Kisah Para Rasul, “16:14, Seorang dari perempuan-perempuan itu
yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota
Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia
memperhatikan apa yang dikata-kan oleh Paulus.” Sebagai seorang wanita yang
bekerja / kaum professional / siapa pun kita, sebagai wanita
kita juga harus ber-tumbuh. Seiring dengan pertumbuhan Rohani kita maka Tuhan
juga akan memberi pertum-buhan dalam pekerjaan melalui hikmat yang Dia berikan,
Adakah kita wanita-wanita-Nya Tuhan yang memilih untuk bertumbuh men-jadi
dewasa? Atau hanya tetap seperti bayi?
Respon 1
Syalom. Amin. “Dan
karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati
kita, yang berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’” (Galatia 4:6). Terima kasih Ibu Siu, selamat
beraktivitas Tuhan member-kati.
Respon 2
Sabtu, 31 Mei 2014.
Bacaan: Matius 9:35-38. Setahun: 2 Tawarikh 34-36. Nats: Melihat orang banyak
itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka
lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala.
(Matius 9:36). TERDO-RONG BELAS KASIH.Sejak awal berpraktik sebagai dokter,
saya ingin mendayagunakan kemampuan seoptimal mungkin untuk membantu pasien.
Namun, seiring dengan berlalunya waktu, terutama jika pasien banyak dan saya
letih, sering saya merasakan kedataran emosi. Saya lalu cenderung sekadar
menjalani rutinitas, melakukan prosedur medis tanpa landasan belas kasih
terhadap pasien. Berbelas kasih secara tulus sungguh tidak mudah. Hanya Yesus
yang mampu melakukannya secara sempurna. Sepanjang hari Dia “berkeliling ke
semua kota dan desa”, melayani orang-orang yang datang pada-Nya. Di tengah
kesibukan yang padat itu, belas kasih-Nya tidak menjadi tawar. Dia memedulikan
mereka dan mengulurkan tangan untuk menolong. Sekalipun lelah secara fisik dan
mental, Dia tetap melayani seoptimal mungkin Teladan Kristus ini bukan hanya berlaku untuk dokter,
namun untuk semua profesi. Dalam
keseharian, kita akan melihat dan menemukan sesama yang “lelah dan terlantar
seperti domba yang tidak ber-gembala”. Mereka membutuhkan bukan ha-nya
kesembuhan jasmani, namun juga pemu-lihan rohani. Kita dapat berbelaskasihan de-ngan
menyediakan telinga yang mau mende-ngar, menyampaikan kata-kata penguatan,
menunjukkan sikap baik, dan, jika terbuka kesempatan, memperkenalkan Kristus
pada mereka yang belum percaya. Marilah kita tinggal di dalam Kristus,
mempersilakan belas kasihan-Nya yang sempurna itu memenuhi hati kita. Dengan
begitu, kita dikuatkan untuk berbelas kasih terhadap sesama yang memerlukan
kepedulian. -- Adeline Pasaribu. Belas kasihan yang tulus terhadap sesama akan
menyentuh dan memulihkan jiwa.
Respon 3
Praise God. “Tetapi kamu akan menerima Kuasa, kalau Roh
Kudus turun ke atas kamu & kamu akan
menjd saksiKu di Yerusalem, Yudea, Samaria & sampai ke ujung bumi” (Kisah
Paara Rasul 1:8-9). Sebelum terangkat ke surga, Yesus menjanjikan Roh Kudus.
“Kita lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, penghibur
itu tidak akan datang kepadamu” (Yohanes 16:7). Wujud jasmaniah & terbatas harus
pergi supaya yang Ilahi, yang tak terbatas dapat berkarya maksimal dalam kita,
yaitu Roh-Nya: Roh Penghibur (Yohanes 16:7), Roh Kebenaran (Yohanes 16:13) dan Roh
yang memberi Kuasa untuk memampu-kan kita menjadi saksi (Kisah Para Rasul 1:8).
Menjadi saksi ukurannya 'tidak terbatas' harus memiliki 'pengalaman heboh' supaya
dapat 'bercerita' tentang kuasa Allah. Sebab tak jarang, sekalipun memgalami yang
heboh, tidak ada pertobatan, karakter tetap sama seperti orang yang tidak
mengenal Allah. Esensi menjadi saksi adalah adanya peruba-han karakter,
cara hidup, kebiasaan, perkataan, sikap, perbuatan
& tingkah laku yang membuat orang disekitar kita dapat melihat &
mengalami Allah. Menjadi teladan, dari amanat Agung Yesus (Matius 28). Membuat orang-orang
yang mengenal kita dapat belajar tentang kebenaran firman Tuhan melalui cara
hidup & karakter kita. Menjadi inspirasi & semangat untuk terus hidupi firman
Tuhan. Di Yerusalem: keluaga & orang-orang terdekat. Di Yudea: tempat
bekerja & berkarya. Di Samaria: orang-orang yang tidak sepaham dengan kita.
Di Ujung Bumi: dimana / apa yang sedang dipercayakan kepada kita saat ini.
Setiap perubahan sesuai kebenaran firman Tuhan, sekecil & sesederhana
apapun Tuhan perhitungkan. Jangan terfokus pada hasil / dampak yang bisa
diberikan sebab hasilnya adalah milik Tuhan sepenuhnya & dampaknya pasti
ada. Tidak harus diberitahukan kepada kita kan? Lulus uji tulus & lurus jika
kita tetap / terus melakukan kebenaran tanpa syarat, tidak menuntut untuk kita tahu hasilnya atau perlakuan baik sebagai
imbale balik, tidak menuntut fasilitas. Terus hidupi kebenaran, jadi teladan.
Jangan pernah patah semangat, sebab inilah yang dapat kita buktikan tentang hidup
bagi Allah / pengabdian kepada-Nya, bukan berorientasi pada upah. Selamat pagi.
No comments:
Post a Comment