Sunday, 10 December 2017

10 Desember 2017

SO LOVED CHRISTMAS






#SolovedChristmas
Memuji dengan BERSUKACITA

Pada saat kita memuji TUHAN dengan segenap hati, kita pun mengalami SUKACITA yang menjadi tujuan penciptaan kita itu. Sama seperti indahnya matahari terbenam atau pemandangan alam yang teduh mengarahkan kita pada kemuliaan Tuhan Pencipta, demikianlah penyembahan menarik kita pada persekutuan rohani yang intim dengan-Nya. Pemazmur mengatakan, “Besarlah TUHAN dan sangat terpuji… TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya” (Mzm 145:3, 18). TUHAN Sebenarnya tidak membutuhkan pujian kita, tetapi kita perlu memuji Tuhan. Dengan menikmati hadirat-Nya, kita mereguk SUKACITA yang mengalir dari kasih-Nya yang tak terbatas dan BERSUKA di dalam Dia yang telah datang untuk menebus dan memulihkan kita. “Di hadapan-Mu ada SUKACITA berlimpah-limpah,” kata pemazmur. “Di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa” (Mzm. 16:11). Ya Tuhan, Engkaulah TUHAN  yang Mahabesar dan Mahakuasa, Pencipta alam semesta. Kami akan memuji nama-Mu selalu. Tiada TUHAN selain Engkau saja. Kiranya penyembahan kami adalah peyembahan dengan HATI yang berlimpah dengan pujian & ucapan syukur kepadaMu. Amin.

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#SolovedChristmasSeries

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini: 
PL: Hosea 1-4
PB: Wahyu 1

#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLove
#HappSunday
#HappyServingGod

WM Stars
Orang kaya ini sudah mau mati, tapi dokter malah menyuruhnya melakukan “3 hal ini”, tak disangka setelah dilakukan, ia serasa “Hidup Kembali”! Ada seorang pria tua yang sangat kaya raya. Namun, walau berlimpa harta, ia terkena penyakit ganas yang tidak bisa diobati. Merasa bahwa hidupnya sudah tidak lama lagi, ia merasa amat sangat takut. Ia pun berkunjung ke seorang tabib yang terkenal. Setelah mengecek denyut nadinya, Tabib itu berkata, “Penyakit ini tidak ada obatnya, tapi ada 1 cara. Sini saya kasih 3 macam resep. Kamu buka dan lakukan sesuai dengan apa yang ditulis di atas. Tapi kamu harus selesai 1 dulu baru kamu boleh buka yang lain.” Sepulangnya ke rumah, orang kaya itu membuka resep pertama. Resep itu bertuliskan, “Pergilah ke tepi pantai, baringlah selama 30 menit setiap hari berturut-turut selama 21 hari.” Orang kaya itu bingung, tapi ia tetap melakukannya sesuai pesan dokter itu. Setiap harinya ia pergi ke pantai dan berbaring di atas pasir, tapi nyatanya, ia berbaring sampai hampir 2 jam setiap hari. Ia tidak pernah merasa begitu nyaman dalam hidupnya karena biasanya ia sangat sibuk. Tiduran sambil mendengar suara angin, ombak dan suara burung berkicau benar-benar membuat hatinya terasa begitu damai. Hari ke 22, ia membuka resep kedua. Di dalamnya bertuliskan, “Carilah 5 ekor ikan, udang, atau kerang di tepi pantai dan kembalikan mereka ke laut. Lakukan setiap hari berturut-turut selama 21 hari.” Ia berpikir, apa lagi ini, namun ia tetap melakukan sesuai dengan apa yang dituliskan. Siapa sangka, setiap kali ia melepas ikan dan udang tersebut ke laut, entah kenapa ia merasa hatinya tergerak. Hari ke 43, ia membuka resep terakhir. Kali ini, resep tersebut bertuliskan, “Carilah sebatang ranting pohon dan tulis semua amarah dan kebencianmu di atas pasir.” Baru saja ia selesai tulis 1, ombak langsung datang dan menghapus tulisannya. Ia tulis lagi, ombak datang lagi dan menghapusnya. Satu per satu, seluruh amarah dan kebencian yang ia pendam, terhapus dan hilang dibawa laut. Tiba-tiba, air mata mengucur di pipinya. Setelah kembali ke rumah, ia merasa seluruh badannya lega, terasa begitu ringan, seakan-akan semua bebannya sudah terangkat, hanya menyisakan hati yang tenang dan damai, bahkan ia sudah tidak takut mati. Ternyata, jika manusia tidak tahu tentang 3 hal ini, maka selamanya ia akan sulit untuk bahagia:
1. Istirahat
2. Memberi
3. Merelakan

