Friday, 24 November 2017

24 November 2017

LEGO






LEGO
STEPS – Selangkah Lebih Dekat

RASUL Paulus meyakinkan kita, “Sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya” (Rm. 13:11). Setiap hari membawa kita satu hari lebih dekat pada hari agung ketika kita “mencapai puncak” dan bertemu muka dengan Juruselamat kita. Pemikiran itulah yang dapat membuat kita terus melangkah —David Roper.

Kesulitan apa yang sedang kita alami? Keuangan? Suami istri? menghadapi anak-anak? Pekerjaan kita? Apapun itu.... Jangan takut. Sebab Roma 8:28 (TB), “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Amin. Tuhan, kiranya kami bisa dengan sabar bertahan menghadapi kesulitan dalam perjalanan hidup kami, karena Engkau TURUT BEKERJA DALAM SEGALA SESUATU... untuk MENDATANGKAN KEBAIKAN. Dan kami YAKIN kalau kelak kami akan bertemu muka dengan-Mu dan kami tinggal selamanya bersama-Mu. Amin.

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#LegoSeries

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Yehezkiel 22-23
PB: Yohanes 16

#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoveD

Taswin Taruna – PT. Sayap Mas Utama, Jakarta
Pembacaan Alkitab: Mat. 5:3-12
Doa baca: Mat. 5:3
Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga.

Meskipun kita harus adil, serius terhadap diri sendiri, tetapi kita harus belajar berbelas-kasihan terhadap orang lain dan tidak menuntut mereka. Sangatlah keliru bila orang Kristen menuntut orang lain. Jika Anda benar-benar serius dan ketat terhadap diri sendiri, Anda akan mengetahui bagaimana berbelas-kasihan terhadap orang lain. Tanpa terlebih dulu benar terhadap diri Anda sendiri, jangan berpikir untuk membelaskasihani orang lain. Setiap orang yang kendur selalu berbelas-kasihan terhadap orang lain, karena mereka telah berbelas-kasihan terhadap diri mereka sendiri. Jika seseorang bangun kesiangan setiap pagi, maka ia akan berbelas-kasihan terhadap orang lain yang bangun siang hari. Belas kasihan sedemikian ini bukan berbelas-kasihan yang benar, melainkan mutlak keliru. Tidak seorang pun yang kendur mengetahui bagaimana cara berbelas-kasihan terhadap orang lain. Hanya orang yang serius dan ketat, yaitu orang yang benar, yang mengetahui bagaimana cara berbelas-kasihan. Jika Anda ingin berbelas-kasihan terhadap orang lain sesuai dengan berkat yang kelima di atas, pertama-tama Anda harus benar terhadap diri Anda sendiri sesuai dengan berkat yang keempat.

Kita harus benar (adil) dan serius (ketat) terhadap diri sendiri, dan jangan sekali-kali memberi celah kepada diri sendiri. Tetapi bila orang lain melukai perasaan kita, dan dengan demikian menyingkapkan kekurangan mereka sendiri, kita harus berbelas-kasihan terhadap mereka. Semua orang yang membenarkan diri sendiri selalu menghakimi orang lain dan tidak membiarkan orang lain lewat. Perkataan yang dikatakan oleh Tuhan di atas gunung sama sekali berbeda dengan hal tersebut. Terhadap diri sendiri kita harus benar dan ketat, serius, dan jernih. Tetapi, terhadap orang lain, kita harus berbelas-kasihan. Terhadap diri-Nya sendiri Allah adalah benar. Tetapi jika Dia memperlakukan kita dengan sepenuh-nya benar (adil), kita akan mati terbunuh. Sebagai manusia berdosa yang telah jatuh, kita sungguh-sungguh memerlukan hati belas kasihan Allah. Kita juga harus belajar bersikap benar terhadap diri sendiri, dan berbelas-kasihan terhadap orang lain. Masalah benar terhadap diri sendiri dan berbelas-kasihan terhadap orang lain terutama bukanlah masalah kelakuan yang di luar; melainkan sikap yang di dalam, yaitu insan batiniah kita.

