Tuesday, 14 November 2017

14 November 2017

LEGO






Lego
2) Proses adalah sesuatu yang indah

Diproses itu memang tidak enak, tidak nyaman, tetapi sadarkah kita setiap pertumbuhan pasti mengalami suatu proses ya? Sejak dari bayi saat kita belajar untuk berjalan ada prosesnya. Mulai dari merangkak, belajar berdiri sampai berjalan dan akhirnya kita bisa juga lari? Bukankah itu proses yang indah yang setiap kita melewatinya?? Demikian juga Tuhan senantiasa memproses kita pribadi lepas pribadi sesuai rencanaNya. Gambaran besar dari setiap puzzle/Lego itu sudah disediakan bagi kita masing-masing, blueprint setiap kita ada dalam rencanaNya. Oleh karenanya jalani proses yang Tuhan kerjakan bagi setiap kita dengan ucapan syukur. Mazmur 90:12 (TB), “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Jalani prosesNya, nikmati dan syukuri semua rencanaNya.

3) Sesuai... atau tidak? Andalkan DIA sebagai penuntun dalam setiap langkah hidup kita... Ikuti pembahasannya Besok 15 Nov.

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#LegoSeries

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Ratapan 3-5
PB: Yohanes 10:1-21

#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoveD

Sumber: Warta Komsel 12 Nov 2017 Gereja Lokal AOC

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Selasa, 14 November 2017. KESEMPATAN KEDUA. Bacaan: 1 Samuel 3:1-10. Lalu mengertilah Eli, bahwa TUHANlah yang memanggil anak itu (1 Samuel 3:8). Pernahkah Anda mengalami kegagalan rohani yang begitu parah? Yang membuat Anda begitu terpuruk, merasa Tuhan tidak mungkin memulihkan Anda lagi? Kisah imam Eli bisa jadi memberikan pencerahan. Imam Eli seorang hamba Tuhan yang gagal sebagai ayah. Ia tidak mendidik anaknya dengan baik sehingga mereka lepas kendali. Kedua anaknya, Hofni dan Pinehas, berbuat jahat di bait suci: meremehkan korban bagi Tuhan dan meniduri perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan. Kebejatan mereka akhirnya mendatangkan penghukuman yang setimpal. Akan tetapi, ganjilnya, Tuhan membiarkan Samuel muda berada dalam pengawasan Eli. Pada hari ketika Tuhan berbicara untuk pertama kalinya kepada Samuel, Tuhan memakai Eli untuk memberikan penjelasan kepada Samuel yang belum berpengalaman. Samuel menurutinya, dan ia pun merespons panggilan Tuhan. Alkitab hanya mencatat satu kejadian itu, tetapi tampaknya bisa diperkirakan bahwa Eli terus membimbing Samuel sampai Samuel dewasa. Tampaknya, Tuhan memberi kesempatan kedua bagi Eli. Meskipun ia gagal membimbing anaknya sendiri, ia dipercaya untuk membimbing Samuel menjadi nabi bagi Israel. Manusia bisa saja gagal. Namun, Allah dapat memberikan kesempatan baru, membuka jalan bagi kita untuk beranjak dari kegagalan itu dan memperbaiki diri. Dengan memahami kemurahan hati Allah ini, kiranya kita tidak terus terpuruk dalam kegagalan, tetapi siap untuk bangkit dan mencoba kembali. KEGAGALAN KITA TIDAK PERNAH LEBIH BESAR DARIPADA KEMURAHAN HATI ALLAH UNTUK MEMULIHKAN KITA. Selamat pagi. Tuhan Yesus menyertai. #LoveTheBible – Bacaan: Ratapan 3-5 dan Yohanes 10:1-21.

Taswin Taruna – PT. Sayap Mas Utama, Jakarta
Selasa. Pembacaan Alkitab: Mat. 4:16
Doa baca: Mat. 4:16
Bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.

