Saturday, 19 April 2014

19 April 2014 - Menenangkan Badai



Yohanes 6:20, “Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Aku ini, jangan takut!” Ketika kita tengah mengalami badai dalam kehidupan ini, ketika keragu-raguan mulai mengancam keteguhan iman kita. Apa yang menjadi sauh bagi kita? Kekuatan sauh iman kita akan diuji ketika biduk Hidup kita diterjang badai, tetapi bila iman kita disandarkan pada janji Tuhan & penyertaan-Nya, Dia akan menjaga kita tetap aman, Amin!

Respon 1
SAAT TEDUH. Sabtu, 19 April 2014. “....tetapi Dia mendidik kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya” (Roma 12:10). Melalui salib, kita dikaruniakan sifat baru pada saat melakukan keputusan iman mempercayai Yesus sebagai Juruselamat, tapi masih ada kebiasaan, pola pikir, perilaku lama yang harus ditinggalkan dan diganti. Sayangnya, sering kita takut menghadapi kenyataan sebenarnya tentang diri kita sendiri. Sehingga kita sering membangun identitas sendiri & polesan untuk menutupi kekurangan kita. Kita berkata “Aku memang seperti ini” dan “Aku mau jadi diri sendiri.” Kekhawatiran bawah sadar kita adalah saat kita meninggalkan kebiasaan, sakit hati, kehendak, keinginan kita, lalu kita berpikir: akan jadi apa aku nanti? Ketakutan ini pasti memperlambat pertumbuhan kita. Berbeda jika kita mengijin-kan Tuhan untuk memancarkan terang kebenaran-Nya atas kesalahan, kegagalan, keinginan kita, maka barulah Ia dapat bekerja di dalam kita. Inilah sebabnya mengapa kita tidak bisa bertumbuh tanpa sikap rendah hati & mau diubahkan. Kebiasaan Ilahi membutuhkan waktu untuk bertumbuh & berkembang. Karakter kita adalah jumlah dari kebiasaan-kebiasaan kita. Kita tidak bisa mengklaim   memiliki  integritas  kecuali  jika kita berani jujur pada diri sendiri. kebiasaan kita membangun & menentukan karakter kita. Hanya ada satu cara untuk mengembangkan kebiasaan-kebiasaan sesuai karakter Kristus: kita harus melatihnya & betul, itu membutuh-kan waktu & perjuangan. Keseriusan memba-ngun karakter Ilahi ini disebut disiplin rohani: menerapkan kebenaran firman Tuhan dalam hidup keseharian & menghasilkan kebiasaan-kebiasaan rohani yang perlu kita latih lebih jauh. Mengembangkan sikap rendah hati & mau diajar berarti memberi kesempatan Tuhan berotoritas atas kita sehingga Ia dapat memakai kehidupan kita menjadi berkat untuk orang-orang yang mengenal kita. Inilah hidup dalam penebusan Kristus. Pengorbanan-Nya tidak sia-sia, memang tiap-tiap didikan pada kita Ia berikan tidak mendatangkan sukacita, tapi dukacita. Tetapi kemudian Ia menghasil-kan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. (Roma 12:11). Selamat  pagi. JBU.






Respon 2
Syalom. Amin. “Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak.” (Amsal 20:3). Terima kasih Ibu Siu, selamat beraktivitas Tuhan memberkati.

No comments:

Post a Comment