AWAKENING
Awakening
Day 22 – Menjadi Pribadi yang TEKUN Berkarakter dan Setia (1).
Saat pertama kali kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat
pasti kita semangat dan menggebu-nggebu. Namun apakah itu akan terus
bertahan sampai akhir hidup kita? Alkitab mengatakan: kita butuh
KETEKUNAN karena merupakan hal yang penting. Ibrani 10:36, “Sebab
kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak
Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.”
Setelah kita menjadi percaya kepadaNya, banyak juga yang berhenti
disitu, tidak melangkah maju. Tidak seperti Yosua yang memiliki
keberanian, melangkah maju karena ada tuntunan Tuhan, ia tetap maju
(Yosua 6:1-14). Mengapa banyak yang berhenti saat proses dari Tuhan
berlangsung dalam hidupnya?
- Kita sering berhenti karena pandangan kita terhalang (Yosua6:2)
Terhalang
oleh masalah, padahal seberapa besar masalah dalam proses yang kita
alami, sebesar itulah Berkat dan Janji Tuhan .
Sadari ada Tuhan Yesus didalam kita, IA jauh lebih besar dari masalah
kita. Saat kita bersamaNya, Ia akan membawa kita naik melampaui
masalah.
- Kita sering berhenti karena Progress yang tidak terlihat (Yosua 6:11 & 14)
Banyak
dari kita yang seringkali tidak bisa melihat jauh ke depan bahwa
janji-janji Tuhan NYATA. Kita lebih suka sesuatu yang instant
padahal ketaatan adalah tanggung jawab kita, hasilnya adalah tanggung
jawab Tuhan.
- Kita sering berhenti karena proses yang kita alami tidak ada batasannya (Yosua 6:6-7)
Tuhan
membiarkan kita melewati Proses itu agar kita mengerti hanya Yesus
yang sanggup menolong. Sebab IA ingin agar kita berserah kepadaNya
dan mengandalkan IA saja.
Ada
pebedaan antara “menyerah” dan “berserah”. Berserah adalah
biarpun kita kuat/lemah, menang/kalah, kaya/miskin, sanggup/tidak,
berkelimpahan/berkekurangan, mengerahkan segenap tenaga atau pun
menikmati hasil, selalu tetap mengandalkan Tuhan .
Amin.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#AwakeningSeries
#JanganPernahMenyerah
#DidalamProses
#ApapunAlasannya
#TETAPTEKUN
#KarenaAdaSesuatu
#YangBESAR
#YangTuhanSediakanBagiKita
#IniAsupanImanku
#ManaAsupanImanmu
#JBUal
Ibu
Caroline – Bandung
Tulisan
Pdt. Bong San Bun (Pdt di GII Hok Im Tong Bandung) bagus untuk jadi
renungan. Hidup itu Rapuh. Saya pernah berbangga di depan istri bahwa
saya orang paling sehat di antara lima bersaudara. Berat badan saya
normal (cenderung kurus), tensi darah, hasil lab darah semacam
kolesterol, trigliserida, SGPT, SGOT bla-bla-bla: normal. Dua tahun
lalu saya pernah medical check-up, semua sehat kecuali septum deviasi
(tulang hidung bengkok) yang mengakibatkan mampet kalau udara dingin
(setelah menjalani operasi Mei 2015, sudah tidak lagi mampet).
Sedangkan kakak-kakak saya ada yang kolesterol tinggi, tensi darah
tinggi. Saya menjaga pola hidup sehat. Makan gorengan jarang. Kerupuk
aci adalah musuh. Olah raga seminggu beberapa kali jalan pagi. Makan
nasi putih campur merah sejak beberapa tahun terakhir. Makan
sayur-buah sering. Sampai anak saya sudah hapal dengan buah yang
sering saya beli: pepaya! Namun kebanggaan itu lenyap 4 November
2016, saat vonis MRI dijatuhkan. Saat saya “naik banding” ke
dokter THT, di-nasocopy, dibiopsi dan PET scan, keputusannya tidak
berubah: KNF T4N2M0, artinya kanker nasofaring, T4: stadium 4, N2:
menyebar ke kelenjar getah bening kiri dan kanan, M0: tidak menyebar
ke organ tubuh lain. Saya mulai mengarungi perjalanan hidup yang
berbeda dari yang biasa saya jalani. Bolak-balik periksa darah,
infus, kemo dan (nanti) radiasi. Tidak ada sesuatu dalam hidup kita
yang bisa dibanggakan. Bahkan apa yang kita anggap baik, pasti,
stabil dalam sekejab bisa berubah. Hidup itu rapuh. Pemazmur
menuliskan, “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat,
delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan
penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap”
(Mzm 90:10). Saya kutipkan versi yang lebih menolong kita
memahaminya: “ Seventy years are given us! And some may even live
to eighty. But even the best of these years are often empty and
filled with pain; soon they disappear, and we are gone” (Living
Bible). Ini adalah ironi. Orang yang merasa hidupnya sukses,
berbangga diri ternyata juga menyimpan banyak kehampaan, kesakitan
dan kesedihan. Kita menilai si A atau si B “sukses”, ternyata
masa paling puncak dalam hidup mereka tidak menjadi masa paling
membahagiakan. Dan masa puncak itu ternyata hanya sebentar.
