AWAKENING
Awakening
Day 19 – I'm Loved, Vision Sunday part 1.
Efesus 3:18, “Aku
berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus DAPAT
MEMAHAMI, betapa LEBARNya dan PANJANGNya dan TINGGINya dan DALAMNya
KASIH Kristus.”
Hari ini kita sudah dibagian Kata DALAM. “DALAM” dalam bahasa
aslinya adalah bathos
yang artinya “kedalaman”/tempat yang dalam. Dalam prakteknya
dimensi ini berbicara tentang memiliki akar yang kokoh tertancap ke
dalam. Bertahan/tidaknya sebuah pohon dari serangan badai tergantung
kuat tidaknya akar pohon tersebut untuk membuat ia tetap bercokol
kuat dalam tanah. Seperti itulah karakter seseorang membuat ia tetap
teguh dalam kehidupan. Setelah kita mengerti betapa LEBAR, PANJANG,
TINGGI & DALAM KASIH Allah, kita diajak untuk MERESPONI apa yang
harus kita lakukan? TERIMA dan ALAMI KASIH Allah dengan Hormat dan
Respek. Bagaimana caranya? Yaitu dengan PENGORBANAN kita kepadaNya...
.
Yaitu: cintai firmanNya, melalui doa, pujian/penyembahan &
pembacaan firmanNya setiap hari. Hiduplah untuk memuliakan Tuhan.
Amin.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#AwakeningSeries
#DimensiLebar
#PanjangTinggi&DalamNya
#KasihKristus
#MembawaKitaHormat&
#RespectKepdNya
#RelaBerkorbanHanyaUntuk
#MemuliakanDIA
#BacaAlkitab
#Keren
#IniAsupanImanku
#ManaAsupanImanmu
#JBUall
Note:
Jangan
lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL:
Kejadian 46,47dan 48
PB:
Matius 13:1-30
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Kamis, 19 Januari 2017. PERJANJIAN LAMA DIGENAPI DI PERJANJIAN
BARU. Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di
Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan
keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum. Demikianlah diperbuat
Musa di depan mata tua-tua Israel (Keluaran 17:6). Tuhan memakai Musa
untuk menyelamatkan bangsa Israel. Ia memimpin mereka keluar dari
negeri perbudakan, yaitu Mesir, menuju Kanaan, tanah yang dijanjikan
Tuhan kepada nenek moyang mereka, agar Israel menjadi umat-Nya.
Nyatanya, tidaklah mudah bagi bangsa Israel mencapai tanah perjanjian
itu. Mereka harus melewati daerah yang sudah dihuni bangsa-bangsa
lain yang memusuhi mereka. Dan juga harus melintasi Padang gurun Sin
dan Rafidim yang tandus. Ketika mereka kehabisan air, marahlah Israel
kepada Musa. Mereka kehilangan kepercayaan bahwa Tuhan ada di
tengah-tengah perjalanan hidup mereka (ay. 7). Tuhan meminta Musa
naik ke atas gunung batu di Horeb, dan kemudian memerintahkan,
“Haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar
air, sehingga bangsa itu dapat minum” (ay. 6). Perjanjian Lama
adalah bayang-bayang yang digenapi dalam Perjanjian Baru (Kol 2:17).
Gunung batu ini disamakan dengan Yesus Kristus, sumber air kehidupan
(1 Kor 10:4). Seperti batu karang itu dipukul, Kristus juga dipukul
oleh kematian di kayu salib bagi segenap umat manusia (Yes 53:5).
Sebagaimana gunung batu itu menjadi sumber berkat bagi bangsa Israel,
Kristus juga merupakan sumber berkat dan pemberi Roh Kudus bagi
gereja (Yes 53:4-5; Yoh 7:37-38, 20:22; Kis 2:1-4). Sudahkah air
hidup yang Kristus janjikan, yaitu Roh-Nya yang Kudus itu, memenuhi
hidup kita? Jika demikian, kita tidak akan haus lagi, tetapi
disegarkan oleh Dia yang selalu hadir di tengah kehidupan kita.
KRISTUS GUNUNG BATU KITA, SUMBER AIR KEHIDUPAN, MEMBERIKAN KEHIDUPAN
KEKAL BAGI SETIAP ORANG YANG DATANG KEPADA-NYA. Selamat pagi. Tuhan
Yesus memberkati. #LoveTheBible - Bacaan Setahun: Kejadian 46,47,48 &
Matius 13:1-30.
Tante
Elisabeth – NTT
Ya
amin, amin, amin. BEKERJANYA ROH PENGERTIAN - Efesus 1:15-23. Salah
satu aspek paling mendasar yang wajib dimiliki orang-orang percaya
adalah bekerjanya Roh pengertian di dalam kehidupan kita, ini penting
sekali Yesus menegaskan sebuah rahasia yang terus berlaku dalam
kerajaanNya. Jika seseorang memiliki maka kepadanya akan terus
ditambahkan hingga berkelimpahan tapi jika ia tidak memiliki maka
apapun yang ia anggap sudah ada padanya akan diambil seluruhnya.
