Sunday, 13 April 2014

13 April 2014



Yohanes 6:13, “Maka merekapun mengum-pulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan.” Masihkah kita ragu akan berkat Tuhan melalui kehidupan jasmani kita? Khususnya dalam hal makanan? Matius 6:31, “Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?” Matius 6:32, “Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.” Janji-Nya ya & amin. Biarlah Matius 6:31-32 menjadi Rhema bagi kehidupan kita mulai hari ini! Amin!


Respon 1
Ketetapan Hati. 04/13/2014 — David C. McCasland. Santapan Rohani. Baca: Rut 1:6,11-18. ;Bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku. — Rut 1:16. Ketika laporan berita di televisi menayangkan tentang penderitaan para pengungsi yang terpaksa keluar dari negaranya yang sedang dilanda peperangan, saya dibuat tercengang oleh perkataan seorang gadis cilik berumur 10 tahun di sana. Meski kecil sekali kemungkinan baginya untuk pulang kembali ke rumah, gadis cilik itu menunjukkan semangatnya yang gigih: “Saat pulang nanti, aku akan mengunjungi tetanggaku; aku akan bermain dengan teman-temanku,” katanya dengan suatu tekad yang bulat. “Ayahku berkata bahwa kami tak punya rumah. Aku bilang padanya, kita akan memperbaikinya.” Sifat gigih memang diperlukan dalam hidup ini, terutama ketika sifat itu berakar di dalam iman kita kepada Allah dan kasih kita kepada 
sesama. Kitab Rut diawali dengan tiga wanita yang dipersatukan karena suatu tragedi. Setelah suami dan kedua putranya meninggal, Naomi memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Betlehem dan mendesak kedua menantunya yang telah menjanda untuk pulang ke negeri asal mereka, Moab. Orpa pun kembali ke Moab, tetapi Rut berjanji untuk ikut bersama Naomi, sambil berkata, “Bangsamulah bangsaku dan Allah-mulah Allahku” (Rut 1:16). Ketika Naomi melihat Rut “berkeras untuk ikut bersama-sama dengan dia” (Ayat 18), mereka mulai perjalanan mereka berdua.Sifat keras kepala terkadang berasal dari kesombongan, tetapi komitmen bertumbuh dari kasih. Ketika Yesus disalibkan, “Ia mengambil keputusan untuk pergi ke Yerusalem” (Lukas 9:51 BIS). Melihat ketetapan hati-Nya untuk rela mati bagi kita, kita pun menetapkan hati untuk memberikan hidup kita bagi-Nya. G’nap hidupku dan kasihku‘Ku s’rahkanlah kepadaMu. Engkau t’lah mati bagiku, Juruselamatku. — Hudson (Nyanyian Kemenangan Iman, No. 260). Kasih menuntukut komitmen.

Respon 2
Syalom. Amin. “Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.” (Ibrani 10:14). Terima kasih Ibu Siu, selamat beribadah Tuhan memberkati Ibu dan keluarga.

Respon 3
SAAT TEDUH. Minggu, 13 April 2014. Praise God. “Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar” (Yohanes 5:31). Banyak orang ingin menunjukkan siapa dirinya, apa kelebihan / kemampuannya, kebaikan diri, apa yang dia punya kepada orang lain, ia promosi diri (yang terkadang tidak semuanya benar) sehingga dapat diterima & dihargai di lingkungan tertentu dan ada pula orang-orang yang selalu mencari tahu pendapat orang lain tentang dirinya, tapi sebenarnya ia tidak ingin orang lain berkata jujur saat tidak menyukai-nya sehingga ia justru merasa sangat tidak nyaman & feeling down ketika tahu ada orang-orang yang tidak menyukai dirinya. Atau ketika ingin mendapatkan peluang, posisi & keadaan lebih baik, mereka berusha mendapatkan rekomendasi / dukungan dari orang lain, terutama dari orang yang dianggap berpengaruh di tempat yang diinginkan. Inti dari semua itu sebenarnya adalah mencari pe-nerimaan / penghargaan orang lain / komuni-tas atas dirinya. Bahayanya seringkali sulit untuk bisa membuka diri apa adanya karena takut ditolak / tidak diakui. Tuhan Yesus teladan kan untuk kita tidak terlalu sibuk & berlelah promosi diri, mencari pendapat & du-kungan orang lain, tapi yang harus kita laku-kan adalah menghidupi saja kebenaran firman Tuhan  /  kehendak  Allah  dalam  hidup  kita, maka produk hidup, kualitas, karakter, dan manfaat yang kita berikan  merupakan perilaku kita yang akan bersaksi banyak tentang siapa jati diri kita sebenarnya, yang akan mereka lihat adalah karakter Allah yang kehendak-Nya kita hidupi. “... ada yang lain yang bersaksi tentang Aku & Aku tahu, bahwa kesaksian yang diberikan-Nya (Kehendak Bapa yang adalah makanan bagi-Nya (Yohanes 4:34), yang dihidupi-Nya) tentang Aku adalah Benar” (Ayat 32). Daripada terlalu sibuk promosi diri, mencari tahu pendapat & dukungan orang lain, lebih baik bersibuk-ria untuk mempercayai, meng-hidupi & menjadikan kebenaran firman Tuhan sebagai makanan yang esensi karena hanya firman Tuhan yang mampu memulihkan keberhargaan diri kita & memerdekakan kita dari apa kita orang / keadaan supaya pribadi Allah terbaca dari hidup kita. Maka produk hidup akan bercerita banyak tentang siapa kita sebenarnya. Selamat pagi. Selamat Hari Minggu Palem. Tuhan Yesus memberkati.



No comments:

Post a Comment