Keserakahan adalah racun. Hasrat manusia tidak memiliki akhir. Setelah mendapat kestabilan, selanjutnya mengejar kenyamanan. Setelah mendapat kenyamanan, selanjutnya mengejar kemewahan. Selama keinginan manusia tidak berakhir, ia tidak akan pernah bahagia. Bersyukur dan merasa puas akan mendatangkan kebahagiaan. Hargailah apa yang Anda miliki sekarang dan Anda akan menemukan bahwa Anda adalah orang terkaya di dunia.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Minggu, 10 Desember 2017. BERLANDASKAN KUASA TUHAN. Bacaan: Keluaran 4.
“Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan” (Keluaran 4:12). Saya bukan siswa yang pandai ketika bersekolah. Bahkan saya pernah tidak naik kelas di SMA. Ditambah oleh fisik yang lemah, saya pun merasa sangat tidak percaya diri. Daya konsentrasi yang buruk dan takut salah membuat saya selalu tampak ragu dan tidak lancar berbicara. Namun secara perlahan namun pasti, saya semakin percaya diri. Hal itu diawali ketika saya merasa doa-doa saya untuk orang lain dijawab secara ajaib. Tuhan berkenan menyertai saya sekalipun saya penuh kelemahan. Tidak percaya diri juga melanda diri Musa ketika dia dipanggil untuk memimpin Israel keluar dari Mesir. Tentu dia teringat akan pengalamannya sebagai orang yang ditolak teman-teman sebangsa yang dibelanya. Oleh pengalaman pahit itu, mungkin Musa menuduh dirinya sebagai orang yang gagal dan penakut. Apalagi saat itu pun, Musa bukan siapa-siapa. Pekerjaannya hanyalah gembala domba yang bahkan bukan miliknya sendiri, melainkan milik mertuanya. Berkata-kata menentang Firaun yang berkuasa dan dikelilingi oleh tentara yang hebat tentu membuat gentar. Namun TUHAN meneguhkan Musa dengan janji akan menyertai serta mengajarnya. Setiap orang percaya dipanggil untuk melayani sesamanya. Namun ketidakpercayaan diri ada kalanya membuat kita menolak melayani. Dalam keadaan demikian, ada baiknya kita bercermin pada pengalaman Musa. Orang yang kita hadapi merasa terbantu dan terberkati bukan bergantung pada keterampilan hebat dan kefasihan kita berbicara. Sebaliknya, Tuhanlah yang empunya kuasa yang membuat kita berhasil. KEBERHASILAN MELAYANI SESAMA TERLETAK PADA KUASA PENYERTAAN DARI TUHAN YANG MEMERCAYAKAN TUGAS ITU KEPADA KITA. Selamat pagi. Selamat beribadah. Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: Hosea 1-4 dan Wahyu 1.

WM Stars
Kerjakan bagian kita sebaik mungkin, janganlah menganggap segala sesuatu dapat kita raih dengan instan karena semua ada waktunya (Pengkhotbah 3: 11). Jangan sia-siakan talenta yang sudah Tuhan percayakan pada kita, kerjakan sepenuh hati dengan mengandalkan Tuhan (Pengkhotbah 9: 10). Tuhan akan melakukan jauh lebih besar dari yang kita pikirkan, kalau kita mau melangkah bersamaNya (Efesus 3: 20). Serahkanlah hidup kita kepada Tuhan, karena Dia yang tahu segalanya atas hidup kita (Amsal 16: 3).

WM Stars
Copas tulisan teman yang sangat bagus dan mendidik kita, agak panjang memang:  DO YOUR CHILDREN WORK HARDER THAN YOU? (Apakah anak-anak anda bekerja lebih keras daripada Anda?)

Pagi itu saya breakfast di Westin Hotel di Rasuna Said. Sebut saja namanya Bertrand, seorang investor yang banyak pengalaman di dunia bisnis. Dia pernah menjadi CEO di 3 perusahaan di 3 negara yang berbeda. Dan ternyata pagi itu saya belajar banyak sekali dari Bertrand.