Tiba-tiba bel kematian dibunyikan, dan kita lenyap. Oleh sebab itu,
selama masih hidup, hiduplah dengan sikap bijak. Gunakan setiap waktu
(baca: kesempatan), potensi hidup, energi Anda untuk meraih hal yang
mulia, “making the most of every opportunity, because the days are
evil.” (Ef 5:16, NIV). Tuhan memberikan sejumlah tahun kehidupan
bagi kita. Jangan habiskan waktu itu untuk hal-hal biasa yang kita
pikir bisa menyenangkan diri (ternyata malah bikin hidup susah).
(*Bong San Bun).
Ibu
Caroline – Bandung
Kita
sering memberi kado kepada orang dan juga menerima kado dari orang
lain sebagai hadiah, tanda ucapan selamat, penghargaan,
kenang-kenangan atau maksud lain. Perhatikanlah ketika orang membuka
kado. Kebanyakan orang tidak bersabar dan penasaran apa isi kado itu.
Kado yang dibungkus dengan rapi dibuka. Bungkusnya dirobek-robek
hingga rusak. Bungkus itu kemudian dibuang. Tinggal isinya saja yang
diambil dan disimpan atau digunakan. Padahal ketika kado itu
dibungkus, besar juga usaha orang untuk melakukannya. Dipilih kertas
kado yang baik dan menarik. Kertas itu disesuaikan dengan besarnya
kado. Dilakukan pemotongan, diklem, dilipat dan diselotip atau dilem.
Bahkan sering ditambah lipatan berseni dan hiasan menarik.
Akhirnya jadilah kado yang indah dipandang mata. Namun seberapa
indahpun bungkus kado itu telah dibuat... akhirnya bungkus yang rapi
dirobek-robek juga. Hidup kita juga adalah ibarat kado yang pada
suatu saat nanti akan dibuka. Apa isi kado hidup kita... apa yang
kita bangun dalam hidup kita akan segera kelihatan di Takhta-Nya.
Tidak ada yang tersembunyi. Tubuh luar kita ini sebagai bungkus
kado... betapapun gagahnya... betapapun cantiknya... betapapun
indahnya... semua akan lebur menyatu dengan tanah. Syukur-syukurlah
kalau jasad kita awet menjadi fossil yang kelak akan diteliti oleh
para ahli dan tersimpan di museum menjadi pajangan dan ditonton
banyak orang. Tapi bagi kita sendiri apalah artinya? Oleh sebab itu
marilah kita bijak. Kita memang perlu memperhatikan tubuh kita dan
merawatnya dengan baik seumpama bungkus kado. Namun adalah terlebih
perlu memperhatikan apa yang kita bangun dalam hidup kita sebagai isi
kado yang bernilai. Bangunlah terus hal-hal yang bersifat kekal dalam
hidup kita sebagai isi kado yang kelak kita persembahkan kepada BAPA
SANG PENCIPTA. Allah Bapa yang sedang menantikan isi kado yang indah
menyertai dan memberkati kita.
Ibu
Caroline – Bandung
Rut
1:16, “Tetapi kata Rut: ‘Janganlah desak aku meninggalkan engkau
dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi,
ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ
jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku‘”.
Rut punya hati yang taat pada mertua... Taat dan setia... Oleh
karenanya dia mendapat perkenanan TUHAN mendapat kasih karunia TUHAN,
mendapat anugerah TUHAN, mendapat berkat yang sempurna, TUHAN
percayakan keturunannya menjadi bangsa yang besar... Ketika kita mau
taat kepada otoritas diatas. TUHAN, Pemerintah, Gembala kita, Majikan
bos pimpinan kita, orang tua... Mujizat penuaian akan kita terima,
kita perlu strategi hikmat yang dari TUHAN, berkat yang sempurna dari
TUHAN akan kita terima, ketika kita mau taat... Taat ibadah, taat
perpuluhan, taat saat teduh, taat berdoa, taat menyembah TUHAN... Ada
kesetiaan dan ketaatan... Kasih karunia akan kita terima, dimana kita
ada kebutuhan TUHAN ada... Dimana kita berdoa TUHAN jawab

No comments:
Post a Comment