LEGO
Lego
2) Proses adalah sesuatu yang indah
Diproses itu memang tidak enak, tidak nyaman, tetapi
sadarkah kita setiap pertumbuhan pasti mengalami suatu proses ya? Sejak dari
bayi saat kita belajar untuk berjalan ada prosesnya. Mulai dari merangkak,
belajar berdiri sampai berjalan dan akhirnya kita bisa juga lari? Bukankah itu
proses yang indah yang setiap kita melewatinya?? Demikian juga Tuhan senantiasa
memproses kita pribadi lepas pribadi sesuai rencanaNya. Gambaran besar dari
setiap puzzle/Lego itu sudah disediakan bagi kita masing-masing, blueprint
setiap kita ada dalam rencanaNya. Oleh karenanya jalani proses yang Tuhan
kerjakan bagi setiap kita dengan ucapan syukur. Mazmur 90:12 (TB), “Ajarlah
kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang
bijaksana.” Jalani prosesNya, nikmati dan syukuri semua rencanaNya.
3) Sesuai... atau tidak? Andalkan DIA sebagai penuntun dalam
setiap langkah hidup kita... Ikuti pembahasannya Besok 15 Nov.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#LegoSeries
Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Ratapan 3-5
PB: Yohanes 10:1-21
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoveD
Sumber: Warta Komsel 12 Nov 2017 Gereja Lokal AOC
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Selasa, 14 November 2017. KESEMPATAN KEDUA.
Bacaan: 1 Samuel 3:1-10. Lalu mengertilah Eli, bahwa TUHANlah yang memanggil
anak itu (1 Samuel 3:8). Pernahkah Anda mengalami kegagalan rohani yang begitu
parah? Yang membuat Anda begitu terpuruk, merasa Tuhan tidak mungkin memulihkan
Anda lagi? Kisah imam Eli bisa jadi memberikan pencerahan. Imam Eli seorang
hamba Tuhan yang gagal sebagai ayah. Ia tidak mendidik anaknya dengan baik
sehingga mereka lepas kendali. Kedua anaknya, Hofni dan Pinehas, berbuat jahat
di bait suci: meremehkan korban bagi Tuhan dan meniduri perempuan yang melayani
di depan pintu Kemah Pertemuan. Kebejatan mereka akhirnya mendatangkan
penghukuman yang setimpal. Akan tetapi, ganjilnya, Tuhan membiarkan Samuel muda
berada dalam pengawasan Eli. Pada hari ketika Tuhan berbicara untuk pertama
kalinya kepada Samuel, Tuhan memakai Eli untuk memberikan penjelasan kepada
Samuel yang belum berpengalaman. Samuel menurutinya, dan ia pun merespons
panggilan Tuhan. Alkitab hanya mencatat satu kejadian itu, tetapi tampaknya
bisa diperkirakan bahwa Eli terus membimbing Samuel sampai Samuel dewasa.
Tampaknya, Tuhan memberi kesempatan kedua bagi Eli. Meskipun ia gagal
membimbing anaknya sendiri, ia dipercaya untuk membimbing Samuel menjadi nabi
bagi Israel. Manusia bisa saja gagal. Namun, Allah dapat memberikan kesempatan
baru, membuka jalan bagi kita untuk beranjak dari kegagalan itu dan memperbaiki
diri. Dengan memahami kemurahan hati Allah ini, kiranya kita tidak terus
terpuruk dalam kegagalan, tetapi siap untuk bangkit dan mencoba kembali.
KEGAGALAN KITA TIDAK PERNAH LEBIH BESAR DARIPADA KEMURAHAN HATI ALLAH UNTUK
MEMULIHKAN KITA. Selamat pagi. Tuhan Yesus menyertai. #LoveTheBible – Bacaan:
Ratapan 3-5 dan Yohanes 10:1-21.
Taswin Taruna – PT. Sayap Mas Utama, Jakarta
Selasa. Pembacaan Alkitab: Mat. 4:16
Doa baca: Mat. 4:16
Bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang
besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit
Terang.
