SO LOVED CHRISTMAS
#SOLOVEDCHRISTMAS
NATAL = PENGHARAPAN
Roma
5:4
“dan ketekunan menimbulkan tahan uji
dan tahan uji menimbulkan pengharapan.”
Roma
5:5
“Dan pengharapan tidak mengecewakan,
karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang
telah dikaruniakan kepada kita.”
Kelahiran
Yesus adalah simbol sebuah HARAPAN untuk diampuni, untuk direkonsiliasi, dan
untuk dipulihkan. Yesus mengganti kegelapan dengan terang, ketakutan dengan
sukacita, dan kematian dengan kehidupan. Natal Sama dengan MENERIMA
HARAPAN baru dari Tuhan untuk mengalami kehidupan yang bertumbuh dan
berkemenangan! Amin.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#SolovedChristmasSeries
Note:
Jangan
lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL:
Hagai 1-2
PB:
Wahyu 17
#LoveGod
#lovepeople
#lovethebible
#IMLOVED
Madam Ossy
SAAT
TEDUH. Selasa, 26 Desember 2017. MURNI ATAU TERNODAI? Bacaan: Ayub 1:1-12. Lalu
jawab Iblis kepada TUHAN: ‘Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan
Allah? Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia
pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu’ (Ayub 1:9,11). Teman saya akan berhenti
dari pekerjaannya untuk mengikuti sekolah Akitab. Ia hendak memenuhi nazar yang
diucapkannya ketika ibunya sakit keras. Saya bertanya padanya, andai ibunya
tidak sakit keras, apakah ia mau sekolah Alkitab? Iblis menuduh Ayub menyembah
Tuhan karena mendapatkan imbalan. Iman Ayub tidak murni dan ternoda oleh
pamrih. Secara tak langsung, Iblis juga menuduh bahwa Tuhan tidak layak
disembah dan dikasihi; Tuhan harus menyuap manusia dengan berkat-Nya agar
disembah. Ayub memang sempat meragukan keadilan Tuhan, tetapi dalam
penderitaannya, Ayub tidak meninggalkan Tuhan dan terus berharap pada-Nya (Ayb.
16:19-20). Penderitaan membuktikan bahwa imannya, tak ternodai pamrih seperti
tuduhan iblis. Apakah kita melayani Tuhan karena menginginkan sesuatu dari Dia?
Misalnya, melayani karena ingin disembuhkan dari penyakit berbahaya, karena
ingin selalu dilimpahi berkat, ingin sukses dalam bisnis, atau ingin
dilindungi. Iman yang tidak bernoda tidak berpamrih. Meskipun kita tidak
memiliki apa-apa, seluruh dunia meninggalkan kita, harta milik kita lenyap, dan
daging kita hancur, kita tetap merindukan-Nya sebagai kekasih, memuja-Nya
sebagai Raja, tunduk pada-Nya sebagai penguasa hidup kita. Iman yang murni
tidak bertanya apakah yang Tuhan lakukan saat saya menderita, tetapi apa yang
bisa saya lakukan untuk memuliakan- Nya. Itulah iman yang murni, iman yang
bernilai tinggi dan berharga di mata-Nya (1 Pet. 1:7). PENDERITAAN IALAH
KESEMPATAN MENILAI DIRI,
APAKAH
IMAN KITA MURNI DAN BERNILAI TINGGI. Selamat pagi. Selamat berlibur. Tuhan
Yesus menyertai. #LoveTheBible – Bacaan: Hagai dan Wahyu 17.

No comments:
Post a Comment