Thursday, 17 April 2014

17 April 2014



Yohanes 6:20, “Tetapi Ia berkata kepada mereka: ‘Aku ini, jangan takut!’” (16-21). Dia adalah Tuhan yang akan menyatakan kehadiran, belas kasihan & kendali-Nya atas setiap badai dalam hidup kita. Masihkah kita percaya bahwa Allah adalah tempat perlindungan yang aman? Ditengah terjangan badai kehidupan? Alami mujizat-Nya alami kehadiran-Nya, janji-Nya. Ya & Amin!

Respon 1
Janganlah bersukacita atas aku, hai musuhku! Sekalipun aku jatuh, aku akan bangun pula, sekalipun aku duduk dalam gelap, TUHAN akan menjadi terangku. (Mikha 7:8). Kita belum kalah selama kita tidak berhenti mencobanya. Maju terus sekalipun jatuh, bangun lagi kuatkan dan teguhkan hatimu! Jesus loves you.

Respon 2
SAAT TEDUH. Kamis, 17 April 2014. Praise God. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk  dahulu  membuat  anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesai-kan pekerjaan itu? (Luk 14:27-28). Menjelang Paskah, penting bagi kita merenungkan kem-bali makna sesungguhnya mengikut Yesus. Hal ini bicara tentang komitmen. Saat Yesus berada di Yerusalem selama Paskah, Injil Yohanes menulis bahwa banyak orang yang Mengaku percaya dalam nama-Nya, setelah mereka melihat mujizat-mujizat yang Dia buat. Banyak yang percaya kepada-Nya dengan iman yang dangkal (tanpa komitmen yang nyata). Mereka tertarik kepada-Nya, ingin tahu tentang Dia, dekat dengan-Nya, bahkan merasakan kasih-Nya. Tapi kesetiaan mereka hanya sebatas kepuasan jasmani / lahiriah. Yesus tahu bahwa ketika ada desakan yang mendorong, orang banyak ini akan dengan mudah ikut, hanyut terseret dunia. Ada banyak orang yang berkata ingin mengi-kuti Yesus, itu bagus. Tapi Komitmen terse-but akan ditantang. Kita harus memutuskan untuk  ikut  Yesus,  bukan karena siapa-siapa atau supaya diberkati & dapat keuntukungan dari-Nya, tapi karena kita telah memilih & memutuskan sendiri secara sadar untuk mengikut Yesus. Banyak dari kita yang bisa terjebak dalam momen tersebut: dalam sebuah perlombaan, kita heboh dengan upacara penyerahan medali. Tapi apakah kita bersedia menjalani pelatihannya? Apakah kita bersedia untuk menghitung anggaran komitmen & perjuangan persiapan dirinya? Apakah kita berkomitmen hanya berpusat kepada & untuk-Nya saja? Apakah kita bersedia menjadi pengikut Yesus yang sejati? Saat kita berkata ingin mengikut Yesus, apakah kita berkomit-men untuk melakukan semua firman-Nya? “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?” (Amsal 20:6). Selamat pagi. JBU.



No comments:

Post a Comment