SO LOVED CHRISTMAS
#SOLOVEDCHRISTMAS
KUATKAN DAN TEGUHKAN HATIMU
Kitab
Yosua sangat baik dibaca ketika kita berada dalam masa masa menunggu. Setelah
40 tahun mengembara dan mengalami sejumlah kemunduran, umat Allah bersiaga
untuk memasuki Tanah Perjanjian. Musa, pemimpin besar mereka, telah meninggal.
Dan Yosua, pengganti Musa, yang sekarang memimpin mereka.
Allah
berfirman kepada Yosua, “Kuatkan dan
teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan
seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah
menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau
pergi” (Yos 1:7). Pedoman firman Allah itu harus menjadi fondasi bagi
kepemimpinan Yosua dalam segala situasi.
Perintah
dan janji Tuhan bagi Yosua juga berlaku bagi kita: “Kuatkan dan teguhkanlah
hatimu. Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau,
ke manapun engkau pergi” (ay.9). Allah menyertai kita di setiap masa-masa “menunggu sesuatu yang kita harapkan”. Apakah
kita masih sabar menanti janji Tuhan digenapi dalam hidup kita?
Mazmur
37:34 (TB), “Nantikanlah TUHAN dan tetap
ikutilah jalan-Nya, maka Ia akan mengangkat engkau untuk mewarisi negeri, dan
engkau akan melihat orang-orang fasik dilenyapkan.”
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#SolovedChristmasSeries
Note:
Jangan
lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL:
Amos 1-3
PB:
Wahyu 6
#LoveGod
#Lov
ePeople
#LoveTheBlble
#IMLOVED
Taswin Taruna – PT. Sayap Mas Utama
Pembacaan
Alkitab: Mat. 6:1-4
Doa
baca: Mat. 6:4
Hendaklah
sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang
tersembunyi akan membalasnya kepadamu.
Bapa
kita melihat yang tersembunyi. Ketika Anda berdoa sendiri dalam kamar Anda,
tidak seorang pun melihat Anda, Bapa Surgawi melihatnya. Berdoalah di tempat
yang tersembunyi yang akan dilihat oleh Bapa Anda yang melihat yang
tersembunyi. Kemudian Anda juga akan menerima jawaban dari Dia secara
tersembunyi. Kita harus senantiasa mengerjakan sesuatu secara tersembunyi agar
dapat menolak si aku dan menyingkirkan daging. Jika mungkin, lakukanlah segala
sesuatu secara tersembunyi, untuk tidak memberi kesempatan apa pun kepada ego
Anda dan tidak memberi tempat sedikit pun kepada daging Anda.
Perkara
yang penting di sini bukanlah pahala, melainkan pertumbuhan dalam hayat. Orang
beriman yang bertumbuh secara terbuka tidak bertumbuh secara sehat. Kita semua
perlu beberapa pertumbuhan yang tersembunyi dalam hayat, beberapa pengalaman
yang tersembunyi dalam Kristus. Kita perlu berdoa kepada Tuhan, menyembah
Tuhan, bersentuhan dengan Tuhan, dan bersekutu dengan Tuhan secara tersembunyi.
Boleh jadi bahkan tidak ada satu pun orang yang dekat dengan kita mengetahui
atau memahami apa yang sedang kita lakukan. Kita perlu pengalaman-pengalaman
terhadap Tuhan yang tersembunyi ini, sebab pengalaman-pengalaman ini akan
membunuh ego dan daging kita. Sekalipun temperamen dan nafsu daging adalah
buruk, tetapi yang paling merusak kita dalam pertumbuhan hayat kita ialah ego.
Ego paling terlihat saat senang melakukan sesuatu secara terbuka untuk umum, di
hadapan banyak orang. Orang yang kuat egonya senang melakukan suatu kebenaran
di depan orang. Kita semua mengakui bahwa kita, tanpa terkecuali, memiliki ego
seperti ini.
Alam
semesta menunjukkan bahwa Allah itu tersembunyi, Allah itu rahasia. Sekalipun
Ia telah melakukan banyak hal, orang tidak sadar bahwa Ia telah melakukannya.
Kita telah nampak hal-hal yang dilakukan oleh Allah, tetapi tidak ada satu pun
di antara kita yang pernah nampak Dia, sebab Ia selalu tersembunyi, selalu
rahasia. Hayat Allah memiliki sifat yang begitu rahasia dan tersembunyi. Jika
kita mengasihi orang lain dengan hayat kita sendiri, hayat ini akan pamer diri
di hadapan orang. Tetapi jika kita mengasihi orang lain dengan kasih Allah,
kasih ini akan selalu tetap tersembunyi. Jika kita hidup oleh hayat ilahi ini,
kita mungkin banyak berdoa, tetapi orang lain tidak akan tahu berapa banyak
kita telah berdoa. Kita mungkin memberi banyak untuk membantu orang lain,
tetapi tidak seorang pun akan tahu berapa banyak kita telah memberi. Kita
mungkin memiliki banyak di dalam kita, tetapi amat sedikit yang
termanifestasikan. Inilah hakiki umat Kerajaan Surga dalam melakukan perbuatan
benar mereka.