Berdasarkan rangkaian berkat dalam Matius 5, suci hati datang setelah pernyataan belas kasihan terhadap orang lain. Hal ini juga sesuai dengan pengalaman kita. Jika Anda tidak adil (benar) terhadap diri sendiri, tidak berbelas-kasihan terhadap orang lain, Anda akan merasa sulit menjadi orang yang suci hati terhadap Allah. Untuk menjadi suci hati di hadapan Allah, Anda harus serius dan ketat dalam memperlakukan diri sendiri, dan berbelas-kasihan dalam memperlakukan orang lain. Secara logika, hal ini sepertinya tidak beralasan. Tetapi, pengalaman riil kita membuktikan hal ini. Jika Anda tidak adil (benar) terhadap diri Anda sendiri, tidak berbelas-kasihan terhadap orang lain, Anda tidak akan suci hati terhadap Allah. Ketika kita adil (benar) terhadap diri sendiri, berbelas-kasihan terhadap orang lain, kita akan melihat Allah. Tetapi jika kita kendur terhadap diri sendiri dan menghakimi orang lain, kita akan buta, dan kita tidak dapat melihat Allah. Jika Anda memaafkan diri sendiri, tetapi menghakimi orang lain, hati Anda tidaklah suci. Hati yang suci terhadap Allah hanya datang dari perlakuan yang adil (benar) terhadap diri sendiri, dan perlakuan yang berbelas-kasihan terhadap orang lain.

Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 15

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Jumat, 24 November 2017. LEBIH SERING MENYESAL. Bacaan: Yeremia 8:1-17. “Tidak ada yang menyesal karena kejahatannya dengan mengatakan: Apakah yang telah kulakukan ini!” (Yeremia 8:6). Awal tahun 2017, bencana yang menyayat hati terjadi. Kapal Zahro Express terbakar, korban berjatuhan. Setelah kapal terbakar, dan banyak korban, baru transportasi laut akan dibenahi dan dicek ulang kelayakannya. Apakah itu yang memang sering dilakukan banyak manusia dalam banyak hal dalam kehidupan: baru menyadari sebuah kesalahan fatal setelah kemalangan yang menyentak kesadaran kita? Kita pun akrab dengan kata-kata “penyesalan selalu datang terlambat” dan tak pernah berpikir untuk menghindari kedatangan penyesalan. Atau, jangan-jangan, kita beranggapan “penyesalan memang harus datang terlambat”? Kalau penyesalan baru muncul setelah ada kematian, kerugian dalam jumlah besar, atau sebutlah tragedi, betapa manusia demikian sebenarnya tak pernah menganggap manusia lain ada. Nah, apakah kita juga begitu? Kita tak memperhatikan dan menganggap penting sesuatu yang sebenarnya sangat berarti dalam kehidupan kita? Yeremia mengeluhkan keadaan bangsa Yehuda yang tak mau menyesali dosa mereka. Hati yang melekat atau berpaling kepada Tuhan sirna-“Mereka berpegang pada tipu, mereka menolak untuk kembali” (ay. 5). Ketiadaan rasa menyesal pun menjadi sebab mengapa kedamaian dan kesembuhan menjauh (ay. 15). Padahal, di bagian lain Alkitab disebutkan, hati yang patah dan remuk tidak akan Tuhan pandang hina (Mzm. 51:19). Terbiasa menyesal akan membuat kita merenungi kekurangan diri sendiri. Pada akhirnya, hal itu akan menolong kita untuk bekerja secara lebih bertanggung jawab. PENYESALAN MENOLONG KITA MENGEMBANGKAN SIKAP PEDULI, MENGASIHI, DAN RENDAH HATI. Selamat pagi. TGIF. Tuhan Yesus memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: Yehezkiel 22-23 dan Yohanes 16.

No comments:

Post a Comment