LEGO
Billionaire
2 Korintus 9:7-8 (TB), “7Hendaklah
masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati
atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. 8Dan
Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu
senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam
pelbagai kebajikan.”
Memberi/menabur harus dengan rela hati jangan terpaksa dan
dengan sukacita. Dan Tuhan sanggup memberi kepada kita berkat yang melimpah
ruah supaya kita selalu mempunyai apa yang kita butuhkan, bahkan kita akan
berkelebihan untuk berbuat baik. Benih yang ditabur pasti berbuah seperti
gambaran seorang petani yang menaburkan benih di ladang, pasti ada waktunya
akan menuai. Amin. Percayalah jika kita setia dalam hal menabur, kita akan
melihat bagaimana Tuhan mencurahkan berkatNya dengan melimpah dalam hidup kita.
Amin.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#BillionareSeries
Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Yeremia 45-47
PB: Yohanes 7:25-40
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoveD
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Kamis, 9 November 2017. MOTIVATOR ATAU
PROVOKATOR? Bacaan: Kisah Para Rasul 17:10-15. Tetapi ketika orang-orang Yahudi
dari Tesalonika tahu bahwa juga di Berea telah diberitakan firman Allah oleh
Paulus, mereka pun datang ke sana untuk menghasut dan menggelisahkan hati orang
banyak (Kisah Para Rasul 17:13). Ada orang yang bertalenta sebagai orator
ulung. Sebagian menjadi motivator; sebagian lagi menjadi provokator. Motivator
menggerakkan dan menginspirasi pendengarnya untuk melakukan hal-hal yang
positif. Provokator, sebaliknya, menghasut pendengarnya untuk melakukan
tindakan-tindakan yang merusak. Karena itu, saat berlangsung demonstrasi,
polisi tidak jarang menangkap dan mengamankan orang yang diduga sebagai
provokator kericuhan. Saat Paulus memberitakan Injil di Ikonium, Listra,
Filipi, Tesalonika, dan Berea, ada kelompok yang menentang pelayanannya
sehingga terjadi keributan. Orang Yahudi, yang tidak suka mereka memberitakan
Injil, menghasut orang untuk menentang mereka dan melakukan tindakan anarkis.
Di Listra, Paulus dilempari batu sampai dikira mati. Di Filipi, Paulus dan
Silas berkali-kali didera lalu dimasukkan ke penjara. Saat berada di Berea,
semula pelayanan Paulus berjalan lancar. Banyak orang Yahudi yang menjadi
percaya. Namun, saat orang Yahudi dari Tesalonika datang dan menghasut mereka,
orang menjadi gelisah. Bagaimana dengan kita? Kalau kita pandai berbicara dan
meyakinkan orang lain, kemampuan itu kita pakai untuk memotivasi orang
melakukan kebaikan atau memengaruhi mereka melakukan kejahatan? Kolose 4:6
berkata, “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga
kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.” Marilah
kita giat memperkatakan hal-hal yang membangun iman. PERKATAAN MEMILIKI DAYA
PENGARUH YANG KUAT. KIRANYA KITA MENGGUNAKANNYA UNTUK MEMPERKUAT IMAN SESAMA.
Good morning. Tuhan Yesus memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: Yeremia 46-47 dan
Yohanes 7:25-40.
Bp. Sadrak Soewargo – Citraland
KUMAU S’PERTI YESUS
Amsal 18:6, “Bibir orang bebal menimbulkan perbantahan, dan
mulutnya berseru meminta pukulan.” Amsal 18:11, “Kota yang kuat bagi orang kaya
ialah hartanya dan seperti tembok yang tinggi menurut anggapannya.” Amsal
18:15, “Hati orang berpengertian memperoleh pengetahuan, dan telinga orang
bijak menuntut pengetahuan.” Amsal 18:24, “Ada teman yang mendatangkan
kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara.”
TUHAN menciptakan umat manusia menurut gambar-Nya!!
sebenarnya Dia menginginkan semua manusia adalah sama, akan tetapi akibat dosa
yang dilakukan oleh Adam - Hawa, situasi berubah dan timbul perbedaan, yang
terjadi sampai saat ini. Ada orang bebal, yang tidak suka pada pengertian dan
bibirnya adalah jerat bagi nyawanya. Ada juga orang kaya, yang menganggap harta
adalah tembok perlindungannya. Ada pula orang bijak yang selalu mengutamakan
pengertian yang benar. Dan ada teman yang mendatangkan kecelakaan tetapi ada
pula sahabat yang lebih karib dibanding saudara. Keberagaman adalah suatu
fakta, pola pikir dan pengetahuan ~ hikmat akan menjadi faktor pembeda diantara
manusia.
Seperti apakah kita dimata teman - sahabat, rekan - partner
kerja, saudara - keluarga? sudahkah kita mencerminkan pribadi percaya yang
memiliki pola pikir dan hikmat yang dari TUHAN? Bagaimana cara berbicara, cara
memandang orang lain yang lebih rendah posisi/harta/kemampuannya? Apa orientasi
kita saat memiliki hubungan dengan seorang teman/sahabat? Ego, Fasik dan Bebal
apakah tanpa sadar masih melekat dalam diri kita? Dimana letak beda kita,
sebagai garam dan terang dunia bila dibandingkan dengan orang disekitar kita?
ataukah kita masih sama dengan mereka?
