Yohanes 6:13, “Maka merekapun mengum-pulkannya, dan mengisi
dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang
lebih setelah orang makan.” Masihkah kita ragu akan berkat Tuhan melalui kehidupan
jasmani kita? Khususnya dalam hal makanan? Matius 6:31, “Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami
makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?” Matius
6:32, “Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi
Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.” Janji-Nya ya
& amin. Biarlah Matius 6:31-32 menjadi Rhema bagi kehidupan kita mulai hari
ini! Amin!
Respon 1
Ketetapan Hati. 04/13/2014 — David C. McCasland.
Santapan Rohani. Baca: Rut 1:6,11-18. ;Bangsamulah bangsaku dan Allahmulah
Allahku. — Rut 1:16. Ketika laporan berita di televisi menayangkan tentang
penderitaan para pengungsi yang terpaksa keluar dari negaranya yang sedang
dilanda peperangan, saya dibuat tercengang oleh perkataan seorang gadis cilik
berumur 10 tahun di sana. Meski kecil sekali kemungkinan baginya untuk pulang
kembali ke rumah, gadis cilik itu menunjukkan semangatnya yang gigih: “Saat
pulang nanti, aku akan mengunjungi tetanggaku; aku akan bermain dengan
teman-temanku,” katanya dengan suatu tekad yang bulat. “Ayahku berkata bahwa
kami tak punya rumah. Aku bilang padanya, kita akan memperbaikinya.” Sifat
gigih memang diperlukan dalam hidup ini, terutama ketika sifat itu berakar di
dalam iman kita kepada Allah dan kasih kita kepada
sesama. Kitab Rut
diawali dengan tiga wanita yang dipersatukan karena suatu tragedi. Setelah
suami dan kedua putranya meninggal, Naomi memutuskan untuk kembali ke kampung
halamannya di Betlehem dan mendesak kedua menantunya yang telah menjanda untuk
pulang ke negeri asal mereka, Moab. Orpa pun kembali ke Moab, tetapi Rut
berjanji untuk ikut bersama Naomi, sambil berkata, “Bangsamulah bangsaku dan
Allah-mulah Allahku” (Rut 1:16). Ketika Naomi melihat Rut “berkeras untuk ikut
bersama-sama dengan dia” (Ayat 18), mereka mulai perjalanan mereka berdua.Sifat
keras kepala terkadang berasal dari kesombongan, tetapi komitmen bertumbuh dari
kasih. Ketika Yesus disalibkan, “Ia mengambil keputusan untuk pergi ke
Yerusalem” (Lukas 9:51 BIS). Melihat ketetapan hati-Nya untuk rela mati bagi
kita, kita pun menetapkan hati untuk memberikan hidup kita bagi-Nya. G’nap
hidupku dan kasihku‘Ku s’rahkanlah kepadaMu. Engkau t’lah
mati bagiku, Juruselamatku. — Hudson (Nyanyian Kemenangan Iman, No. 260). Kasih
menuntukut komitmen.
Respon 2
Syalom. Amin. “Sebab
oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang
Ia kuduskan.” (Ibrani 10:14). Terima kasih Ibu Siu, selamat beribadah Tuhan memberkati
Ibu dan keluarga.
Respon 3
SAAT TEDUH. Minggu, 13 April 2014. Praise God. “Kalau
Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar” (Yohanes
5:31). Banyak orang ingin menunjukkan siapa dirinya, apa kelebihan /
kemampuannya, kebaikan diri, apa yang dia punya kepada orang lain, ia promosi
diri (yang terkadang tidak semuanya benar) sehingga dapat diterima & dihargai
di lingkungan tertentu dan ada
pula orang-orang yang selalu mencari tahu pendapat orang lain tentang dirinya,
tapi sebenarnya ia tidak ingin orang lain berkata jujur saat tidak menyukai-nya
sehingga ia justru merasa sangat tidak nyaman & feeling down ketika tahu
ada orang-orang yang tidak menyukai dirinya. Atau ketika ingin mendapatkan
peluang, posisi & keadaan lebih baik, mereka berusha mendapatkan
rekomendasi / dukungan dari orang lain, terutama dari orang yang dianggap
berpengaruh di tempat yang diinginkan. Inti dari semua itu sebenarnya adalah
mencari pe-nerimaan / penghargaan orang lain / komuni-tas atas dirinya. Bahayanya
seringkali sulit untuk bisa membuka diri apa adanya karena takut ditolak / tidak
diakui. Tuhan Yesus teladan kan untuk kita tidak terlalu sibuk & berlelah
promosi diri, mencari pendapat & du-kungan orang lain, tapi yang harus kita
laku-kan adalah menghidupi saja kebenaran firman Tuhan / kehendak
Allah dalam hidup kita, maka produk hidup,
kualitas, karakter, dan manfaat yang kita berikan merupakan perilaku kita yang akan bersaksi banyak
tentang siapa jati diri kita sebenarnya, yang akan mereka lihat adalah karakter
Allah yang kehendak-Nya kita hidupi. “... ada yang lain yang bersaksi tentang
Aku & Aku tahu, bahwa kesaksian yang diberikan-Nya (Kehendak Bapa yang adalah
makanan bagi-Nya (Yohanes 4:34), yang dihidupi-Nya) tentang Aku adalah Benar”
(Ayat 32). Daripada terlalu sibuk promosi diri, mencari tahu pendapat &
dukungan orang lain, lebih baik bersibuk-ria untuk mempercayai, meng-hidupi
& menjadikan kebenaran firman Tuhan sebagai makanan yang esensi karena hanya
firman Tuhan yang mampu memulihkan keberhargaan diri kita & memerdekakan kita
dari apa kita orang / keadaan supaya pribadi Allah terbaca dari hidup kita. Maka
produk hidup akan bercerita banyak tentang siapa kita sebenarnya. Selamat
pagi. Selamat Hari Minggu Palem. Tuhan Yesus memberkati.
No comments:
Post a Comment