Thursday, 9 November 2017

9 November 2017

LEGO






Billionaire
2 Korintus 9:7-8 (TB), 7Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. 8Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.”

Memberi/menabur harus dengan rela hati jangan terpaksa dan dengan sukacita. Dan Tuhan sanggup memberi kepada kita berkat yang melimpah ruah supaya kita selalu mempunyai apa yang kita butuhkan, bahkan kita akan berkelebihan untuk berbuat baik. Benih yang ditabur pasti berbuah seperti gambaran seorang petani yang menaburkan benih di ladang, pasti ada waktunya akan menuai. Amin. Percayalah jika kita setia dalam hal menabur, kita akan melihat bagaimana Tuhan mencurahkan berkatNya dengan melimpah dalam hidup kita. Amin.

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#BillionareSeries

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Yeremia 45-47
PB: Yohanes 7:25-40

#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoveD

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Kamis, 9 November 2017. MOTIVATOR ATAU PROVOKATOR? Bacaan: Kisah Para Rasul 17:10-15. Tetapi ketika orang-orang Yahudi dari Tesalonika tahu bahwa juga di Berea telah diberitakan firman Allah oleh Paulus, mereka pun datang ke sana untuk menghasut dan menggelisahkan hati orang banyak (Kisah Para Rasul 17:13). Ada orang yang bertalenta sebagai orator ulung. Sebagian menjadi motivator; sebagian lagi menjadi provokator. Motivator menggerakkan dan menginspirasi pendengarnya untuk melakukan hal-hal yang positif. Provokator, sebaliknya, menghasut pendengarnya untuk melakukan tindakan-tindakan yang merusak. Karena itu, saat berlangsung demonstrasi, polisi tidak jarang menangkap dan mengamankan orang yang diduga sebagai provokator kericuhan. Saat Paulus memberitakan Injil di Ikonium, Listra, Filipi, Tesalonika, dan Berea, ada kelompok yang menentang pelayanannya sehingga terjadi keributan. Orang Yahudi, yang tidak suka mereka memberitakan Injil, menghasut orang untuk menentang mereka dan melakukan tindakan anarkis. Di Listra, Paulus dilempari batu sampai dikira mati. Di Filipi, Paulus dan Silas berkali-kali didera lalu dimasukkan ke penjara. Saat berada di Berea, semula pelayanan Paulus berjalan lancar. Banyak orang Yahudi yang menjadi percaya. Namun, saat orang Yahudi dari Tesalonika datang dan menghasut mereka, orang menjadi gelisah. Bagaimana dengan kita? Kalau kita pandai berbicara dan meyakinkan orang lain, kemampuan itu kita pakai untuk memotivasi orang melakukan kebaikan atau memengaruhi mereka melakukan kejahatan? Kolose 4:6 berkata, “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.” Marilah kita giat memperkatakan hal-hal yang membangun iman. PERKATAAN MEMILIKI DAYA PENGARUH YANG KUAT. KIRANYA KITA MENGGUNAKANNYA UNTUK MEMPERKUAT IMAN SESAMA. Good morning. Tuhan Yesus memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: Yeremia 46-47 dan Yohanes 7:25-40.

Bp. Sadrak Soewargo – Citraland
KUMAU S’PERTI YESUS
Amsal 18:6, “Bibir orang bebal menimbulkan perbantahan, dan mulutnya berseru meminta pukulan.” Amsal 18:11, “Kota yang kuat bagi orang kaya ialah hartanya dan seperti tembok yang tinggi menurut anggapannya.” Amsal 18:15, “Hati orang berpengertian memperoleh pengetahuan, dan telinga orang bijak menuntut pengetahuan.” Amsal 18:24, “Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara.”

TUHAN menciptakan umat manusia menurut gambar-Nya!! sebenarnya Dia menginginkan semua manusia adalah sama, akan tetapi akibat dosa yang dilakukan oleh Adam - Hawa, situasi berubah dan timbul perbedaan, yang terjadi sampai saat ini. Ada orang bebal, yang tidak suka pada pengertian dan bibirnya adalah jerat bagi nyawanya. Ada juga orang kaya, yang menganggap harta adalah tembok perlindungannya. Ada pula orang bijak yang selalu mengutamakan pengertian yang benar. Dan ada teman yang mendatangkan kecelakaan tetapi ada pula sahabat yang lebih karib dibanding saudara. Keberagaman adalah suatu fakta, pola pikir dan pengetahuan ~ hikmat akan menjadi faktor pembeda diantara manusia.

Seperti apakah kita dimata teman - sahabat, rekan - partner kerja, saudara - keluarga? sudahkah kita mencerminkan pribadi percaya yang memiliki pola pikir dan hikmat yang dari TUHAN? Bagaimana cara berbicara, cara memandang orang lain yang lebih rendah posisi/harta/kemampuannya? Apa orientasi kita saat memiliki hubungan dengan seorang teman/sahabat? Ego, Fasik dan Bebal apakah tanpa sadar masih melekat dalam diri kita? Dimana letak beda kita, sebagai garam dan terang dunia bila dibandingkan dengan orang disekitar kita? ataukah kita masih sama dengan mereka?  

