Filipi 3:17, “Saudara-saudara, ikutilah tela-danku dan
perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.”
Rasul Paulus ingin kita murid-muridNya menjadi teladan (tupos
dalam bahasa Yunani = model = gambar = pola = ideal). Seorang pemimpin harus
mejadi teladan dalam kesetiaan, ketekunan & kekudusan. Lebih dari semuanya
itu teladan dalam perbuatan, sehingga akan menginspirasi orang
lain disekitar kita untuk menjadi lebih baik! Amin.
Respon 1
Yunus 2:2, “Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan
Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati.” Aku berteriak, dan
Kaudengarkan suaraku.
Respon 2
1 Sam 16:7; ...Bukan yang diliat orang yang diliat TUHAN,
orang cuma liat yang di depan mata, tapi TUHAN melihat HATI! Jangan munafik
tapi miliki HATI yang TULUS. Jujur, apa adanya sebab TUHAN pasti tahu lahhh!
Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 3
SAAT TEDUH. Jumat, 17 Oktober 2014. Perbuatlah! Tetapi kamu,
kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa
mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak
Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu
berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. (Lukas 6:35) Konfucius pernah mengemukakan sebuah hukum
yang kemudian dikenal sebagai Kaidah Kencana, the golden rule. Bunyinya “Jangan
lakukan apa yang engkau tidak ingin orang lain perbuat kepadamu.” Ini adalah
salah satu pilar etika Konfucianisme. Dalam bacaan kita, Yesus mengemukakan
pesan yang amat mirip dengan rumusan Konfucius. Sabda Yesus, ”Dan sebagaimana
kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada
mereka” (ay. 31). Beda pengungkapannya: bahasa Konfusius meng-gunakan istilah
negatif (”jangan”), sedangkan Yesus menggunakan ungkapan positif (“perbuatlah”).
Yesus hendak menunjukkan kepada para pendengarnya bagaimana semestinya hidup
sebagai anak-anak Allah (ay. 35). Tolok ukurnya ialah Allah yang “baik terhadap
orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.”
Sikap semacam ini adalah sikap yang murah hati. Menyatakan
kebaikan dan kasih (dalam pelbagai bentuk) tidak boleh dipengaruhi atau dibatasi
oleh kejahatan orang lain. Motif mendasar dari tindakan ini ada di dalam hati
sang pemberi, bukan pada sang penerima. Anjuran ini jangan disalahpahami
sebagai keharusan yang otomatis ada. Se-baliknya, setiap orang lebih baik
memikirkan apa yang bisa ia berikan kepada orang lain daripada memikirkan apa
yang orang lain wajib berikan kepada kita. Inilah kemurahan hati. Memberi bukan
menuntut diberi. Mau-kah Anda menerapkan nilai-nilai Kerajaan Allah ini, saat
ini, mulai dari tempat Anda tinggal? KAIDAH KENCANA YANG YESUS NYATAKAN ADALAH
JAWA-BAN, BUKAN SEKADAR NILAI-NILAI KEBAIKAN UNTUK DIKAGUMI. Pagi... TGIF.
Tuhan Yesus memberkati.
Respon 4
Syalom. Amin... “Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik menjadi sia-sia.” (Amsal 10:28). Terima kasih ibu Siu,
selamat sore. TUHAN memberkati.
No comments:
Post a Comment