LEGO
LEGO
Kalau kita sebuah lego tentunya kita BERBENTUK ya
seperti sebuah gambar/lukisan. Mirip dengan siapakah kita ini?? Paulus
mengatakan bahwa kita “diubah menjadi serupa dengan gambar [Tuhan].” Dalam
upaya kita memuliakan Tuhan Yesus dengan hidup kita, salah satu tujuan kita
adalah menjadi serupa dengan gambar-Nya. Percayalah Roh Kudus akan menolong
kita untuk menjadi serupa denganNya/DIA akan menunjukkan karakteristik yang
menyerupai Kristus dalam cara kita menjalani hidup. Misalnya, dalam sikap
(rendah hati), dalam karakter (mengasihi), dan dalam belas kasih (menolong
orang yang ada dalam kesulitan), kita harus menjadi serupa dengan Yesus dan
mengikuti teladan-Nya. Amin. 2 Korintus 3:18 (TB), “Dan kita semua mencerminkan
kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu
datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan
gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” Amin.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#LegoSeries
Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Yehezkiel 5-7
PB: Yohanes 11:33-57
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoveD
Taswin Taruna – PT. Sayap Mas Utama, Jakarta
Jumat. Pembacaan Alkitab: Mat. 5:3
Doa baca: Mat. 5:3
Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena
merekalah yang punya Kerajaan Surga.
Matius 5:1-12 menggambarkan sembilan aspek hakiki umat
kerajaan. Mereka adalah orang-orang yang miskin di dalam roh, yang berduka atas
keadaan saat ini, yang lemah lembut dalam menanggung tentangan, yang lapar dan
haus akan kebenaran, yang bermurah hati, yang suci (murni) hatinya, yang
membawa damai, yang menderita aniaya karena kebenaran, dan yang dicela serta
difitnah. Setiap aspek dimulai dengan kata “diberkati” (berbahagialah). Kata
“diberkati” ini dalam bahasa Yunaninya memiliki arti “diberkati dan
berbahagia”. Berkat dan bahagia di sini bukanlah suatu hal yang remeh,
melainkan suatu hal yang berbobot. Ketika Anda mendengar perkataan,
“Berbahagialah orang yang miskin dalam roh”, Anda tidak seharusnya bersorak dan
melompat-lompat. Berbahagia dalam ayat ini adalah sesuatu yang dalam.
Dalam ayat 3 Raja baru berkata, “Berbahagialah orang yang
miskin di dalam roh, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga” (Tl.).
Kerajaan Surga pertama-tama berhubungan dengan roh kita. Roh ini bukan mengacu
kepada Roh Allah, melainkan roh insani kita, bagian yang paling dalam dari diri
kita, yaitu organ untuk berkontak dengan Allah dan memahami hal-hal rohani.
Miskin di dalam roh bukan berarti memiliki roh yang miskin. Memiliki roh yang
miskin sangatlah menyedihkan. Tetapi jika kita miskin di dalam roh, kita
bahagia. Miskin di dalam roh bukan hanya mengacu kepada rendah hati, tetapi
juga dikosongkan di dalam roh, dalam kedalaman diri manusia kita, tidak
berpegang pada hal-hal lama dari zaman yang lama, tetapi dibongkar untuk
menerima hal-hal yang baru, hal-hal Kerajaan Surga. Kita perlu menjadi miskin,
dikosongkan, dan dibongkar dalam bagian apa adanya kita yang satu ini, sehingga
kita dapat memahami dan memiliki Kerajaan Surga. Ini menyiratkan bahwa Kerajaan
Surga bersifat rohani, bukan bersifat materi.