Dengan adanya seorang bapa rohani yang bersyafaat bagi kita maka
untuk mulai memiliki bekerjanya roh pengertian adalah merupakan
sesuatu yang mudah karena doa itu menarik roh hikmat turun atas kita,
jadi jangan membesar-besarkan “tidak sekolah”nya kita, Paulus
berdoa untuk jemaat di Efesus agar mereka memiliki dan mengalami
bekerjanya roh pengertian bukan cuma tahu, maka jemaat Efesus
mengalami kelimpahan pekerjaan Roh. Tuhan mulai membawa kita untuk
hidup didalam “dunia”nya Tuhan, kita mengalami realitaNya Tuhan,
mengalami keputusan Bapa termanifestasi dalam hidup kita. Amin! Happy
Thursday. JBU.
Bp.
Budi – PT. Multipack Unggul
JANGAN
MENYERAH. Buah kelapa dikenal sebagai buah yang banyak manfaatnya.
Tak hanya daging buahnya, tapi juga sabut & batok atau
tempurungnya. Sebelum dapat dinikmati, petani kelapa akan memanjat
pohon kelapa yang tinggi sekali. Ia akan memilih buah mana yang baik
& layak petik. Setelah itu, buah kelapa itu akan dijatuhkan dari
puncak pohonnya. Lalu kelapa akan dibacok, ditarik sedemikian rupa,
hingga kulit luarnya yang berupa sabut, lepas & kelapanya gundul.
Setelah gundul, kelapa akan dibelah agar terlepas dari batoknya. Tak
sampai di situ ‘penyiksaan’ yang dialami kelapa. Buah kelapa
harus diparut dengan menggunakan besi yang tajam. Hasil parutannya
pun harus diperas menjadi sari pati yang kita kenal sebagai santan.
Setelah santan dimasak & diproses, barulah kita bisa menikmati
makanan yang lezat. Lihatlah pada sebutir kelapa tadi. Kalo dia hanya
‘anteng’ di atas pohon, dia tidak akan bermanfaat, bukan? Kalau
si kelapa tadi menyerah saat ia jatuh pertama kali, dia akan
teronggok tak berguna. Kalau dia tak mau dikuliti, dipecah, diperas
dsb, prosesnya akan berhenti, si kelapa itu tidak mendatangkan
manfaat. Perjalanan yang ditempuh sebutir kelapa, bisa diasumsikan
kepada kehidupan yang dijalani oleh kita. Untuk menjadi manusia yang
penuh manfaat, hebat & sukses, kita akan diuji melalui proses
jatuh, sakit, & terluka. Bila jatuh, segeralah bangun... Abaikan
rasa sakit & obati bagian tubuh yang luka. PELAJARI dengan BENAR,
APA yang MENYEBABKAN JATUH ATAU JALAN MANA yang HARUS DIPILIH, AGAR
TIDAK TERULANG KESALAHAN yang SAMA. Belajarlah dari kelapa, JATUH
BUKAN ALASAN UNTUK MENYERAH!!! “Buluh yang patah terkulai tidak
akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan
dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang” (Matius
12:20). God bless you all.
Xavier
Quentin Pranata
“Orang
yang menghina sesamanya lupa bahwa dia pun terbuat dari debu dan
tanah.” Xavier Quentin Pranata.
Pak
Peter
*"JANGANLAH
KAMU BODOH…"* (Efesus 5:17). Pesan pengajaran untuk 2017.
Bagian 1. Meskipun selalu akan disangkal, tidak sedikit, khususnya
hari-hari ini di Indonesia, orang-orang yang ternyata memilih tinggal
dalam kebodohan. Informasi yang hampir tak terbatas ternyata tidak
membuat orang semakin pandai apalagi berhikmat. Menjadi bodoh
ternyata adalah pilihan. Ketika dilahirkan dan masih kanak-kanak,
kebodohan adalah sesuatu yang masih dapat dianggap wajar. Itulah
sebabnya setiap anak yang bertumbuh harus belajar setiap harinya.
