Adakah hari hari ini kita merasa takut? Takut tentang masa
depan, takut bila bisnisnya tidak berjalan lancar? Takut gagal? Takut....?
Percayalah: “TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku
harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus
gemetar?” (Mazmur 27:1) Amin!
Respon 1
Sebab Aku ini, TUHAN, Allahmu, memegang tangan kananmu dan
berkata kepadamu: “Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau.” (Yesaya
41:13) Halleluyah!
Respon 2
Kamis, 2 Oktober 2014. Bacaan: Amsal 18:14-24. Setahun:
Matius 5-6. Nats: Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya,
akan memakan buahnya (Amsal 18:21). MENGGEMAKAN YANG BAIK. Seorang ibu memiliki
anak berusia 15 tahun yang suka membuat onar. Ia mendatangi pendeta, meminta
anak itu didoakan, tapi pendeta menolaknya. “Tidak ada gunanya selama Ibu terus
berkata bahwa ia tidak maju-maju dalam hidupnya. Jika saya berdoa untuk
kebaikannya, tetapi Ibu mengatakan hal-hal yang buruk tentang dia, hal itu akan
membatalkan doa saya,” kata pendeta. “Lalu apa yang mesti saya perbuat?” tanya
si ibu. “Setiap hari katakanlah, 'Tuhan, dalam pemeliharaan-Mu, aku percaya
anak-Ku akan berhasil. Ia akan menjadi anak yang baik dan taat.'” Lima belas
bulan kemudian, pendeta itu kembali bertemu dengan ibu tadi. Dengan bersemangat
si ibu bercerita anaknya sudah berubah. Menurut
Amsal, perkataan yang kerap kita gemakan dapat menjadi kenyataan. Kalau begitu,
perkataan apakah yang sering kita ucapkan kepada pasangan, anak, dan orang di
sekitar kita? Apakah kita lebih sering menggemakan hal-hal yang buruk: pasangan
yang tidak bisa dindalkan, anak-anak yang payah, teman yang tidak berguna?
Ataukah, kita lebih banyak menga-takan hal-hal yang membangun, memberkati, dan
menguatkan? Bila kita menyadari besarnya pengaruh perkataan dalam turut
membentuk kondisi kehidupan kita, ikut memengaruhi kesuksesan dan kegagalan
kita, tentu kita akan lebih berhati-hati dalam berkata-kata. Biarlah hati kita
dipenuhi dengan kebenaran dan keindahan firman Tuhan sehingga perkataan lidah
kita yang memancar dari sana mendatangkan kebaikan dan kesejahteraan bagi
sesama. --Imelda Saputra. BIARLAH PERKATAAN KITA MENGGEMAKAN KEBAIKAN; BIARLAH PERKATAAN KITA MENDATANGKAN KESEJAHTERAAN.
Respon 3
Maz 107:30, “Mereka BERSUKACITA, sebab badai reda dan
dituntun-NYA mereka ke pelabuhan kesukaan mereka!” Luar biasa penyertaan TUHAN,
ditolong sampai tuntas! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 4
SAAT TEDUH. Kamis, 2 Oktober 2014. Manusia Baru. “Jadi,
siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah
berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Korintus 5:17). Mungkinkah
kita sebagai manusia baru dalam Kristus menaati perintah Allah? Misalnya
perintah “hidup di dalam Roh” (Gal. 5:16). “Kasihilah musuh-mu”. “Janganlah
membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan”. “Berdoalah
bagi orang yang menganiaya kamu”.
“Bila seterumu lapar, berilah dia makan dan bila ia dahaga berilah minum”.
Jawabannya bukan cuma “mungkin”, tetapi: manusia yang sudah dilahirkan baru
dalam Kristus, pasti bisa melakukannya! Mengapa? Sebab kita sudah dimerdekakan
Kristus dari kuasa dosa (Roma 8:2), dan diberi-Nya kuasa untuk menjadi anak
Allah (Yoh. 1:14). Dalam Kristus, Allah melimpahi kita dengan kasih dan
kemurahan-Nya (1 Yoh. 3:1). Kristus tinggal dalam hidup kita hingga hati kita
meluber dengan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemu-rahan,
kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal. 5:22-23). Ya!
Kesada-ran bahwa Tuhan begitu mencintai kita yang hina dan tak layak karena
dosa, dan memer-dekakan kita dari belenggu dosa, membuat kita memiliki
persediaan kasih, pengampunan, kebaikan, dan kemurahan yang begitu melim-pah.
Semuanya bisa kita bagikan kepada setiap orang yang ada di sepanjang perjalanan
hidup kita. Ingatlah kisah wanita pendosa yang diampuni
dosanya (bdk. Yoh. 4:13-14, Luk. 7:41-48). Ketika dengan penuh kasih Kristus
mengasihi dan memberinya hidup baru, dari hatinya muncul kasih yang meluap dan
cukup untuk dibagikan kepada semua orang. Apakah Anda juga mengalami hal ini?
Jika ya, bagikanlah! KETIKA KRISTUS MENJAMAH KITA DENGAN KASIH, KITA PUNYA
KASIH YANG MELIMPAH UNTUK DIBAGIKAN PADA ORANG LAIN. Selamat Pagi. Tuhan Yesus
member-kati.
Respon 5
Thank you Tante, rencana Tuhan indah pada waktunya meskipun
terkadang kita nggak mengerti apa maksudnya tapi saya percaya Dia memberikan
yang terbaik.
Respon 6
The successful leader must plan his work and work his plan. Pemimpin
yang berhasil harus merencanakan pekerjaannya dan mengerjakan perencanaannya.
Galatia 6:1, “Saudara-saudara, kalaupun seseorang kedapatan melakukan suatu
pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar
dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan
kena pencobaan.” Pemimpin harus memiliki integritas artinya perkataan dan
perbuatan harus sama, menjadi teladan terlebih dahulu. Pemimpin harus Humble / rendah
hati, tidak arogan karena terkesan tidak mau mendengarkan para pengikutnya,
jangan memperlakukan pengikutnya sebagai obyek untuk memuaskan keinginan sang
pemimpin. Humanity rasa kemanusiaan, seorang pemimpin harus tetap sadar bahwa
para pengikutnya hanya manusia biasa yang bisa kelaparan, kelelahan, sakit,
marah, kecewa dan kehilangan keyakinan. Seorang pemimpin perlu menemukan energi
yang baru sebelum menularkan energi tersebut kepada para pengikutnya.
Cara menularkan dengan bisa menceritakan (mengkomunikasikan) impian yang hendak
dicapainya dengan bahasa yang memotivasi. Tentunya dengan alasan mengapa impian
itu harus diraih bersama-sama, semakin para pengikut dapat memahami, akan
semakin kuat memotivasi mereka untuk mengikutinya. The function of leadership
is to produce more leaders, not more followers . Fungsi dari kepemimpinan
adalah untuk menciptakan lebih banyak pemimpin, bukan pengikut.
No comments:
Post a Comment