LEGO
LEGO
STEPS – Selangkah Lebih Dekat
RASUL Paulus meyakinkan kita, “Sekarang keselamatan sudah
lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya” (Rm. 13:11).
Setiap hari membawa kita satu hari lebih dekat pada hari agung ketika kita
“mencapai puncak” dan bertemu muka dengan Juruselamat kita. Pemikiran itulah
yang dapat membuat kita terus melangkah —David Roper.
Kesulitan apa yang sedang kita alami? Keuangan? Suami istri?
menghadapi anak-anak? Pekerjaan kita? Apapun itu.... Jangan takut. Sebab Roma
8:28 (TB), “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala
sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi
mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Amin. Tuhan, kiranya
kami bisa dengan sabar bertahan menghadapi kesulitan dalam perjalanan hidup
kami, karena Engkau TURUT BEKERJA DALAM SEGALA SESUATU... untuk MENDATANGKAN
KEBAIKAN. Dan kami YAKIN kalau kelak kami akan bertemu muka dengan-Mu dan kami
tinggal selamanya bersama-Mu. Amin.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#LegoSeries
Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Yehezkiel 22-23
PB: Yohanes 16
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoveD
Taswin Taruna – PT. Sayap Mas Utama, Jakarta
Pembacaan Alkitab: Mat. 5:3-12
Doa baca: Mat. 5:3
Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena
merekalah yang punya Kerajaan Surga.
Meskipun kita harus adil, serius terhadap diri sendiri,
tetapi kita harus belajar berbelas-kasihan terhadap orang lain dan tidak
menuntut mereka. Sangatlah keliru bila orang Kristen menuntut orang lain. Jika
Anda benar-benar serius dan ketat terhadap diri sendiri, Anda akan mengetahui bagaimana
berbelas-kasihan terhadap orang lain. Tanpa terlebih dulu benar terhadap diri
Anda sendiri, jangan berpikir untuk membelaskasihani orang lain. Setiap orang
yang kendur selalu berbelas-kasihan terhadap orang lain, karena mereka telah
berbelas-kasihan terhadap diri mereka sendiri. Jika seseorang bangun kesiangan
setiap pagi, maka ia akan berbelas-kasihan terhadap orang lain yang bangun
siang hari. Belas kasihan sedemikian ini bukan berbelas-kasihan yang benar,
melainkan mutlak keliru. Tidak seorang pun yang kendur mengetahui bagaimana
cara berbelas-kasihan terhadap orang lain. Hanya orang yang serius dan ketat,
yaitu orang yang benar, yang mengetahui bagaimana cara berbelas-kasihan. Jika
Anda ingin berbelas-kasihan terhadap orang lain sesuai dengan berkat yang
kelima di atas, pertama-tama Anda harus benar terhadap diri Anda sendiri sesuai
dengan berkat yang keempat.
Kita harus benar (adil) dan serius (ketat) terhadap diri
sendiri, dan jangan sekali-kali memberi celah kepada diri sendiri. Tetapi bila orang
lain melukai perasaan kita, dan dengan demikian menyingkapkan kekurangan mereka
sendiri, kita harus berbelas-kasihan terhadap mereka. Semua orang yang
membenarkan diri sendiri selalu menghakimi orang lain dan tidak membiarkan
orang lain lewat. Perkataan yang dikatakan oleh Tuhan di atas gunung sama
sekali berbeda dengan hal tersebut. Terhadap diri sendiri kita harus benar dan
ketat, serius, dan jernih. Tetapi, terhadap orang lain, kita harus
berbelas-kasihan. Terhadap diri-Nya sendiri Allah adalah benar. Tetapi jika Dia
memperlakukan kita dengan sepenuh-nya benar (adil), kita akan mati terbunuh.
Sebagai manusia berdosa yang telah jatuh, kita sungguh-sungguh memerlukan hati
belas kasihan Allah. Kita juga harus belajar bersikap benar terhadap diri sendiri,
dan berbelas-kasihan terhadap orang lain. Masalah benar terhadap diri sendiri
dan berbelas-kasihan terhadap orang lain terutama bukanlah masalah kelakuan
yang di luar; melainkan sikap yang di dalam, yaitu insan batiniah kita.
