Matius 4:23-25, “Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia
mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta
melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. Maka tersiarlah
berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang
buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang
kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka.
Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea
dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan.”
Tuhan Yesus adalah Tuhan yang penuh dengan mujizat. Masihkah kita sebagai anak-anak-Nya
meragukan bahwa Dia adalah Tuhan yang masih membuat mujizat?
Sebagai anak yang dikasihi-Nya kita semua pasti pernah mengalami mujizatNya. Karya
Keselamatan-Nya itu adalah mukjzat yang terutama bagi kita, Amin. Semangat
mengalami mujizat-Nya.
Respon 1
Tomat Gratis. 04/01/2014
— Jennifer Benson Schuldt. Santapan Rohani. Baca: Keluaran 35:20-29. Sesudah
itu datanglah setiap orang yang tergerak hatinya… Membawa persem-bahan khusus
kepada Tuhan untuk pekerjaan melengkapi Kemah Pertemuan. — Keluaran 35:21. Saat
sedang memasukkan belanjaan ke bagasi mobil, saya melirik sekilas ke mobil di
sebelah saya. Melalui kaca belakangnya, saya bisa melihat sejumlah keranjang
penuh tomat merah yang segar, bulat, dan lebih bagus daripada tomat yang dijual
di toko-toko. Ketika kemudian si pemilik mobil itu muncul, saya berkata, “Tomat-tomat Anda kelihatan sangat enak!” Ia
menjawab, “Panenan tomat saya sangat bagus tahun ini. Anda mau mencicipinya?”
Terkejut oleh kemurahan hatinya, dengan senang hati saya menerima tawarannya.
Ia pun memberi saya beberapa buah tomat dengan cuma-cuma — dan tomat-tomatnya
tidak hanya sedap dipandang tetapi juga sedap di lidah. Kita dapat melihat
sikap murah hati yang lebih besar ditunjukkan oleh bangsa Israel ketika mereka
memberi untuk pembangunan Kemah Pertemuan. Pada saat mereka diminta untuk
menyediakan bahan-bahan untuk Kemah itu, “setiap orang yang tergerak hatinya,….
membawa persembahan khusus kepada Tuhan untuk pekerjaan melengkapi Kemah
Pertemuan” (Keluaran 35:21). Orang-orang Israel dengan senang hati menyumbangkan
perhiasan emas, kain-kain berwarna, lenan halus, perak, tembaga, batu permata,
dan rempah-rempah. Ada dari mereka yang juga memberikan waktu dan keahlian
mereka (ayat 25-26). Jika kita meneladani bangsa Israel
dan dengan sukarela mempersembahkan yang kita miliki, kita pun menyenangkan dan
memuliakan Allah melalui sikap dan persembahan kita. Tuhan yang melihat dan
mengetahui pikiran serta isi hati kita mengasihi orang-orang yang memberi
dengan sukacita. Tuhan sendirilah teladan terbaik dari sikap murah hati
(Yohanes 3:16). Kondisi hati kita lebih pen-ting daripada jumlah pemberian
kita.
Respon 2
RENUNGAN PAGI. Selasa, 01 April 2014. Raja itu
menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: “Hai hamba yang jahat,
seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukan-kah
engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka
marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia
melunaskan seluruh hutangnya. Maka Bapa-Ku
yang di sorga akan berbuat demikian
juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu
dengan segenap hati-mu.” (Matius 18:32-35). Tapi mengapa sering tak ada rasa
takut sedikit pun saat kita tidak mengampuni saudara kita? Mengapa sering kita
yang mentidaku anak-Nya tidak menganggap serius ucapan-Nya? Mungkin kita bisa
katakan “Aku sudah mengampuni.” Namun, mengapa tidak pernah bertegur sapa lagi?
Mengapa saling menjauhi? Jangan-jangan kita memang sudah mengampuni, namun belum
dengan segenap hati. Bukankah sikap kita menunjukkan peduli tidaknya kita atas
firman Tuhan? Tuhan Yesus Memberkati.
Respon 3
BELAJAR: Sahabat, Belajar bukan hanya berarti sekolah.
Belajar bukan berarti hanya membaca buku. Tapi juga belajar dari setiap
kejadian. Agar hidup kedepan lebih baik. Kita belajar diam dari banyaknya
bicara. Kita belajar sabar dari
sebuah kemarahan. Kita belajar mengalah dari suatu keegoisan. Kita belajar menangis
dari kebahagiaan. Kita belajar tegar dari kehilangan. Hidup adalah belajar.
Belajar bersyukur meski tak cukup. Belajar ikhlas meski tak rela. Belajar taat
meski berat. Belajar memahami meski tak sehati. Belajar sabar meski terbebani.
Belajar setia meski tergoda. Belajar memberi meski tak seberapa. Belajar
mengasihi meski disakiti. Belajar tenang meski gelisah. Belajar percaya meski
susah. Belajar dan terus belajar. Belajar sampai pada akhirnya kita bisa lepas
dari keterikatan Itulah yang disebut: kebahagiaan. Mazmur 90:12, Ajarlah kami
menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
Selamat belajar dan terus belajar salam kasih. Tuhan mem-berkati.
No comments:
Post a Comment