AWAKENING
Awakening
Day 17 – I'm Loved, Vision Sunday Part 1.
Efesus 3:18, “Aku
berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat
memahami, betapa lebarNya dan PANJANGNya dan tinggiNya dan dalamNya
kasih Kristus.”
PANJANG-Nya Kasih Allah, panjang dalam bahasa aslinya mekos
dapat diartikan bahwa KASIH Allah yang panjang mencakup rencanaNya
dalam jangka panjang kedepan. KASIH Kristus yang panjang juga berarti
tidak ada akhirnya, mencakup masa lalu, saat ini dan masa mendatang.
Dalam penerapannya: dimensi ini berbicara tentang masa depan,
pelayanan, kehidupan, dan keberhasilan yang akan bertahan dari
generasi ke generasi. KASIH Allah yang PANJANG juga menggambarkan
kesetiaanNya. IA Tuhan yang setia menguatkan hati kita &
menjauhkan kita dari yang jahat (2 Tes 3:3); IA Tuhan yang setia
melaksanakan janjiNya bagi hidup kita (Yes 25:1); IA Tuhan yang setia
memenuhi janjiNya (Ibrani 10:23); IA Tuhan yang setia mengampuni
dosa-dosa kita (1 Yoh 1:9). Sungguh sebuah janji yang sangat
menghibur dan menguatkan kita bahwa Allah tidak hanya peduli tetapi
IA Tuhan yang MENGASIHI kita dan keturunan kita. Amin.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#AwakeningSeries
#BetapaPANJANGNya
#BerbicaraTtgKASIHKristus
#TidakAdaAkhirnya
#SejakSebelum
#DuniaDijadikan
#SampaiMasaKekekalan
#Efesus1:4-5
#BacaAlkitab
#Keren
#IniAsupanImanku
#ManaAsupanImanmu
#JBUall
Note:
Jangan
lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL:
Kejadian 41#42
PB:
Matius 12:1-21
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
Ibu
Caroline – Bandung
[RENUNGAN
HARIAN]. Selasa, 17 Januari 2017. Bacaan: Yohanes 20: 19-23. Setahun:
Kejadian 49-50. Nas: Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di
tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”
(Yohanes 20:19). Kunci. Dulu jika sedang menginap di rumah, mendiang
kakek selalu tidur paling malam. Ia punya kebiasaan mengecek
pintu-pintu rumah berulang-ulang, memastikan semuanya sudah terkunci
dengan aman. Konon, menurut ibu, sikap was-was tersebut merupakan
warisan trauma masa penjajahan dahulu. Kakek dan saya adalah dua
pribadi yang berbeda, tetapi di satu sisi saya mewarisi sikap was-was
beliau meskipun dengan cara yang berbeda. Saya biasa mengunci diri
rapat-rapat bila sedang khawatir menghadapi persoalan. Murid-murid
Yesus berkumpul mengunci diri karena ketakutan. Mereka khawatir
penyaliban Yesus akan berdampak buruk bagi mereka. Meskipun tahu
bahwa Yesus telah bangkit, mereka masih gentar sampai Tuhan sendiri
'menjebol' perlindungan mereka: Dia masuk ke ruangan itu dan
memberikan peneguhan. Yesus seakan menegaskan pada mereka bahwa
mengunci pintu tidak akan memberikan solusi dan damai sejahtera,
tetapi malah memperkuat rasa takut dalam diri mereka. Apakah yang
dapat kita pelajari dari sini? Ketika menghadapi krisis atau
tantangan hidup yang menakutkan, refleks sebagian dari kita sebagai
manusia adalah mengunci diri rapat-rapat. Sekarang kita belajar,
dalam situasi demikian, kita justru perlu mempersilakan Tuhan masuk,
menguatkan kita, dan kita membuka diri untuk mendengarkan
kehendak-Nya bagi hidup kita. Inilah momen yang akan menyediakan
jalan keluar yang sesungguhnya bagi persoalan kita. Marilah sekarang
kita membuka kunci hati kita dan mengakui bahwa kita memerlukan
kehadiran-Nya --OLV/Renungan Harian. SERAPAT APA PUN ANDA MENCOBA
MENGUNCI DIRI, DIA BISA MASUK!
Tante
Elisabeth – NTT
Ya
amin. Tuhan baik dan sangat baik, tak dapat diselami. Dari sejak awal
pengalaman hidup baru yang kita alami, Bapa sudah memiliki rancangan
kehidupan yang berbeda dan sekaligus jenis panggilan pelayanan yang
memang sudah Ia rancangkan sebelumnya. Setiap kali kita mengalami
pertumbuhan/penyingkapan, pewahyuan firman, kita akan makin mengalami
jenis 'pekerjaan baik' yang sudah Bapa sediakan. Dengan terus
mengikuti tuntunan RohNya, kita dipersiapkan untuk dapat berfungsi
secara maksimal & 'menjadi pola' dijenis pekerjaan baik tersebut.
Menempatkan Kristus menjadi kepala dari segala sesuatu yang ada dalam
pengayoman kita (Efesus 1:9-10). Amin. Happy Tuesday. JBU.
Xavier
Quentin Pranata
“Kesetiaan
melakukan hal kecil membuat kita takjub saat berhasil.” Xavier
Quentin Pranata.

No comments:
Post a Comment