Ketika Tuhan datang kepada kita di Laut Galilea kita, ada sesuatu yang berbeda mengenai Dia. Dalam Yohanes 1, pengenal Kristus menyatakan, “Lihatlah Anak Domba Allah!” Ketika Yohanes menyatakan bahwa Kristus adalah Anak Domba Allah, dua orang dari murid-muridnya, yaitu Andreas dan Yohanes, mengikuti Tuhan Yesus. Akhirnya, sebagaimana kita tahu, saudara Andreas, yaitu Petrus, dan saudara Yohanes, yaitu Yakobus, juga dibawa kepada Tuhan dan beroleh selamat. Meskipun demikian, Raja memiliki tujuan dan Ia memerlukan Anda sebagaimana Ia memerlukan Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes. Karena itu tiba-tiba Anak Domba Allah menampakkan diri di tempat keempat orang itu bekerja mencari nafkah. Tetapi saat ini Ia tidak datang sebagai Anak Domba — Ia datang sebagai Terang yang besar (ay. 16).

Yohanes Pembaptis adalah pelita yang menyala dan bercahaya (Yoh. 5:35). Tetapi Raja ini adalah Terangnya. Pada faktanya, Ia bukan hanya Terang, tetapi juga Terang yang besar. Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes tidak menyadari bahwa mereka berada dalam kegelapan ketika bekerja di dekat Laut Galilea mencari nafkah. Mereka berada dalam naungan maut. Inilah gambaran mengenai situasi hari ini. Banyak orang Kristen yang bertemu dengan Tuhan Yesus di tepi-tepi sungai dan beroleh selamat. Tetapi kemudian mereka tidak memperhatikan pengalaman mereka itu; sebaliknya, mereka lebih memperhatikan pekerjaan. Karena itu, mereka pergi ke Laut Galilea untuk mencari nafkah. Mereka tidak mengetahui bahwa dengan pergi ke Laut Galilea untuk mencari nafkah, mereka telah masuk ke dalam kegelapan dan naungan maut. Puji Tuhan, Raja baru tidak tinggal di Yerusalem! Ia datang ke tepi Laut Galilea, dan Ia masih datang ke tepi Laut Galilea hari ini, berjalan menyusur pantai untuk mendapatkan kita. Saat ini Ia datang bukan sebagai Anak Domba yang kecil, melainkan sebagai Terang yang besar. Ketika Petrus dan Andreas sedang menjala ikan, terang besar ini bercahaya atas mereka. Ketika Tuhan berdiri dan bercahaya atas mereka, mungkin Ia berkata, “Petrus dan Andreas, apa yang sedang kalian lakukan di sini? Tidak ingatkah kalian bahwa Aku pernah bertemu kalian di dekat Sungai Yordan? Petrus, tidak ingatkah kamu bagaimana Aku mengubah namamu?” Hari itu di tepi Laut Galilea, Terang yang besar bercahaya atas mereka.

Ministri Raja baru untuk Kerajaan Surga bukan dimulai dengan kuasa bumiah, melainkan dengan terang surgawi, yaitu Raja itu sendiri sebagai terang hayat yang memancar dalam naungan maut. Ketika Tuhan yang sebagai terang memulai ministri-Nya, Ia tidak menggunakan kekuatan dan kekuasaan. Ia sama dengan manusia pada umumnya, yaitu berjalan menyusur pantai. Tetapi sewaktu Ia datang kepada keempat murid itu di Laut Galilea, Ia bercahaya atas mereka sebagai Terang yang besar, yang bercahaya dalam kegelapan dan negeri yang dinaungi maut. Pada saat itu, Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes, diterangi dan ditarik. Telah kita tunjukkan bahwa Yohanes Pembaptis adalah magnet yang besar. Tetapi Tuhan Yesus adalah magnet yang paling besar daripada semuanya. Ketika Ia bercahaya atas keempat murid itu, mereka tertarik dan tertawan. Mereka segera meninggalkan pekerjaan mereka dan mengikuti Orang Nazaret kecil ini.

Tidak hanya demikian, Tuhan Yesus memanggil keempat murid ini bukannya untuk memulai suatu pergerakan maupun revolusi. Sebaliknya, Ia menarik murid-murid ini kepada diri-Nya sendiri bagi berdirinya Kerajaan Surga.

Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 12

No comments:

Post a Comment