Melalui orang tua, melalui sekitarnya, melalui sekolah formal. Akan
tetapi, ketika usia beranjak dewasa, meninggalkan masa remaja lalu
memasuki usia dewasa maka seharusnya ada perkembangan dan kemajuan
dalam cara berpikir dan menimbang segala sesuatu. Nyatanya, dalam
usia produktif ada begitu banyak orang yang menyerahkan pikirannya
untuk dikuasai kebodohan. Jangankan mengenal Tuhan dan firman-Nya
sejati, akal sehat pun mereka lawan. Ukuran-ukuran moral, keadilan,
penghargaan kepada peradaban dan hak-hak asasi manusia yang telah
dipikirkan serta dirumuskan beratus-ratus tahun demi kebaikan
kehidupan manusia di bumi kini dipertanyakan ulang oleh orang-orang
yang memegang prinsip-prinsip -entah itu diakui berasal dari agama
atau ideologi tertentu- yang jika direnungkan sama sekali tidak
menunjukkan keselarasan, kesejajaran apalagi keadilan di
tengah-tengah kehidupan sosial bermasyarakat yang ada. Orang-orang
ini menganggap diri mereka yang paling benar dan tahu apa yang baik,
tepat dan adil. Padahal jika didalami lebih seksama, ide dan
pandangan mereka bahkan berujung pada sikap merendahkan manusia tak
lebih tinggi dari hewan. Dunia binatang hanya mengenal kawanan mereka
sendiri. Mereka berjuang bertahan hidup melalui seleksi alam. Yang
kuat adalah yang benar dan menentukan nasib yang lain yang lebih
lemah. Bukannya meningkat dalam standar moral kehidupan, mereka yang
memilih kebodohan senang tinggal dalam kebiadaban dan berbagai
keburukan sifat manusia. Adakah oknum di dunia ini yang menyukai
kebodohan? Tentu tidak. Adakah yang bangga ketika anaknya,
saudaranya, keluarganya, kaum atau sukunya hingga bangsanya sendiri
dikenal sebagai orang-orang yang bodoh? Tentu tidak. Adakah yang
menerima disebut dirinya bodoh? Lagi-lagi tidak. Lalu mengapa ada
tindakan dan perbuatan yang melawan akal dan jelas-jelas merupakan
kebodohan dipandang dari nilai-nilai kehidupan yang adil? Jawaban
yang mungkin untuk ini ialah banyak yang tidak tahu bahwa apa yang
mereka percayai dan lakukan adalah kebodohan. Dan ini semakin fatal
ketika hal-hal yang diserap pikiran orang sebagai kebodohan lalu
dihubungkan dengan agama atau yang berhubungan dengan yang ilahi.
Ketika suatu pemahaman diberikan atas nama ilmu atau berita
sehari-hari, kita jauh lebih mudah mengambil sikap menyangsikannya
lebih dahulu. “Itu masih perlu diuji”, demikian orang
meresponnya. “Sebaiknya kita dengar kabar dari sumber yang lain
sebelum percaya,” begitu kita menyikapi berita yang sampai di
telinga kita. Namun, menyikapi suatu informasi yang diembel-embeli
kata “rohani” atau “dari pendeta, ulama atau pemimpin rohani
terkenal dan mempunyai otoritas (entah karena lembaga atau karena
pengikutnya yang masif)” atau disebarkan dengan awalan “Tuhan
berbicara pada saya” atau “saya mendengar malaikat bahkan Tuhan
sendiri bicara di telinga saya” -semuanya membuat kita kesulitan
untuk mempertanyakannya. Budaya ketimuran yang penuh penghargaan pada
otoritas ditambah cara komunikasi yang tidak _to the point_ dan lebih
memendam pendapat atau perasaan kita membuat apa yang terasa
mengganjal, ganjil atau sepertinya belum jelas cenderung diterima
begitu saja. Lebih-lebih ketika atas semua informasi itu diselipkan
pesan bahwa mempertanyakan hal itu dapat berakibat fatal. Itu akan
dianggap kurang ajar. Tidak tunduk pada otoritas. Pemberontak.
Melawan orang yang diurapi Tuhan. Sombong rohani. Dan semua predikat
negatif lain yang mungkin saja memang merupakan sifat beberapa
pribadi yang mengeraskan hati dan suka melawan. Sayangnya, tanpa
benar-benar disadari ini lalu turut membungkam pencari-pencari
kebenaran sejati, yang rindu membedakan kehendak Tuhan dan ingin
lebih lagi hidup dalam kebenaran sejati. Akibatnya, ajaran-ajaran
atau nubuatan-nubuatan tidak teruji. Semuanya mengklaim sebagai
nubuat yang benar dan berasal dari Tuhan padahal jika diteliti
semuanya itu tidak mungkin saling melengkapi karena pandangan dan
arah isi pesan-pesan tersebut berbeda atau seringkali bertolak
belakang. Akibatnya, jemaat juga para pemimpin rohani yang mengikuti
prinsip kesantunan dan kesopanan adat ketimuran ini jatuh pada
kebodohan yang lebih dalam. Semua nubuatan diterima sebagai dari
Tuhan dan berusaha disatukan. Yang tentu saja ini tidak akan berhasil
selain hanya membawa mereka pada lorong-lorong labirin tak berujung
yang membingungkan sampai mereka menyadari bahwa mereka harus
meneliti dan menguji lebih dalam lagi untuk mengetahui mana yang
benar-benar berasal dari Tuhan. Jika membedakan mana yang benar dan
salah telah menjadi sulit, bagaimana kita akan membedakan mana yang
benar dan hampir benar? Yang sejati dan yang tiruan dari yang asli?
Yang murni dengan yang kelihatan murni? Yang benar-benar dari Tuhan
atau yang sepertinya dari Tuhan namun bukan? Yang benar-benar
didasarkan ajaran Alkitab yang sehat dan mana yang hanya otak-atik
pikiran manusia? Kita yang menyebut diri Kristen dan mengakui Yesus
Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tidak hanya dipanggil untuk
percaya lalu hidup dengan cara kita sendiri dan mengikuti kehendak
kita sendiri yang telah kita pikir benar. Tuhan memang memberikan
akal budi pada kita. Namun sadarkah jika akal budi atau pikiran kita
perlu selalu dibaharui? (Tim. 12:2; Ef. 4:23; Kol. 3:10). Dan tahukah
Anda bahwa kita dipanggil bukan hanya untuk sekedar menjalani hidup
di dunia ini sampai umur kita genap selalu pindah berkediaman di
sorga? Percaya kepada Yesus lebih dari sekedar itu. Kita dipanggil
untuk mengerjakan keselamatan: Filipi 2:12 Hai saudara-saudaraku yang
kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan
keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku
masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir.