Berdasarkan rangkaian berkat dalam Matius 5, suci hati
datang setelah pernyataan belas kasihan terhadap orang lain. Hal ini juga
sesuai dengan pengalaman kita. Jika Anda tidak adil (benar) terhadap diri
sendiri, tidak berbelas-kasihan terhadap orang lain, Anda akan merasa sulit menjadi
orang yang suci hati terhadap Allah. Untuk menjadi suci hati di hadapan Allah,
Anda harus serius dan ketat dalam memperlakukan diri sendiri, dan
berbelas-kasihan dalam memperlakukan orang lain. Secara logika, hal ini
sepertinya tidak beralasan. Tetapi, pengalaman riil kita membuktikan hal ini.
Jika Anda tidak adil (benar) terhadap diri Anda sendiri, tidak berbelas-kasihan
terhadap orang lain, Anda tidak akan suci hati terhadap Allah. Ketika kita adil
(benar) terhadap diri sendiri, berbelas-kasihan terhadap orang lain, kita akan
melihat Allah. Tetapi jika kita kendur terhadap diri sendiri dan menghakimi
orang lain, kita akan buta, dan kita tidak dapat melihat Allah. Jika Anda
memaafkan diri sendiri, tetapi menghakimi orang lain, hati Anda tidaklah suci. Hati
yang suci terhadap Allah hanya datang dari perlakuan yang adil (benar) terhadap
diri sendiri, dan perlakuan yang berbelas-kasihan terhadap orang lain.
Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 15
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Jumat, 24 November 2017. LEBIH SERING
MENYESAL. Bacaan: Yeremia 8:1-17. “Tidak ada yang menyesal karena kejahatannya
dengan mengatakan: Apakah yang telah kulakukan ini!” (Yeremia 8:6). Awal tahun
2017, bencana yang menyayat hati terjadi. Kapal Zahro Express terbakar, korban
berjatuhan. Setelah kapal terbakar, dan banyak korban, baru transportasi laut
akan dibenahi dan dicek ulang kelayakannya. Apakah itu yang memang sering
dilakukan banyak manusia dalam banyak hal dalam kehidupan: baru menyadari
sebuah kesalahan fatal setelah kemalangan yang menyentak kesadaran kita? Kita
pun akrab dengan kata-kata “penyesalan selalu datang terlambat” dan tak pernah
berpikir untuk menghindari kedatangan penyesalan. Atau, jangan-jangan, kita
beranggapan “penyesalan memang harus datang terlambat”? Kalau penyesalan baru
muncul setelah ada kematian, kerugian dalam jumlah besar, atau sebutlah
tragedi, betapa manusia demikian sebenarnya tak pernah menganggap manusia lain
ada. Nah, apakah kita juga begitu? Kita tak memperhatikan dan menganggap
penting sesuatu yang sebenarnya sangat berarti dalam kehidupan kita? Yeremia
mengeluhkan keadaan bangsa Yehuda yang tak mau menyesali dosa mereka. Hati yang
melekat atau berpaling kepada Tuhan sirna-“Mereka berpegang pada tipu, mereka
menolak untuk kembali” (ay. 5). Ketiadaan rasa menyesal pun menjadi sebab
mengapa kedamaian dan kesembuhan menjauh (ay. 15). Padahal, di bagian lain
Alkitab disebutkan, hati yang patah dan remuk tidak akan Tuhan pandang hina
(Mzm. 51:19). Terbiasa menyesal akan membuat kita merenungi kekurangan diri
sendiri. Pada akhirnya, hal itu akan menolong kita untuk bekerja secara lebih
bertanggung jawab. PENYESALAN MENOLONG KITA MENGEMBANGKAN SIKAP PEDULI,
MENGASIHI, DAN RENDAH HATI. Selamat pagi. TGIF. Tuhan Yesus memberkati.
#LoveTheBible – Bacaan: Yehezkiel 22-23 dan Yohanes 16.

No comments:
Post a Comment