Reff:
Ku mau s’pertiMu Yesus, Disempurnakan selalu
Dalam s’genap jalanku, Memuliakan namaMu.

Tuhan Yesus, yang baik... kami mau seperti Engkau - disempurnakan selalu…terima kasih Yesus.


Jesus Loves you. Bacaan Alkitab Setahun: Yohanes 1-3.
#Jesus #Jesusloveyou #saatteduh #firmanTuhan #imandanpercaya
Anda diberkati - Like Page FB #Jesusloveyou1006
Anda peduli, menabur benih - Share kepada teman

Taswin Taruna – PT. Sayap Mas Utama, Jakarta
Pembacaan Alkitab: Mat. 4:1-4
Doa baca: Mat. 4:4
Tetapi Yesus menjawab, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”

Dalam berita ini kita tiba pada masalah ujian terhadap Raja yang baru dilantik (4:1-11). Setelah diurapi, Tuhan dicobai. Urutan dalam administrasi Allah selalu pemilihan, pengurapan, dan pengujian. Setelah sang Raja Surgawi diurapi dan dilantik, Dia dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun untuk diuji. Dia pergi ke padang gurun bukan atas maksud-Nya sendiri, melainkan dibawa oleh Roh Kudus yang turun di atas-Nya. Dalam kehidupan pernikahan, Allah juga membawa kita ke dalam ujian. Ada sejumlah saudara saudari muda yang mengeluh kepada Allah, “Tuhan, sebelum aku menikah, aku telah banyak berdoa kepada-Mu. Akhirnya Engkau memberi tahu aku bahwa kehendak-Mu ialah supaya aku menikah dengan dia; dia adalah orang yang Engkau sediakan bagiku. Tuhan, Engkau tahu pada mulanya aku tidak tertarik, namun dalam kuasa kedaulatan-Mu, Engkau mengatur kami bersama. Namun lihatlah situasi hari ini. Lihatlah pada orang yang Engkau berikan kepadaku. Engkau yang salah atau aku yang salah?” Baik Tuhan maupun Anda tidak melakukan kesalahan. Ini adalah ujian Tuhan.

Pertama-tama, Roh membawa Raja yang telah diurapi untuk dicobai oleh Iblis. Pencobaan ini adalah suatu ujian untuk membuktikan bahwa Dia bersyarat menjadi Raja Kerajaan Surgawi. Iblis dalam bahasa Yunaninya diterjemahkan diabolos, artinya pendakwa, pemfitnah (Why. 12:9-10). Iblis, yaitu Satan, mendakwa kita di hadapan Allah dan memfitnah kita di hadapan manusia.
Ujian pertama adalah masalah penghidupan insani, yaitu masalah nafkah. Tuhan dibawa berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam. Setelah empat puluh hari empat puluh malam ini, Ia lapar, dan si pencoba datang kepada-Nya sambil berkata, “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti” (ayat 3). Terhadap usul ini Tuhan menjawab, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Banyak orang Kristen mengira bahwa selama Tuhan berpuasa, Dia tentu tidak makan apa-apa. Namun ayat ini mewahyukan bahwa selama Tuhan Yesus berpuasa, Dia pun makan. Secara lahiriahnya Ia berpuasa, namun secara rohaninya Ia makan.

Di sini kita nampak satu prinsip penting. Dalam ministri dan ekonomi Tuhan, jika kita tidak tahu bagaimana merendahkan keperluan jasmani kita dan memperhatikan keperluan rohani, kita tidak bersyarat bagi ministri-Nya. Agar bersyarat dalam ministri Tuhan, kita harus diuji. Kita harus mengorbankan keperluan jasmani kita. Tempat tinggal yang baik, makanan yang lezat, dan pakaian yang indah, semuanya tak lain hanyalah keperluan sekunder. Makan makanan rohani itulah yang primer. Begitu dibaptis, Tuhan Yesus dibawa ke dalam situasi di mana Dia bisa mendeklarasikan kepada seluruh alam semesta bahwa Dia bukan untuk kebutuhan jasmani, melainkan hanya untuk kebutuhan rohani. Selama empat puluh hari empat puluh malam Dia mengabaikan semua makanan jasmani, melupakan tuntutan jasmani. Sebaliknya, Dia memperhatikan keperluan rohani. Meskipun Dia tidak makan untuk mempertahankan tubuh jasmani-Nya, tetapi Ia makan banyak untuk memelihara roh-Nya. Perkiraan setan tentang Tuhan Yesus tidak makan selama hari-hari di padang gurun itu mutlak salah. Sementara Dia berpuasa terhadap makanan jasmani, Dia makan makanan rohani. Inilah ujian dalam masalah penghidupan kita.

Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 11

No comments:

Post a Comment