Untuk hidup dalam takut akan Dia: 1 Petrus 1:17 Dan jika kamu
menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi
semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam
ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini. Untuk mengikuti jejak
Kristus dan hidup sama seperti Dia hidup. 1 Petrus 2:21 Sebab untuk
itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu
dan telah meninggalkan teladan bagimu, SUPAYA KAMU MENGIKUTI
JEJAK-NYA. 1 Yohanes 2:6 Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di
dalam Dia, ia WAJIB HIDUP SAMA SEPERTI KRISTUS TELAH HIDUP. Bahkan
untuk MENGIKUT DIA KEMANAPUN DIA PERGI. Lukas 9:23 Kata-Nya kepada
mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus
menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”
Tuhan tidak sekedar mencari orang yang percaya. Ia mencari orang yang
mau mempercayakan hidup di tangan-Nya. Tuhan tidak hanya merindukan
orang menyembah secara seremonial di tempat ibadah. Ia mencari mereka
yang hidupnya memperagakan suatu penyembahan, ketaatan dan penundukan
pada hukum-hukum dan kedaulatan-Nya. Tuhan tidak cukup dengan
menemukan orang-orang yang merasa rohani dengan menjadi Kristen,
aktif di pelayanan gereja atau memberikan sumbangan untuk kebutuhan
pelayanan. Ia ingin menemukan orang-orang yang mencari tahu
sepenuh-penuhnya kehendak Tuhan dalam hidup mereka. Lalu menyerahkan
diri pada rencana dan kehendak Tuhan itu sepanjang umurnya. Kristus
mencari orang-orang yang mau mengikut Dia kemanapun Dia bergerak,
berada dan menuju. Dia sudah merancang setiap kita untuk tujuan itu.
Yaitu untuk menerima pimpinan, tugas dan amanat sebagaimana Dia
menuntun kita ke tempat yang ditunjukkan-Nya dan untuk melakukan
tugas panggilan yang diberikan-Nya pada kita. Mengikut Tuhan itu
serupa mengikut tiang awan dan tiang api. Jika tiang-tiang itu
bergerak, maka barulah umat Tuhan bergerak. Jika tiang itu berhenti
maka kitapun harus berdiam diri. Pada zaman Musa itu relatif lebih
mudah secara fisik sebab tiang-tiang itu terlihat mata jasmani. Meski
begitu, merelakan dan mendisiplin diri mengikuti pimpinan Tuhan masih
merupakan pergumulan besar hingga ribuan tahun kemudian. Hari ini,
tiang awan dan tiap api itu adalah Roh Kudus, yang juga adalah Roh
Kristus sendiri, telah diberikan sebagai penuntun hidup kita. Itu
sebabnya kita diperintahkan supaya : “Berjalanlah kamu dengan Roh,
niscaya kehendak tabiat duniawi tiada akan kamu genapkan” (Gal.
5:16, TL). Hanya dengan tepat mengikuti pimpinan Roh Kudus saja maka
kita pun menjadi pengikut Kristus. Sebab Roh Kudus akan selalu
menuntun dan membawa kita pada Kristus, Sang Kebenaran itu sendiri
(Yoh. 15:26). Dan sejauh mana kita mengenali pimpinan-Nya, maka
sejauh itu pula kita akan masuk dalam kepenuhan kehendak Tuhan dalam
hidup kita. Kegagalan kita mengikuti pimpinan-Nya mengakibatkan kita
mempraktekkan perbuatan-perbuatan yang duniawi, jauh dari sifat dan
kehendak Tuhan. Kita akan kembali tinggal dalam kebodohan. Melakukan
hal-hal bodoh seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah
seberapapun kita mengklaim diri kita sedang melakukan
pekerjaan-pekerjaan Allah.
