Saturday, 31 May 2014

31 Mei 2014



Kisah Para Rasul, “16:14, Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikata-kan oleh Paulus.” Sebagai seorang wanita yang  bekerja / kaum  professional / siapa pun kita, sebagai wanita kita juga harus ber-tumbuh. Seiring dengan pertumbuhan Rohani kita maka Tuhan juga akan memberi pertum-buhan dalam pekerjaan melalui hikmat yang Dia berikan, Adakah kita wanita-wanita-Nya Tuhan yang memilih untuk bertumbuh men-jadi dewasa? Atau hanya tetap seperti bayi?


Respon 1
Syalom. Amin. “Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’” (Galatia 4:6). Terima kasih Ibu Siu, selamat beraktivitas Tuhan member-kati.

Respon 2
Sabtu, 31 Mei 2014. Bacaan: Matius 9:35-38. Setahun: 2 Tawarikh 34-36. Nats: Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah  dan  terlantar  seperti domba yang tidak mempunyai gembala. (Matius 9:36). TERDO-RONG BELAS KASIH.Sejak awal berpraktik sebagai dokter, saya ingin mendayagunakan kemampuan seoptimal mungkin untuk membantu pasien. Namun, seiring dengan berlalunya waktu, terutama jika pasien banyak dan saya letih, sering saya merasakan kedataran emosi. Saya lalu cenderung sekadar menjalani rutinitas, melakukan prosedur medis tanpa landasan belas kasih terhadap pasien. Berbelas kasih secara tulus sungguh tidak mudah. Hanya Yesus yang mampu melakukannya secara sempurna. Sepanjang hari Dia “berkeliling ke semua kota dan desa”, melayani orang-orang yang datang pada-Nya. Di tengah kesibukan yang padat itu, belas kasih-Nya tidak menjadi tawar. Dia memedulikan mereka dan mengulurkan tangan untuk menolong. Sekalipun lelah secara fisik dan mental, Dia tetap melayani seoptimal mungkin Teladan Kristus ini bukan hanya  berlaku  untuk  dokter,  namun  untuk semua profesi. Dalam keseharian, kita akan melihat dan menemukan sesama yang “lelah dan terlantar seperti domba yang tidak ber-gembala”. Mereka membutuhkan bukan ha-nya kesembuhan jasmani, namun juga pemu-lihan rohani. Kita dapat berbelaskasihan de-ngan menyediakan telinga yang mau mende-ngar, menyampaikan kata-kata penguatan, menunjukkan sikap baik, dan, jika terbuka kesempatan, memperkenalkan Kristus pada mereka yang belum percaya. Marilah kita tinggal di dalam Kristus, mempersilakan belas kasihan-Nya yang sempurna itu memenuhi hati kita. Dengan begitu, kita dikuatkan untuk berbelas kasih terhadap sesama yang memerlukan kepedulian. -- Adeline Pasaribu. Belas kasihan yang tulus terhadap sesama akan menyentuh dan memulihkan jiwa.


Respon 3
Praise God. “Tetapi kamu akan menerima Kuasa,  kalau  Roh Kudus turun ke atas kamu & kamu akan menjd saksiKu di Yerusalem, Yudea, Samaria & sampai ke ujung bumi” (Kisah Paara Rasul 1:8-9). Sebelum terangkat ke surga, Yesus menjanjikan Roh Kudus. “Kita lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, penghibur itu tidak akan datang kepadamu” (Yohanes 16:7). Wujud jasmaniah & terbatas harus pergi supaya yang Ilahi, yang tak terbatas dapat berkarya maksimal dalam kita, yaitu Roh-Nya: Roh Penghibur (Yohanes 16:7), Roh Kebenaran (Yohanes 16:13) dan Roh yang memberi Kuasa untuk memampu-kan kita menjadi saksi (Kisah Para Rasul 1:8). Menjadi saksi ukurannya 'tidak terbatas' harus memiliki 'pengalaman heboh' supaya dapat 'bercerita' tentang kuasa Allah. Sebab tak jarang, sekalipun memgalami yang heboh, tidak ada pertobatan, karakter tetap sama seperti orang yang tidak mengenal Allah. Esensi menjadi saksi adalah adanya peruba-han  karakter,  cara  hidup,  kebiasaan, perkataan, sikap, perbuatan & tingkah laku yang membuat orang disekitar kita dapat melihat & mengalami Allah. Menjadi teladan, dari amanat Agung Yesus (Matius 28). Membuat orang-orang yang mengenal kita dapat belajar tentang kebenaran firman Tuhan melalui cara hidup & karakter kita. Menjadi inspirasi & semangat untuk terus hidupi firman Tuhan. Di Yerusalem: keluaga & orang-orang terdekat. Di Yudea: tempat bekerja & berkarya. Di Samaria: orang-orang yang tidak sepaham dengan kita. Di Ujung Bumi: dimana / apa yang sedang dipercayakan kepada kita saat ini. Setiap perubahan sesuai kebenaran firman Tuhan, sekecil & sesederhana apapun Tuhan perhitungkan. Jangan terfokus pada hasil / dampak yang bisa diberikan sebab hasilnya adalah milik Tuhan sepenuhnya & dampaknya pasti ada. Tidak harus diberitahukan kepada kita kan? Lulus uji tulus & lurus jika kita tetap / terus melakukan kebenaran tanpa syarat, tidak  menuntut untuk kita tahu hasilnya atau perlakuan baik sebagai imbale balik, tidak menuntut fasilitas. Terus hidupi kebenaran, jadi teladan. Jangan pernah patah semangat, sebab inilah yang dapat kita buktikan tentang hidup bagi Allah / pengabdian kepada-Nya, bukan berorientasi pada upah. Selamat pagi.




No comments:

Post a Comment