Tuesday, 1 April 2014

1 April 2014 - Abnormal = Mukjzat Selalu Didambakan


Matius 4:23-25, “Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka. Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan.” Tuhan Yesus adalah Tuhan yang penuh dengan mujizat. Masihkah kita sebagai anak-anak-Nya   meragukan   bahwa  Dia  adalah  Tuhan yang masih membuat mujizat? Sebagai anak yang dikasihi-Nya kita semua pasti pernah mengalami mujizatNya. Karya Keselamatan-Nya itu adalah mukjzat yang terutama bagi kita, Amin. Semangat mengalami mujizat-Nya.


Respon 1
Tomat Gratis. 04/01/2014 — Jennifer Benson Schuldt. Santapan Rohani. Baca: Keluaran 35:20-29. Sesudah itu datanglah setiap orang yang tergerak hatinya… Membawa persem-bahan khusus kepada Tuhan untuk pekerjaan melengkapi Kemah Pertemuan. — Keluaran 35:21. Saat sedang memasukkan belanjaan ke bagasi mobil, saya melirik sekilas ke mobil di sebelah saya. Melalui kaca belakangnya, saya bisa melihat sejumlah keranjang penuh tomat merah yang segar, bulat, dan lebih bagus daripada tomat yang dijual di toko-toko. Ketika kemudian si pemilik mobil itu muncul, saya  berkata,  “Tomat-tomat  Anda kelihatan sangat enak!” Ia menjawab, “Panenan tomat saya sangat bagus tahun ini. Anda mau mencicipinya?” Terkejut oleh kemurahan hatinya, dengan senang hati saya menerima tawarannya. Ia pun memberi saya beberapa buah tomat dengan cuma-cuma — dan tomat-tomatnya tidak hanya sedap dipandang tetapi juga sedap di lidah. Kita dapat melihat sikap murah hati yang lebih besar ditunjukkan oleh bangsa Israel ketika mereka memberi untuk pembangunan Kemah Pertemuan. Pada saat mereka diminta untuk menyediakan bahan-bahan untuk Kemah itu, “setiap orang yang tergerak hatinya,…. membawa persembahan khusus kepada Tuhan untuk pekerjaan melengkapi Kemah Pertemuan” (Keluaran 35:21). Orang-orang Israel dengan senang hati menyumbangkan perhiasan emas, kain-kain berwarna, lenan halus, perak, tembaga, batu permata, dan rempah-rempah. Ada dari mereka yang juga memberikan waktu dan keahlian mereka (ayat 25-26). Jika kita meneladani bangsa Israel dan dengan sukarela mempersembahkan yang kita miliki, kita pun menyenangkan dan memuliakan Allah melalui sikap dan persembahan kita. Tuhan yang melihat dan mengetahui pikiran serta isi hati kita mengasihi orang-orang yang memberi dengan sukacita. Tuhan sendirilah teladan terbaik dari sikap murah hati (Yohanes 3:16). Kondisi hati kita lebih pen-ting daripada jumlah pemberian kita.


Respon 2
RENUNGAN PAGI. Selasa, 01 April 2014. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: “Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukan-kah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh  hutangnya.  Maka  Bapa-Ku  yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hati-mu.” (Matius 18:32-35). Tapi mengapa sering tak ada rasa takut sedikit pun saat kita tidak mengampuni saudara kita? Mengapa sering kita yang mentidaku anak-Nya tidak menganggap serius ucapan-Nya? Mungkin kita bisa katakan “Aku sudah mengampuni.” Namun, mengapa tidak pernah bertegur sapa lagi? Mengapa saling menjauhi? Jangan-jangan kita memang sudah mengampuni, namun belum dengan segenap hati. Bukankah sikap kita menunjukkan peduli tidaknya kita atas firman Tuhan? Tuhan Yesus Memberkati.

Respon 3
BELAJAR: Sahabat, Belajar bukan hanya berarti sekolah. Belajar bukan berarti hanya membaca buku. Tapi juga belajar dari setiap kejadian. Agar hidup kedepan lebih baik. Kita belajar diam dari banyaknya bicara. Kita belajar sabar dari sebuah kemarahan. Kita belajar mengalah dari suatu keegoisan. Kita belajar menangis dari kebahagiaan. Kita belajar tegar dari kehilangan. Hidup adalah belajar. Belajar bersyukur meski tak cukup. Belajar ikhlas meski tak rela. Belajar taat meski berat. Belajar memahami meski tak sehati. Belajar sabar meski terbebani. Belajar setia meski tergoda. Belajar memberi meski tak seberapa. Belajar mengasihi meski disakiti. Belajar tenang meski gelisah. Belajar percaya meski susah. Belajar dan terus belajar. Belajar sampai pada akhirnya kita bisa lepas dari keterikatan Itulah yang disebut: kebahagiaan. Mazmur 90:12, Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Selamat belajar dan terus belajar salam kasih. Tuhan mem-berkati.




No comments:

Post a Comment