“YANG
HAMPIR BENAR”. Peristiwa jatuhnya manusia dalam dosa pertama
kalinya di taman Eden memberitahukan kita bahwa manusia merupakan
makhluk yang lemah dan terbuka terhadap tipuan. Kejadian pasal 3
memberikan beberapa gambaran penting bagaimana manusia akhirnya
percaya pada perkataan iblis daripada perintah Allah. Bagaimana
mungkin Adam dan Hawa yang begitu intim dan telah menjalani hari-hari
mereka begitu lama dengan Allah akhirnya lebih memilih percaya pada
perkataan setan? Iblis memberitahu Hawa, “Sekali-kali kamu tidak
akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya
matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu
tentang yang baik dan yang jahat” (Kej. 3:4-5). Walaupun sebelumnya
Hawa percaya bahwa jika ia makan buah pohon terlarang itu ia akan
mati namun percakapan yang berlanjut dari waktu ke waktu disertai
bujukan demi bujukan membuat Hawa terpikat. Hawa mengambil lalu
memakannya bersama dengan suaminya (yang rupanya terbujuk oleh
istrinya): Kejadian 3:6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu
baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik
hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan
dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama
dengan dia, dan suaminya pun memakannya. Hasutan iblis masuk ke dalam
pikiran Hawa dan ajakan Hawa (yang keliru) mempengaruhi Adam. Padahal
nyata-nyata mereka tahu bahwa itu melanggar perintah Tuhan. Iblis
berhasil memunculkan keinginan-keinginan tidak kudus dalam diri
manusia-manusia pertama itu. Yaitu mereka akan menjadi lebih baik,
lebih pandai, lebih berhikmat, bahkan abadi di luar Allah dan tanpa
Allah. Iblis telah meyakinkan mereka bahwa Allah berdusta dan dia
yang benar. Bahwa Allah punya agenda-agenda egois dan rasa tidak aman
sehingga perlu menyembunyikan sesuatu dari manusia. Si jahat telah
memfitnah Tuhan dan ia berhasil. Manusia percaya akan kebohongan
iblis dan membuktikannya dengan melanggar satu-satunya larangan yang
diberikan Tuhan pada mereka waktu itu. Adam dan Hawa telah percaya
pada dusta dan bukan perkataan Allah. Seandainya mereka mau memahami
apa maksud Allah, mencari tahu mengapa mereka dilarang makan pohon
pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu sehingga mereka
memahami makna perintah Tuhan itu secara mendalam sesungguhnya sukar
bagi iblis untuk melancarkan kebohongannya. Dan demikianlah cara
iblis hingga kini, beribu tahun kemudian. Oknum jahat ini membuat
manusia tertipu dengan cara entah membuat manusia tidak tahu hukum
atau perintah Tuhan ATAU bagi yang tahu pesan firman dibuatnya
mereka meragukannya bahkan mencurigai Allah ATAU bahkan dengan
cara yang lebih halus lagi menyesatkan manusia dengan berbagai-bagai
dusta dimana penguasa kegelapan ini menggunakan berbagai cara supaya
orang lebih percaya kepadanya daripada Tuhan. Salah satu cara paling
ampuh untuk menipu manusia adalah dengan membuat manusia berpikir
ulang akan apa yang benar dengan cara menyodorkan pemikiran-pemikiran
yang keliru (seperti dalam kisah jatuhnya Adam dan Hawa) atau jika
itu tidak berhasil, ia akan menyampaikan sesuatu yang mirip bahkan
jika mungkin sangat mirip dengan kebenaran. Itulah sesuatu YANG
HAMPIR BENAR atau YANG SEPERTINYA BENAR. Perbedaan antara apa yang
benar dengan yang sepertinya benar dapat menghasilkan respon yang
sama dalam diri manusia. Sebagai makhluk yang memiliki emosi maka
emosi kerap menjadi tanda awal respon kita terhadap sesuatu. Dari
emosi ini pula kita dapat melihat bahwa respon yang sama terjadi saat
kita menangkap sesuatu entah itu yang benar atau yang hampir benar.
Contohnya seperti menonton sebuah film. Percintaan, hantu, peristiwa
alam, adegan seru maupun cerita yang disampaikan -kita tahu- bahwa
itu sama sekali tidak benar-benar terjadi. Itu hanya sepertinya benar
namun bukan sesuatu yang sesungguhnya. Bagaimana respon kita?
Tidak sedikit yang tergoncang emosi bahkan pikirannya oleh apa yang
ditampilkan film-film tersebut. Malah terkadang seseorang begitu
tersentuh dengan penderitaan tokoh di suatu film sedangkan terhadap
realitas di sekitarnya hatinya penuh curiga dan apatis! Emosi kita
tidak mampu membedakan mana yang benar dan hampir benar. Sesuatu yang
membekaskan kesan yang kuat bisa membuat kita bertindak tanpa pikir
panjang setelah gejolak emosi yang sangat kuat membuat kita
meyakininya sebagai suatu kebenaran. Emosi tidak menguji atau
berpikir secara sehat. Ia hanya merasa dan menuntut tindakan segera.
Permainan emosi dalam pengajaran atau penyebaran agama bisa membuat
orang seolah mengambil keputusan untuk bertobat atau -yang lebih
absurd- mengorbankan diri sebagai pelaku bom bunuh diri. Untuk
membedakan mana yang benar dan hampir benar tidak bisa diukur oleh
emosi belaka. Apalagi emosi yang dibangkitkan terhubung dengan
keinginan-keinginan kita yang egois dan sangat mementingkan diri.
Sebagai contoh, ajaran mengenai kehidupan penuh kelimpahan
berkat-berkat jasmani atau hidup sukses secara duniawi akan cepat
diterima jika disampaikan dengan berbagai kesaksian dan kisah-kisah
menakjubkan yang membangkitkan emosi pendengarnya. Ditambah dukungan
argumentasi pengkhotbahnya, ayat-ayat yang diangkat dan ditafsirkan
mendukung pandangan tersebut serta disampaikan oleh tokoh rohani yang
dipandang sukses dalam pelayanan makin menancapkan pesan itu di
pikiran orang-orang. Dan Itu akan segera dipegang sebagai suatu
pengajaran yang benar saat hati pendengarnya menginginkan hidup yang
mudah dan berlimpah uang dan kesenangan selama di dunia.
