Thursday, 14 December 2017

14 Desember 2017

SO LOVED CHRISTMAS






#SOLOVEDCHRISTMAS

Tuhan senantiasa bekerja melalui diri kita. Ia memakai suka dan duka untuk mengerjakan banyak hal yang baik bagi kita maupun orang-orang di sekitar kita. Mari ingatlah segala perbuatan-Nya di dalam hidup kita. Sambutlah Natal dengan hati yang dipenuhi dengan UCAPAN SYUKUR. 1 Tesalonika 5:18 (TB), “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” Adakah Ucapan Syukur kita hari-hari ini untuk menyambut Natal/Kelahiran Sang Juruselamat bagi dunia? Amin.

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#SolovedChristmasSeries

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini: 
PL: Yoel 1-3
PB: Wahyu 5

#LoveGod
#Lov ePeople
#LoveTheBlble
#IMLOVED

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Kamis, 14 Desember 2017. UCAPAN YANG MENYAKITKAN. Bacaan: Mazmur 109. Biar mereka mengutuk, Engkau akan memberkati; biarlah lawan-lawanku mendapat malu, tetapi hamba-Mu ini kiranya bersukacita (Mazmur 109:28). Dalam majalah Intisari, Desember 2016, ada survei menarik tentang efek perkataan positif dan negatif. Perkataan positif-bisa berupa pujian, sanjungan, atau lainnya-dapat membuat orang bergembira satu hari. Sementara perkataan negatif-bisa berupa hinaan, makian, dan sebagainya-dapat membuat orang bersedih selama sembilan hari. Ternyata, banyak orang yang lebih suka memendam sakit hati ketimbang bergembira. “Doa Seorang yang Kena Fitnah”, judul perikop hari ini dengan sangat baik menggambarkan keadaan Daud yang berduka karena kata-kata fitnah- “mulut orang fasik dan mulut penipu ternganga terhadap aku” (ay. 2). Bila membacanya, kita akan mendapati bahwa ada pihak yang tidak suka kepada jabatan atau kedudukannya. Daud mengeluh, mereka memfitnah- “menyerang dan memeranginya tanpa alasan” (ay. 3). Karenanya, ia bahkan sampai merasa “sengsara, miskin, hatinya terluka, dan menghilang seperti bayang-bayang” (ay. 22-23). Begitu besar pengaruh kata-kata negatif yang mengandung kebencian, tak muncul dari pertimbangan atau kebijaksanaan, atau tak beralasan. Kata-kata demikian sangat destruktif, menggerogoti daya hidup yang ada pada diri seseorang. Selama ini, sudahkah kita mewaspadai apa yang keluar dari mulut kita? Mungkin kita tidak sadar, dengan kata-kata yang negatif, kita didekatkan dengan kutuk (ay. 17) atau kegagalan. Mari kita membiasakan diri dengan menjadi berkat, mengatakan hal-hal yang positif untuk membangun semangat dan kehidupan orang lain. BIASAKANLAH BERPIKIR SEBELUM BERKATA-KATA, KARENA PERKATAAN KITA BARANGKALI AKAN SANGAT SERING DIPIKIRKAN ORANG LAIN. Good morning. Jesus Christ blessed you. #LoveTheBible – Bacaan: Yoel dan Wahyu 5.

Taswin Taruna – PT. Sayap Mas Utama
Pembacaan Alkitab: Mat. 6:1-18
Doa baca: Mat. 6:1
Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga.

 Melakukan kebenaran dalam Matius 6:1 menyatakan perbuatan benar, seperti memberi sedekah (ayat 2-4), berdoa (ayat 5-15), dan berpuasa (ayat 16-18). Memang benar ayat-ayat ini membicarakan perbuatan benar umat kerajaan. Namun sebenarnya ayat-ayat ini menyingkapkan diri (ego) dan daging. Di dalam kita ada sesuatu yang lebih buruk daripada amarah dan hawa nafsu. Banyak orang Kristen bahkan tidak tahu betapa buruknya ego dan daging. Dalam kedelapan belas ayat ini Tuhan menggunakan tiga ilustrasi: memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa — untuk mewahyukan betapa kita ini dipenuhi dengan ego dan daging.

Daging manusia mencari kemuliaan bagi diri sendiri, selalu ingin melakukan perbuatan baik di hadapan manusia untuk mendapatkan pujian manusia. Tetapi umat kerajaan, yang hidup dalam roh yang dikosongkan, merendah, serta berperilaku dalam hati yang murni dan tidak bercabang di bawah pengaturan surgawi dan kerajaan, tidak dibolehkan melakukan apa pun di dalam daging untuk mendapatkan pujian manusia, tetapi harus melakukan segala hal di dalam roh untuk menyenangkan Bapa Surgawi mereka.

Mengenai tiga ilustrasi ini Tuhan menggunakan kata “tersembunyi” dalam tiap-tiap ilustrasi (ayat 4, 6, 18). Kita harus melakukan perbuatan benar kita secara tersembunyi, sebab Bapa kita tersembunyi. Dalam ayat 4 Tuhan mengatakan bahwa Bapa kita melihat segala sesuatu yang tersembunyi. Umat kerajaan, sebagai anak-anak Bapa Surgawi, harus hidup dalam hadirat Bapa dan memperhatikan kehadiran Bapa. Apa pun yang mereka lakukan secara tersembunyi untuk Kerajaan Bapa, dilihat secara tersembunyi oleh Bapa dan Dia akan membalasnya. Bapa surgawi mereka melihat secara tersembunyi. Hal ini merupakan suatu pendorong bagi perbuatan benar mereka di tempat yang tersembunyi. Ini mungkin terjadi dalam zaman ini (2 Kor. 9:10-11), atau sebagai upah (pahala) dalam zaman yang akan datang (Luk. 14:14).

Jadi, prinsip dasar kita sebagai umat kerajaan dalam melakukan perbuatan benar ialah tidak memamerkan diri kita. Sedapat mungkin, sembunyikanlah diri Anda, tutupilah diri Anda, dan lakukanlah segala kebajikan yang tersembunyi. Hendaklah kita tersembunyi sedemikian rupa sehingga tak ubahnya seperti yang Tuhan Yesus katakan, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu (ayat 3). Ini berarti kita tidak boleh memberi tahu orang lain apa yang sedang kita lakukan. Umpamanya, Anda berpuasa tiga hari, janganlah memburukkan rupa Anda dengan menunjukkan air muka yang sedih. Sebaliknya, berilah kesan kepada orang lain bahwa Anda ti-dak berpuasa sehingga puasa Anda tersembunyi. Jangan berpuasa di hadirat manusia, tetapi secara tersembunyi di hadirat Bapa Surgawi. Berbuat demikian berarti membunuh ego dan daging.

Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 21

No comments:

Post a Comment