Saturday, 19 April 2014

18 April 2014 - The Ultimate Sacrifice


1 Petrus 1:18-19, “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” dan Galatia 3:13, “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!’”. Di hari Jumat Agung ini hendaknya kita bukan saja mengenang / mengingat pengorbanan yang Yesus lakukan, tetapi hidup sebagai umat yang telah ditebus. Dia telah memberikan kepada kita hidup yang kekal. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak hidup bagi Dia. Mengingat saja tidak cukup, diperlukan tindakan iman yang lahir melalui kehidupan nyata sebagai orang tebusan, amin!

Respon 1
Syalom. Amin. “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” (Yesaya 53:5). Terima kasih Ibu Siu, selamat merayakan Paskah, kiranya Tuhan snantiasa menyertai Ibu dan keluarga.

Respon 2
Jumat, 18 April 2014. Bacaan: Matius 27:45-50. Setahun: 2 Samuel 19-20. Nats: Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu me-nyerahkan nyawa-Nya. (Matius 27:50). Mau-kah kita berkorban? Bagaimanakah perasaan anda ketika anda harus berkorban untuk orang lain? Bagaimana jika orang yang untuknya anda berkorban itu ternyata tidak menghargai pengorbanan itu atau bahkan menolak pengorbanan  itu?  Kita dapat membayangkan sekilas perasaan Tuhan Yesus ketika Dia menjalani hukuman salib. Dia yang tiada berdosa, namun rela menderita bahkan sampai mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Kita dapat memahami jika Yesus merasa pedih ketika manusia justru menolak dan mencemooh diri-Nya, bahkan menyiksa-Nya dengan brutal. Sebagai seorang manusia, Yesus juga tercekam ketakutan yang mendalam karena Allah yang mengutus-Nya seakan-akan meninggalkan Dia. Dia berseru kepada Allah, ‘Eli, Eli lama sabakhtani -- Allahku, Allahku, mengapa Engkau mening-galkan Aku’ (Ayat 46). Tuhan Yesus Maha-kuasa dan mampu menghindari hukuman salib itu. Akan tetapi, karena kasih-Nya, Anak Allah memilih menyerahkan nyawa-Nya untuk menyelamatkan manusia (Ayat 50). Setiap Jumat Agung, kita memperingati pe-ngorbanan dan kematian Tuhan Yesus. Apa-kah kita masih merasakan getaran kematian-Nya yang menghapus dosa kita? Ataukah, perayaan Jumat Agung hanya menjadi ritual tahunan? Jika Yesus yang tanpa dosa telah rela berkorban demi kita yang penuh dosa ini, maukah kita juga berkorban demi esame kita untuk mewartakan kabar baik dan keselamatan yang Tuhan anugerahkan? Sekalipun kita mungkin ditolak atau tidak dihargai, biarlah hal itu tidak menyuruntukan keikhlasan kita. – Eko Iswanto. Pengurbanan yang sejati tidak surut oleh penolakan.

Respon 3
Terlalu besar kasih-Mu Bapa. Pengorbanan yang Kau berikan bagiku. Terlalu mahal darah-Mu Yesus. Tercurah untuk menebus hidupku. (Yohanes 3:16). SS – YESTOYA. Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah,  —  yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit  — , maka hal itu akan diberikan kepadanya.


No comments:

Post a Comment