Friday, 23 May 2014

23 Mei 2014 - Misi Yesus


Tuhan Yesus menyerahkan nyawa-Nya demi menunujukkan kasih-Nya bagi kita! Bagaimana respon kita? Yesus datang untuk menyatakan Kerajaan-Nya. “Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus  menyangkal  dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Aku berkata kepadamu: “Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.”” (Matius 16:21-28). Apakah misi kita sudah sama dengan misi Yesus? Kalau kita sudah diselamatkan, apakah kita juga sudah memberitakan keselamatan Itu bagi sesama kita? Amin.

Respon 1
Sebuah komitmen seumur hidup bebaskanlah aku, ya Yesus. Dari keinginan untuk dicintai, dari keinginan untuk dipuji, dari keinginan untuk dihormati, dari keinginan untuk disanjung, dari keinginan untuk disukai, dari keinginan untuk dimintai nasehat, dari keinginan untuk didukung, dari keinginan untuk menjadi populer, dari ketakutan untuk dihina, dari ketakutan untuk direndahkan, dari ketakutan untuk dicemoohkan, dari ketakutan untuk difitnah, dari ketakutan untuk dilupa-kan, dari ketakutan untuk disalahkan, dari ketakutan untuk ditertawakan, dari ketakutan untuk dicurigai (Ibu Teresa, Jalan Sederhana). Susunan kalimat diatas merupakan sebuah syair doa yang ditulis oleh Ibu. Teresa, yang melukiskan tentang sebuah komitmen seumur hidup. Kalimat yang ditulis sangat sederhana. Tidak membutuhkan pemikiran serius untuk memaknainya. Juga tidak membutuhkan penafsiran yang rumit untuk mengartikannya.  

Sepantasnyalah kalau sebuah komitmen ini dapat menjadi sebuah moto dan keteladanan keseharian kita dalam mempedulikan sesama kita. Suster Teresa melakukan setiap pela-yanan dengan penuh sukacita, sehingga hati-nya dipenuhi dengan rasa damai sejahtera dari Allah. Alangkah kontrasnya dengan damai dan kesejahteraan diri manusia yang ditawar-kan dunia. Dunia lebih banyak mencari ke-untungan diri sendiri, mencari keselamatan sendiri, merasa aman, dan mengembangkan sikap egois dan tidak lagi memperhatikan kesukaan orang lian. Oleh sebab itu marilah kita semua jangan sampai kasih karunia dan damai sejahtera ini tidak kita nikmati bersama-sama dengan orang-orang yang ada disekitar kita. Atau damai sejahtera tidak sampai melawat hidup kita, karena kita tengah berusaha untuk dicintai, disanjung dan tidak ingin direndahkan. Mari kita belajar mendoakan orang-orang yang dekat dengan kita.  Mari  kita  belajar secara tulus mencintai mereka secara apa adanya, Tuhan memberkati.

Respon 2
SAAT TEDUH. Jumat, 23 Mei 2014. Praise God. “Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan…” (Efesus 4:1-16). Dipenjarakan berbicara tentang pembatasan & ingindalian. Rasul Paulus menyadari & mengakui bahwa dirinya 'dipenjarakan karena Tuhan', tidak memiliki kebebasan pribadi, terbatasi bukan karena melakukan kesalahan tapi karena melakukan kebenaran. Bagaimana dengan kita? Kita pun sering 'dipenjarakan', dibatasi & dikendalikan, sayangnya kita bukan dipenjarakan karena Tuhan tapi dipenjarakan karena ego, keinginan yang salah, dosa, hawa nafsu, kemarahan, dendam, kecewa, pembenaran diri sendiri, dalih, cara hidup & pola pikir duniawi dll. Bahkan kita yang sering berjuang untuk kehendak bebas, tanpa sadar justru dikendalikan oleh kehendak bebas & menyesatkan. “Kamu telah dimerdekakan dari dosa (oleh Salib) & menjadi hamba kebenaran” (Galilea 6:18). Yang banyak kali terjadi adalah bukan 'dipenjara karena Tuhan' yaitu dibatasi & dikendalikan karena kita taat & tunduk kepada kehendak Tuhan, menderita sebagai pelaku firman Tuhan, merelakan diri untuk tidak menuruti ego (yang sebenarnya inilah merdeka & kebebasan sejati karena merdeka dari kendali dosa) tapi sebaliknya yang seolah kita rasakan sebagai kemerdekaan / kebebasan karena hidup semau kita, justru sebenarnya kita 'tidak hidup dalam Kebenaran' karena diperhamba oleh ego & dosa. “Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari Kebenaran” (Galilea 6:20). Merelakan diri untuk 'dipenjarakan karena Tuhan', menjadi pelaku Kebenaran firman Tuhan, itulah Kemerdekaan yang sesungguhnya: sebab merdeka dari kendali dosa. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.


Respon 3
Tuhan Yesus datang ke dunia ini untuk menyelamatkan kita orang berdosa, setelah kita menerima keselamatan, apa yang kita lakukan? Apakah kita hanya menikmati keselamatan itu untuk diri sendiri? Atau diselamatkan untuk menyelamatkan orang berdosa yang lain? Seharusnya tujuan Tuhan adalah tujuan kita juga, kerinduan Tuhan adalah kerinduan kita juga. Tuhan rindu seluruh bangsa jadi muridnya dan dibaptis dalam nama Bapa, Putra dan Roh kudus. Sudahkah kita jadi rekan kerja Tuhan untuk memberitakan keselamatan gratis? Ini kami, kami pinta hati-Mu di hatiku Ini kami, kami pinta kasih-Mu di hatiku
 

No comments:

Post a Comment