Sunday, 22 January 2017

22 Januari 2017

AWAKENING




 Awakening Day 22 – Menjadi Pribadi yang TEKUN Berkarakter dan Setia (1). Saat pertama kali kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pasti kita semangat dan menggebu-nggebu. Namun apakah itu akan terus bertahan sampai akhir hidup kita? Alkitab mengatakan: kita butuh KETEKUNAN karena merupakan hal yang penting. Ibrani 10:36, “Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.” Setelah kita menjadi percaya kepadaNya, banyak juga yang berhenti disitu, tidak melangkah maju. Tidak seperti Yosua yang memiliki keberanian, melangkah maju karena ada tuntunan Tuhan, ia tetap maju (Yosua 6:1-14). Mengapa banyak yang berhenti saat proses dari Tuhan berlangsung dalam hidupnya?
  1. Kita sering berhenti karena pandangan kita terhalang (Yosua6:2)
Terhalang oleh masalah, padahal seberapa besar masalah dalam proses yang kita alami, sebesar itulah Berkat dan Janji Tuhan . Sadari ada Tuhan Yesus didalam kita, IA jauh lebih besar dari masalah kita. Saat kita bersamaNya, Ia akan membawa kita naik melampaui masalah.
  1. Kita sering berhenti karena Progress yang tidak terlihat (Yosua 6:11 & 14)
Banyak dari kita yang seringkali tidak bisa melihat jauh ke depan bahwa janji-janji Tuhan NYATA. Kita lebih suka sesuatu yang instant padahal ketaatan adalah tanggung jawab kita, hasilnya adalah tanggung jawab Tuhan.
  1. Kita sering berhenti karena proses yang kita alami tidak ada batasannya (Yosua 6:6-7)
Tuhan membiarkan kita melewati Proses itu agar kita mengerti hanya Yesus yang sanggup menolong. Sebab IA ingin agar kita berserah kepadaNya dan mengandalkan IA saja.
Ada pebedaan antara “menyerah” dan “berserah”. Berserah adalah biarpun kita kuat/lemah, menang/kalah, kaya/miskin, sanggup/tidak, berkelimpahan/berkekurangan, mengerahkan segenap tenaga atau pun menikmati hasil, selalu tetap mengandalkan Tuhan . Amin.

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#AwakeningSeries
#JanganPernahMenyerah
#DidalamProses
#ApapunAlasannya
#TETAPTEKUN
#KarenaAdaSesuatu
#YangBESAR
#YangTuhanSediakanBagiKita
#IniAsupanImanku
#ManaAsupanImanmu
#JBUal

Ibu Caroline – Bandung
Tulisan Pdt. Bong San Bun (Pdt di GII Hok Im Tong Bandung) bagus untuk jadi renungan. Hidup itu Rapuh. Saya pernah berbangga di depan istri bahwa saya orang paling sehat di antara lima bersaudara. Berat badan saya normal (cenderung kurus), tensi darah, hasil lab darah semacam kolesterol, trigliserida, SGPT, SGOT bla-bla-bla: normal. Dua tahun lalu saya pernah medical check-up, semua sehat kecuali septum deviasi (tulang hidung bengkok) yang mengakibatkan mampet kalau udara dingin (setelah menjalani operasi Mei 2015, sudah tidak lagi mampet). Sedangkan kakak-kakak saya ada yang kolesterol tinggi, tensi darah tinggi. Saya menjaga pola hidup sehat. Makan gorengan jarang. Kerupuk aci adalah musuh. Olah raga seminggu beberapa kali jalan pagi. Makan nasi putih campur merah sejak beberapa tahun terakhir. Makan sayur-buah sering. Sampai anak saya sudah hapal dengan buah yang sering saya beli: pepaya! Namun kebanggaan itu lenyap 4 November 2016, saat vonis MRI dijatuhkan. Saat saya “naik banding” ke dokter THT, di-nasocopy, dibiopsi dan PET scan, keputusannya tidak berubah: KNF T4N2M0, artinya kanker nasofaring, T4: stadium 4, N2: menyebar ke kelenjar getah bening kiri dan kanan, M0: tidak menyebar ke organ tubuh lain. Saya mulai mengarungi perjalanan hidup yang berbeda dari yang biasa saya jalani. Bolak-balik periksa darah, infus, kemo dan (nanti) radiasi. Tidak ada sesuatu dalam hidup kita yang bisa dibanggakan. Bahkan apa yang kita anggap baik, pasti, stabil dalam sekejab bisa berubah. Hidup itu rapuh. Pemazmur menuliskan, “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap” (Mzm 90:10). Saya kutipkan versi yang lebih menolong kita memahaminya: “ Seventy years are given us! And some may even live to eighty. But even the best of these years are often empty and filled with pain; soon they disappear, and we are gone” (Living Bible). Ini adalah ironi. Orang yang merasa hidupnya sukses, berbangga diri ternyata juga menyimpan banyak kehampaan, kesakitan dan kesedihan. Kita menilai si A atau si B “sukses”, ternyata masa paling puncak dalam hidup mereka tidak menjadi masa paling membahagiakan. Dan masa puncak itu ternyata hanya sebentar. Tiba-tiba bel kematian dibunyikan, dan kita lenyap. Oleh sebab itu, selama masih hidup, hiduplah dengan sikap bijak. Gunakan setiap waktu (baca: kesempatan), potensi hidup, energi Anda untuk meraih hal yang mulia, “making the most of every opportunity, because the days are evil.” (Ef 5:16, NIV). Tuhan memberikan sejumlah tahun kehidupan bagi kita. Jangan habiskan waktu itu untuk hal-hal biasa yang kita pikir bisa menyenangkan diri (ternyata malah bikin hidup susah). (*Bong San Bun).

