulanginya di kemudian hari. Jadi
bagaimana? Apakah kita akan selamanya menjadi manusia khilaf? Tentu tidak.
Yesus sudah datang ke dunia, mati di kayu salib, bukan hanya supaya kita bisa
masuk surga, tetapi juga supaya bisa hidup berkemenangan. Yohanes 1:12
mengatakan, “Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi
anak-anak Allah.” Bagi setiap orang yang percaya kepada Yesus, tersedia kuasa
yang membuatnya bisa menang atas dorongan untuk berbuat jahat atau berdosa.
Dengan kekuatan sendiri tentu kita tidak bisa melawannya. Namun, bila kita mengandalkan
kekuatan anugerah-Nya, kita pasti mampu. Karena itu, ketika kita tahu harus
berbuat baik, tetapi merasa tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya,
berserulah kepada-Nya, mintalah anugerah-Nya untuk menguatkan kita. ANUGERAH-NYA
CUKUP UNTUK MEMBUAT KITA TIDAK KHILAF. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. #LoveTheBible
– Bacaan: Zakharia 5-8 dan Wahyu 19.

No comments:
Post a Comment