Monday, 23 January 2017

23 Januari 2017

AWAKENING




Awakening Day 23 – Menjadi Pribadi yang TEKUN BERKARAKTER dan Setia (2). Dibagian ke 2, mengapa karakter penting? Dalam pembentukan karakter diperlukan harga yang mahal untuk memperolehnya, beda dengan kharisma. Kharisma itu sebuah karunia, tak terlalu membutuhkan proses, kharisma itu gratis dan karakter harus bayar harga . Simson punya kharisma luar biasa, tapi akhirnya jatuh, padahal sejak awal ia sudah dikhususkan bagi Tuhan. Ia dikuasai hawa nafsu/keinginan daging (Hakim-Hakim 14:1-3). Ayat 1: “Simson pergi ke Timna dan di situ ia melihat seorang gadis Filistin.” Ayat 2: “Ia pulang dan memberitahukan kepada ayahnya dan ibunya: ‘Di Timna aku melihat seorang gadis Filistin. Tolong, ambillah dia menjadi isteriku.‘” Ayat 3: “Tetapi ayahnya dan ibunya berkata kepadanya: ‘Tidak adakah di antara anak-anak perempuan sanak saudaramu atau di antara seluruh bangsa kita seorang perempuan, sehingga engkau pergi mengambil isteri dari orang Filistin, orang- orang yang tidak bersunat itu?‘ Tetapi jawab Simson kepada ayahnya: ‘Ambillah dia bagiku, sebab dia kusukai.‘” Simson harus membayar mahal atas kebiasaannya hidup dalam hawa nafsu. Tuhan ingin agar kita anak-anakNya berhasil, IA punya rencana yang indah, tapi semua itu tergantung dari pilihan dan keputusan kita, harus ada harga yang dibayar supaya sampai kepada rencanaNya (harus mau dibentuk dan diproses) . Banyak hamba Tuhan yang mungkin memiliki kharisma luar biasa, tetapi banyak juga yang jatuh dalam pembentukan Karakter. Belajar merendahkan hati menerima pembetukan dari Tuhan karena orang yang mau dibentukNya, artinya ia berharga dimataNya. Amin

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#AwakeningSeries
#AdaHargayangHarusDibayar
#TerimaPembentukan
#ProsesyangDariTuhan
#DenganRendahHati
#KarAktermuIndah
#KaraktermuBerharga
#DimataNya
#IniAsupanImanku
#ManaAsupanImanmu
#JBUall

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Keluaran 7dan8
PB: Matius 15:1-20

#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved

Ibu Caroline – Bandung
[RENUNGAN HARIAN]. Kamis, 19 Januari 2017. Bacaan: Keluaran 17:1-7. Setahun: Keluaran 5-7. Nas: Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum. Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel (Keluaran 17:6). PL Digenapi di PB. Tuhan memakai Musa untuk menyelamatkan bangsa Israel. Ia memimpin mereka keluar dari negeri perbudakan, yaitu Mesir, menuju Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan kepada nenek moyang mereka, agar Israel menjadi umat-Nya. Nyatanya, tidaklah mudah bagi bangsa Israel mencapai tanah perjanjian itu. Mereka harus melewati daerah yang sudah dihuni bangsa-bangsa lain yang memusuhi mereka. Dan juga harus melintasi Padang gurun Sin dan Rafidim yang tandus. Ketika mereka kehabisan air, marahlah Israel kepada Musa. Mereka kehilangan kepercayaan bahwa Tuhan ada di tengah-tengah perjalanan hidup mereka (ay. 7). Tuhan meminta Musa naik ke atas gunung batu di Horeb, dan kemudian memerintahkan, “Haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum” (ay. 6). Perjanjian Lama adalah bayang-bayang yang digenapi dalam Perjanjian Baru (Kol 2:17). Gunung batu ini disamakan dengan Yesus Kristus, sumber air kehidupan (1 Kor 10:4). Seperti batu karang itu dipukul, Kristus juga dipukul oleh kematian di kayu salib bagi segenap umat manusia (Yes 53:5). Sebagaimana gunung batu itu menjadi sumber berkat bagi bangsa Israel, Kristus juga merupakan sumber berkat dan pemberi Roh Kudus bagi gereja (Yes 53:4-5; Yoh 7:37-38, 20:22; Kis 2:1-4). Sudahkah air hidup yang Kristus janjikan, yaitu Roh-Nya yang Kudus itu, memenuhi hidup kita? Jika demikian, kita tidak akan haus lagi, tetapi disegarkan oleh Dia yang selalu hadir di tengah kehidupan kita --SST/Renungan Harian. KRISTUS GUNUNG BATU KITA, SUMBER AIR KEHIDUPAN, MEMBERIKAN KEHIDUPAN KEKAL BAGI SETIAP ORANG YANG DATANG KEPADA-NYA.

Bp. Budi – PT. Multipack Unggul
MENGAMPUNI ITU LUAR BIASA. Pada zaman perang Kemerdekaan di Amerika, ada seorang penjahat yang bermaksud menghabisi nyawa seorang yang bernama Merland. Sebelum maksud penjahat itu tercapai, ia lebih dulu tertangkap aparat keamanan & diadili. Vonis yang dijatuhkan adalah hukuman mati. Menjelang pelaksanaan hukuman mati, Merland membaca Firman Tuhan sebagai wujud kasihnya & tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Setelah lama bergumul, Merland dari tempat yang jauh mendatangi Presiden George Washington untuk meminta grasi terhadap terhukum. Sang Presiden menilai perbuatan terhukum tak bisa dimaafkan, tapi Merland dengan nada memohon berkata, “Pak Presiden, ia bukan teman saya, melainkan saya adalah calon korban yang mau dibunuhnya.” Dengan mata terheran-heran Presiden Washington menatap Merland & setelah diketahui maksudnya, maka ia mengatakan, “Untuk menyelamatkan musuhmu, engkau datang dari jauh, maka berdasarkan kasihmu ini, maka aku memberikan pengampunan.” Setelah mendapat surat grasi dari sang Presiden, Merland mendatangi penjara. Penjahat itu mengira Merland datang untuk menyaksikan kematiannya, sehingga dengan muka garang ia menatap & memaki Merland dengan kata-kata kotor. Setelah penjahat itu tahu maksud kedatangan Merland yang sebenarnya, ia menjadi malu & memohon maaf. Sungguh menakjubkan, penjahat itu berubah hidupnya, & ia meninggalkan kehidupan lamanya. Mengasihi musuh dengan Kasih Agape adalah hasil perjuangan & kemenangan untuk menolak keinginan daging. Mengasihi musuh dengan Kasih Agape sambil mendoakannya merupakan strategi untuk mengalahkan aneka bentuk konflik. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:44). KEBAIKAN yang KAU LAKUKAN HARI INI, MUNGKIN BESOK DI LUPAKAN ORANG, TAPI TERUSLAH BERBUAT BAIK (Mother Teresa). God bless you all.

Xavier Quentin Pranata
Ketika kita terus menunda untuk menghadapi rasa takut kita, perasaan takut justru bertambah besar.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:

Post a Comment