Ibu Caroline – Bandung
Kita sering memberi kado kepada orang dan juga menerima kado dari orang lain sebagai hadiah, tanda ucapan selamat, penghargaan, kenang-kenangan atau maksud lain. Perhatikanlah ketika orang membuka kado. Kebanyakan orang tidak bersabar dan penasaran apa isi kado itu. Kado yang dibungkus dengan rapi dibuka. Bungkusnya dirobek-robek hingga rusak. Bungkus itu kemudian dibuang. Tinggal isinya saja yang diambil dan disimpan atau digunakan. Padahal ketika kado itu dibungkus, besar juga usaha orang untuk melakukannya. Dipilih kertas kado yang baik dan menarik. Kertas itu disesuaikan dengan besarnya kado. Dilakukan pemotongan, diklem, dilipat dan diselotip atau dilem. Bahkan sering ditambah lipatan berseni dan hiasan  menarik. Akhirnya jadilah kado yang indah dipandang mata. Namun seberapa indahpun bungkus kado itu telah dibuat... akhirnya bungkus yang rapi dirobek-robek juga. Hidup kita juga adalah ibarat kado yang pada suatu saat nanti akan dibuka. Apa isi kado hidup kita... apa yang kita bangun dalam hidup kita akan segera kelihatan di Takhta-Nya. Tidak ada yang tersembunyi. Tubuh luar kita ini sebagai bungkus kado... betapapun gagahnya... betapapun cantiknya... betapapun indahnya... semua akan lebur menyatu dengan tanah. Syukur-syukurlah kalau jasad kita awet menjadi fossil yang kelak akan diteliti oleh para ahli dan tersimpan di museum menjadi pajangan dan ditonton banyak orang. Tapi bagi kita sendiri apalah artinya? Oleh sebab itu marilah kita bijak. Kita memang perlu memperhatikan tubuh kita dan merawatnya dengan baik seumpama bungkus kado. Namun adalah terlebih perlu memperhatikan apa yang kita bangun dalam hidup kita sebagai isi kado yang bernilai. Bangunlah terus hal-hal yang bersifat kekal dalam hidup kita sebagai isi kado yang kelak kita persembahkan kepada BAPA SANG PENCIPTA. Allah Bapa yang sedang menantikan isi kado yang indah menyertai dan memberkati kita.

Ibu Caroline – Bandung
Rut 1:16, “Tetapi kata Rut: ‘Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku‘”. Rut punya hati yang taat pada mertua... Taat dan setia... Oleh karenanya dia mendapat perkenanan TUHAN mendapat kasih karunia TUHAN, mendapat anugerah TUHAN, mendapat berkat yang sempurna, TUHAN percayakan keturunannya menjadi bangsa yang besar... Ketika kita mau taat kepada otoritas diatas. TUHAN, Pemerintah, Gembala kita, Majikan bos pimpinan kita, orang tua... Mujizat penuaian akan kita terima, kita perlu strategi hikmat yang dari TUHAN, berkat yang sempurna dari TUHAN akan kita terima, ketika kita mau taat... Taat ibadah, taat perpuluhan, taat saat teduh, taat berdoa, taat menyembah TUHAN... Ada kesetiaan dan ketaatan... Kasih karunia akan kita terima, dimana kita ada kebutuhan TUHAN ada... Dimana kita berdoa TUHAN jawab

No comments:

Post a Comment