Pertanyaannya, apakah dengan semua faktor di atas lalu pengajaran
tentang kemakmuran hidup jasmani melalui percaya Yesus sudah dapat
dianggap sebagai suatu kebenaran? Belum tentu! Kita harus mengenal
pribadi Tuhan serta jalan-jalan-Nya untuk memastikan setiap apa yang
disampaikan dan diajarkan kepada kita benar-benar berasal dari
pikiran dan hati-Nya -mengingat risiko penyesatan yang sangat halus
oleh iblis yang selalu bermaksud menipu kita. Teladan menghadapi
tipuan iblis yang begitu halus dan berkemenangan atasnya ialah dari
Yesus Kistus sendiri. Setelah berpuasa 40 hari 40 malam, Yesus
dicobai di padang gurun. Dari tiga pencobaan yang Yesus terima, satu
serupa dengan pencobaan iblis kepada Hawa. Dua yang lainnya merupakan
pencobaan yang memerlukan membedakan yang benar dan hampir benar.
Yang
satu dalam Lukas 4:5-6, “Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat
yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua
kerajaan dunia. Kata Iblis kepada-Nya: ‘Segala kuasa itu serta
kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah
diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang
kukehendaki.‘” Iblis mencoba membangkitkan hawa nafsu manusiawi
Yesus dengan menawarkan segala kebebasan semu pada Yesus -seperti
iblis menawarkan pengertian dan keabadian pada Hawa. Dua lainnya
ialah: “Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai
Iblis. Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia
lapar. Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: ‘Jika Engkau Anak Allah,
suruhlah batu ini menjadi roti.‘” Lalu… “Kemudian ia membawa
Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu
berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu
dari sini ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan
memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, dan
mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan
terantuk kepada batu” (Luk. 4:2-3, 9-11). Pencobaan yang pertama.
Bujukan iblis supaya Yesus mengubah batu menjadi roti didasarkan pada
kondisi Yesus yang lapar dan belum ada makanan di sana. Iblis
berusaha membuat Yesus berpikir bahwa KARENA YESUS ANAK ALLAH, MAKA
SEHARUSNYA SAH DAN BERHAK MEMINTA ATAU BAHKAN MENGADAKAN MUJIZAT,
lebih-lebih jika kondisinya sedang sangat memerlukan. Sepertinya
tidak asing di masa kini dimana di mimbar-mimbar gereja kita
diajarkan supaya kita berlomba mengharapkan mujizat khususnya di saat
krisis ekonomi maupun kondisi tahun 2017 yang dinubuatkan akan banyak
mengalami kegoncangan karena disebut-sebut sebagai Tahun Pedang itu.
Dan bukankah kita anak-anak Allah yang diberi otoritas untuk
mengadakan bahkan menuai mujizat? Sayangnya itu tidak benar. Itu
hampir benar tetapi itu tidak benar. Apa buktinya? Buktinya ialah
YESUS TIDAK MELAKUKAN APA YANG DISARANKAN IBLIS ITU! Itu permainan
pikiran dari iblis saja sesungguhnya. Yesus malah memberikan jawaban,
“Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja” (Luk. 4:4).
Jawaban Yesus tidak berarti Dia menentang mujizat atau tidak percaya
mujizat bisa terjadi. Bukankah setelah itu justru Dia banyak
mengadakan mujizat? Tidakkah Dia yang melipatgandakan roti untuk
memberi makan lima ribu orang? Dan seandainya Ia menggunakan
kemampuannya mengadakan dan menggandakan sesuatu maka Ia tidak akan
hidup miskin? Tetapi, jawaban Yesus bermaksud menelanjangi pemikiran
menyesatkan dari iblis yang hampir benar tetapi tidak benar itu. YANG
HAMPIR BENAR ialah bahwa anak Allah punya otoritas untuk mengadakan
perkara-perkara besar atau tanda-tanda dan mujizat dalam hidupnya.
Itu sebabnya harapkanlah mujizat. Dalam berbagai bidang kehidupan
kita: dalam keuangan, kesembuhan, kelancaran usaha, kehidupan yang
nyaman dan selalu baik kondisinya. Tidak ada penyakit, kemiskinan
atau penderitaan menimpa mereka yang percaya Yesus. TETAPI YANG BENAR
ialah seperti apa yang Yesus katakan. Berdasar pada firman dalam
Taurat, Yesus berkata bahwa manusia hidup bukan hanya oleh roti
tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Mat. 4:4).
