SO LOVED CHRISTMAS
#SOLOVEDCHRISTMAS
Apa dan untuk Siapa
Yohanes
3:16 (TB), “Karena begitu besar
kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang
tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan
beroleh hidup yang kekal.” Jika dunia ini begitu besar dan alam semesta
jauh lebih besar, seberapa besarkah Pribadi yang menciptakannya dengan penuh
kuasa? Alkitab mengatakan, “Karena BEGITU BESAR KASIHNYA BAGI DUNIA...” IA = TUHAN
YESUS = KASIH. IA memberikan kado yang terbesar = Kasih dan CintaNya untuk
Dunia. TUHAN PUNYA KASIH YANG SANGAT BESAR DAN PEMBERIAN YANG SANGAT HEBAT YANG
LEBIH DARI CUKUP BAGIKU. Amin. Sudahkah kita bersaksi tentang KASIHNYA YANG
BESAR ITU?
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#SolovedChristmasSeries
Note:
Jangan
lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL:
Obaja
PB:
Wahyu 9
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLOVED
Sumber:
Warta Komsel 17 Des 2017
Bp.
Anto – Citraland
RENUNGAN
PAGI: Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan
memberi kelegaan kepadamu (Matius 11:28). Entah sudah berapa sering kita datang
ke gereja untuk beribadah, namun hidup kita tidak mengalami perubahan apa-apa. Kita
hanya beribadah karena memang kita umat Kristiani, rasanya ganjil kalau kita
tidak ke gereja pada jam-jam ibadah. Kita hanya menjalankan rutinitas, sesuatu
yang biasa kita lakukan, dari waktu ke waktu sejak dulu. Kita memang ke gereja
untuk beribadah, namun tanpa penghayatan, kita lebih terfokus pada prosesi atau
liturgis belaka dan tidak ada kerinduan untuk bertemu Tuhan Yesus secara
pribadi. Masih ingat Zakheus, si pemungut cukai, ia memang tidak disukai orang
banyak, bahkan mungkin digolongkan sebagai orang jahat, namun Ia sangat ingin
berjumpa dengan Yesus, Alkitab berkata, “Ia pun berlari mendahului orang
banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat disitu”.
Ada tekad dan keinginan yang kuat untuk bertemu Yesus. Dan seharusnya, dampak
pertemuan dengan Yesus adalah pertobatan, Zakheus mengatakan, “Tuhan, setengah
dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang
kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Dan perlu kita
ingat, untuk mendapatkan kelegaan dari beban hidup yang menghimpit kita, kita
perlu datang kepada Yesus, untuk itu ibadah kita seharusnya terfokus pada
perjumoaan dengan Dia melalui pujian dan merenungkan firman-Nya serta
berkomunikasi dengan-Nya melalui doa. Selamat pagi, Tuhan Yesus memberkati.
Bp. Taswin Taruna – PT. Sayap Mas
Utama
Pembacaan
Alkitab: Mat. 6:19-34
Doa
baca: Mat. 6:31
Karena
itu, janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah
yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?
Dalam
Matius 6:19-34 seolah-olah menjamah kekayaan kita, harta kita; tetapi
sesungguhnya, maksud hati Tuhan di sini ialah menjamah kekhawatiran, sumber
masalah penghidupan sehari-hari kita. Seluruh dunia terlibat dalam
kekhawatiran. Kekhawatiran itulah roda gigi yang membuat dunia berputar. Itulah
perongrong seluruh kebudayaan manusia. Bila tidak ada kekhawatiran tentang
hidup kita, tidak seorang pun akan berbuat apa-apa. Sebaliknya semua orang akan
malas. Jadi, dengan menjamah kekhawatiran kita, Tuhan menjamah roda gigi
kehidupan manusia.
Marilah
kita sekarang mempertimbangkan maksud Tuhan dalam ayat 19-34. Mempunyai
kekhawatiran itu keliru, sebab kekhawatiran bukan milik hayat ilahi. Tidak ada
kekhawatiran dalam hayat Allah. Namun, Tuhan bukan bermaksud bahwa kita tidak
seharusnya melakukan kewajiban kita. Ketika Tuhan membawa umat Israel masuk ke
dalam tanah permai, mereka harus bekerja di atas tanah itu. Itulah kewajiban
mereka. Tanah subur menghasilkan panen yang berlimpah atau tidak tergantung
pada sejumlah masalah: udara, sinar matahari, banyaknya hujan, dan suhu yang
tepat. Semua masalah ini tidak satu pun di bawah penguasa umat Israel.
Kewajiban mereka hanyalah bekerja di atas tanah.
Mereka
bekerja tidak hanya untuk diri mereka, tetapi juga untuk burung-burung. Jika
mereka tidak bertani, burung-burung pun akan sulit hidup. Melakukan kewajiban
mereka adalah benar dan perlu, tetapi mempunyai kekhawatiran itu keliru.
Demikian pula, kita harus melakukan kewajiban kita hari ini, tetapi
melakukannya tanpa mengkhawatirkan hidup kita. Alasan Anda begitu enggan
memberi kepada yang lain ialah karena kekhawatiran Anda. Karena kekhawatiran,
Anda akan menyukai benda-benda materi. Apabila Anda tidak mempunyai
kekhawatiran, Anda tidak akan mempedulikan benda-benda materi. Sebaliknya, Anda
akan membiarkan orang lain memilikinya. Kekhawatiranlah yang menyusahkan kita.
Dalam
ekonomi Allah, kita semua harus bekerja. Kita tidak sama seperti orang Israel,
sebab kita tidak bisa secara harfiah bekerja pada tanah permai. Orang muda hari
ini harus belajar dan mendapat pendidikan yang baik. Belajar sama dengan
menggarap tanah dan lulus dari perguruan tinggi sama dengan menuai hasil panen.
Anak-anak muda, belajar ialah kewajiban Anda dan Anda harus melakukannya. Pada
zaman kuno, umat Israel harus bekerja menggarap tanah, menabur benih, mengairi,
dan menuai. Inilah kewajiban mereka. Tetapi mereka menerima hasil tuaian atau
tidak itu tergantung pada Allah. Kewajiban mereka ialah bekerja tanpa
kekhawatiran apa pun. Jika mereka khawatir, itu bersalah kepada Allah; mereka
tidak perlu khawatir. Mereka hanya semata-mata melakukan apa saja yang
diperintahkan Allah. Misalnya, menurut Kitab Bilangan, Allah meminta mereka
mendirikan satu kemah bagi diri-Nya. Kemah yang lain bagi suku Lewi, dan masih
ada satu kemah lagi untuk tujuan yang lain. Mereka tidak diperbolehkan
menyimpan semua hasil mereka untuk kenikmatan mereka. Mereka tidak boleh
mempunyai kekhawatiran apa pun. Jika mereka tidak mempunyai kekhawatiran,
mereka dapat bermurah hati, mau memberi orang lain dan menaruh benda-benda
materi mereka ke dalam tangan Tuhan.
Sumber:
Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 22

No comments:
Post a Comment