SO LOVED CHRISTMAS
LEGO
ANUGERAH TUHAN BESAR BAGI KITA
Hidup
ini penuh dengan masa depan yang tidak pasti dan tidak bisa diperkirakan. Namun
demikian, satu hal yang pasti, kita punya ANUGERAH YANG BESAR dari Tuhan, kesetiaan-Nya
yang tidak pernah berubah. Allah telah berjanji dalam Roma 8:38-39, “bahwa baik maut, maupun hidup, baik
malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun
yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah,
ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih
Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”. Bapa di surga, tolong
kami bisa menghargai ANUGERAHMU YANG BESAR sehingga dimampukan dengan kasihMu, kami
bisa setiap hari melalui perkataan dan perbuatan kami menunjukkan KASIH
ANUGERAHMU kepada orang lain dan menyenangkan hatiMu. Amin.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#LegoSeries
Note:
Jangan
lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL:
Yehezkiel 40-41
PB:
Yohanes 21
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoveD
#HappyHoliday
Madam Ossy
SAAT
TEDUH. Jumat, 1 Desember 2017. YESUS, ANAK DAUD. Bacaan: Matius 1:1-17. Inilah
daftar nenek moyang Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham (Matius 1:1). Mengapa
Yesus disebut “Anak Daud” bukan “Anak Salomo”, padahal Salomo juga raja Israel
yang terkenal? Tentu ada alasan khusus mengapa Allah lebih memilih dan
menetapkan Daud untuk “disematkan” pada sebutan nama- Nya, sehingga sampai saat
ini kita mengenal Yesus sebagai keturunan Daud.
Matius
mencatat pengakuan ini ketika mengawali suratnya. Tanpa ragu ia menyebut Yesus
sebagai anak atau keturunan Daud. Sebagai orang Yahudi, Matius memahami bahwa
sosok Mesias yang dinanti-nantikan oleh bangsanya berasal dari keturunan Daud.
Alkitab menginformasikan dengan jelas bahwa pada masa Daudlah bangsa Israel
mengalami masa keemasan sebagai sebuah kerajaan. Allah pun pernah menubuatkan
mengenai kelahiran Mesias, yang akan berasal dari keturunan Daud (bdk. Yes.
11:10; Yer. 23:5). Kehidupan Daud memang sangat spesial di hadapan Allah, sehingga
Dia pun pernah bersaksi bahwa Daud adalah orang yang berkenan di hati-Nya (Kis.
13:22). Tak banyak orang mendapat pengakuan seperti ini langsung dari Allah. Sekalipun
Daud manusia biasa yang tidak sempurna, kita dapat terus belajar untuk
menjalani hidup yang berkenan kepada Allah. Hidup berpaut kepada-Nya, jujur,
berani mengoreksi diri bila berbuat salah sesuai Firman-Nya, dan bersedia
dibentuk oleh-Nya. Tentu bukan dengan mengandalkan kekuatan sendiri, melainkan
bersandar pada Allah, melalui pertolongan Roh Kudus. Selamat menjalani hidup
yang berkenan kepada Allah! SEPANJANG ZAMAN, ALLAH TERUS MENCARI MANUSIA YANG
MENJALANI HIDUP UNTUK MENYENANGKAN HATI-NYA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.
#LoveTheBible – Bacaan: Yehezkiel 40-41 dan Yohanes 21.
Hanna
Kisah
tragis di balik lagu “It Is Well With My Soul”
Sebagai
seorang Kristen, kita hidup di dunia ini dengan iman yang tertuju kepada
Kristus, tetapi terakadang iman kita diuji dengan tragedi yang sangat luar
biasa. Ada sebuah hymne berjudul “It is well with my soul”; hymne ini
diciptakan oleh Horatio Spafford, seorang pengacara kaya dari Chicago. Pada
tahun 1870, ia kehilangan satu-satunya anak laki-lakinya oleh karena penyakit
demam berdarah. Satu tahun kemudian, terjadi tragedi bernama The Great Chicago
Fire, dan itu membakar habis hampir seluruh aset properti yang ia miliki. Hidup
tidak terlihat begitu baik bagi Spafford dan keluarga. Spafford akhirnya
merencanakan sebuah perjalanan bersama istrinya dan keempat anaknya ke Eropa
untuk menyaksikan seminar D.L.Moody. Namun, Spafford tiba-tiba mendapatkan
masalah bisnis yang harus diselesaikan, sehingga ia mengatakan kepada istri dan
ke empat anak perempuannya untuk mendahuluinya berlayar—ia mengatakan bahwa ia
akan menyusul secepatnya. Meskipun Spafford tidak dapat bergabung bersama
keluarganya, ia senang karena keluarganya dapat berkumpul bersama para
Kristen-Kristen lainnya di kapal tersebut. Namun, di dalam perjalanannya, kapal
yang membawa istri dan anak-anak Spafford mengalami kecelakaan, dan kapal
tersebut hanyut ke dasar laut. Setelah beberapa hari, Spafford mendapatkan
sebuah telegram dari istrinya. Pesan tersebut hanya memiliki dua kata, “selamat
sendirian.” Keempat anak perempuan dari Horatio Spafford tidak selamat, mereka
semua tenggelam di lautan itu. Spafford akhirnya berlayar untuk menemui istrinya,
dan sepanjang perjalanan ia hanya meratapi laut yang telah mengambil keempat
anak perempuannya. Dan di dalam perjalanannya, ia memuji Tuhan dan menuliskan
hymne ini,
When
peace, like a river, attendeth my way,
When
sorrows like sea billows roll;
Whatever
my lot, Thou has taught me to say,
It
is well, it is well, with my soul.
