Friday, 17 October 2014

17 Oktober 2014 - Teladan yang Baik



Filipi 3:17, “Saudara-saudara, ikutilah tela-danku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.” Rasul Paulus ingin kita murid-muridNya menjadi teladan (tupos dalam bahasa Yunani = model = gambar = pola = ideal). Seorang pemimpin harus mejadi teladan dalam kesetiaan, ketekunan & kekudusan. Lebih dari semuanya itu teladan dalam perbuatan, sehingga akan menginspirasi orang lain disekitar kita untuk menjadi lebih baik! Amin.

Respon 1
Yunus 2:2, “Dalam kesusahanku aku berseru kepada  TUHAN,  dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati.” Aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.


Respon 2
1 Sam 16:7; ...Bukan yang diliat orang yang diliat TUHAN, orang cuma liat yang di depan mata, tapi TUHAN melihat HATI! Jangan munafik tapi miliki HATI yang TULUS. Jujur, apa adanya sebab TUHAN pasti tahu lahhh! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 3
SAAT TEDUH. Jumat, 17 Oktober 2014. Perbuatlah! Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang  jahat.  (Lukas  6:35) Konfucius pernah mengemukakan sebuah hukum yang kemudian dikenal sebagai Kaidah Kencana, the golden rule. Bunyinya “Jangan lakukan apa yang engkau tidak ingin orang lain perbuat kepadamu.” Ini adalah salah satu pilar etika Konfucianisme. Dalam bacaan kita, Yesus mengemukakan pesan yang amat mirip dengan rumusan Konfucius. Sabda Yesus, ”Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka” (ay. 31). Beda pengungkapannya: bahasa Konfusius meng-gunakan istilah negatif (”jangan”), sedangkan Yesus menggunakan ungkapan positif (“perbuatlah”). Yesus hendak menunjukkan kepada para pendengarnya bagaimana semestinya hidup sebagai anak-anak Allah (ay. 35). Tolok ukurnya ialah Allah yang “baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” Sikap semacam ini adalah sikap yang murah  hati.  Menyatakan kebaikan dan kasih (dalam pelbagai bentuk) tidak boleh dipengaruhi atau dibatasi oleh kejahatan orang lain. Motif mendasar dari tindakan ini ada di dalam hati sang pemberi, bukan pada sang penerima. Anjuran ini jangan disalahpahami sebagai keharusan yang otomatis ada. Se-baliknya, setiap orang lebih baik memikirkan apa yang bisa ia berikan kepada orang lain daripada memikirkan apa yang orang lain wajib berikan kepada kita. Inilah kemurahan hati. Memberi bukan menuntut diberi. Mau-kah Anda menerapkan nilai-nilai Kerajaan Allah ini, saat ini, mulai dari tempat Anda tinggal? KAIDAH KENCANA YANG YESUS NYATAKAN ADALAH JAWA-BAN, BUKAN SEKADAR NILAI-NILAI KEBAIKAN UNTUK DIKAGUMI. Pagi... TGIF. Tuhan Yesus memberkati.


Respon 4
Syalom. Amin... “Harapan orang benar akan menjadi  sukacita,  tetapi harapan orang fasik menjadi sia-sia.” (Amsal 10:28). Terima kasih ibu Siu, selamat sore. TUHAN memberkati.

JESUS BLESS



No comments:

Post a Comment