Jika
kita serius menjadi umat kerajaan, kita harus belajar hidup oleh hayat Bapa
kita yang tersembunyi. Jika kita hidup berdasarkan hayat Bapa kita yang
tersembunyi, kita akan melakukan banyak perkara tanpa memamerkannya.
Sebaliknya, semua yang akan kita lakukan secara rahasia, tersembunyi dari mata
orang. Biografi banyak orang beriman menunjuk-kan bahwa mereka melakukan
beberapa perkara tertentu secara tersembunyi, perkara yang hanya orang ketahui
setelah mereka meninggal dunia. Inilah jalan yang benar.
Sumber:
Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 21
Madam Ossy
SAAT
TEDUH. Jumat, 15 Desember 2017. LEBIH PENTING ORANGNYA. Bacaan: Markus
10:17-27. Tetapi Yesus memandang dia dan mengasihinya, lalu berkata kepadanya, “Hanya
satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu
kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian
datanglah kemari dan ikutlah Aku” (Markus 10:21). Jika seseorang mengalami
kecelakaan lalu lintas, apakah yang lebih dahulu kita tanyakan, orangnya atau
kendaraannya? Pasti orangnya. Mengapa? Karena nyawa manusia jauh lebih berharga
daripada kendaraan. Kendaraan yang rusak masih bisa diperbaiki atau diganti
dengan yang baru. Adapun nyawa manusia hanya satu dan tak ada gantinya. Begitu
juga kehidupan kita. Tuhan lebih tertarik mengubah diri kita lebih dahulu
daripada mengubah keadaan kita. Kalau kita berubah, dengan sendirinya keadaan
pasti berubah. Yesus menaruh kasih kepada orang yang bertanya kepada-Nya
tentang cara memperoleh hidup yang kekal. Yesus menghargai segala usahanya
untuk menaati firman Allah (ay. 20) sejak masa muda. Hanya satu yang masih
kurang, orang itu mencintai hartanya yang banyak. Yesus memberikan perintah
kepadanya untuk pergi, menjual segala hartanya, dan memberikannya kepada orang
miskin supaya ia beroleh harta di surga. Setelah itu ia diminta datang menemui
Yesus dan mengikuti-Nya (ay. 21). Namun, orang kaya ini memilih mempertahankan
harta dunia. Ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih meninggalkan Yesus. Lebih
berharga mana, harta di surga atau harta di dunia? Mari kita jawab dengan
jujur. Tuhan bisa dengan mudah mengubah kondisi ekonomi kita, dengan gampang
menyembuhkan penyakit kita, atau membereskan masalah lain yang kita hadapi.
Namun, sebelum itu Tuhan ingin diri kita berubah lebih dahulu, kita siap
diproses dan dimurnikan oleh Tuhan. Bersediakah kita? TUHAN LEBIH SUKA
MENGUBAH DIRI KITA, BARULAH KEADAAN KITA BERUBAH. Selamat pagi. Tuhan Yesus
memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: Amos 1-3 dan Wahyu 6.
Ibu Caroline – Bandung
Efesus
4:31, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah
dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” Hari berganti hari,
minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan akhirnya tahun pun berganti
tahun menunjukkan bahwa segala sesuatu ada akhirnya dan selalu berubah. Bila
segala sesuatu harus ada akhirnya dan berganti dengan suasana baru, bagaimana
dengan keadaan dan suasana hati kita? Apakah juga sudah mengalami
pembaharuan? Jika di masa-masa lalu terjadi kegeraman, pertikaian, saling
membenci, saling memfitnah di antara keluarga, teman, rekan sepelayanan atau di
mana saja, apakah sampai hari ini rasa itu masih tertanam di dalam kita,
sehingga timbul suatu akar pahit? Apakah kita terus diam saja dan bersikap
seolah-olah tidak terjadi apa-apa, padahal di hati kita masih berkemelut rasa
dendam, pahit dan sakit hati? Sebagai anak-anak Tuhan kita tidak boleh
terus-menerus menyimpan akar pahit itu. Harus segera dibereskan! Kita harus
dengan rendah hati datang kepada Tuhan Yesus dan membuka hati kita untuk
dijamah dan diselidiki oleh Roh Kudus sehingga kita menyadari segala perbuatan
salah kita dan bukan sebaliknya: kita tetap merasa benar dan menyalahkan
orang lain. Jika telah diperdamaikan atau ditegur oleh pihak lain demi kebaikan
kita janganah kita marah dan dendam. Ingat, “Apabila kamu menjadi marah,
janganah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam
amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis” (Efesus
4:26-27). Jangan pernah berharap Tuhan akan mengampuni kita apabila kita
tidak mau mengampuni orang lain. Ditegaskan kembali demikian: “...jikalau
kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu
juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang. Bapamu juga tidak akan
mengampuni kesalahanmu” (Matius 6:14-15). Tuhan tidak menghendaki
kita memiliki dendam dan terus-menerus menyimpan akar pahit. Kita harus
bersikap ramah, penuh kasih mesra dan saling mengampuni satu sama lain. Kita
yang telah beroleh pengampunan dari Tuhan juga harus mau membuka hati untuk
mengampuni orang lain, dan buanglah semua kepahitan yang ada! Gbu.

No comments:
Post a Comment