Efesus 5:1, “Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah,
seperti anak-anak yang kekasih.” Kata penurut dari kata mimetes
lebih tepat diterjemahkan sebagai peniru sebagai anak-anak Allah. Kita
diharapkan meniru DIA, saat kita dilahirkan baru yaitu memilki benih /
kodrat Ilahi. 1 Petrus 1:4, “untuk menerima
suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat
cemar dan yang tidak dapat layu,
yang tersimpan di sorga bagi kamu.” Sudah selayaknya kita bertingkah laku
dalam kodrat yang baru yaitu: menjadi penurut-penurut Allah untuk hidup
dalam KASIH “...sebagaimana Kristus Yesus” (Efesus 5:2) Amin!
Respon 1
Yos 24:20. Bila kamu meninggalkan TUHAN, maka IA tidak akan
melakukan hal-hal yang baik kepadamu seperti dulu! Ayoo maju terus ikut DIA.
Pasti baik, ditolong dan diberkati-NYA. Selamat ibadah dan melayani! Samuel
Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 2
Minggu, 19 Oktober 2014.
Bacaan: Yohanes 13:31-35. Setahun: Markus 14-16. Nats: Aku memberikan perintah
baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah
mengasihi kamu demikian pula kamu
harus saling mengasihi
(Yoh 13:34).
UJIAN KASIH. Seorang suami tertangkap basah oleh istrinya
ketika sedang berseling-kuh. Tak pelak lagi sang istri sangat kecewa. Oleh
nasihat seorang konselor pernikahan, mereka meninggalkan aktivitas rutin dan
pergi berdua selama beberapa hari. Melewatkan waktu bersama, berdoa, dan
bercakap-cakap serta mendengar satu sama lain. Suatu malam, sang suami
menemukan sepucuk kartu di atas bantal. Di sana tertulis, “Lebih baik saya
melakukan sesuatu bersamamu daripada tidak bersama dirimu. Aku memaafkanmu.
Tetap-lah bersama.” Pada seminggu terakhir sebe-lum Yesus dibunuh, Dia memberi
perintah tentang bagaimana mempraktikkan kasih. Dia memerintahkan murid-murid
untuk saling mengasihi sama seperti Dia mengasihi mereka. Selama ini para murid
telah melihat bagaimana Sang Guru mengampuni banyak orang. Mereka telah
mengamati bagaimana Dia membalas perlakuan dingin dan tuduhan tidak benar
dengan kelemahlembutan. Mereka pun paham bahwa Dia menghendaki mereka untuk mengasihi
dengan kesabaran, pengam-punan, dan kebaikan seperti yang sudah
ditunjukkan-Nya. Mengasihi pasangan atau siapa pun juga pada akhirnya memang
sebuah pilihan. Ketika kita dicobai untuk membalas perlakuan tidak adil orang
lain atau mengum-bar kejelekan orang yang telah melukai kita, hendaklah kita
memandang pada Yesus, yang pernah mengalaminya, tetapi memilih jalan yang
berbeda. Kasih tidak semata-mata berupa kata-kata manis. Kasih menjadi nyata
dalam pilihan-pilihan sulit yang kita ambil setiap hari. --Imelda Saputra ISU
FUNDA-MENTAL DALAM KEHIDUPAN DAN KITAB SUCI ADALAH KEMAMPUAN DAN KERELAAN UNTUK
MENGAM-PUNI SEPERTI ALLAH.
No comments:
Post a Comment