Wednesday, 25 January 2017

25 Januari 2017

AWAKENING




Awakening Day 25 – Menyediakan Waktu Bersama Allah (1). Dua orang yang saling mencintai pasti akan terus bersama-sama menghabiskan waktu yang berkwalitas. untuk melakukannya dibutuhkan disiplin dan kasih. Meyediakan waktu yang berkwalitas itu juga membutuhkan perencanaan yang serius . Alkitab mendorong kita untuk bertemu dengan Allah KAPAN SAJA disepanjang hari. Kita diberi kebebasan untuk menetukan “Waktu Bertemu” dengan Allah. Kita bebas memutuskan kapan waktu yang paling sesuai bagi kita untuk bertemu denganNya. Yang tepenting adalah KOMITMEN untuk menyediakan waktu setiap hari bagi Allah untuk berbicara kepada kita, melalui firmanNya dan kita bisa merespon kepadaNya dalam DOA. Saat Teduh/menyediakan waktu bersama Allah yang teratur membuat kita terbiasa melakukannya (konsisten). Dalam usaha kita menyediakan waktu bersama Allah tak ada teladan yang lebih baik dari pada Yesus (Markus 1:35). Pagi- pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Amin.

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#AwakeningSeries
#MenyediakanWaktu
#BersamaAllah
#BisaKapanSaja
#DiSepanjangHariItu
#BukansebagaiRutinitas
#TetapiAlamiHadiratNya
#Penghiburan&
#TuntunanNya
#IniAsupanImanku
#ManaAsupanImanmu
#JBUall

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Keluaran 12,13
PB: Matius 16

#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved

Ibu Caroline – Bandung
[RENUNGAN HARIAN]. Selasa, 25 Januari 2017. Bacaan: Yakobus 2:14-26. Setahun: Keluaran 20-22. Nas: Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati (Yakobus 2:26). Perbuatan yang Menyelamatkan. Saya pernah ditanya oleh seseorang, “Mengapa harus hidup sungguh-sungguh bagi Tuhan sejak masa muda? Bukankah kita diselamatkan oleh iman dan bukan oleh perbuatan?” Orang ini memperlihatkan pengertian yang kurang tepat tentang iman. Pokoknya, asalkan beriman, kita pasti selamat. Pandangan semacam ini dapat menjurus pada kehidupan yang sembarangan. Yakobus berpendapat berbeda. Yakobus jelas tidak menentang keselamatan melalui iman (Yak. 1:18; bdk. Flp. 2:12). Kritik Yakobus dialamatkan kepada mereka yang menganggap iman itu berdiri sendiri, tanpa berdampak pada perbuatan orang percaya. Iman yang demikian tidak berguna sebab tidak dapat menolong orang lain (ay. 15-17). Iman seperti itu tidak berbeda dengan sikap Iblis, yang percaya bahwa Allah itu ada, namun mereka toh melawan Dia (ay. 19). Sebaliknya, para tokoh iman dalam Perjanjian Lama menunjukkan iman mereka melalui perbuatan (ay. 21-26). Iman yang tidak berdampak pada perbuatan bukanlah iman yang sejati. Itu hanyalah suatu pengakuan yang kosong dan tidak berguna. Sebaliknya, iman yang otentik tentu akan memancar melalui perbuatan. Tantangan Yakobus tersebut tetap relevan bagi umat percaya saat ini: iman yang berguna! Iman bahwa Allah ada dan menyertai kehidupan kita mestinya terlihat dalam kehidupan yang memberkati sesama. Iman itu menggerakkan kita untuk mewujudkan kasih Allah bagi mereka yang memerlukan pertolongan. Bagaimana kita akan mewujudkan iman kita pada hari ini? --VIN/Renungan Harian. PERBUATAN TANPA IMAN ADALAH FANA; IMAN TANPA PERBUATAN ADALAH MATI; IMAN DENGAN PERBUATAN ADALAH KEKAL.

Ps. Elisha Soetopo
Berdoalah sampai sesuatu terjadi; berdoalah sekalipun tidak terjadi apa-apa; dan berdoalah tak peduli apapun yang terjadi! 1 Tesalonika 5:17, Tetaplah berdoa. Efesus 3:20, Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita. 3 hari DOA MALAM BERSAMA di semua AOC. Jangan lewatkan! Temukan info tempat dan jamnya, dan pastikan kita hadir ajak kawan, keluarga. Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil! Waktu Tuhan selalu yang terbaik!

Madam Ossy
Rabu, 25 Januari 2017. Bacaan: Galatia 2:15-21. Setahun: Keluaran 23-25. Nas: Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku (Galatia 2:20). Dibebaskan. Pada 1807, William Wilberforce menyusuri pasar hendak membeli budak. Para pedagang menawarinya budak terbaik. Alih-alih, ia berkata: “Aku ingin membeli budak yang terburuk”. Semua terkejut. Namun seorang pedagang segera mengajukan budaknya, yang tak pernah disukai calon pembeli. Ia budak berwajah garang, berkelakuan buruk, selalu mengumpat saat ditawar, bahkan meludahi si calon pembeli. Dengan mantap, William membelinya. Sesampai di rumah, budak itu terus memaki, mengumpat, dan mengancam akan memporak-porandakan rumah. Namun William tak berang, malah menyodorkan sebuah surat, “Ini surat pembebasanmu. Sekarang kamu orang merdeka.” Betapa girangnya si budak, ia pun berlari keluar dengan sorak sorai! Sebentar kemudian, si budak kebingungan. Ke mana ia akan pergi? Untuk apa ia hidup kini? Selama ini ia tak pernah merasa berharga. Tak pernah punya tujuan hidup. Namun, kini ia merasakan kasih dari seseorang yang menganggapnya berharga. Seseorang yang memberinya arti hidup. Maka, ia kembali ke rumah William dan berkata, “Tuan, Anda telah membeli saya dengan lunas. Sekarang izinkan saya melayani Tuan di rumah ini, seumur hidup saya.” Inilah hidup saya dan Anda. Seharusnya kita ini budak, yang terikat kontrak menjadi budak dosa seumur hidup. Namun Tuhan telah “membeli” kita. Lalu, Dia membebaskan kita pergi dan bebas! Apa yang akan kita lakukan kemudian? Bersenang-senang tanpa tujuan? Atau, kita hendak berkata, “Tuhan, izinkan hamba melayani-Mu, seumur hidup hamba”? Mana yang Anda pilih? --AW. KAU MENEBUSKU DAN MEMBERIKU TUJUAN HIDUP YANG BARU YAKNI HIDUP DI RUMAH-MU, MELAYANI-MU, SEPANJANG UMURKU.

No comments:

Post a Comment