Bertrand bercerita bahwa sekarang dia berusia 70 tahun (dan masih sehat). Waktu dia lulus universitas, bumi ini dihuni oleh 3 Milyard manusia. Sekarang bumi dihuni oleh 7 Milyard manusia. Dan pada saat anak-anak kita nanti lulus universitas, bumi akan dihuni oleh 9 milyard manusia. 

Apa maksudnya? Berarti kompetisi akan semakin lama semakin keras. Baik itu kompetisi untuk masuk di universitas terbaik ataupun kompetisi untuk mendapatkak job terbaik (setelah anak-anak kita diwisuda nanti). Ya wajarlah, penghuni bumi semakin banyak, buminya ukurannya sama, sumberdaya alamnya makin menurun (karena diambil terus-terusan). Berarti kompetisi akan semakin ketat.

Kalau Anda lulusan universitas terbaik, atau kalau Anda mendapatkan job di perusahaan terbaik, tanyakan kepada Anda sendiri apakah anak-anak Anda nanti akan diterima di universitas terbaik dan mendapatkan job di perusahaan terbaik? Kenapa? Kompetitisi semakin sulit. Berarti untuk memenangkan kompetisi yang semakin sulit, anak-anak kita harus bekeja lebih keras daripada kita dulu. Yakinkah kita bahwa anak-anak kita bekerja lebih keras daripada kita?

Karena banyak sekali di antara kita yang mendapatkan pekerjaan terbaik (dengan kesibukan yang mapan), dan cenderung memanjakan anak-anak dengan apa yang mereka mau (termasuk gadget mutakhir), dan ternyata itu justru mengurangi jam belajar mereka. Kalau mereka tidak terbiasa bekerja keras dari kecil, bagaimana mereka akan memenangkan kompetisi yang jauh lebih sulit (ingat, melawan 9 milyard manusia di bumi ini). Banyak orang tua yang sudah menabung uang banyak-banyak di bank (baik tabungan maupun asuransi pendidikan). Dananya disiapkan, tetapi apakah otak anak-anak kita juga disiapkan? Jleb!

Ingat bagaimana Anda dulu harus bekerja keras untuk mencapai kehidupan yang sekarang? Anak-anak anda harus berjuang, bekerja dan belajar lebih keras lagi! Masalahnya banyak orang tua yang karena kesibukan (kariernya) cenderung memberikan fasilitas kepada anaknya (hidup yang nyaman, pembantu, sopir, gadget ...etc). Karena mereka dulu merasa hidup susah, dan tidak ingin anak-anaknya hidup susah lagi. Karena mereka sibuk dengan kariernya, mereka berusaha menebus dosa dan memberikan segala fasilitas. Mereka lupa bahwa dengan melakukan itu mereka “menghancurkan” masa depan mereka. Anak-anak kita perlu semangat kerja dan kerja keras yang lebih tinggi dari kita. Kan kompetisinya akan lebih keras?

Makanya mereka harus lebih “susah” daripada kita. Karena sebenarnya yang lebih penting untuk memenangkan kompetisi di masa depan itu, bukanlah kemahiran bermain budget, bukanlah kemampuan akademis yang jago, bahkan sebenarnya bukan ijasah dari universitas ternama (saya mengenal banyak CEO yang dari universitas biasa-biasa, dan saya juga mengenal banyak teman yang dari universitas ternama tapi kariernya gak kemana-mana).

Yang akan menentukan daya kompetive mereka nanti adalah daya juang mereka, semangat pantang menyerah, fighting spirit! Dan itu hanya bisa dibentuk kalau sejak kecil anak Anda dibiasakan bekerja keras! Bukan dimanjakan dengan dikasih gadget mutakhir, dengan semuanya dikerjakan oleh pembantu, dan dimanjakan oleh orang tuanya!

Di sinilah pentingnya mengajak dan mendorong mereka bekerja keras, “hidup susah”, agar mereka tahan banting dan itu akan membuat mereka mempunyai semangat juang yang tinggi!

Ingat, saya tidak bilang bahwa Anda tidak boleh memberikan gadget kepada anak-anak Anda, saya juga nggak bilang bahwa keluarga Anda nggak boleh punya pembantu. Saya bilang it is okay kalau Anda memberikan fasilitas kepada anak-anak Anda, tetapi fasilitas itu harus diimbangi dengan dorongan Anda untuk bekerja keras! Jadi bagaimana dong menyeimbangkannya? Ikuti kelima rekomendasi di bawah ini...

