Friday, 4 August 2017

4 Agustus 2017

MY NEIGHBOUR






Berdiam Diri di Hadapan Tuhan (4) – Percaya akan Integritas Allah. Habakuk 2:20, “Tetapi TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus. Berdiam dirilah di hadapan-Nya, ya segenap bumi!” Kita seringkali sulit percaya kepada Tuhan karena kita seringkali sulit melihat adanya orang-orang yang betul-betul berintegritas tinggi dalam kehidupan mereka. Khususnya ketika harus menghadapi tantangan dan pengorbanan. Akibatnya kita pun sulit untuk percaya bahwa Allah pun berintegritas dan konsisten dalam tindakanNya. Dengan menyadari dan menerima konsistensi Allah, maka kita bisa percaya bahwa tidak ada ketidakadilan yang akan dibiarkan oleh Allah. Percaya pada konsistensi Allah berarti PERCAYA jika Allah memakai orang yang begitu fasik dan kejam, itupun tidak keluar dari integritas dan konsistensi Allah. Terkadang pikiran kita yang terbatas dan sangat sempit, mencurigai konsistensi tindakan Allah. Sikap seperti ini sangat tidak tepat dan tidak proporsional jika dikenakan pada diri Allah. Maka Habakuk dan kita orang percaya harus sampai pada konklusi yang tepat, sehingga bisa berespon secara tepat pula terhadap keadilan Allah dan integritas Allah. Dan pengenalan akan Allah yang semakin tepat mengakibatkan kita bisa merespon lebih tepat didalam menaggapi realita yang harus kita alami. Amin

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#PergumulanMengertiKehendakAllah

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab Mazmur 66-67
PB: 2 Tim 3

#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved

(Bahan diambil dari tafsir kitab Habakuk: Pdt. Sucipto Subeno)

Ibu Caroline – Bandung
Mazmur 126:5 “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.” Ada pepatah mengatakan: “Palu menghancurkan kaca, palu membentuk baja.” Apa maksudnya? Kaca memiliki sifat mudah sekali retak, pecah dan hancur apabila terkena benturan. Sedangkan baja itu kuat, kokoh dan tidak mudah pecah. Ini berbicara tentang reaksi seseorang terhadap masalah. Apakah kita bersifat seperti kaca yang rentan terhadap benturan (masalah), sehingga mudah sekali kita kecewa, hancur, putus asa, marah, tersinggung, sakit hati, frustasi, mengasihani diri sendiri dan menyalahkan orang lain? Sedikit benturan saja sudah lebih dari cukup untuk merampas sukacita kita. Sebagai orang percaya seharusnya kita memiliki sikap seperti baja yang berkarakter kuat dan tangguh. Seseorang yang bermental baja akan selalu berpikiran positif, optimis dan tetap bisa mengucap syukur meski berada dalam tekanan dan himpitan. Ia bisa mengambil sebuah pelajaran berharga dari setiap masalah yang terjadi. Masalah baginya adalah sebuah proses yang membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. Kita tahu bahwa sepotong besi baja akan menjadi sebuah alat yang berguna bagi kehidupan manusia setelah terlebih dahulu dibentuk dan ditempa dengan palu. Memang setiap pukulan terasa menyakitkan dan terkadang kita harus bercucuran air mata, namun semua itu akan mendatangkan kebaikan bagi kita. Sebaliknya jika kita seperti kaca maka kita akan melihat palu sebagai musuh yang menakutkan dan menghancurkan. Masalah adalah salah satu cara yang dipakai Tuhan untuk membentuk, memproses, memurnikan dan menguji kualitas iman kita. “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28). Karena itu jangan pernah lari dari masalah, namun hadapilah masalah dengan iman. Jadilah orang Kristen yang bermental baja, yang tetap kuat meski diterpa masalah! Gbu.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Jumat, 4 Agustus 2017. SILSILAH ANUGERAH. Bacaan: Matius 1:1-17. Jadi, seluruhnya ada empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus (Matius 1:17). Membaca silsilah di dalam Alkitab adalah hal yang dihindari oleh banyak orang. Selain terlihat membosankan, sekilas pandang silsilah seperti tidak memiliki kaitan dengan kehidupan pribadi si pembaca. Namun sebetulnya tidaklah demikian. Silsilah tidak sekadar berbicara tentang susunan nama antar generasi. Silsilah berbicara tentang kuasa dan anugerah Allah yang bekerja dibalik kehidupan orang-orang tersebut. 42 nama yang terdaftar dalam garis silsilah Yesus Kristus menurut catatan Matius, sebagian besar di antaranya memiliki catatan sejarah hidup yang kelam. Sebut saja di antaranya Salomo dan Manasye yang mewakili raja-raja Israel yang jatuh ke dalam penyembahan berhala dan bahkan Daud dengan skandal pembunuhan dan perzinahannya. Untuk status masa lalu yang serupa, Matius malah menambahkan empat nama wanita non-Yahudi. Dengan kata lain, deretan nama tersebut bukanlah kumpulan orang yang layak berada dalam garis silsilah Sang Mesias. Tak satu pun. Kesengajaan Matius ini memberikan pesan penting tentang kasih Allah yang tidak bersyarat kepada manusia berdosa, dan ketidakterbatasan kuasa Allah dalam menggenapi rencana-Nya melalui mereka. Jelas, bahwa baik iblis maupun kelemahan manusia tidak akan pernah dapat menghambat penggenapan rencana penebusan Allah dalam diri Yesus Kristus. Seperti ke-42 nama tersebut, kita semua juga sama sekali tidak layak untuk beroleh hidup dan kehormatan melayani Dia. Namun kasih dan anugerah Allah di dalam Kristus melampaui kelemahan kita. Syukur kepada Allah! TUJUAN HIDUP SEJATI DIBANGUN DARI KESADARAN BAHWA HIDUP BUKAN TENTANG KITA NAMUN ALLAH YANG BEKERJA DALAM KELEMAHAN KITA BAGI KEMULIAAN-NYA. Selamat pagi. Happy Friday. Tuhan Yesus memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: Mazmur 66-67 dan 2 Timotius 3.

No comments:

Post a Comment