Tragedi
yang menimpa Spafford dan kesetiaan yang Spafford miliki mengingatkan saya
tentang apa yang tertulis di 1 Petrus 4:19. Petrus mengingatkan kita bahwa
terkadang kita akan menderita karena kehendak Allah, tetapi ketika kita
mengalami itu semua, kita harus tetap mempercayakan jiwa kita kepada Sang
Pencipta yang setia.
Dua
bait pertama dari lagu It Is Well With My Soul menceritakan dukacita oleh
karena tragedi-tragedi yang Spafford alami. Namun, ketiga bait selanjutnya
menceritakan tentang rasa syukurnya atas pengampunan yang Yesus telah berikan
di atas kayu salib, beserta pengharapannya kepada kedatangan Yesus untuk kedua
kalinya. Tentu ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa dan tidak masuk akal,
Spafford masih tetap memuliakan Tuhan bahkan di tengah-tengah dukacita nya.
Beberapa Minggu setelah semua ini terjadi, istri dari Spafford mengatakan bahwa
mereka tidak sedang kehilangan anak-anaknya, melainkan hanya berpisah untuk
beberapa waktu lamanya. Spafford beserta istrinya menunjukkan kepada kita
bentuk dari iman sejati. Kisah dari Horatio Spafford mengingatkan kita akan
Kekristenan yang sesungguhnya. Kekristenan bukanlah tentang, “Jika Engkau
mengikut Yesus, engkau akan memiliki hidup enak yang bebas masalah di dunia
ini.” Tetapi, Kekristenan yang sesungguhnya adalah tentang, *“Aku akan tetap
berdiri untuk Yesus, apa pun permasalahan yang terjadi pada ku di dunia ini.”
Seluruh
tragedi yang menimpa Spafford tidak dapat merengut sukacitanya oleh karena
penebusan yang Yesus Kristus telah berikan untuknya. Apa pun masalah yang
sedang menimpamu hari ini, percayalah, bahwa sesungguhnya tidak ada yang dapat
melebihi keindahan pengorbanan yang Yesus telah berikan kepadamu. Sang Pencipta
tidak pernah meninggalkanmu. He is Faithful yesterday, today, tomorrow, and
forever more.
Ibu Caroline – Bandung
Shalom,
“sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak
akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada
waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi” (1 Raja 12:14). Elia berani
berkata demikian karena ia sering mengalami bahwa apapun yang Tuhan ucapkan
pasti terjadi. Dalam kehidupan ini, seringkali kita merasa bahwa janji-janji
Tuhan yang mustahil terjadi ternyata kita menerimanya.
Namun
Tuhan ijinkan itu terjadi agar kita tidak berkata kebetulan. Kita harus percaya
dengan yakin bahwa dalam Tuhan TIDAK ADA YANG KEBETULAN. Tuhan pasti memberikan
jalan keluar dan pertolongan kepada kita, sebab tidak ada yang mustahil bagi
Tuhan, DIA SANGGUP MELAKUKAN SEGALA PERKARA. JANGAN PERNAH MEMAKSA TUHAN UNTUK
MELAKUKAN INI DAN ITU. KITA TIDAK PERLU MENGATUR TUHAN, KARENA DIA MELAKUKAN SEGALA
HAL DENGAN CARANYA. Janda di Sarfat ketika melakukan perintah Tuhan lewat Elia,
maka tepung dan minyak yang ia miliki tidak pernah habis. KETAATAN AKAN
MENGHASILKAN MUJIZAT. JIKA KITA MELAKUKAN SEGALA SESUATU DENGAN HATI TULUS,
MAKA TUHAN AKAN MEMBERIKANNYA BERLIPAT KALI GANDA. TAATLAH LEBIH DULU KEPADA
TUHAN, MAKA KITA AKAN MENIKMATI MUJIZAT YANG TUHAN NYATAKAN BAGI KITA. TAAT DAN
MELAKUKAN FIRMAN TUHAN AKAN MEMBUAT HIDUP KITA BERUBAH, TAMPIL BEDA.
WM Stars
KETAATAN
MENJADI PEWAHYUAN.
Kalau
Tuhan memberikan pengajaran, maka “Ia ingin meningkatkan apa yang diajarkan
menjadi pengalaman Anda”. Saat Yesus meminjam perahu Petrus dan mengajar orang
banyak, saat itu Tuhan ingin melibatkan Petrus lebih jauh dari apa yang
didengarnya. Lalu Yesus meminta untuk menengahkan perahu ke tempat yang lebih
dalam dan menyuruhnya untuk menebarkan jalanya. Saat itu Petrus ragu-ragu,
karena sudah semalam-malaman ia gagal menangkap ikan.
Ketika
Petrus mau *menaati* perintah Tuhan akan membuatnya berpengalaman akan kejaiban
Tuhan. Ketaatan mendatangkan mujizat. Petrus menangkap banyak ikan dan
perahunya hampir tenggelam, karena banyaknya ikan.
Tuhan
ingin agar kita bukan hanya mempunyai kebenaran sebagai pengetahuan belaka,
tetapi juga kebenaran dalam pengalaman. Ketaatanmu akan membawa kepada
pewahyuan yang lebih besar dan kesempatan lebih jauh untuk melayani. Maukah Anda
mengalami kebenaran Firman Tuhan? Dan mulai masuklah dalam rencana-Nya.
Lukas
5:4-6, 10-11 (TB)
4
Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang
dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.”
5
Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak
menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala
juga.”
6
Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga
jala mereka mulai koyak.
10
demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman
Simon. Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala
manusia.”
11
Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan
segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.
Yohanes
8:31-32 (TB)
31
Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu
tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku
32
dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”
Yohanes
7:38 (TB)
Barangsiapa
percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya
akan mengalir aliran-aliran air hidup.”

No comments:
Post a Comment