Yang artinya bahwa kebutuhan jasmani BUKANLAH YANG TERUTAMA
SAMPAI-SAMPAI HARUS MENGGUNAKAN (atau tepatnya menyalahgunakan) KUASA
ALLAH DEMI MEMENUHI TUJUAN DAN KEPENTINGAN-KEPENTINGAN DIRI SENDIRI
WALAUPUN TAMPAKNYA BAIK DAN PERLU. Ada suatu kebenaran penting di
sini yaitu bahwa kuasa dan otoritas dari Tuhan sebagai anak-anak-Nya
haruslah kita pergunakan sesuai kehendak dan petunjuk-Nya, sesuai
perintah yang keluar dari mulut-Nya sendiri. Dan bahwa kuasa sabda
Allah saja yang menopang hidup kita dan menjadikan hidup ini hidup
yang sejati. Firman-Nyalah yang harus kita cari dan temukan sebagai
kelangsungan hidup kita di dunia ini. Jauh melebihi
kebutuhan-kebutuhan hidup jasmani yang pokok sekalipun! (Mat. 6:33)
Selanjutnya iblis menggunakan tipu muslihat yang jauh lebih halus
untuk menjebak Yesus. Kali ini ia menggunakan firman tertulis seperti
yang Yesus gunakan menjawab dia. Iblis menantang Yesus menjatuhkan
diri dari bubungan (bagian/puncak tertinggi) bait Allah dan mengajak
Yesus mengklaim firman berkat perlindungan sebagaimana ditulis dalam
Mazmur 91:11-12 bahwa Tuhan di sorga akan memerintahkan
malaikat-malaikat-Nya melindungi Yesus, menatang-Nya dan tidak akan
membiarkan kaki-Nya terantuk. Yesus dicobai untuk “bertindak
berdasarkan firman Tuhan”! Adakah pencobaan yang lebih menyesatkan
daripada dorongan untuk kita bertindak atas dasar firman dan janji
Tuhan???? Bukankah tidak juga terdengar asing hari ini apabila jemaat
didorong melakukan klaim atas janji firman Tuhan atau melakukan
berbagai deklarasi yang menyatakan bahwa segala berkat-berkat dan
kekayaan yang berlimpah-limpah atau apapun yang diinginkan yang telah
disuratkan dalam Alkitab akan diberikan dan menjadi milik kita?
Seringkali demi memenuhi cita-cita atau target-target penghidupan
pribadi atau demi terwujudnya pelayanan yang semakin besar secara
tampak luar, semuanya dinaikkan di hadapan Tuhan atas dasar bahwa
kita anak-anak Bapa yang memiliki jaminan dari firman Tuhan.
Lagi-lagi inipun tidak benar. Ini hampir benar tetapi meleset dari
kebenaran sejati. Yesus pun menolak bujukan ini. Dalam hikmat-Nya,
Yesus kembali menjawab. Tetap berdasarkan firman tertulis yang
menunjukkan bagaimana dalamnya Yesus mengetahui setiap makna dan
maksud firman tertulis yang selama ribuan tahun telah diajarkan di
Israel, Yesus berkata, “Ada pula tertulis: Janganlah engkau
mencobai Tuhan, Allahmu!” (Mat. 4:7). Jawaban Yesus juga bukan
merupakan penentangan terhadap tindakan deklarasi atau memperkatakan
janji Tuhan dalam hidup kita. Dia sendiri percaya dan mengklaim
firman saat mengajar, menyembuhkan orang sakit dan mengadakan banyak
mujizat sepanjang pelayanan-Nya. Yang disasar Yesus ialah motif-motif
keliru di hati manusia. Bahwa banyak orang yang memandang dirinya
begitu tinggi tanpa memperkirakan posisi dan kondisi mereka di
hadapan Tuhan sehingga dengan enteng merasa mendapat jaminan dan
dukungan dari sorga untuk apapun yang mereka lakukan dan untuk apapun
yang mereka inginkan. YANG HAMPIR BENAR mengatakan bahwa karena kita
anak Allah dan telah tertulis dalam firman Tuhan bahwa kita dijamin
oleh Allah maka kita boleh melakukan apapun sesuka hati dan tetap
akan memperoleh pertolongan bahkan penyelamatan dari Allah sendiri.
Oleh sebab kita adalah putra putri sorgawi maka tidak akan ada yang
membahayakan kita. Kita akan dibela, dijaga, dipelihara, didukung,
diberkati dan diselamatkan terlepas apapun yang kita lakukan selama
di dunia. TETAPI YANG BENAR ialah bahwa saat kita melangkah dengan
kehendak sendiri tanpa perintah dan perkenan Tuhan, menempuh bahaya
dan mengambil risiko demi mengejar tujuan dan keinginan kita pribadi
sambil memohon jaminan dari janji Tuhan yang tersurat dalam kitab
suci maka itu merupakan tindakan yang sembrono, ceroboh bahkan kurang
ajar. Itu seperti memaksa Tuhan menjadi pendukung dan pelayan kita
-yang memenuhi setiap permintaan kita asal didasarkan pada ayat-ayat
kitab suci. Tuhan bukan tukang stempel yang akan menyetujui setiap
tindakan dan langkah kita. Dia juga bukan orang tua pikun atau rabun
matanya seperti Ishak (Kej. 27:1) yang mudah dimanfaatkan anaknya
yang penuh tipuan. Setiap kita harus menanggung konsekuensi atas
perbuatan dan keputusan kita sendiri yang tidak seturut ijin dan
kehendak Tuhan (Yak. 4:13-14) , lebih-lebih yang berdosa dan melawan
perintah-Nya. Meminta Tuhan memberkati apa yang tidak dikenan-Nya
sama dengan menguji dan menantang Tuhan. Itu merupakan suatu
kejahatan di hadapan Tuhan. Sama sekali bukan sikap yang akan
disetujui dan mendapat pujian dari Tuhan.