0. UNDERSTAND THEIR   DREAMS
Coba pahami di mana passion mereka. Apa-cita cita mereka di masa depan. Ingat anak-anak Anda bukanlah foto copy Anda. Anak-anak Anda juga bukan korban masa lalu Anda. Banyak orang tua yang memaksa anaknya untuk mendalami profesi orangtuanya, atau memaksa anaknya karena kegagalan orang tua di masa lalu (contoh memaksa anak menjadi pilot atau dokter, padahal belum tentu itu yang dimaui anaknya). Biarkan anak-anak Anda membangun mimpi mereka sendiri, agar mereka lebih bersemangat untuk mengejar mimpi mereka!

0. HELP THEM TO BUILD THE PATH TO REACH THEIR DREAMS
Setelah anak Anda jelas mimpinya mau menjadi apa, sekarang bantulah untuk menjelaskan jalan apa yang harus ditempuh agar cita-cita tersebut bisa tercapai! Misalnya kalau ingin menjadi arsitek yang baik, berarti harus dari sekarang belajar keras agar masuk jurusan yang sesuai di SMA, kemudian juga rajin berlatih menggambar. Kemudian setelah itu, ya harus belajar keras lagi agar nanti diterima di universitas yang bagus.

0. MOTIVATE THEM TO WORK HARD
Motivasi mereka agar mereka mau (dan dengan kesadaran mereka sendiri), mereka mau rajin belajar dan bekerja keras! Gambarkan pada mereka betapa menyenangkannya hidup mereka kalau berhasil mencapai cita-cita mereka. Mereka akan sukses, dihormati orang, dengan penghasilan yang tinggi sambil mengerjakan sesuatu yang mereka sukai! Bandingkan dengan sebaliknya, harus bekerja  siang malam, melakukan sesuatu yang nggak mereka sukai, penghasilan minim dan belum tentu dihormati orang lain. Kasih tahu mereka bahwa pilihan itu ada di tangan mereka sendiri!

0. BALANCING THE HARDWORK and THE REWARDS
Now we come to the hard part. Di sini Anda harus menyeimbangkan antara orang tua yang “penyayang” dan orang tua yang “tegas”. Percayalah bahwa kedua-duanya dibutuhkan oleh anak-anak Anda. Kalau anda hanya bisa memainkan peran “penyayang” nanti anak Anda tidak akan bekerja keras dan sudah berkompetisi di masa depan. Kalau Anda hanya bisa memainkan peran “tegas dan keras” mungkin anak Anda akan rajin belajar, tapi ternyata nanti akan stress karena tingginya pressure yang mereka terima. Seimbangkan kedua peran itu, lakukan kedua-duanya di saat yang tepat.

0. BE A ROLE MODEL, GIVE THEM GOOD EXAMPLES 
Terakhir, dan yang paling penting, kalau Anda ingin anak-anak Anda melakukan sesatu ya berarti Anda harus melakukannya terlebih dahulu agar anak-anak Anda juga mencontohnya. Misalnya kalau Anda ingin anak-anak Anda membatasi waktu mereka di gadget, ya mungkin sudah waktunya Anda mengurangi jumlah WA group Anda yang 30-an itu (5 group alumni universitas, 2 group keluarga, 2 group tetangga, 5 group SMA ... etc)

Kalau Anda ingin anak Anda rajin membaca dan belajar ya kalau ke toko buku Anda minimal harus beli dua buku, satu untuk Anda dan satu untuk anak Anda.

The change starts from yourself. Perubahan itu dimulai dari diri Anda sendiri, sebelum Anda menyuruh anak Anda berubah!

Jadi ingat ya, agar anak-anak anda lebih mampu bersaing di masa depan yang akan semakin kompetitive, lakukan kelima langkah ini...

0. UNDERSTAND THEIR DREAMS
0. HELP THEM TO BUILD THE PATH TO REACH THEIR DREAMS
0. MOTIVATE THEM TO WORK HARD
0. BALANCING THEIR REWARDS
0. BE A ROLE MODEL, GIVE THEM GOOD EXAMPLES

Dan ternyata seringkali yang paling sudah adalah yang terakhir, bagaimana menjadi contoh dan teladan yang baik bagi anak-anak kita. Because change wont happen, unless the change starts from ourselves!

Salam Hangat
Pambudi SSunarsihanto

No comments:

Post a Comment