Kita harus mengosongkan roh kita dari semua hal usang yang
memenuhinya. Roh orang-orang Yahudi juga penuh; roh mereka sepenuhnya terisi
dengan perkara-perkara agama mereka. Orang-orang Yunani penuh dengan filsafat
mereka. Pernah saya bekerja dengan seorang Yunani yang sangat membanggakan
bahasa dan filsafat Yunani. Meskipun pikiran dan roh orang-orang Yunani telah
terisi, tetapi berdasarkan pengalaman saya bersama mereka, orang-orang Yunani
agak mudah dihampakan. Mereka tidak keras kepala. Hari ini banyak juga orang
Kristen yang rohnya terisi. Jika Anda berbicara dengan mereka yang berada dalam
denominasi, Anda akan merasakan bahwa roh mereka terisi. Hampir semua macam
orang Kristen hari ini rohnya terisi oleh hal-hal lain selain Allah. Ketika
Tuhan Yesus memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!”
(4:17), tidak banyak orang yang dapat menerima perkataan-Nya, karena roh mereka
telah terisi hal-hal lain. Minuman yang terbaik diberikan, tetapi bejana mereka
telah terisi. Jadi, mereka tidak dahaga. Kapan kala roh kita terisi, kita tidak
mempunyai daya muat dalam bejana kita, bahkan untuk minuman yang terbaik
sekalipun. Karena itu, ketika Tuhan berbicara kepada murid-murid-Nya di atas
gunung, kata pembuka dari pengumuman-Nya ialah kita harus miskin di dalam roh,
yaitu roh kita harus dihampakan dari segala sesuatu.
Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 13
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Jumat, 17 November 2017. ANCAMAN MENJADI
KEKUATAN. Bacaan: Kisah Para Rasul 9:1-22. Semua orang yang mendengar hal itu
heran dan berkata: “Bukankah dia ini yang di Yerusalem mau membinasakan siapa
saja yang memanggil nama Yesus ini? Dan bukankah ia datang ke sini dengan
maksud untuk menangkap dan membawa mereka ke hadapan imam-imam kepala” (Kisah
Para Rasul 9:21). Film serial dokumenter di televisi, Locked Up Abroad,
mengisahkan ancaman atas seseorang atau beberapa orang turis di luar negeri.
Penonton digiring agar dapat merasakan ketegangan tokoh utama yang berusaha terlepas
dari berbagai ancaman yang menimpa dirinya. Kejadian-kejadian yang menimpanya
kerap begitu pelik sehingga penonton akan kesulitan menebak bagaimana tokoh
utama dapat meloloskan diri dari jebakan dan kembali ke negaranya. Jemaat di
Yerusalem menghadapi situasi yang sama. Mereka mengalami penganiayaan yang
hebat, ditangkapi dan dimasukkan dalam penjara oleh Saulus (Kis. 8:1-3). Maka,
ketika Tuhan berfirman kepada Ananias di Damsyik, wajarlah jika Ananias
menyebut Saulus sebagai ancaman utama jemaat (ay. 13-14). Namun, jawaban Tuhan
sungguh tak terduga. Dia memberitahukan bahwa Saulus adalah orang pilihan untuk
memberitakan Injil. Ananias pun akhirnya menerima, mendoakan, dan menyebut
Saulus sebagai saudara (ay. 15-17). Saulus, yang tadinya merupakan ancaman,
berubah menjadi pemberita Injil yang gigih (ay. 20-22). Kita hidup pada zaman
yang penuh dengan ancaman dan kekerasan. Pergolakan geopolitik, ketidakpastian
ekonomi, dan maraknya ajaran yang tidak sesuai dengan firman Tuhan berpotensi
mengancam kelangsungan hidup jemaat Tuhan. Solusinya adalah tetap berpegang
pada firman Tuhan dan mengandalkan Tuhan dalam segala keadaan. Dia mampu
mengubah ancaman menjadi pembawa kebaikan dan kesejahteraan bagi jemaat-Nya.
HANYA TUHAN YANG DAPAT MENGUBAH ANCAMAN MENJADI PEMBAWA KESEJAHTERAAN. Selamat
pagi. TGIF. Tuhan Yesus memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: Yehezkiel 5-7 dan
Yohanes 11:33-57.

No comments:
Post a Comment