Reff:
Ku mau s’pertiMu Yesus, Disempurnakan selalu
Dalam s’genap jalanku, Memuliakan namaMu.
Tuhan Yesus, yang baik... kami mau seperti Engkau -
disempurnakan selalu…terima kasih Yesus.
Jesus Loves you. Bacaan Alkitab Setahun: Yohanes 1-3.
#Jesus #Jesusloveyou #saatteduh #firmanTuhan #imandanpercaya
Anda diberkati - Like Page FB #Jesusloveyou1006
Anda peduli, menabur benih - Share kepada teman
Taswin Taruna – PT. Sayap Mas Utama, Jakarta
Pembacaan Alkitab: Mat. 4:1-4
Doa baca: Mat. 4:4
Tetapi Yesus menjawab, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan
dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”
Dalam berita ini kita tiba pada masalah ujian terhadap Raja
yang baru dilantik (4:1-11). Setelah diurapi, Tuhan dicobai. Urutan dalam
administrasi Allah selalu pemilihan, pengurapan, dan pengujian. Setelah sang
Raja Surgawi diurapi dan dilantik, Dia dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun
untuk diuji. Dia pergi ke padang gurun bukan atas maksud-Nya sendiri, melainkan
dibawa oleh Roh Kudus yang turun di atas-Nya. Dalam kehidupan pernikahan, Allah
juga membawa kita ke dalam ujian. Ada sejumlah saudara saudari muda yang
mengeluh kepada Allah, “Tuhan, sebelum aku menikah, aku telah banyak berdoa
kepada-Mu. Akhirnya Engkau memberi tahu aku bahwa kehendak-Mu ialah supaya aku
menikah dengan dia; dia adalah orang yang Engkau sediakan bagiku. Tuhan, Engkau
tahu pada mulanya aku tidak tertarik, namun dalam kuasa kedaulatan-Mu, Engkau
mengatur kami bersama. Namun lihatlah situasi hari ini. Lihatlah pada orang
yang Engkau berikan kepadaku. Engkau yang salah atau aku yang salah?” Baik
Tuhan maupun Anda tidak melakukan kesalahan. Ini adalah ujian Tuhan.
Pertama-tama, Roh membawa Raja yang telah diurapi untuk
dicobai oleh Iblis. Pencobaan ini adalah suatu ujian untuk membuktikan bahwa
Dia bersyarat menjadi Raja Kerajaan Surgawi. Iblis dalam bahasa Yunaninya
diterjemahkan diabolos, artinya pendakwa, pemfitnah (Why. 12:9-10). Iblis,
yaitu Satan, mendakwa kita di hadapan Allah dan memfitnah kita di hadapan
manusia.
Ujian pertama adalah masalah penghidupan insani, yaitu
masalah nafkah. Tuhan dibawa berpuasa selama empat puluh hari empat puluh
malam. Setelah empat puluh hari empat puluh malam ini, Ia lapar, dan si pencoba
datang kepada-Nya sambil berkata, “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah
supaya batu-batu ini menjadi roti” (ayat 3). Terhadap usul ini Tuhan menjawab,
“Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari
mulut Allah.” Banyak orang Kristen mengira bahwa selama Tuhan berpuasa, Dia
tentu tidak makan apa-apa. Namun ayat ini mewahyukan bahwa selama Tuhan Yesus
berpuasa, Dia pun makan. Secara lahiriahnya Ia berpuasa, namun secara rohaninya
Ia makan.
Di sini kita nampak satu prinsip penting. Dalam ministri dan
ekonomi Tuhan, jika kita tidak tahu bagaimana merendahkan keperluan jasmani
kita dan memperhatikan keperluan rohani, kita tidak bersyarat bagi
ministri-Nya. Agar bersyarat dalam ministri Tuhan, kita harus diuji. Kita harus
mengorbankan keperluan jasmani kita. Tempat tinggal yang baik, makanan yang
lezat, dan pakaian yang indah, semuanya tak lain hanyalah keperluan sekunder.
Makan makanan rohani itulah yang primer. Begitu dibaptis, Tuhan Yesus dibawa ke
dalam situasi di mana Dia bisa mendeklarasikan kepada seluruh alam semesta
bahwa Dia bukan untuk kebutuhan jasmani, melainkan hanya untuk kebutuhan
rohani. Selama empat puluh hari empat puluh malam Dia mengabaikan semua makanan
jasmani, melupakan tuntutan jasmani. Sebaliknya, Dia memperhatikan keperluan
rohani. Meskipun Dia tidak makan untuk mempertahankan tubuh jasmani-Nya, tetapi
Ia makan banyak untuk memelihara roh-Nya. Perkiraan setan tentang Tuhan Yesus
tidak makan selama hari-hari di padang gurun itu mutlak salah. Sementara Dia
berpuasa terhadap makanan jasmani, Dia makan makanan rohani. Inilah ujian dalam
masalah penghidupan kita.
Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 11

No comments:
Post a Comment