Thursday, 2 October 2014

2 Oktober 2014 - Adakah hari ini kita merasa takut?



Adakah hari hari ini kita merasa takut? Takut tentang masa depan, takut bila bisnisnya tidak berjalan lancar? Takut gagal? Takut....? Percayalah: “TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” (Mazmur 27:1) Amin!

Respon 1
Sebab Aku ini, TUHAN, Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: “Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau.” (Yesaya 41:13) Halleluyah! 


Respon 2
Kamis, 2 Oktober 2014. Bacaan: Amsal 18:14-24. Setahun: Matius 5-6. Nats: Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya (Amsal 18:21). MENGGEMAKAN YANG BAIK. Seorang ibu memiliki anak berusia 15 tahun yang suka membuat onar. Ia mendatangi pendeta, meminta anak itu didoakan, tapi pendeta menolaknya. “Tidak ada gunanya selama Ibu terus berkata bahwa ia tidak maju-maju dalam hidupnya. Jika saya berdoa untuk kebaikannya, tetapi Ibu mengatakan hal-hal yang buruk tentang dia, hal itu akan membatalkan doa saya,” kata pendeta. “Lalu apa yang mesti saya perbuat?” tanya si ibu. “Setiap hari katakanlah, 'Tuhan, dalam pemeliharaan-Mu, aku percaya anak-Ku akan berhasil. Ia akan menjadi anak yang baik dan taat.'” Lima belas bulan kemudian, pendeta itu kembali bertemu dengan ibu tadi. Dengan bersemangat si ibu bercerita anaknya sudah berubah. Menurut Amsal, perkataan yang kerap kita gemakan dapat menjadi kenyataan. Kalau begitu, perkataan apakah yang sering kita ucapkan kepada pasangan, anak, dan orang di sekitar kita? Apakah kita lebih sering menggemakan hal-hal yang buruk: pasangan yang tidak bisa dindalkan, anak-anak yang payah, teman yang tidak berguna? Ataukah, kita lebih banyak menga-takan hal-hal yang membangun, memberkati, dan menguatkan? Bila kita menyadari besarnya pengaruh perkataan dalam turut membentuk kondisi kehidupan kita, ikut memengaruhi kesuksesan dan kegagalan kita, tentu kita akan lebih berhati-hati dalam berkata-kata. Biarlah hati kita dipenuhi dengan kebenaran dan keindahan firman Tuhan sehingga perkataan lidah kita yang memancar dari sana mendatangkan kebaikan dan kesejahteraan bagi sesama. --Imelda Saputra. BIARLAH PERKATAAN KITA MENGGEMAKAN KEBAIKAN; BIARLAH PERKATAAN KITA MENDATANGKAN KESEJAHTERAAN.


Respon 3
Maz 107:30, “Mereka BERSUKACITA, sebab badai reda dan dituntun-NYA mereka ke pelabuhan kesukaan mereka!” Luar biasa penyertaan TUHAN, ditolong sampai tuntas! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 4
SAAT TEDUH. Kamis, 2 Oktober 2014. Manusia Baru. “Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Korintus 5:17). Mungkinkah kita sebagai manusia baru dalam Kristus menaati perintah Allah? Misalnya perintah “hidup di dalam Roh” (Gal. 5:16). “Kasihilah musuh-mu”. “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan   kebaikan”.   “Berdoalah   bagi  orang yang menganiaya kamu”. “Bila seterumu lapar, berilah dia makan dan bila ia dahaga berilah minum”. Jawabannya bukan cuma “mungkin”, tetapi: manusia yang sudah dilahirkan baru dalam Kristus, pasti bisa melakukannya! Mengapa? Sebab kita sudah dimerdekakan Kristus dari kuasa dosa (Roma 8:2), dan diberi-Nya kuasa untuk menjadi anak Allah (Yoh. 1:14). Dalam Kristus, Allah melimpahi kita dengan kasih dan kemurahan-Nya (1 Yoh. 3:1). Kristus tinggal dalam hidup kita hingga hati kita meluber dengan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemu-rahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal. 5:22-23). Ya! Kesada-ran bahwa Tuhan begitu mencintai kita yang hina dan tak layak karena dosa, dan memer-dekakan kita dari belenggu dosa, membuat kita memiliki persediaan kasih, pengampunan, kebaikan, dan kemurahan yang begitu melim-pah. Semuanya bisa kita bagikan kepada setiap orang yang ada di sepanjang perjalanan

hidup kita. Ingatlah kisah wanita pendosa yang diampuni dosanya (bdk. Yoh. 4:13-14, Luk. 7:41-48). Ketika dengan penuh kasih Kristus mengasihi dan memberinya hidup baru, dari hatinya muncul kasih yang meluap dan cukup untuk dibagikan kepada semua orang. Apakah Anda juga mengalami hal ini? Jika ya, bagikanlah! KETIKA KRISTUS MENJAMAH KITA DENGAN KASIH, KITA PUNYA KASIH YANG MELIMPAH UNTUK DIBAGIKAN PADA ORANG LAIN. Selamat Pagi. Tuhan Yesus member-kati.

Respon 5
Thank you Tante, rencana Tuhan indah pada waktunya meskipun terkadang kita nggak mengerti apa maksudnya tapi saya percaya Dia memberikan yang terbaik.

Respon 6
The successful leader must plan his work and work his plan. Pemimpin yang berhasil harus merencanakan pekerjaannya dan mengerjakan perencanaannya. Galatia 6:1, “Saudara-saudara, kalaupun seseorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.” Pemimpin harus memiliki integritas artinya perkataan dan perbuatan harus sama, menjadi teladan terlebih dahulu. Pemimpin harus Humble / rendah hati, tidak arogan karena terkesan tidak mau mendengarkan para pengikutnya, jangan memperlakukan pengikutnya sebagai obyek untuk memuaskan keinginan sang pemimpin. Humanity rasa kemanusiaan, seorang pemimpin harus tetap sadar bahwa para pengikutnya hanya manusia biasa yang bisa kelaparan, kelelahan, sakit, marah, kecewa dan kehilangan keyakinan. Seorang pemimpin perlu menemukan energi yang baru sebelum menularkan energi tersebut kepada para pengikutnya. Cara menularkan dengan bisa menceritakan (mengkomunikasikan) impian yang hendak dicapainya dengan bahasa yang memotivasi. Tentunya dengan alasan mengapa impian itu harus diraih bersama-sama, semakin para pengikut dapat memahami, akan semakin kuat memotivasi mereka untuk mengikutinya. The function of leadership is to produce more leaders, not more followers . Fungsi dari kepemimpinan adalah untuk menciptakan lebih banyak pemimpin, bukan pengikut. 

JESUS BLESS



No comments:

Post a Comment