Tuhan Yesus menyerahkan nyawa-Nya
demi menunujukkan kasih-Nya bagi kita! Bagaimana respon kita? Yesus datang untuk
menyatakan Kerajaan-Nya. “Sejak waktu itu
Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem
dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan
ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus
menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah
menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Maka Yesus
berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu
sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah,
melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Lalu Yesus berkata kepada
murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau
menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa
kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang
memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat
diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam
kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan
membalas setiap orang menurut perbuatannya. Aku berkata kepadamu: “Sesungguhnya
di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka
melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.”” (Matius 16:21-28). Apakah misi kita sudah
sama dengan misi Yesus? Kalau kita sudah diselamatkan, apakah kita juga sudah memberitakan
keselamatan Itu bagi sesama kita? Amin.
Respon 1
Sebuah komitmen seumur hidup bebaskanlah aku, ya Yesus.
Dari keinginan untuk dicintai, dari keinginan untuk dipuji, dari keinginan untuk
dihormati, dari keinginan untuk disanjung, dari keinginan untuk disukai, dari
keinginan untuk dimintai nasehat, dari keinginan untuk didukung, dari keinginan
untuk menjadi populer, dari ketakutan untuk dihina, dari ketakutan untuk
direndahkan, dari ketakutan untuk dicemoohkan, dari ketakutan untuk difitnah, dari
ketakutan untuk dilupa-kan, dari ketakutan untuk disalahkan, dari ketakutan untuk
ditertawakan, dari ketakutan untuk dicurigai (Ibu Teresa, Jalan Sederhana).
Susunan kalimat diatas merupakan sebuah syair doa yang ditulis oleh Ibu.
Teresa, yang melukiskan tentang sebuah komitmen seumur hidup. Kalimat yang
ditulis sangat sederhana. Tidak membutuhkan pemikiran serius untuk memaknainya.
Juga tidak membutuhkan penafsiran yang rumit untuk mengartikannya.
Sepantasnyalah kalau sebuah
komitmen ini dapat menjadi sebuah moto dan keteladanan keseharian kita dalam
mempedulikan sesama kita. Suster Teresa melakukan setiap pela-yanan dengan
penuh sukacita, sehingga hati-nya dipenuhi dengan rasa damai sejahtera dari
Allah. Alangkah kontrasnya dengan damai dan kesejahteraan diri manusia yang
ditawar-kan dunia. Dunia lebih banyak mencari ke-untungan diri sendiri, mencari
keselamatan sendiri, merasa aman, dan mengembangkan sikap egois dan tidak lagi
memperhatikan kesukaan orang lian. Oleh sebab itu marilah kita semua jangan
sampai kasih karunia dan damai sejahtera ini tidak kita nikmati bersama-sama
dengan orang-orang yang ada disekitar kita. Atau damai sejahtera tidak sampai
melawat hidup kita, karena kita tengah berusaha untuk dicintai, disanjung dan
tidak ingin direndahkan. Mari kita belajar mendoakan orang-orang yang dekat
dengan kita. Mari kita belajar secara tulus mencintai mereka secara apa
adanya, Tuhan memberkati.
Respon 2
SAAT TEDUH. Jumat,
23 Mei 2014. Praise God. “Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang
dipenjarakan karena Tuhan…” (Efesus 4:1-16). Dipenjarakan berbicara tentang
pembatasan & ingindalian. Rasul Paulus menyadari & mengakui bahwa dirinya
'dipenjarakan karena Tuhan', tidak memiliki kebebasan pribadi, terbatasi bukan karena
melakukan kesalahan tapi karena melakukan kebenaran. Bagaimana dengan kita?
Kita pun sering 'dipenjarakan', dibatasi & dikendalikan, sayangnya kita
bukan dipenjarakan karena Tuhan tapi dipenjarakan karena ego, keinginan yang
salah, dosa, hawa nafsu, kemarahan, dendam, kecewa, pembenaran diri sendiri, dalih,
cara hidup & pola pikir duniawi dll. Bahkan kita yang sering berjuang untuk
kehendak bebas, tanpa sadar justru dikendalikan oleh kehendak
bebas & menyesatkan. “Kamu telah dimerdekakan dari dosa (oleh Salib) & menjadi
hamba kebenaran” (Galilea 6:18). Yang banyak kali terjadi adalah bukan
'dipenjara karena Tuhan' yaitu dibatasi & dikendalikan karena kita taat
& tunduk kepada kehendak Tuhan, menderita sebagai pelaku firman Tuhan, merelakan
diri untuk tidak menuruti ego (yang sebenarnya inilah merdeka & kebebasan
sejati karena merdeka dari kendali dosa) tapi sebaliknya yang seolah kita
rasakan sebagai kemerdekaan / kebebasan karena hidup semau kita, justru
sebenarnya kita 'tidak hidup dalam Kebenaran' karena diperhamba oleh ego &
dosa. “Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari Kebenaran” (Galilea 6:20). Merelakan
diri untuk 'dipenjarakan karena Tuhan', menjadi pelaku Kebenaran firman Tuhan, itulah
Kemerdekaan yang sesungguhnya: sebab merdeka dari kendali dosa. Selamat pagi.
Tuhan Yesus memberkati.
Respon 3
Tuhan Yesus datang
ke dunia ini untuk menyelamatkan kita orang berdosa, setelah kita menerima
keselamatan, apa yang kita lakukan? Apakah kita hanya menikmati keselamatan itu
untuk diri sendiri? Atau diselamatkan untuk menyelamatkan orang berdosa yang
lain? Seharusnya tujuan Tuhan adalah tujuan kita juga, kerinduan Tuhan adalah
kerinduan kita juga. Tuhan rindu seluruh bangsa jadi muridnya dan dibaptis
dalam nama Bapa, Putra dan Roh kudus. Sudahkah kita jadi rekan kerja Tuhan untuk
memberitakan keselamatan gratis? Ini kami, kami pinta hati-Mu di hatiku Ini
kami, kami pinta kasih-Mu di hatiku
No comments:
Post a Comment