Sunday, 19 October 2014

19 Oktober 2014 - Menjadi Penurut Allah



Efesus 5:1, “Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih.” Kata penurut dari kata mimetes lebih tepat diterjemahkan sebagai peniru sebagai anak-anak Allah. Kita diharapkan meniru DIA, saat kita dilahirkan baru yaitu memilki benih / kodrat Ilahi. 1 Petrus 1:4, “untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat  binasa,  yang  tidak  dapat  cemar  dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.” Sudah selayaknya kita bertingkah laku dalam kodrat yang baru yaitu: menjadi penurut-penurut Allah untuk hidup dalam KASIH “...sebagaimana Kristus Yesus” (Efesus 5:2) Amin!


Respon 1
Yos 24:20. Bila kamu meninggalkan TUHAN, maka IA tidak akan melakukan hal-hal yang baik kepadamu seperti dulu! Ayoo maju terus ikut DIA. Pasti baik, ditolong dan diberkati-NYA. Selamat ibadah dan melayani! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 2
Minggu, 19 Oktober 2014. Bacaan: Yohanes 13:31-35. Setahun: Markus 14-16. Nats: Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu  harus  saling  mengasihi  (Yoh  13:34). 
UJIAN KASIH. Seorang suami tertangkap basah oleh istrinya ketika sedang berseling-kuh. Tak pelak lagi sang istri sangat kecewa. Oleh nasihat seorang konselor pernikahan, mereka meninggalkan aktivitas rutin dan pergi berdua selama beberapa hari. Melewatkan waktu bersama, berdoa, dan bercakap-cakap serta mendengar satu sama lain. Suatu malam, sang suami menemukan sepucuk kartu di atas bantal. Di sana tertulis, “Lebih baik saya melakukan sesuatu bersamamu daripada tidak bersama dirimu. Aku memaafkanmu. Tetap-lah bersama.” Pada seminggu terakhir sebe-lum Yesus dibunuh, Dia memberi perintah tentang bagaimana mempraktikkan kasih. Dia memerintahkan murid-murid untuk saling mengasihi sama seperti Dia mengasihi mereka. Selama ini para murid telah melihat bagaimana Sang Guru mengampuni banyak orang. Mereka telah mengamati bagaimana Dia membalas perlakuan dingin dan tuduhan tidak benar dengan kelemahlembutan. Mereka pun paham bahwa Dia menghendaki mereka untuk mengasihi dengan kesabaran, pengam-punan, dan kebaikan seperti yang sudah ditunjukkan-Nya. Mengasihi pasangan atau siapa pun juga pada akhirnya memang sebuah pilihan. Ketika kita dicobai untuk membalas perlakuan tidak adil orang lain atau mengum-bar kejelekan orang yang telah melukai kita, hendaklah kita memandang pada Yesus, yang pernah mengalaminya, tetapi memilih jalan yang berbeda. Kasih tidak semata-mata berupa kata-kata manis. Kasih menjadi nyata dalam pilihan-pilihan sulit yang kita ambil setiap hari. --Imelda Saputra ISU FUNDA-MENTAL DALAM KEHIDUPAN DAN KITAB SUCI ADALAH KEMAMPUAN DAN KERELAAN UNTUK MENGAM-PUNI SEPERTI ALLAH.

 

JESUS BLESS

No comments:

Post a Comment