Yohanes 5:15, “Orang itu keluar, lalu menceriterakan
kepada orang- orang Yahudi, bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia.”
Orang yang lumpuh selama 38 tahun, ini bukan hal yang biasa? Tetapi Ia masih
mempunyai pengharapan agar Tuhan Yesus melakukan mujizat-Nya! Apapun kondisi
kelumpuhan kita, terus berharapan kepada-Nya, karena Ia sanggup melakukan mujizat
itu bagi kita, Amin! Semangat mengalami mujizat-Nya.
Respon 1
Kamis, 10 April 2014.
Bacaan: 1 Korintus 13:8-13. Setahun: 1 Samuel 28-31. Nats: Kasih tidak
berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa lidah akan berhenti; pengetahuan
akan lenyap. (1 Korintus 13:8). BAHASA HATI. Pasangan senior ini istimewa bagi
saya. Sebut saja namanya Bapak Thomas dan Ibu Amanda. Dalam usia 90-an, Pak Thomas telah
sangat berkurang pendengarannya. Alat bantu dengar pun tak sepenuhnya menolong.
Tak jarang reaksinya hanya tersenyum karena tak sepenuhnya paham akan perkataan
orang. Atau, ia bereaksi menyimpang dari topik pembicaraan. Hanya ada satu
orang yang dengannya ia ma-sih dapat berkomunikasi dengan tepat, yaitu Bu
Amanda, istrinya. Kasih dan kebersamaan yang berlangsung sekian lama membuat
mereka sanggup saling mengerti melampaui keterbatasan indra fisik. Di antara
mereka berdua terjalin bahasa hati. Waktu memang dapat mengikis habis segala
kemampuan kita berkomunikasi. Ketika seseorang menjadi tua, bahkan uzur,
segalanya menjadi berubah. Jari tak lagi lincah bermain di atas papan ketik.
Tangan gemetar. Bibir enggan berucap. Telinga tak lagi tajam mendengar. Otak
lamban menangkap informasi. Bahkan ada yang disergap penyakit pikun. Mungkin
kita bertanya, bagaimana orang-orang seperti ini berkomunikasi dengan
Tuhan? Syukurlah, komunikasi kita dengan Tuhan tidak bergan-tung pada
alat-alat, baik indra kita maupun perlengkapan elektronik, melainkan pada
kasih. Kasih melampaui segala media. Kasih mengerti desah napas, gerak jari,
getar bibir, dan titik air mata. Kasih itu menembus segala batas. Kasih itu
kekal. Bahkan ketika semua media komunikasi rusak, kasih tetap tinggal di hati.
Menjadi bahasa hati. Menjadi bahasa yang abadi. --Pipi A Dhali. Menjadi tua
bukanlah rintangan untuk mengasihi Tuhan sebab Dia mengenal bahasa hati.
Respon 2
Tuntutan tidak akan kenal kata cukup baik tetapi
penerimaan karena kasih memberi kekuatan dan pengharapan. Yesus adalah sumber kasih
itu, biar fokus hidup kita hanya pada Yesus. Ia (Kasih) menutupi segala
sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharap-kan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. (1 Korintus
13:7).
Respon 3
Yohanes 5:1-17. Cerita
tentang orang lumpuh selama 38 tahun di sembuhkan Tuhan. Karena lumpuh dia
berharap ada yang menolongnya menjatuhkan dia dikolam Betesda saat airnya
bergoncang supaya dia mengalami mujizat kesembuhan. Tapi tidak ada yang
menolong-nya, dia lumpuh, tidak berdaya tapi dia tetap berharap selama 38 tahun.
Tuhan Yesus melihat itu dan tanpa harus masuk ke kolam dia disembuhkan. Kayaknya
cerita ini cocok dengan lagu kesukaanku “i'm holding on to You, I'm holding on
to You, my help comes from You.” Ya pertolongan kita datangnya dari Tuhan,
apapun persoalan hidup kita saat ini teruslah berharap pada Tuhan karena Dia
Tuhan yang hidup, Tuhan yang tidak pernah terlelap, Tuhan yang tau hati kita
dan Dia sanggup mengubah hidup kita semudah Dia membalik telapak tangan. Orang lumpuh itu menunggu dan
berharap selama 38 tahun dan dalam hitungan detik dia dapat berjalan.
Ingatlah.. God is great, God is good. Dia sanggup memulihkan apapun yang dengan
menjadi pergumulan kita. Tidak ada yang mustahil buat Dia. Amin.
No comments:
Post a Comment