AWAKENING
Awakening
Day 25 – Menyediakan Waktu Bersama Allah (1).
Dua orang yang saling mencintai pasti akan terus bersama-sama
menghabiskan waktu yang berkwalitas. untuk melakukannya dibutuhkan
disiplin dan kasih. Meyediakan waktu yang berkwalitas itu juga
membutuhkan perencanaan yang serius .
Alkitab mendorong kita untuk bertemu dengan Allah KAPAN SAJA
disepanjang hari. Kita diberi kebebasan untuk menetukan “Waktu
Bertemu” dengan Allah. Kita bebas memutuskan kapan waktu yang
paling sesuai bagi kita untuk bertemu denganNya. Yang tepenting
adalah KOMITMEN untuk menyediakan waktu setiap hari bagi Allah untuk
berbicara kepada kita, melalui firmanNya dan kita bisa merespon
kepadaNya dalam DOA. Saat Teduh/menyediakan waktu bersama Allah yang
teratur membuat kita terbiasa melakukannya (konsisten). Dalam usaha
kita menyediakan waktu bersama Allah tak ada teladan yang lebih baik
dari pada Yesus (Markus 1:35). Pagi- pagi benar, waktu hari masih
gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan
berdoa di sana. Amin.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#AwakeningSeries
#MenyediakanWaktu
#BersamaAllah
#BisaKapanSaja
#DiSepanjangHariItu
#BukansebagaiRutinitas
#TetapiAlamiHadiratNya
#Penghiburan&
#TuntunanNya
#IniAsupanImanku
#ManaAsupanImanmu
#JBUall
Note:
Jangan
lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL:
Keluaran 12,13
PB:
Matius 16
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
Ibu
Caroline – Bandung
[RENUNGAN
HARIAN]. Selasa, 25 Januari 2017. Bacaan: Yakobus 2:14-26. Setahun:
Keluaran 20-22. Nas: Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati,
demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati (Yakobus
2:26). Perbuatan yang Menyelamatkan. Saya pernah ditanya oleh
seseorang, “Mengapa harus hidup sungguh-sungguh bagi Tuhan sejak
masa muda? Bukankah kita diselamatkan oleh iman dan bukan oleh
perbuatan?” Orang ini memperlihatkan pengertian yang kurang tepat
tentang iman. Pokoknya, asalkan beriman, kita pasti selamat.
Pandangan semacam ini dapat menjurus pada kehidupan yang sembarangan.
Yakobus berpendapat berbeda. Yakobus jelas tidak menentang
keselamatan melalui iman (Yak. 1:18; bdk. Flp. 2:12). Kritik Yakobus
dialamatkan kepada mereka yang menganggap iman itu berdiri sendiri,
tanpa berdampak pada perbuatan orang percaya. Iman yang demikian
tidak berguna sebab tidak dapat menolong orang lain (ay. 15-17). Iman
seperti itu tidak berbeda dengan sikap Iblis, yang percaya bahwa
Allah itu ada, namun mereka toh melawan Dia (ay. 19). Sebaliknya,
para tokoh iman dalam Perjanjian Lama menunjukkan iman mereka melalui
perbuatan (ay. 21-26). Iman yang tidak berdampak pada perbuatan
bukanlah iman yang sejati. Itu hanyalah suatu pengakuan yang kosong
dan tidak berguna. Sebaliknya, iman yang otentik tentu akan memancar
melalui perbuatan. Tantangan Yakobus tersebut tetap relevan bagi umat
percaya saat ini: iman yang berguna! Iman bahwa Allah ada dan
menyertai kehidupan kita mestinya terlihat dalam kehidupan yang
memberkati sesama. Iman itu menggerakkan kita untuk mewujudkan kasih
Allah bagi mereka yang memerlukan pertolongan. Bagaimana kita akan
mewujudkan iman kita pada hari ini? --VIN/Renungan Harian. PERBUATAN
TANPA IMAN ADALAH FANA; IMAN TANPA PERBUATAN ADALAH MATI; IMAN DENGAN
PERBUATAN ADALAH KEKAL.
Ps.
Elisha Soetopo
Berdoalah
sampai sesuatu terjadi; berdoalah sekalipun tidak terjadi apa-apa;
dan berdoalah tak peduli apapun yang terjadi! 1 Tesalonika 5:17,
Tetaplah berdoa. Efesus 3:20, Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh
lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang
ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita. 3 hari DOA MALAM
BERSAMA di semua AOC. Jangan lewatkan! Temukan info tempat dan
jamnya, dan pastikan kita hadir ajak kawan, keluarga. Bagi Tuhan
tidak ada yang mustahil! Waktu Tuhan selalu yang terbaik!
Madam
Ossy
Rabu,
25 Januari 2017. Bacaan: Galatia 2:15-21. Setahun: Keluaran 23-25.
Nas: Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup
oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan
diri-Nya untuk aku (Galatia 2:20). Dibebaskan. Pada 1807, William
Wilberforce menyusuri pasar hendak membeli budak. Para pedagang
menawarinya budak terbaik. Alih-alih, ia berkata: “Aku ingin
membeli budak yang terburuk”. Semua terkejut. Namun seorang
pedagang segera mengajukan budaknya, yang tak pernah disukai calon
pembeli. Ia budak berwajah garang, berkelakuan buruk, selalu
mengumpat saat ditawar, bahkan meludahi si calon pembeli. Dengan
mantap, William membelinya. Sesampai di rumah, budak itu terus
memaki, mengumpat, dan mengancam akan memporak-porandakan rumah.
Namun William tak berang, malah menyodorkan sebuah surat, “Ini
surat pembebasanmu. Sekarang kamu orang merdeka.” Betapa girangnya
si budak, ia pun berlari keluar dengan sorak sorai! Sebentar
kemudian, si budak kebingungan. Ke mana ia akan pergi? Untuk apa ia
hidup kini? Selama ini ia tak pernah merasa berharga. Tak pernah
punya tujuan hidup. Namun, kini ia merasakan kasih dari seseorang
yang menganggapnya berharga. Seseorang yang memberinya arti hidup.
Maka, ia kembali ke rumah William dan berkata, “Tuan, Anda telah
membeli saya dengan lunas. Sekarang izinkan saya melayani Tuan di
rumah ini, seumur hidup saya.” Inilah hidup saya dan Anda.
Seharusnya kita ini budak, yang terikat kontrak menjadi budak dosa
seumur hidup. Namun Tuhan telah “membeli” kita. Lalu, Dia
membebaskan kita pergi dan bebas! Apa yang akan kita lakukan
kemudian? Bersenang-senang tanpa tujuan? Atau, kita hendak berkata,
“Tuhan, izinkan hamba melayani-Mu, seumur hidup hamba”? Mana yang
Anda pilih? --AW. KAU MENEBUSKU DAN MEMBERIKU TUJUAN HIDUP YANG BARU
YAKNI HIDUP DI RUMAH-MU, MELAYANI-MU, SEPANJANG UMURKU.

No comments:
Post a Comment