1 Petrus 1:18-19, “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu
warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan
perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang
sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” dan Galatia 3:13, “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan
menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang
digantung pada kayu salib!’”. Di hari Jumat Agung ini hendaknya kita bukan
saja mengenang / mengingat pengorbanan yang Yesus lakukan, tetapi hidup sebagai
umat yang telah ditebus. Dia telah memberikan kepada kita hidup yang kekal. Maka
tidak ada alasan bagi kita untuk tidak hidup bagi Dia. Mengingat saja tidak cukup,
diperlukan tindakan iman yang lahir melalui kehidupan nyata sebagai orang tebusan,
amin!
Respon 1
Syalom. Amin. “Tetapi
dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena
kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan
kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” (Yesaya 53:5). Terima
kasih Ibu Siu, selamat merayakan Paskah, kiranya Tuhan snantiasa menyertai Ibu dan
keluarga.
Respon 2
Jumat, 18 April 2014.
Bacaan: Matius 27:45-50. Setahun: 2 Samuel 19-20. Nats: Yesus berseru pula
dengan suara nyaring lalu me-nyerahkan nyawa-Nya. (Matius 27:50). Mau-kah kita
berkorban? Bagaimanakah perasaan anda ketika anda harus berkorban untuk orang
lain? Bagaimana jika orang yang untuknya anda berkorban itu ternyata tidak
menghargai pengorbanan itu atau bahkan menolak pengorbanan itu? Kita
dapat membayangkan sekilas perasaan
Tuhan Yesus ketika Dia menjalani hukuman salib. Dia yang tiada berdosa, namun
rela menderita bahkan sampai mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia.
Kita dapat memahami jika Yesus merasa pedih ketika manusia justru menolak dan
mencemooh diri-Nya, bahkan menyiksa-Nya dengan brutal. Sebagai seorang manusia,
Yesus juga tercekam ketakutan yang mendalam karena Allah yang mengutus-Nya
seakan-akan meninggalkan Dia. Dia berseru kepada Allah, ‘Eli, Eli lama
sabakhtani -- Allahku, Allahku, mengapa Engkau mening-galkan Aku’ (Ayat 46).
Tuhan Yesus Maha-kuasa dan mampu menghindari hukuman salib itu. Akan tetapi,
karena kasih-Nya, Anak Allah memilih menyerahkan nyawa-Nya untuk menyelamatkan
manusia (Ayat 50). Setiap Jumat Agung, kita memperingati pe-ngorbanan dan
kematian Tuhan Yesus. Apa-kah kita masih merasakan getaran kematian-Nya yang
menghapus dosa kita? Ataukah, perayaan Jumat Agung
hanya menjadi ritual tahunan? Jika Yesus yang tanpa dosa telah rela berkorban
demi kita yang penuh dosa ini, maukah kita juga berkorban demi esame kita untuk
mewartakan kabar baik dan keselamatan yang Tuhan anugerahkan? Sekalipun kita
mungkin ditolak atau tidak dihargai, biarlah hal itu tidak menyuruntukan
keikhlasan kita. – Eko Iswanto. Pengurbanan yang sejati tidak surut oleh
penolakan.
Respon 3
Terlalu besar
kasih-Mu Bapa. Pengorbanan yang Kau berikan bagiku. Terlalu mahal darah-Mu
Yesus. Tercurah untuk menebus hidupku. (Yohanes 3:16). SS – YESTOYA. Tetapi
apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya
kepada Allah, — yang memberikan kepada semua orang dengan murah
hati dan dengan tidak membangkit-bangkit — , maka hal itu akan
diberikan kepadanya.
No comments:
Post a Comment