Ketika Tuhan datang kepada kita di Laut Galilea kita, ada
sesuatu yang berbeda mengenai Dia. Dalam Yohanes 1, pengenal Kristus
menyatakan, “Lihatlah Anak Domba Allah!” Ketika Yohanes menyatakan bahwa
Kristus adalah Anak Domba Allah, dua orang dari murid-muridnya, yaitu Andreas
dan Yohanes, mengikuti Tuhan Yesus. Akhirnya, sebagaimana kita tahu, saudara Andreas,
yaitu Petrus, dan saudara Yohanes, yaitu Yakobus, juga dibawa kepada Tuhan dan
beroleh selamat. Meskipun demikian, Raja memiliki tujuan dan Ia memerlukan Anda
sebagaimana Ia memerlukan Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes. Karena itu
tiba-tiba Anak Domba Allah menampakkan diri di tempat keempat orang itu bekerja
mencari nafkah. Tetapi saat ini Ia tidak datang sebagai Anak Domba — Ia datang
sebagai Terang yang besar (ay. 16).
Yohanes Pembaptis adalah pelita yang menyala dan bercahaya
(Yoh. 5:35). Tetapi Raja ini adalah Terangnya. Pada faktanya, Ia bukan hanya
Terang, tetapi juga Terang yang besar. Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes
tidak menyadari bahwa mereka berada dalam kegelapan ketika bekerja di dekat
Laut Galilea mencari nafkah. Mereka berada dalam naungan maut. Inilah gambaran
mengenai situasi hari ini. Banyak orang Kristen yang bertemu dengan Tuhan Yesus
di tepi-tepi sungai dan beroleh selamat. Tetapi kemudian mereka tidak
memperhatikan pengalaman mereka itu; sebaliknya, mereka lebih memperhatikan
pekerjaan. Karena itu, mereka pergi ke Laut Galilea untuk mencari nafkah.
Mereka tidak mengetahui bahwa dengan pergi ke Laut Galilea untuk mencari
nafkah, mereka telah masuk ke dalam kegelapan dan naungan maut. Puji Tuhan,
Raja baru tidak tinggal di Yerusalem! Ia datang ke tepi Laut Galilea, dan Ia
masih datang ke tepi Laut Galilea hari ini, berjalan menyusur pantai untuk
mendapatkan kita. Saat ini Ia datang bukan sebagai Anak Domba yang kecil,
melainkan sebagai Terang yang besar. Ketika Petrus dan Andreas sedang menjala
ikan, terang besar ini bercahaya atas mereka. Ketika Tuhan berdiri dan
bercahaya atas mereka, mungkin Ia berkata, “Petrus dan Andreas, apa yang sedang
kalian lakukan di sini? Tidak ingatkah kalian bahwa Aku pernah bertemu kalian di
dekat Sungai Yordan? Petrus, tidak ingatkah kamu bagaimana Aku mengubah
namamu?” Hari itu di tepi Laut Galilea, Terang yang besar bercahaya atas
mereka.
Ministri Raja baru untuk Kerajaan Surga bukan dimulai dengan
kuasa bumiah, melainkan dengan terang surgawi, yaitu Raja itu sendiri sebagai
terang hayat yang memancar dalam naungan maut. Ketika Tuhan yang sebagai terang
memulai ministri-Nya, Ia tidak menggunakan kekuatan dan kekuasaan. Ia sama
dengan manusia pada umumnya, yaitu berjalan menyusur pantai. Tetapi sewaktu Ia
datang kepada keempat murid itu di Laut Galilea, Ia bercahaya atas mereka
sebagai Terang yang besar, yang bercahaya dalam kegelapan dan negeri yang
dinaungi maut. Pada saat itu, Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes, diterangi
dan ditarik. Telah kita tunjukkan bahwa Yohanes Pembaptis adalah magnet yang
besar. Tetapi Tuhan Yesus adalah magnet yang paling besar daripada semuanya.
Ketika Ia bercahaya atas keempat murid itu, mereka tertarik dan tertawan.
Mereka segera meninggalkan pekerjaan mereka dan mengikuti Orang Nazaret kecil
ini.
Tidak hanya demikian, Tuhan Yesus memanggil keempat murid
ini bukannya untuk memulai suatu pergerakan maupun revolusi. Sebaliknya, Ia
menarik murid-murid ini kepada diri-Nya sendiri bagi berdirinya Kerajaan Surga.
Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 12

No comments:
Post a Comment