Monday, 28 August 2017

28 Agustus 2017

MY NEIGHBOUR






My Neighbour (Komunikasi). Berkomunikasi dengan Baik. 1 Tim 5:1-2, 1Janganlah engkau keras terhadap orang yang tua, melainkan tegorlah dia sebagai bapa. Tegorlah orang-orang muda sebagai saudaramu. 2Perempuan-perempuan tua sebagai ibu dan perempuan-perempuan muda sebagai adikmu dengan penuh kemurnian.” Kata tegor berasal dari kata parakaleo = menasehati = menguatkan = menjawab dengan ramah = meminta = RESPECT. Ada 2 hal yang dapat kita pelajari dari Pesan Rasul Paulus kepada Timotius/muridnya (juga kepada kita semua). Kepada orang yang lebih tua, respect over reluctant/hormat dan menghargai lebih dari rasa sungkan. Orang tua yang dominan belajarlah juga untuk menghargai anak-anak yang mulai bertumbuh dewasa dengan segala kreativitasnya sehingga anak-anak respek terhadap orang tua! Komunikasi yang baik akan terjalin jika hubungan orang tua dan anak bisa timbal balik/saling menerima satu dengan yang lain. Kuncinya: rasa hormat dan menghargai lebih dari sungkan :). Aplikasinya: tunjukkan prestasimu bahwa anak-anak juga dapat dipercaya! Invest waktu, bertukar pikiran/ngobrol sehingga ortu mulai bisa memahami keputusan anak-anak. Invest hubungan dengan orang tua: mengetahui apa yang disukai orang tua dsb-nya. Kepada orang muda, respect over... Baca selanjutnya Besok 29 Agustus.

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#MyNeighbour

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab Mazmur 123-125
PB: Lukas 11:1-28

#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble

Sumber: Bahan Warta Komsel 27 Agustus 2017

Evie Materdai
INI JAMINAN HIDUP KITA. DASHYATNYA FIRMAN TUHAN.
1.      Jangan pernah lagi berkata, “Saya tidak bisa...!” Karena Filipi 4:13, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”
2.      Jangan pernah lagi berkata, “Saya selalu kekurangan...” Karena Filipi 4:19, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.”
3.      Jangan pernah lagi berkata, “Saya takut!” Karena 2 Timotius 1:7, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”
4.      Jangan pernah lagi berkata, “Saya ragu dan kurang iman...” Karena Roma 12:3, “Jangan ragu dan kurang iman karena TUHAN memberikan setiap orang, iman dengan ukuran masing-masing.”
5.      Jangan pernah lagi berkata, “Saya lemah...” Karena Mazmur 27:1, “TUHAN adakah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut..? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?”
6.      Jangan pernah lagi berkata, “ada supremasi iblis selama hidupku...” Karena 1 Yohanes 4:4b, “Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.”
7.      Jangan pernah lagi berkata, “Saya kalah...” Karena 2 Korintus 2:14, “Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam KRISTUS selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya.”
8.      Jangan pernah lagi berkata, “Saya kurang hikmat...” Karena 1 Korintus 2:30, “Oleh DIA kamu berada dalam KRISTUS YESUS, yang oleh ALLAH telah menjadi hikmat bagi kita.”
9.      Jangan pernah lagi berkata, “Saya sakit...” Karena Yesaya 53:5, “Oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh.”
10.  Jangan pernah lagi berkata, “Saya kuatir dan frustrasi...” tetapi “serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Petrus 5:7).
11.  Jangan pernah lagi berkata, “Saya terbelenggu...” Karena 2 Korintus 3:17b, “*Di mana ada Roh ALLAH, di situ ada kemerdekaan.”
12.  Jangan pernah lagi berkata, “Saya di bawah penghukuman...” Karena Roma 8:1, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.”
“Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya” (Efesus 6:10). Amin.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Senin, 28 Agustus 2017. MELAWAN LUPA. Bacaan: Ulangan 4:1-40. “Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu” (Ulangan 4:9). Saya sering menghadapi masalah karena lupa. Suatu ketika seorang teman meminta tolong untuk menjemput anaknya saat pulang sekolah karena ia tengah ke luar kota. Dengan mudah, saya menyanggupinya. Masalah terjadi ketika sudah pukul 15.15 WIB, saya baru menyadari kalau saya lupa. Itu berarti dia sudah menunggu saya lebih dari satu jam di sekolahnya. Saya meminta maaf kepada teman saya. Sejak saat itu, saya selalu menuliskan catatan di handphone dan agenda saya supaya kejadian serupa tidak terulang. Sama seperti manusia pada umumnya, orang Israel juga rawan terhadap “penyakit” lupa. Oleh karenanya, Musa menasihati dan meminta bangsa Israel untuk: Pertama, mengingat Tuhan yang selalu menjawab setiap seruan orang Israel (ay. 7). Kedua, mengingat ketetapan dan Kesepuluh Perintah Allah (ay. 8, 13-15). Ketiga, mengingat pembebasan Israel dari perbudakan di Mesir yang Tuhan lakukan (ay. 20). Keempat, mengingat perbuatan-perbuatan ajaib yang Tuhan telah lakukan bagi bangsa Israel (ay. 34). Itulah alasan mengapa Musa meminta mereka untuk melawan lupa (ay. 9, 23). Jika bangsa besar seperti Israel yang telah melihat secara langsung kasih, mujizat, dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah Tuhan lakukan bagi mereka masih saja memiliki potensi untuk melupakan Tuhan, bagaimana dengan kita? Sama seperti saya mengatasi masalah lupa dengan menuliskan catatan, begitu pula kita harus menuliskan segala kebaikan, anugerah, dan perkara ajaib yang selama ini Tuhan lakukan di dalam pikiran, hati, dan jiwa kita. INGATLAH SETIAP PERBUATAN BESAR YANG DIA KERJAKAN DALAM HIDUP KITA. Selamat pagi. Selamat berkarya. Tuhan Yesus memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: Mazmur 123-125 dan Lukas 11:1-28.

No comments:

Post a Comment