MY NEIGHBOUR
Berdiam
Diri di Hadapan Tuhan (4) – Percaya akan Integritas Allah.
Habakuk 2:20, “Tetapi TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus. Berdiam
dirilah di hadapan-Nya, ya segenap bumi!” Kita seringkali sulit percaya
kepada Tuhan karena kita seringkali sulit melihat adanya orang-orang yang
betul-betul berintegritas tinggi dalam kehidupan mereka. Khususnya ketika harus
menghadapi tantangan dan pengorbanan. Akibatnya kita pun sulit
untuk percaya bahwa Allah pun berintegritas dan konsisten dalam tindakanNya.
Dengan menyadari dan menerima konsistensi Allah, maka kita bisa percaya bahwa
tidak ada ketidakadilan yang akan dibiarkan oleh Allah. Percaya pada
konsistensi Allah berarti PERCAYA jika Allah memakai orang yang begitu fasik
dan kejam, itupun tidak keluar dari integritas dan konsistensi Allah. Terkadang
pikiran kita yang terbatas dan sangat sempit, mencurigai konsistensi tindakan
Allah. Sikap seperti ini sangat tidak tepat dan tidak proporsional jika
dikenakan pada diri Allah. Maka Habakuk dan kita orang percaya harus sampai
pada konklusi yang tepat, sehingga bisa berespon secara tepat pula terhadap
keadilan Allah dan integritas Allah. Dan pengenalan akan Allah yang semakin
tepat mengakibatkan kita bisa merespon lebih tepat didalam menaggapi realita
yang harus kita alami. Amin
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#PergumulanMengertiKehendakAllah
Note:
Jangan lewatkan
Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab Mazmur
66-67
PB: 2 Tim 3
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
(Bahan diambil
dari tafsir kitab Habakuk: Pdt. Sucipto Subeno)
Ibu
Caroline – Bandung
Mazmur 126:5
“Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan
bersorak-sorai.” Ada pepatah mengatakan: “Palu menghancurkan kaca, palu
membentuk baja.” Apa maksudnya? Kaca memiliki sifat mudah sekali retak, pecah
dan hancur apabila terkena benturan. Sedangkan baja itu kuat, kokoh dan tidak
mudah pecah. Ini berbicara tentang reaksi seseorang terhadap masalah. Apakah kita
bersifat seperti kaca yang rentan terhadap benturan (masalah), sehingga mudah
sekali kita kecewa, hancur, putus asa, marah, tersinggung, sakit hati,
frustasi, mengasihani diri sendiri dan menyalahkan orang lain? Sedikit benturan
saja sudah lebih dari cukup untuk merampas sukacita kita. Sebagai orang percaya
seharusnya kita memiliki sikap seperti baja yang berkarakter kuat dan tangguh.
Seseorang yang bermental baja akan selalu berpikiran positif, optimis dan tetap
bisa mengucap syukur meski berada dalam tekanan dan himpitan. Ia bisa mengambil
sebuah pelajaran berharga dari setiap masalah yang terjadi. Masalah baginya
adalah sebuah proses yang membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih baik.
Kita tahu bahwa sepotong besi baja akan menjadi sebuah alat yang berguna bagi
kehidupan manusia setelah terlebih dahulu dibentuk dan ditempa dengan palu.
Memang setiap pukulan terasa menyakitkan dan terkadang kita harus bercucuran
air mata, namun semua itu akan mendatangkan kebaikan bagi kita. Sebaliknya jika
kita seperti kaca maka kita akan melihat palu sebagai musuh yang menakutkan dan
menghancurkan. Masalah adalah salah satu cara yang dipakai Tuhan untuk
membentuk, memproses, memurnikan dan menguji kualitas iman kita. “Kita tahu
sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan
kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil
sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28). Karena itu jangan pernah lari dari
masalah, namun hadapilah masalah dengan iman. Jadilah orang Kristen yang
bermental baja, yang tetap kuat meski diterpa masalah! Gbu.
Madam
Ossy
SAAT TEDUH.
Jumat, 4 Agustus 2017. SILSILAH ANUGERAH. Bacaan: Matius 1:1-17. Jadi,
seluruhnya ada empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas
keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari
pembuangan ke Babel sampai Kristus (Matius 1:17). Membaca silsilah di dalam
Alkitab adalah hal yang dihindari oleh banyak orang. Selain terlihat
membosankan, sekilas pandang silsilah seperti tidak memiliki kaitan dengan
kehidupan pribadi si pembaca. Namun sebetulnya tidaklah demikian. Silsilah
tidak sekadar berbicara tentang susunan nama antar generasi. Silsilah berbicara
tentang kuasa dan anugerah Allah yang bekerja dibalik kehidupan orang-orang tersebut.
42 nama yang terdaftar dalam garis silsilah Yesus Kristus menurut catatan
Matius, sebagian besar di antaranya memiliki catatan sejarah hidup yang kelam.
Sebut saja di antaranya Salomo dan Manasye yang mewakili raja-raja Israel yang
jatuh ke dalam penyembahan berhala dan bahkan Daud dengan skandal pembunuhan
dan perzinahannya. Untuk status masa lalu yang serupa, Matius malah menambahkan
empat nama wanita non-Yahudi. Dengan kata lain, deretan nama tersebut bukanlah
kumpulan orang yang layak berada dalam garis silsilah Sang Mesias. Tak satu
pun. Kesengajaan Matius ini memberikan pesan penting tentang kasih Allah yang
tidak bersyarat kepada manusia berdosa, dan ketidakterbatasan kuasa Allah dalam
menggenapi rencana-Nya melalui mereka. Jelas, bahwa baik iblis maupun kelemahan
manusia tidak akan pernah dapat menghambat penggenapan rencana penebusan Allah
dalam diri Yesus Kristus. Seperti ke-42 nama tersebut, kita semua juga sama
sekali tidak layak untuk beroleh hidup dan kehormatan melayani Dia. Namun kasih
dan anugerah Allah di dalam Kristus melampaui kelemahan kita. Syukur kepada
Allah! TUJUAN HIDUP SEJATI DIBANGUN DARI KESADARAN BAHWA HIDUP BUKAN TENTANG
KITA NAMUN ALLAH YANG BEKERJA DALAM KELEMAHAN KITA BAGI KEMULIAAN-NYA. Selamat
pagi. Happy Friday. Tuhan Yesus memberkati.
#LoveTheBible – Bacaan: Mazmur 66-67 dan 2 Timotius 3.

No comments:
Post a Comment