Yohanes 6:20, “Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Aku ini,
jangan takut!” Ketika kita tengah mengalami badai dalam kehidupan ini,
ketika keragu-raguan mulai mengancam keteguhan iman kita. Apa yang menjadi sauh bagi kita? Kekuatan sauh iman kita akan diuji ketika biduk
Hidup kita diterjang badai, tetapi bila iman kita disandarkan pada janji Tuhan &
penyertaan-Nya, Dia akan menjaga kita tetap aman, Amin!
Respon 1
SAAT TEDUH. Sabtu,
19 April 2014. “....tetapi Dia mendidik kita untuk kebaikan kita, supaya kita
beroleh bagian dalam kekudusan-Nya” (Roma 12:10). Melalui salib, kita
dikaruniakan sifat baru pada saat melakukan keputusan iman mempercayai Yesus sebagai
Juruselamat, tapi masih ada kebiasaan, pola pikir, perilaku lama yang harus ditinggalkan dan
diganti. Sayangnya, sering kita takut menghadapi kenyataan sebenarnya tentang
diri kita sendiri. Sehingga kita sering membangun identitas sendiri &
polesan untuk menutupi kekurangan kita. Kita berkata “Aku memang seperti ini”
dan “Aku mau jadi diri sendiri.” Kekhawatiran bawah sadar kita adalah saat kita
meninggalkan kebiasaan, sakit hati, kehendak, keinginan kita, lalu kita
berpikir: akan jadi apa aku nanti? Ketakutan ini pasti memperlambat pertumbuhan
kita. Berbeda jika kita mengijin-kan Tuhan untuk memancarkan terang kebenaran-Nya
atas kesalahan, kegagalan, keinginan kita, maka barulah Ia dapat bekerja di
dalam kita. Inilah sebabnya mengapa kita tidak bisa bertumbuh tanpa sikap
rendah hati & mau diubahkan. Kebiasaan Ilahi membutuhkan waktu untuk
bertumbuh & berkembang. Karakter kita adalah jumlah dari
kebiasaan-kebiasaan kita. Kita tidak bisa mengklaim memiliki
integritas kecuali jika kita berani jujur pada
diri sendiri. kebiasaan kita membangun & menentukan karakter kita. Hanya
ada satu cara untuk mengembangkan kebiasaan-kebiasaan sesuai karakter Kristus: kita
harus melatihnya & betul, itu membutuh-kan waktu & perjuangan.
Keseriusan memba-ngun karakter Ilahi ini disebut disiplin rohani: menerapkan kebenaran
firman Tuhan dalam hidup keseharian & menghasilkan kebiasaan-kebiasaan rohani
yang perlu kita latih lebih jauh. Mengembangkan sikap rendah hati & mau
diajar berarti memberi kesempatan Tuhan berotoritas atas kita sehingga Ia dapat
memakai kehidupan kita menjadi berkat untuk orang-orang yang mengenal kita.
Inilah hidup dalam penebusan Kristus. Pengorbanan-Nya tidak sia-sia, memang
tiap-tiap didikan pada kita Ia berikan tidak mendatangkan sukacita, tapi
dukacita. Tetapi kemudian Ia menghasil-kan buah kebenaran yang memberikan damai
kepada mereka yang dilatih olehnya. (Roma 12:11). Selamat pagi. JBU.
Respon 2
Syalom. Amin. “Terhormatlah
seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan
amarahnya meledak.” (Amsal 20:3). Terima kasih Ibu Siu, selamat beraktivitas Tuhan
memberkati.
No comments:
Post a Comment