Sunday, 25 May 2014

25 Mei 2014



Roma 16:3-5, “Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus. Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku... Salam juga kepada jemaat di rumah mereka.” Apakah kita sudah memiliki hati seperti Akwila & Priskila? Pengusaha / profesional yang juga melayani jiwa-jiwa? Bahkan mendukung pelayanan Rasul Paulus secara financial? Mari miliki hati dan semangat seperti Akwila & Priskila yang peduli akan keselamatan jiwa-jiwa, bahkan mendukung Pekerjaan Tuhan dalam hal financial. Amin!

Respon 1
SAAT TEDUH. Minggu, 25 Mei 2014. Praise God. “Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas  dari  kebenaran”  (Roma  6:20,  16-20).

Arti sederhananya waktu kita hamba dosa, kita 'tidak bisa/tidak mampu melakukan'. Kebenaran jangankan yang benar, berbuat yang baik saja tidak mampu, seperti yang Rasul Paulus ungkapkan “Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu: di dalam 'aku sebagai manusia', tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tapi bukan hal berbuat apa yang baik” (Roma 7:18). Tapi Puji Tuhan “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8). Mati untuk orang baik saja, orang masih mikir, tapi Yesus justru mati bagi kita, hamba dosa. (Roma 6:16). “Supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil Berpadanan dengan panggilan itu.” (Efesus 4:1b). Supaya cara hidup kita sebagai orang-orang yang telah dipanggil / meresponi karya penebusan Kristus, cocok dengan panggilan itu, yaitu menjadi murid Kristus,  hidup  seperti Kristus hidup. “Sebab itu kukatakan & kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan:  Jangan hidup lagi sama supaya orang-orang yang tidak mengenal Allah de-ngan pikirannya yang sia-sia” (Efesus 4:17). Cara Hidup yang diubahkan dimulai dari perubahan cara berpikir. Pikiran yang berisi hal-hal yang sia-sia / yang tidak bernilai kekal adalah penghalang terbesar untuk kita hidup benar, sesuai kebenaran firman Tuhan. Sebab apa yang kita pikirkan membangun standar & nilai hidup dalam kita, yang menghasilkan perkataan & perilaku kita. Pertanyaan pentingnya sejauh mana prinsip firman Tuhan sudah menggantikan pola pikir kita? Sebab hanya sejauh itu pula kita akan alami perubahan cara hidup, hidup sesuai kebenaran firman Tuhan.  Selamat pagi. Have a joyfull weekend. Jesus bless you all.


Respon 2
Minggu, 25 Mei 2014. Bacaan: Lukas 22:24-30.  Setahun: 2 Tawarikh 14-17.  Nats: Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan. (Lukas 22:26). BUNG KARNO MINTA MAAF. Ini kisah Maulwi Saelan, salah satu mantan ajudan Bung Karno (BK). Suatu hari ia berbantah- bantahan dengan BK. “Kalau marah, mata Bung Karno merah. Ia langsung masuk kamar,” katanya. Tak lama kemudian BK keluar kamar dan memanggil Maulwi. “Komm je hier maar (Kemarilah kamu),” kata BK. “Mampus, saya pasti dipecat,” pikir Maulwi. Apa yang terjadi? “Kamu benar, maafkan saya,” kata BK meminta maaf pada Maulwi. Mengakui kesalahan dan meminta maaf bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan, terlebih jika yang bersalah itu seorang pemimpin. Seperti para murid Yesus, kebanyakan kita mengaitkan kepemimpinan dengan kedudukan terhormat, kekuasaan besar, dan kekebalan terhadap kesalahan. “Peraturan pertama: Bos tidak pernah salah. Peraturan kedua: Jika bos salah, lihat peraturan pertama,” kata sebuah candaan. Yesus menjungkirbalikkan panda-ngan itu. Dia menakar kebesaran seorang pemimpin menurut kerendahan hati dan kesediaannya untuk melayani. Orang yang rendah hati tidak akan bersikap membenarkan diri. Ia menyadari dirinya masih manusia yang mungkin saja khilaf. Ia akan menjalankan tanggung jawab kepemimpinannya dengan mengandalkan bimbingan Tuhan dan tidak menutup diri terhadap masukan dan koreksi dari sesama. Kesediaan untuk meminta maaf ketika melakukan kesalahan, dengan demikian, menandakan kebesaran hati si pemimpin. Dalam taraf tertentu, kepada kita masing-masing dipercayakan kepemimpinan. Apakah kita rendah hati dan mau melayani? -- Arie Saptaji. Jiwa yang kerdil melemparkan kesalahan pada orang lain, jiwa yang besar mengakui kesalahan dan meminta maaf.



-

No comments:

Post a Comment