*MENINGGALKAN
KEBODOHAN*. Mengetahui betapa licin dan bulusnya iblis, maka sudah
selayaknya kita memiliki sikap hati yang benar. Kita harus menjaga
hati kita supaya selalu dalam keadaan peka dan senantiasa tertuju
pada Tuhan. Untuk selalu belajar akan jalan-jalan-Nya. Untuk menerima
pimpinan dan tuntunan ilahi setiap waktu. Supaya kita senantiasa
berjalan di jalan yang benar sesuai yang ditunjukkan sang gembala
yang baik dan supaya kita tidak sesat dan dikalahkan oleh kuasa
gelap. Amsal 5:22-23 berkata, “Orang fasik tertangkap dalam
kejahatannya, dan terjerat dalam tali dosanya sendiri. Ia mati,
karena tidak menerima didikan dan karena KEBODOHANNYA yang besar ia
tersesat.” Jelaslah, Iblis mengetahui bahwa kebodohan adalah salah
satu kunci untuk membawa manusia dalam jurang-jurang dosa yang dalam
hingga binasa, jauh dari Tuhan. Langkah pertama dari semuanya dimulai
ketika kita memutuskan mulai hidup dalam hikmat Tuhan dan menolak
tinggal dalam kebodohan. Untuk itu kita harus membuka telinga rohani
kita bagi pengajaran yang benar, nasehat yang murni dan pesan
nubuatan yang sejati. Mengikut Kristus bukan sekedar karena dorongan
emosi, mencari sensasi rohani atau antusias menghadiri ibadah yang
sekedar menggembirakan suasana hati. Kita harus meluangkan waktu
untuk merenung, berdoa, menyelidiki firman Tuhan dan menguji
berbagai-bagai angin pengajaran maupun simpang siurnya pesan yang
menyebut diri sebagai suara profetik. Penting pula kita mencari
sumber-sumber yang benar, yang oleh pimpinan dan peneguhan Roh Kudus
menjadi komunitas atau tempat kita menerima bimbingan ajaran Tuhan
yang murni. Lebih daripada zaman manapun sebelumnya, di masa dimana
informasi tersedia melebihi yang dapat kita tampung, kita memerlukan
ketajaman untuk membedakan mana yang benar-benar terbit dari hati dan
pikiran Tuhan dan mana yang bukan. Pengetahuan theologia saja tidak
pernah cukup. Pengalaman bertahun-tahun sebagai aktivis gereja
belumlah memadai. Apalagi pengenalan yang ala kadarnya yang hanya
diperoleh melalui satu jam mendengar khotbah pendeta di hari Minggu.
Kita harus memiliki pengalaman dengan Tuhan dan mengenal Dia secara
pribadi lalu menyelidiki jalan-jalan kebenaran-Nya yang murni.
Mengapa? Sebab yang harus kita kenali bukan saja antara yang benar
dan yang salah tetapi antara yang benar dan hampir benar. Selisih
satu derajat dalam penunjuk arah mungkin terlihat kecil dan sepele
saja. Namun jika kita melanjutkan langkah kita mengikuti arah yang
sedikit menyimpang itu maka kita akan sampai pada lokasi yang jauh
dari tujuan semula!
Yang
tidak memahami jalan dan cara Tuhan akan tersesat. Mereka lalu
menyesatkan orang lain dan makin disesatkan yang lainnya lagi:
“…sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka
menyesatkan dan disesatkan” (2 Tim. 3:13). Kasih karunia Tuhan akan
menolong kita berubah. Untuk meninggalkan pikiran dan gaya hidup yang
bodoh menjadi pribadi-pribadi berhikmat dan bijaksana selama menapak
kehidupan di dunia. Paulus berpesan pada jemaat Efesus, “Sebab itu
JANGANLAH KAMU BODOH…” (Ef. 5:17) merupakan pesan yang relevan
dan penting bagi kita dan bangsa kita yang sedang dipengaruhi kuasa
gelap untuk tinggal dalam kebodohan bahkan menjadi ahli dalam
kebodohan seperti sekarang ini. Hanya mereka yang memiliki pikiran
Allah dan mengetahui kehendak-Nya yang lolos dari perangkap-perangkap
kebodohan yang telah dipasang dengan sangat sistematis dan licik
dalam berbagai aspek kehidupan di Indonesia. Kita akan mendalami
pesan Paulus itu dalam bagian berikutnya dari tulisan ini. Iblis
menyukai kebodohan karena memudahkannya mengendalikan manusia untuk
melakukan kejahatan dan melawan Tuhan. Sebaliknya, Tuhan yang penuh
hikmat akan menjadikan kita berhikmat dan bijaksana -saat kita
bergaul dan berjalan bersama Dia setiap hari. Tinggalkan kebodohan.
Jadilah murid dan belajar pada Kristus (Mat. 11:29). Jangan memandang
diri Anda terlalu tinggi. Miliki kerendahan hati untuk diajar.
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah
bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala
lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap
dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; Hai
anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau
bosan akan peringatan-Nya. Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang
dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi.
Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh
kepandaian” (Amsal 3:5-7, 11-13). SALAM REVIVAL. INDONESIA PENUH
KEMULIAAN TUHAN!

No comments:
Post a Comment