Yohanes 6:20, “Tetapi Ia berkata kepada mereka: ‘Aku ini,
jangan takut!’” (16-21). Dia adalah Tuhan yang akan menyatakan kehadiran,
belas kasihan & kendali-Nya atas setiap badai dalam hidup kita. Masihkah
kita percaya bahwa Allah
adalah tempat perlindungan yang aman? Ditengah terjangan badai kehidupan? Alami
mujizat-Nya alami kehadiran-Nya, janji-Nya. Ya & Amin!
Respon 1
Janganlah
bersukacita atas aku, hai musuhku! Sekalipun aku jatuh, aku akan bangun pula,
sekalipun aku duduk dalam gelap, TUHAN akan menjadi terangku. (Mikha 7:8). Kita
belum kalah selama kita tidak berhenti mencobanya. Maju terus sekalipun jatuh,
bangun lagi kuatkan dan teguhkan hatimu! Jesus loves you.
Respon 2
SAAT TEDUH. Kamis,
17 April 2014. Praise God. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku,
ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau
mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu
membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup
uangnya untuk menyelesai-kan pekerjaan itu? (Luk 14:27-28). Menjelang Paskah,
penting bagi kita merenungkan kem-bali makna sesungguhnya mengikut Yesus. Hal
ini bicara tentang komitmen. Saat Yesus berada di Yerusalem selama Paskah,
Injil Yohanes menulis bahwa banyak orang yang Mengaku percaya dalam nama-Nya,
setelah mereka melihat mujizat-mujizat yang Dia buat. Banyak yang percaya kepada-Nya
dengan iman yang dangkal (tanpa komitmen yang nyata). Mereka tertarik kepada-Nya,
ingin tahu tentang Dia, dekat dengan-Nya, bahkan merasakan kasih-Nya. Tapi kesetiaan
mereka hanya sebatas kepuasan jasmani / lahiriah. Yesus tahu bahwa ketika ada
desakan yang mendorong, orang banyak ini akan dengan mudah ikut, hanyut
terseret dunia. Ada banyak orang yang berkata ingin mengi-kuti Yesus, itu bagus.
Tapi Komitmen terse-but akan ditantang. Kita harus memutuskan untuk ikut Yesus, bukan karena siapa-siapa atau supaya
diberkati & dapat keuntukungan dari-Nya, tapi karena kita telah memilih
& memutuskan sendiri secara sadar untuk mengikut Yesus. Banyak dari kita yang
bisa terjebak dalam momen tersebut: dalam sebuah perlombaan, kita heboh dengan
upacara penyerahan medali. Tapi apakah kita bersedia menjalani pelatihannya? Apakah
kita bersedia untuk menghitung anggaran komitmen & perjuangan persiapan
dirinya? Apakah kita berkomitmen hanya berpusat kepada & untuk-Nya saja? Apakah
kita bersedia menjadi pengikut Yesus yang sejati? Saat kita berkata ingin
mengikut Yesus, apakah kita berkomit-men untuk melakukan semua firman-Nya? “Banyak
orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?”
(Amsal 20:6). Selamat pagi. JBU.
No comments:
Post a Comment